Langit Mendung

Langit Mendung
Pernyataan cinta


__ADS_3

Satu Minggu lamanya berada didalam apartemen, wajahku bukan tambah bersih dan putih, yang ada malah tambah Kumal dan lecek. Iya, kata bi Gina ini salah satu efek dari ibu hamil. Baiklah, aku mengalah soal penampilan.


Aku sudah kembali masuk ke sekolah, berkat Adam yang setiap harinya datang ke apartemen, memberiku catatan apa saja yang penting. Agar aku tidak tertinggal dan susah untuk menjawab soal ujian nantinya. Teringat akan Adam yang sampai tertidur, dengan perutnya yang lapar karena setelah pulang sekolah langsung mampir ke apartemenku.


"Kau lapar?"


"Tidak."


"Tapi kenapa perutmu berbunyi?" Adam yang fokus menulis berpura-pura tidak mendengar. Aku yang sudah jauh lebih baik, berjalan ke dapur dan meminta bi Gina memasakkan mie untuknya. Tapi melihat bi Gina sedang bersih-bersih, aku tidak tega untuk memintanya memasakkan mie. Dan akhirnya, aku membuat mie sendiri untuk Adam. Saat aku kembali, semula kulihat hanya menundukkan kepalanya saja. Tapi aku malah mendengar dengkuran dari Adam. Jujur, aku tidak bisa menahan tawa. Hingga kuah di dalam mangkuk jatuh menetes.


"Adam." Dia belum juga bangun. Aku meletakkan mie di atas meja, lalu menusuk-nusuk hidungnya.


"Dia benar-benar lelah karena membantuku." Baiklah, aku menunggunya, kuberikan waktu 15 menit, agar makanannya tidak dingin.


"Adam, bangun ada kebakaran!!" Teriakku di samping telinganya. Adam yang panik langsung bangkit dan lompat ke sofa. Matanya memerah, dia pulas sekali tidur dengan posisi seperti itu!


"Kau berbohong?" Dan aku terkena imbasnya, Adam menggelitik perutku, aku sungguh tidak sadar akan itu. Hingga Adam berhenti dan menatapku tanpa berkedip.


"Kenapa perutmu keras sekali?" Deg.


"Aku susah buang air besar." Elakku dan menarik mangkuk mendekat ke arah Adam. "Makanlah, aku memasak khusus untukmu." Adam diam.


"Jangan bilang kau tidak lapar, bahkan perutmu berbunyi sejak tadi."


Aku tersenyum mengingat kala itu, ah bagaimana rasanya ya jika aku dan Adam sudah berpisah nantinya. Mungkin aku hanya bisa melihat bayi mungil yang memang keturunannya. Dan bagaimana jika Adam sudah memiliki pasangan? Pasti akan lupa denganku, apa lagi jika mendapatkan pacar yang tidak seperti Elena. Mengerti akan pertemanan kami.


"Kau melamun ya? Kau berhayal apa? Kenapa dari tadi kau senyum-senyum sendiri?" Ya Tuhan, kenapa aku bisa tidak sadar kalau orang itu ada disamping ku sekarang?


"Aku lelah mencari anak yang kepalanya botak?" Dia mengeluh dan duduk dibawah pohon, yang berada dihalaman sekolah.


"Malah kau dari tadi tidak fokus?" Aku tertawa, dia menggerutu tidak ada hentinya.


"Kalau di jaman sekarang ada yang mau botak, Iya itu hanya kalau terkena penyakit." Aku ikut duduk disampingnya, benar kata Adam. Tidak mungkin saat ini ada yang mau botak. Kami sudah mengelilingi sekolah, berpura-pura melewati setiap kelas. Hingga Adam pun berjumpa dengan Elena, ah iya ini salahku.


"Terkena penyakit?" Adam mengangguk saat aku menanyakan hal itu.


"Kau pernah lihat kan orang yang terkena penyakit? Seperti kanker otak contohnya." Aku mengangguk lagi.


