
Banyak sekali yang menyapaku hari ini, mulai dari adik kelas sampai temanku dilain kelas. Aku hanya tersenyum dan menjawab dengan anggukan, bahkan ada yang mendekatiku sewaktu tengah berjalan melalui gerbang sekolah. Menanyakan kabarku, dan tidak segan juga ada yang meminta maaf karena sudah ikut menuduh dan menghujat ku beberapa Minggu lalu.
"Mereka semua sudah tau." Munah menyelamatkan ku dari banyaknya pasang mata dipagi ini. Huh, kutarik nafas agar lebih relax sebelum memasuki ruangan kelasku. Kuedarkan pandanganku kesekililing kelas, Adam dia belum datang.
"Hai, apa kabar? Sudah lama sekali sepertinya kita tidak berjumpa. Oh tidak, terakhir kali kita bertemu sewaktu kau sedang belanja perlengkapan bayi kan?" Haha, Mida dan dua temannya yang sangat menurut padanya menertawakan ku dengan puasnya. Tapi lagi-lagi Munah berbisik padaku untuk tidak mendengar dan berpura-pura tuli. Ingatlah, hari ini kita akan melaksanakan ujian, sebentar lagi juga tidak akan bertemu dengannya. Begitu Munah berbisik.
"Kenapa lagi?" Melihat ekspresi wajahku yang terlihat bingung Munah langsung bertanya.
"Ada coklat?" Aku memperlihatkan kehadapan Munah. "Bukankah Adam belum datang?"
Munah langsung menoleh kearah dimana Adam dan Wahid duduk.
"Iya dia belum datang. Lalu siapa yang meletakkannya disana?" Aku menggeleng. Lalu meletakkan kembali coklat kedalam laci mejaku. Kulihat 10 menit lagi bel akan berbunyi. Kenapa belum dilaksanakan ujian aku sudah harus berpikir keras sih? Aku sendiri menggerutu dalam hati.
"Nah itu Adam." Aku mendongak dan melihat Adam masuk kedalam kelas dengan Wahid, berjalan dengan santainya tanpa menoleh ke arahku. Aku menarik lengan Munah yang sudah siap berdiri untuk memanggil Adam.
Aku menggeleng, dan mengatakan.
"Aku tidak ingin betengkar lagi dengan Mida." Munah membuang nafas kasar. Dia tau maksudku. Manusia sepertinya akan terus mencari masalah denganku. Aku sendiri tidak habis pikir, kenapa Mida selalu iri denganku? Aku saja tidak pernah mengusik kehidupannya, mencari tau tentangnya ataupun latar belakang keluarganya.
Tidak sepertinya yang selalu penasaran dengan kehidupan ku, dan apa yang aku lakukan setiap harinya.
Keadaan kelas mulai hening. Ketika suara bel berbunyi dan bersamaan dengan suara derap langkah kaki yang masuk kedalam kelas. Guru yang masuk dengan membawa setumpuk berkas, ah tidak itu adalah tumpukan kertas ujian untuk kami. Kenapa jantungku berdebar sekarang?
"Kau membaca setiap catatan yang kami berikan kan?" Munah berbisik pelan saat soal ujian mulai dibagikan. Aku mengangguk lagi.
Benar, aku memang terkadang membacanya, tapi hanya sedikit. Tidak semuanya aku hafal. Tapi, teringat tadi malam. Aku tersenyum sendiri, saat Satria mengajariku apa saja soal yang akan keluar sewaktu ujian tiba. Sepertinya tidak sia-sia aku menerimanya datang tadi malam.
"Kau harus tau, jika dalam setiap bab kemungkinan hanya satu atau dua soal saja yang akan keluar sewaktu ujian kelulusan. Jadi kau juga tidak akan merasa tertinggal pelajaran walaupun tidak masuk sekolah selama beberapa Minggu." Dan elusan lembut itu aku rasakan dipuncak kepalaku. Aku merasa seperti tengah diajari oleh kakakku sendiri.
"Mana yang sudah kugaris bawahi itulah yang kemungkinan akan keluar disoal ujian, jadi kau harus menghafalnya." Aku menurut saja apa yang sudah Satria ajarkan padaku. Aku terus tersenyum sepanjang melihat soal ujian ini. Benar, semuanya benar apa yang dikatakan Satria tadi malam. Beberapa soal kujawab dengan mudahnya. Dan nanti malam dia berjanji akan datang lagi, mengajariku lagi tentang pelajaran yang akan dijadikan soal ujian besok, sesuai dengan mata pelajaran.
