
Satu tahun berlalu begitu cepat. Aku menjalani tanpa kesakitan, tapi dengan rasa rindu dan sandiwara. Berpura-pura mencintai. Sebenarnya aku takut sekali kalau akhirnya jatuh cinta beneran. Dengan perhatian yang setiap hari Windu berikan padaku. Dan terkadang setiap kuliah dia juga mengantar jemput. Menolak percuma, jika Windu sudah menelpon ayah dan meminta agar aku tidak membawa mobil.
Kehidupan normal mulai aku rasakan saat menginjak kakiku menjadi mahasiswa. Bagaimana tidak? Ini sangat berbeda jauh saat aku masih duduk di bangku SMA. Biasanya jauh dari orang tua, perhatian dan kasih sayang mereka. Ah aku bahkan tidak ingin lagi mengingat hari berat itu.
Hari ini, aku akan berangkat kuliah membawa mobil. Dan menggunakan celana jeans berwarna coklat, kaus berwarna putih yang pas di tubuhku. Menggerai rambut panjangku. Eh bahkan rambutku sudah panjang ya sekarang.
"Selamat pagi ayah, ibu?" Aku tersenyum dan menyapa saat sudah duduk dimeja makan. Hari ini jadwal kuliah sebenarnya jam 10. Hanya saja aku sengaja berangkat lebih awal karena ingin mencari buku di perpustakaan bersama Munah.
"Pagi sayang. Kau diantar Windu kan hari ini?" Ayah bertanya padaku.
"Tidak yah. Aku sudah mengatakan padanya kalau tidak perlu mengantarku hari ini." Aku hanya sarapan dengan roti. Karena sekarang aku jauh lebih memperhatikan penampilanku.
"Renan mana Bu?"
"Itu lagi dimandikan sama mbak Nina." Ya, dan aku sudah memiliki adik laki-laki sekarang. Bernama Renansyah Husien. Dia sangat menggemaskan dengan usianya yang baru saja menginjak hitungan bulan. Makannya aku lebih betah berada dirumah karena ingin selalu melihatnya. Jangan ditanya soal wajah, dia sangat mirip denganku. Tidak ada sedikitpun yang seperti ibu Intan. Benar-benar ingin diakui bahwa dia adikku.
"Yah aku berangkat ya, Munah sudah menungguku."
"Iya kau hati-hati ya, jangan pulang terlambat."
"Ibu aku pergi."
"Hati-hati sayang."
Aku melangkah keluar, membawa tas selempang milikku, biasanya aku memakai tas gendong, dan rasanya sudah bosan. Banyak yang memujiku, baik dalam kalangan pertemanan ataupun pelayan dirumah. Mereka mengatakan kalau penampilan ku sungguh sederhana. Ah terkadang mereka terlalu memuji.
"Pagi pak Bandi." Sebelum masuk mobil aku sempatkan menyapa seseorang yang bertugas mengurus taman dihalaman rumah ayah. Aku juga sudah akrab dengan yang lain, baik pengawal ataupun pelayan. Hal itu sangat mempermudah jika aku ingin menyembunyikan sesuatu dari ayah.
"Eh udah mau pergi nona? Tidak dijemput dengan akang Windu?" Aku tertawa kecil lalu menutup pintu mobil, menurunkan kaca saat sudah duduk didalam mobil.
"Tidak, hari ini harus bebas hehe." Aku membunyikan klakson saat mobil melaju, pak Bandi bahkan berteriak hanya sekedar mengucapkan hati-hati.
Aku tidak akan bisa fokus dalam menyetir jika ponselku terus berdering. Aku melihat kearah layar, yang ternyata itu Munah.
"Tidak sabar sekali sih, aku juga sudah diperjalanan." Gerutuku. Padahal ini juga masih jam 7 pagi. Bukankah itu sudah termasuk cepat ya?
"Hallo? Aku sudah diperjalanan, sebentar lagi juga sampai." Langsung kumatikan saja, karena aku yakin kalau Munah pasti sudah mendengarnya.
Mobil melaju dengan kencangnya, karena kalau masih jam 7 jalanan belum ramai. Hingga aku mengerem sampai berdecit saat melihat Munah berdiri dipinggir jalan raya. Memeluk buku tebal yang entah apa isinya. Eh dia sekarang benar-benar fokus dalam belajar dan pacaran lhoo.