"Benar, tidak mungkin dia terkena penyakit." Adam menoleh ke arahku.


"Mungkin saja. Hanya saja dia menutupinya dengan tidak membotaki kepalanya."


"Ah tidak mungkin, teman kecilku tidak penyakitan!" Aku berdiri dan melangkah meninggalkan Adam.


"Tidak ada yang tidak mungkin." Aku melengos saja, dan Adam mengejarku.


"Kau mau mencarinya lagi?" Aku mengangguk.


"Bagaimana kalau kau anggap aku teman kecilmu?"


"Berbeda Adam, kau temanku saat ini." Aku terus melangkah, hingga Adam menarik tanganku.


"Kita kembali saja ke kelas, percuma juga." Aku mengangguk, Adam terus menarik tanganku. Tak peduli dengan tatapan Teman-teman Elena. Bagi Adam memang tidak masalah, tapi bagiku. Mereka pasti tengah membicarakan ku di belakang.


Aku kembali ke dalam kelas, Munah sedang duduk bersama Wahid di dekat meja guru. Semenjak kejadian itu, aku mundur satu langkah menjaga jarak dengan Munah. Meskipun aku tau, Munah memang tidak memiliki salah denganku, tapi aku sendiri yang salah dalam hal ini. Tidak bisa jujur kepada teman dekatku.


Pelajaran terakhir berlangsung, aku sudah dua kali ijin ke kamar mandi. Mungkin karena berkeliling sekolah membuatku merasakan sesak.


"Ah leganya." Setelah kubuka seragam dan korset. Menyandarkan tubuhku di dinding kamar mandi, mengipas di bagian leher dengan kedua tangan. Dari mana lagi jika tidak menghasilkan angin sendiri. Kamar mandi tertutup rapat, tidak memiliki pantilasi udara. Hal itu membuatku bebas melakukan apapun tanpa takut ada yang mengintip. Hanya saja memang tidak bisa lama-lama berada di dalam sini, merasa pengap. Belum lagi terkadang ada berbagai macam bau yang menyeruak ke dalam hidung.


Saat aku baru saja melangkah keluar pintu kamar mandi, bel sudah berbunyi. Aku tidak ingin berlari ataupun berjalan terburu-buru. Lebih baik menunggu hingga sepi, agar aku bisa bebas menuliskan nomor ponselku. Dan meninggalkannya di dalam laci, tak lupa juga surat kecil yang aku tulis untuk Iam. Sungguh, aku merasa seperti hidup di jaman 90-an kalau begini.


"Nara?" Aku menoleh.


"Adam?"


"Kenapa kau lama sekali? Ini tas mu." Aku menerimanya. Lalu berjalan beriringan menuju kelas, aku memang meminta Adam untuk menungguku. Takut juga kalau sendirian di dalam kelas ketika sudah sepi. Bukankah cerita horor biasanya datang dari sekolah ya. Eh kenapa aku jadi penakut sih!


"Kau tunggu di depan pintu saja ya." Adam mengangguk, aku menitipkan lagi tas ku untuknya.


"Iam, ini aku Aya. Jika kau masih ingat, maka hubungi aku. Aku sangat merindukanmu. Munculah di hadapanku, banyak cerita yang tersimpan semenjak kita tidak bertemu belasan tahun lalu." Aku tersenyum membaca surat ku sendiri, lalu meletakkannya dan berjalan keluar kelas.


"Sudah?" Aku mengangguk.


"Adam, aku rasa sudah saatnya. Meskipun aku belum bisa bertemu langsung dengan teman kecilku, tapi setidaknya kau sudah membantuku. Ini sudah saatnya aku membalasnya. Dengan membawamu bertemu dengan bi Gina." Adam menoleh ke arahku.


"Eh aku melupakan sesuatu?" Aku berbalik dan berjalan lagi menuju kelas, untung saja belum terlalu jauh. Bagaimana bisa aku melupakannya.