"Hei, kau tidak masuk beberapa Minggu tapi kenapa kau begitu mudah menjawabnya?" Munah menggaruk kepalanya karena begitu sulit untuk menjawab beberapa soal. Aku tertawa kecil dan meliriknya, dengan sombong aku menutup jawaban yang aku punya. Jahat sekali aku sepertinya tidak memberinya contekan.
"Aku hanya menjawabnya dengan asal." Aku berbisik dan tertawa kecil.
"Jua ibumu jahat sekali." Aku hanya geleng-geleng dan lanjut fokus mengerjakan soal, karena waktu terus berjalan.
Dan benar saja, bel sudah berbunyi. Semua soal harus dikumpulkan kembali. Dan kami diberi waktu istirahat setengah jam. Lalu lanjut lagi setelah bel berbunyi, setelah itu barulah pulang.
Munah mengajakku untuk membeli cemilan di kantin sekolah. Tapi aku tidak tertarik dan memilih duduk didalam kelas sambil berbalas pesan dengan Satria. Mengucapkan terima kasih padanya, karena bantuannya dengan mudah aku bisa menjawab soal ujian hari ini.
"Next, lanjut nanti malam, aku akan menemanimu hingga kau bisa lulus dengan nilai yang bagus." Ah aku tersenyum lagi, dia pintar sekali. Tidak sia-sia orang tuanya mengirimkannya kuliah diluar negeri. Kira-kira seperti apa sosok ibu dan ayahnya Satria ya?
__ADS_1
"Kinara!" Aku langsung mendongak, tersentak kaget. "Sedari tadi aku mengajakmu bicara, apa kau tidak mendengar?"
"Ha? Kau masih disini, kukira kau sudah pergi ke kantin?" Aku tertawa kecil, ya Tuhan aku bahkan tidak menyadari jika Munah masih berdiri disini.
"Aku hanya menawarkan, kau ingin menitip sesuatu tidak? Tapi kau malah asik sendiri dengan ponselmu."
"Eh maaf. Aku titip minuman saja ya?" Munah mengangguk dan berlalu pergi. Keadaan kelas benar-benar sepi, hanya ada aku sendiri? Mereka yang merasa jenuh mungkin pada berlari kekantin. Tapi dimana Adam? Kenapa dia tidak menyapaku hari ini?
Aku meletakkan ponselku diatas meja, lalu beralih kelaci dan mengambil coklat yang tadi aku temukan. Membukanya dan langsung melahapnya. Terserahlah, mau Adam atau siapapun yang meletakkannya disini, yang terpenting coklat bisa merubah moodku menjadi lebih baik.
Lima menit kemudian..
Ku habiskan coklat tanpa sisa, menjilat dibagikan jari yang masih tersisa. Rasa tidak rela jika harus mencuci tangan, aku menoleh kearah sekeliling untungnya masih sepi. Aku menertawakan diriku sendiri, gila! Dulu aku juga pernah melakukan hal ini dengan Adam. Adam atau Iam, mereka juga sama. Orang yang sama.
"Jika kau merasa kurang, aku akan membelinya lagi untukmu." Ha? Aku mendongak, Adam sudah berdiri didepan meja belajarku, melipat kedua tangannya dan tanpa berkedip memandangku. "Apa harus segitunya? Kau bahkan rela menjilat jarimu?" Hei, kenapa aku jadi malu?
"Ini bersihkan lah." Adam menyodorkan tissue padaku. Dan anehnya, aku malah tidak menolak, menerima dan membersihkan jari tanganku dengan tissue. Seperti titah yang tidak dibantah, aku menurut apa yang dikatakan Adam.
Ting.
Ting.
Dua notif pesan sekaligus masuk ke ponselku. Aku sudah beranjak ingin membuang bekas tissue, tapi aku urungkan karena layar ponsel menunjukkan bahwa itu pesan dari Satria.
"Kenapa?" Adam bertanya lagi saat aku memasukkan ponsel kedalam tas. "Kenapa tidak kau balas?" Aku hanya menggeleng.
Aku kembali duduk setelah membuang tissue ketempat sampah.