"Kau janji kalau jam 7 sudah sampai di kampus kan? Bukan jam 7 dalam perjalanan!" Lihatlah, dia langsung protes saat memasuki mobil.
"Iya, aku kesiangan."
"Pasti karena kau terus telponan dengan kak Windu?" Hehe, aku tertawa.
"Tidak, aku memainkan game."
"Nanti kau bisa antar aku kan? Kalau kita sudah selesai kuliah?" Aku mengerutkan keningku.
"Kemana?"
"Menjemput Wahid dibandara." Hah? Hampir saja kau mengerem secara mendadak.
"Dia pulang, tapi hanya satu atau dua Minggu saja disini."
"Kau serius?" Munah mengangguk dan tersenyum. Aku tau apa yang dipikirkannya saat ini. "Ah aku sangat merindukannya."
"Hei, ingatlah. Dia milikku."
"Dia juga temanku kan?"
Berdebat dengannya membuatku tidak merasakan waktu, mobil sudah sampai ditempat kuliahku. Aku meminta Munah untuk masuk lebih dulu, agar bisa mencari buku yang kami butuhkan. Tugas kuliah sungguh ribet, tidak seperti tugas saat menduduki bangku SMA.
"Hai Kinara."
"Pagi Kinara." Aku tersenyum dan membalas sapaan dari mereka yang katanya mengagumiku. Tersenyum kesana kemari.
"Kinara?" Aku menoleh saat pundaku ditepuk oleh seseorang.
"Eh Noah." Dia tersenyum. Noah adalah salah satu teman kuliahku. Dia sering sekali menyapa dan mencari perhatian. Sayangnya aku tidak bisa merespon lebih, karena memang tidak tertarik. Walaupun wajahnya tampan, begitu yang sering dikatakan orang-orang.
"Apa kau sudah mulai mengerjakan tugas yang diberikan kemarin?
"Ini juga mulai, kenapa?"
__ADS_1
"Apa kita bisa mengerjakannya bersamaan?"
"Eh kalau itu aku tanyakan pada Munah dulu ya. Aku duluan ya Noah, soalnya Munah sudah berada di perpustakaan." Aku berjalan lebih dulu, dan lebih tepatnya mempercepat langkahku. Aku sudah tidak ingin dekat dengan laki-laki manapun, meskipun itu hanya berstatus teman. Aku sudah trauma melibatkan teman dalam hidupku. Contohnya juga Windu, awalnya juga aku hanya berteman dengannya. Lalu berakhir menjadi calon suami.
Perpustakaan sungguh masih sepi, hanya ada beberapa mahasiswa saja yang mencari buku dan kembali keluar. Setiap lorong aku masuki untuk mencari keberadaan Munah. Perpustakaan disini tidak kecil seperti perpustakaan sekolah ataupun perpustakaan ayah dirumah. Jauh lebih besar, dan diujung terdapat pintu untuk masuk keruangan seni. Banyak lukisan indah terpanjang disana, itu semua adalah hasil dari tangan mahasiswa berprestasi di bidang seni.
"Nara?" Suaranya terdengar sangat kecil. Aku menoleh, mencari sumber asal suara.
"Ternyata kau disana?" Munah melambaikan tangannya, sialan pantas saja aku mencari disetiap lorong tidak ketemu. Ternyata Munah sudah duduk dan mendapatkan buku yang kami cari.
"Cepat sekali kau menemukannya?" Aku duduk dan melihat buku tebal yang sudah berada diatas meja, lebih tebal dari buku yang Munah bawa tadi.
"Iya, untungnya aku bertemu dengan mahasiswa lain yang sudah pernah mendapatkan tugas seperti ini."
Aku mulai membaca disetiap bab. Dan berunding kepada Munah jika ada yang pas untuk menjawab pertanyaan yang dosen berikan.
"Nara, aku ingin balas pesan dari Wahid dulu ya?" Aku mengangguk, tapi mataku tetap fokus melihat isi buku.
Tiga puluh menit berlalu, lelah sekali dan tugasnya juga belum kelar. Hanya terjawab sekitar lima saja.