Aku kembali mengambil secarik kertas yang ada di laci mejaku, lalu mengambil pena dan menulis nomor ponselku.


"Apa yang lupa?" Adam menyusulku bahkan dia berlari karena sempat tertinggal.


"Hehe tidak, aku hanya lupa menuliskan nomor ponselku." Adam berjalan mendekat ke arahku.

__ADS_1


"Nara?" Aku mendongak, semula masih memandang ke arah meja. "Bolehkah aku memelukmu?" Hah? Aku melihat ke sekeliling, mustahil untuk apa aku melihat lagi! Jelas-jelas kelas sudah sangat sepi, dan halaman sekolah juga sudah tidak ada orang.


"Aku ingin kau menjadi penguat ku Nara?" Melihat wajah Adam yang sangat sendu membuatku tidak bisa menghindar ataupun menolaknya. Aku mengangguk dan merentangkan tangan, siap menyambut Adam.


Pelukan hangat, aku tau ini sebenarnya tidak boleh dilakukan. Apa lagi dilingkungan sekolah begini. Tapi perasaan nyaman mengalir begitu saja. Ada desiran yang tidak pernah kurasa sebelumya. Bau nafas Adam yang saat ini juga terhirup olehku. Saat aku akan melepas pelukan, Adam masih menahanku.


Perlahan pelukan itu mengendur. Cup, Adam mengecup singkat bibir ini. Lalu mengelusnya. Aku terperangah, bahkan untuk sekedar marah dan memaki tidak bisa, lidahku keluh.


"Nara, aku menyayangimu."


"Iya aku tau-"


"Lebih dari sekedar teman."


"Adam!"


"Aku menyayangimu lebih dari sekedar teman!" Adam memperjelas kalimatnya, aku terdiam dan menunduk. "Bukan hanya karena perasaan bersalah, tapi aku benar memiliki perasaan itu." Deg. Benarkah? Kenapa aku terlihat senang. "Sudahkah kau membuka hati untuk siapapun yang berkenan singgah dan membuatmu nyaman?" Deg, lagi-lagi. Degup jantung ini tidak terkendali. Apa aku juga memiliki perasaan yang sama dengan Adam?


Iya aku memang menyayangi Adam, tapi itu hanya sekedar teman. Ahhhhhhhhh sebenarnya bagaimana perasaan cinta!! Jika orang-orang akan merasakan cinta buta, maka hal yang ku alami sekarang adalah buta cinta!


"Aku tidak ingin kau menjawabnya." Adam menarik tanganku untuk keluar kelas. Aku mengusap bibir yang beberapa detik lalu dikecup oleh Adam. Kali ini aku bisa merasakannya dalam keadaan sadar. Tanpa harus menyesalinya, Adam ada di hadapanku.


"Pak, tunggu jangan ditutup dulu." Adam berteriak saat securitty penjaga sekolah mulai menarik gerbang menutup.


"Kenapa kalian lama sekali?" Nadanya terdengar gusar. Duh, jangan sampai beliau berpikir macam-macam tentangku dan Adam.


"Kami mendapatkan tugas dari guru tadi pak."


"Oh ya sudah, hati-hati dijalan." Syukurlah, Adam memang pintar mencari alasan.


Aku sama sekali tidak bersuara setelah Adam mengatakan hal itu tadi. Sampai kami berpisah karena memasuki mobil masing-masing. Aku sudah duduk di dalam mobil, memegang stir kemudi dengan kedua tangan. Tapi pikiran ku sudah jauh entah kemana. Apa semudah itu jatuh cinta? Jadi ini maksudnya Adam memintaku untuk membuka hati? Agar menerimanya selalu dekat denganku? Bukankah itu artinya dia licik ya?


"Oh my God!!" Aku bahkan belum menyalakan mesin saat mobil Adam sudah berjalan. Seharusnya aku marah kan! Saat Adam mengatakannya harusnya aku marah!