"Apa kau yang memberiku coklat dipagi ini?" Adam mengangguk, lalu ikut duduk denganku dikursi Munah.
"Bukankah kau datang setelah aku?"
"Siapa bilang?" Hei, aku melihatnya sendiri tadikan?
"Aku datang pagi, hanya saja aku tidak duduk didalam kelas. Memangnya kau, yang terlalu fokus memainkan ponselmu. Bahkan untuk sekedar menyapaku saja kau tidak mau."
"Kau?"
"Apa? Memang benarkan? Apa sekarang, aku sudah tidak penting? Dan Satria, oh dia jauh lebih penting bagimu sekarang kan?" Deg. Kenapa aku marah jika Adam berkata begini. Maksudnya apa?
"Aku dan Satria hanya berteman. Aku hanya menganggapnya sebagai kakakku saja, tidak lebih. Kau berpikir terlalu jauh?"
"Apa alasanmu barusan agar aku tidak cemburu?" Hah? Aku menoleh kearahnya. Adam meraih tanganku dan meletakkannya tepat di bagian dada. Sungguh, ada aliran darah yang mengalir dengan cepat saat ini.
__ADS_1
"Kau tau, setiap saat aku selalu memikirkanmu. Setiap saat!" Adam sepertinya tengah memperjelas kalimatnya, bahwa dia benar-benar sayang padaku.
"Aku yakin Kinara, kau pasti akan merindukan ku suatu saat nanti."
"Adam, kenapa kau bicara begitu?" Aku berusaha menarik tanganku, tapi dia menahannya.
"Hei, kalian memanfaatkan situasi ya? Oh aku tau, kau sengaja tidak mau pergi ke kantin agar bisa berduaan dengan Adam?" Munah datang dengan gamblangnya mengatakan hal itu. Aku langsung menarik paksa tanganku, karena Adam sudah tidak lagi menahannya, mungkin juga karena sudah ada Munah sekarang.
"Jika kau merasa iri, maka kau ajak juga Wahid. Bukankah sebentar lagi kalian juga akan berpisah?"
"Aku tidak akan merindukannya!" Tegas Munah dan meneguk minuman miliknya. Aku juga haus, dan langsung menyambar minuman yang sudah Munah letakkan diatas meja.
"Kau yakin? Tidak merindukannya?" Munah terdiam. Lalu tersenyum seperti tengah membayangkan sesuatu.
"Munah?" Kami serempak menoleh. Nah yang tengah dibicarakan datang, dengan gaya cool nya dia menggerakkan jari meminta Munah agar mendekat padanya.
"Apa?" Yang dipanggil tetap duduk pada tempatnya.
"Ikut aku sekarang!" Dan terjadilah tarik menarik, aku dan Adam hanya menjadi penonton saja.
"Apa sih! Kau mau membawaku kemana?" Munah mengibaskan tangannya yang sudah dicengkeram oleh Wahid.
"Kau jangan berpura-pura bodoh! Kau membeli minuman dan cemilan tadi, lalu mengatakan pada ibu kantin kalau aku yang membayarnya kan?"
Aku dan Adam saling pandang.
"Ppffft." Sungguh, Munah bisa membuatku keram perut kalau begini, menahan tawa. Tingkahnya benar-benar membuat orang lain jengkel.
"Memangnya kenapa! Bukankah kau akan menjadi jodohku?" Eh, Adam langsung tersentak kaget lalu menoleh kearah ku. Munah menutup mulutnya dan terdiam. Sementara Wahid geleng-geleng kepala lalu membawa Munah keluar kelas. Dan keadaan menjadi hening sekarang.
"Maksudnya Munah?"
"Itu urusan mereka." Adam diam lagi.
"Kinara?" Suara Adam yang sangat lembut terdengar.
"Jika semasa pengobatan diluar negeri tidak berhasil. Maka aku minta padamu untuk datang kerumah dan ambilah lukisan yang aku buat khusus untukmu." Deg. Perkataan ini seperti orang yang sebentar lagi akan mati.
Cup. Tiba-tiba Adam mencium bibirku, lalu beranjak pergi kembali ketempat duduknya. Aku tertegun, memegang bibirku sendiri.
Ini sudah yang kesekian kalinya Adam melakukannya padaku!
Bersambung..
__ADS_1