"Nara?" Aku mendongak. Munah menutup buku dan melipat kedua tangannya diatas meja.
"Kenapa?"
"Apa kau tidak merindukan Adam?" Deg. Bagaimana mungkin aku bisa lupa? Bahkan setiap malam sebelum tidur aku selalu memandang lukisan yang dia berikan.
"Nara? Hei, aku bertanya padamu?" Munah melambaikan tangannya dihadapan ku. Ternyata aku melamun ya?
"Kenapa kau bertanya soal itu? Kau sendiri tau kan, kabarnya sudah tidak ada. Yang aku tau saat ini Adam masih hidup. Aku sudah berkali-kali mencoba menelpon ibunya, tapi nomornya tidak pernah aktif."
"Kau tidak merasa ada yang aneh?"
"Aneh? Aneh bagaimana?" Aku kembali membuka buku dan membacanya, membahas soal ini sungguh membuatku tidak fokus untuk mengerjakan tugas.
"Ya aneh, kau bertanya dengan Windu saja dia tidak tau. Padahal kan dia kakak kandungnya. Dan ayahmu, apa kau pernah bertanya padanya?"
"Pernah sekali. Tapi ayah hanya menjawab kita berdoa saja untuk kesembuhannya."
Munah diam, dan kembali bermain ponsel. Aku menghitung dengan menit, jika dia terus bermain ponsel aku akan melemparnya dengan pena.
"Nara?"
"Maaf, aku hanya ingin mengatakan sesuatu. Tapi kau janji jangan marah padaku."
"Hem."
"Sebenarnya selama ini aku merasa ada yang aneh. Apakah Adam sudah mengatakan yang sejujurnya dengan ibu atau kakaknya? Bahwa dia lah yang menghamilimu? Lalu karena melihat kondisi Adam seperti itu, dan akhirnya Windu lah yang rela bertanggung jawab."
Aku melirik ke kanan dan kiri. Aku takut ada yang mendengarnya.
"Jaga bicaramu Munah. Kita sedang berada ditempat yang siapa saja bisa mendengarnya."
"Tidak, disini masih sepi." Dia melihat keseluruhan ruangan. Heh, benarkan aku sudah tidak lagi fokus untuk membaca ataupun mengerjakannya. Sebenarnya aku juga sempat berpikir yang sama dengan Munah, hanya saja bagiku itu sangat tidaklah mungkin.
***
Aku dan Munah sudah berada diperjalanan, dan dengan kurang ajarnya Wahid sudah pergi lebih dulu. Dia membagikan lokasi untuk aku dan Munah agar pergi kesana.
"Kalau saja aku tidak memiliki rasa padanya, sudah kupastikan ketika berjumpa dia habis ditanganku." Aku tertawa, meskipun aku juga ingin sekali menghabisi Wahid saat ini.
"Kau sudah mulai mengakuinya ya sekarang?"
"Eh harus bagaimana lagi, aku memang benar-benar merindukannya?" Iya aku tau itu, harusnya tidak perlu diperjelas lagi.
Saat mobil sudah sampai, aku dan Munah turun. Ternyata Wahid membawa aku dan Munah ketempat yang bisa dibilang hanya dimasuki oleh orang-orang tertentu, kalangan menengah keatas misalnya.
"Dia tidak salah tempat? Atau kita yang salah tempat?" Munah sendiri saja sudah ragu. Mungkin karena pelitnya Wahid.
"Nara, kau membawa uang lebih kan? Aku takut kalau Wahid tidak mau membayar makanan kita."
"Haha, kau tenanglah. Ayo masuk?"
Pengunjung direstoran bintang lima ini tidak terlalu ramai, mungkin karena masih disiang hari. Dan sialnya disini tidak hanya ada satu lantai saja, dimana kami harus mencarinya? Wahid sepertinya sengaja, dengan tidak mengaktifkan ponselnya.
"Kenapa jahilnya tidak hilang juga sih? Kupikir selama kuliah diluar negeri otaknya sudah dicuci dan menjadi baik, ternyata malah lebih parah dari sebelumnya." Munah terus menggerutu saat tau Wahid tidak bisa dihubungi. Kami sudah berkeliling dilantai satu, dan akan naik kelantai selanjutnya. Meskipun pengunjung tidak ramai, tapi memang tidak ada Wahid disini.