***


"Nara, langsung makan saja ya? Bibi siapkan di meja makan." Baru saja aku masuk ke kamar. Bi Gina sudah Berteriak, dia sangat tau kalau aku sangat lapar.


"Iya bi." Tidak secepat itu aku langsung berganti pakaian, setelah melepas seragam sekolah dan korset. Aku ya lebih memilih untuk rebahan di atas tempat tidur. Walau tidak bisa lagi seenaknya berguling.


"Eh." Aku kaget, anakku menendang. Aku mengelusnya, tersenyum menatap langit-langit kamarku. Baiklah, 10 menit sudah cukup. Kebiasaan jika didalam rumah, aku sekarang lebih suka menggunakan daster yang bi Gina belikan di pasaran, sebagian juga aku sendiri yang membelinya melalui via online.


Tanganku sudah menyentuh handle pintu, tapi ponselku berdering. Aku berbalik dan menyambarnya. Berjalan keluar sambil mengangkat telepon.


"Hallo Bu?"


"Nara, sudah lama sekali kau tidak datang kerumah. Apa kau sehat?"


"Aku sibuk Bu, sudah ada jam pelajaran tambahan di sekolah. Sehat kok." Sedih rasanya jika harus berbohong setiap saat.


"Apa besok kau bisa datang kesini? Soalnya besok ibu mengadakan syukuran dirumah. Laras baru sembuh dari sakitnya." Deg. Lagi-lagi!


"Kau juga tidak datang menjenguknya kemarin." Aku diam, aku sudah duduk di meja makan. Bi Gina menatapku karena melihat wajahku sudah berubah. Dengan ekspresi menahan tangis. Lucu ya? Lebih lucu mana dibandingkan menahan buang air besar? Haha, tidak aku bahkan masih mampu tertawa di dalam hati.


Ibu terus mengoceh tentang Laras. Soal penyakitnya, perkembangannya saat ini. Apa dia tidak sadar kalau ini anaknya? Apa dia tidak tau aku diam itu bukannya mendengarkan, tetapi aku sedang menahan emosi. Agar mulutku sendiri dapat terkunci dan tidak mengeluarkan kata-kata yang tidak pantas untuk seorang ibu, ibu kandungku sendiri.


"Bu?"


"Iya?"


"Apa ibu sudah selesai bicara?" Ibu langsung terdiam.


"Bu? Apa ibu tidak bisa menelponku dengan alasan lain, apa ibu tidak bisa memintaku untuk datang kerumah ibu hanya sekedar mengucapakan kalau ibu rindu padaku? Jika Laras baru sembuh dari sakitnya, maka aku juga baru selamat dari maut! Ibu tau, akulah anak ibu bukan Laras. Jika itu alasannya ibu memintaku untuk datang, sampai kapanpun aku tidak akan pernah datang untuk menemui ibu. Sebelum ibu tau apa arti rasa rindu pada anak."


"Nara?"


"Cukup Bu. Aku pergi dari rumah bukan karena aku ingin hidup mandiri. Sadarilah sejak kecil ibu tidak pernah memanjakan ku seperti layaknya seorang anak dan ibunya. Ibu tau, aku menyesal telah lahir dari rahim ibu!!"


"Nara, apa yang kau bicarakan!" Tut.. Aku langsung mematikan sambungan telepon. Menghapus nomor ibu dan memblokirnya. Sampai kapanpun kau tidak akan bisa menghubungi ku lagi! Hiks, dasar sialan!! Aku berjanji, apa yang saat ini aku rasakan tidak akan pernah dirasakan anakku nantinya. Meskipun dia tidak memiliki ayah, dan anak dari hasil hamil diluar nikah. Aku tetap akan menyayanginya lebih dari pada aku menyayangi diriku sendiri.


"Nara, seharusnya kau tidak bicara begitu. Ada benarnya yang kau katakan, mungkin ibumu menganggap bahwa kau memilih untuk hidup mandiri dengan pergi dari rumah."


"Bibi?" Aku menangis, bi Gina meletakkan kain lap lalu mencuci tangannya. Setelah itu barulah dia datang memelukku. "Apa sebenarnya alasan ayah dan ibuku itu menikah bi. Sehingga aku terlahir, tapi yang aku lihat mereka tidak pernah saling mencintai. Tidak seperti bibi dan suami bibi, juga tidak seperti ayah Munah dan ibunya." Bi Gina menghapus air mataku. Matanya juga berkaca-kaca.


"Tuhan sudah menakdirkan segala sesuatunya. Kita tidak tau keberuntungan apa yang kita dapat setelah menjalani hidup bertahun-tahun dengan menderita. Kau lihat bibi kan? Bibi tidak memiliki anak, dan pada akhirnya Tuhan juga mengambil suami bibi. Tapi Tuhan memberi bibi lebih dari satu anak, dan salah satunya itu kau Nara." Deg. Benarkah? Tapi siapapun juga pasti tetap ingin merasakan kasih sayang dari ibu kandungnya, apa lagi mereka masih hidup. Bukankah begitu?


"Ibumu tidak akan pernah bisa berubah, sebelum kau juga menerimanya."


"Maksud bibi?" Bi Gina menghapus lagi sisa air mataku. Lalu menarik kursi dan duduk dihadapan ku.


"Kau tau, selama ini kau hanya memaki secara tidak langsung. Lebih memilih untuk berbicara kepada orang lain tentang masalahmu. Seharunya kau mengatakannya langsung kepada ibumu. Kau hanya melihat keadaan tanpa tau penyebabnya." Aku menunduk, apa maksudnya aku harus mengajak ibuku berbicara dengan hati ke hati?


"Dan bibi yakin, saudara tirimu itu mampu mengambil hati ibumu. Dia pasti sering mengaduhkan masalah yang dia alami. Sekarang bibi tanya, yang menjauhi ibumu kau sendiri kan?" Aku mengangguk.

__ADS_1


"Tapi itu karena ada alasannya bi. Ibu memang tidak pernah memperhatikan ku."


"Nara, ada sebagian orang tua di dunia ini yang mendahulukan dirinya dari pada anaknya, begitu pula sebaliknya. Suatu saat kau pasti akan paham maksudnya." Aku terdiam, karena aku sendiri tidak tau harus berbicara apa.


"Sudah, kau makan sekarang." Aku mengangguk, bi Gina meletakkan piring berisi nasi dan lauk di hadapanku. Meksipun aku sudah kehilangan selera saat ini, tapi demi anak yang aku kandung, aku akan memakannya. Ini adalah bentuk kasih sayangku padanya bahkan sebelum dia lahir ke dunia.


Aku sudah selesai makan, dan meneguk air. Lalu bi Gina meletakkan obat yang harus aku minum.


"Nara ada yang datang." Aku cepat-cepat menelan pil yang kata dokter adalah vitamin.


"Sebentar bi." Aku berjalan lebih dulu masuk ke dalam kamar. Memakai korset agar tidak terlihat, aku tau itu pasti Adam yang datang.


Aku bercermin di dalam kamar, melihat penampilanku. Daster nyaman yang semula aku pakai juga sudah aku buka. Berganti dengan kaus biasa yang aku pakai. Saat membuka pintu kamar, ternyata Adam sudah duduk sambil memainkan ponselnya.


Untuk menyapanya saja kenapa aku jadi canggung?


"Nara?" Dia mendongak karena mendengar suara langkah kaki yang mendekat, aku tersenyum ke arahnya lalu duduk di seberang sofa.


"Kau sudah siap mengatakan pada bi Gina?" Adam mengangguk. Lalu aku berteriak memanggil bi Gina yang tidak ada kelarnya bersih-bersih.


"Bi, duduklah disini." Aku menepuk ruang kosong di sebelahku.