__ADS_1
"Sekarang kita sudah berada dilantai dua. Dan dia juga tidak ada, apa sebaiknya kita pulang saja?"
"Kau yakin? Bukankah kau sangat merindukannya?"
Munah terdiam. Dan malah menarik kursi lalu duduk.
"Aku lelah, aku juga sudah sangat lapar."
Dan aku juga mengikutinya, menarik kursi lalu duduk.
"Kalian kenapa disini?" Hah? Suara itu??
Aku dan Munah langsung menoleh.
"Kau?" Munah langsung menggerebek meja. Kesabarannya sudah habis ternyata. Aku tercengang, saat melihat penampilan Wahid saat ini. Kumis tipis yang dia pelihara, dan kulitnya yang jauh lebih putih dari sebelumnya. Juga rambutnya yang tidak dipotong selama satu tahun? Apakah ini benar Wahid? Aku hampir tidak mengenalinya.
"Maaf, tadi batraiku lowbat dan ponselku mati." Dia ikut duduk. Berarti Wahid juga baru sampai??
"Kinara, apa kabar?" Aku tersenyum.
"Baik, kau sehatkan?"
"Aku sehat."
"Kalian bicara berdua saja." Wahid langsung mengunyel rambut Munah, menarik hidungnya. Ah aku sangat rindu dengan pemandangan ini.
Pelayan datang dan menyerahkan buku menu. Munah sepertinya sangat lapar, dia bahkan merebut buku menu dari tanganku saat aku masih memilih.
"Aku sama saja denganmu."
"Aku juga." Dan terakhir, Munah lah yang memilih makanan untuk menjadi makan siang hari ini.
"Kau makan sedikit ya? Kenapa kau malah semakin kecil sekarang?" Sepertinya aku sudah siap menjadi obat nyamuk saat ini. Melihat kemesraan mereka, aahhh kenapa aku iri?
"Eh sebentar ya, Windu telepon." Aku berjalan menjauh.
"Hallo?"
"Nara, kau dimana?"
"Aku, sedang makan siang dengan Munah dan Wahid." Windu diam diseberang telepon.
"Ya sudah, kalau begitu makan lah yang banyak. Aku tutup panggilan teleponnya ya." Eh, dia kenapa sih? Apa menelponku hanya untuk bertanya aku sedang apa dan dimana, aneh.
Aku kembali duduk, mereka sudah menatapku. Terutama Munah, aku yakin dia pasti akan bertanya sekarang.
"Siapa?"
"Windu." Benarkan, padahal tadi aku sudah mengatakannya kalau Windu menelponku. Mungkin karena ada Wahid dia mendadak jadi tuli.
"Kenapa? Apa dia ingin menjemput mu?" Aku menggeleng.
"Windu siapa? Kakaknya Adam?" Aku dan Munah saling pandang. Aku lupa jika Wahid tidak tau mengenai perjodohan ini.
"Iya kakaknya Adam. Sekaligus calon suaminya Nara."
"Calon suami?"
"Munah!" Padahal aku sudah mengatakan padanya bahwa jangan sampai Wahid tau.
"Bagaimana mungkin? Bukankah Adam?"
"Kenapa Adam?" Aku diam. Dan Munah yang bertanya.
"Adam, dia Hem."
"Bicara jangan berbelit-belit, kau membuatku penasaran."
"Eh tidak, itu hanya masa lalu." Bukan Munah namanya kalau tidak terus menunggu jawaban yang pasti. Bahkan setelah pelayan datang mengantarkan makanan, Munah masih setia menunggu. Begitu pelayan pergi dia langsung bertanya lagi.
"Kau tidak ingin mengatakannya? Kinara juga temanmu kan?"
"Adam hanya mengatakan kalau dia sangat mencintai Kinara." Deg. Seketika itu aku melemas. Satu tahun lamanya, aku sudah belajar melupakan, kenapa harus diingatkan kembali? Mana yang harus aku percaya?? Andai ada Adam saat ini, aku bisa langsung meminta penjelasan darinya.
Bersambung..
__ADS_1
Hai, selamat berbuka puasa bagi yang menjalankan.. Semoga kalian sehat terus yaa 🤗🤗