"Bi, Adam ingin bercerita kepada bibi." Adam tersenyum, lalu menarik nafas. Bahkan mengubah posisi duduknya menjadi tegak, aku yakin dia sendiri bingung harus memulai dari mana.


"Bi?" Bi Gina mengangguk, mau bicara juga pakai bertele-tele.


"Adam, lebih baik aku yang mengatakannya pada bi Gina jika kau tidak sanggup." Adam terdiam, kini giliran ku yang mengatur nafas.


"Bi, bibi ingat tentang cerita bibi yang mengatakan kalau bibi sebenarnya pernah mencari majikan suami bibi dulu?" Bi Gina mengangguk, hanya saja raut mukanya sudah berubah. "Dan bibi juga pernah cerita kan, kalau majikan suami bibi itu meninggal karena kecelakaan? Sehingga ada penyebab yang mengharuskan kematiannya disembunyikan?"


"Nara?" Aku tau, bi Gina akan mencegahku untuk mengatakannya, karena sudah berjanji untuk selalu menyimpan rahasia ini.


"Dia Adam bi, dia anak majikan suami bibi." Bi Gina menoleh ke arah Adam. Adam mengangguk, lalu menunduk.


"Maaf bi, tentang keluargaku dulu yang sempat menuduh suami bibi. Saat itu aku masih terlalu anak-anak, tidak bisa membela mang Suryo. Sehingga beliau memilih untuk berhenti bekerja." Bi Gina menggeleng, dia pindah duduk menjadi di dekat Adam. Air matanya sudah jatuh, bi Gina menangis tanpa suara.


"Bi, apa sebelumnya pernah mang Suryo mengatakan sesuatu? Aku yakin, pasti ada hal yang beliau tau tentang kecelakaan ayah." Bi Gina mengangguk. Adam langsung menggenggam tangan bi Gina. Tatapannya seperti memohon kepada bi Gina meminta penjelasan.


"Bi? Sebaiknya bibi katakan saja. Kasian keluarga Adam bi. Mereka harus menyembunyikan Kematian ayahnya sampai bertahun-tahun. Tapi tidak kunjung menemukan titik terang." Bi Gina terdiam, aku tau jika bi Gina pun harus mempertimbangkan hal ini. Karena jika salah berkata, maka dirinya sendiri yang akan disalahkan.


"Sebelum ayahmu meninggal, sebenarnya suami bibi sudah memiliki firasat yang buruk. Sehingga dia berinisiatif mengantarkan sampai di tempat dimana supir yang pergi mengantarkan menunggu. Ternyata benar, semua dugaannya benar." Adam menunduk, dia tidak berani mengangkat wajahnya.


"Bibi percaya jika keluargamu orang baik."


"Bi? Apa mang Suryo pernah mengatakan sesuatu yang berkaitan dengan kecelakaan itu?"


"Abdi. Hanya nama itu yang disebut suami bibi ketika menangisi kematian ayahmu. Bibi tidak tau siapa itu, yang pasti suami bibi tidak pernah mengatakan apapun. Hanya berpesan kepada bibi jangan mengatakan kepada siapapun jika ayahmu sudah meninggal, meskipun itu kepada tetangga rumah. Bibi memberi alasan jika suami bibi tidak lagi bekerja karena keluarga kalian pindah keluar kota." Deg. Jantungku juga ikut berdenyut, ternyata masalah keluarga Adam lebih rumit.


"Abdi?" Bi Gina mengangguk. "Sudah ku duga." Gumam Adam sambil mengepalkan tangannya.


"Kenapa Dam?" Adam mendongak, benar sedari tadi menunduk ternyata dia sedang menangis.


"Dia om ku bi."


"Adam, bibi mohon. Jangan pernah katakan kalau bibi yang mengatakannya." Adam mengangguk, tapi tetap saja tidak membuat bi Gina tenang.


"Aku pernah mendengar saat itu bi, ketika suasana rumah sedang dalam keadaan duka atas kepergian ayah. Tidak sengaja mendengar kalau ada yang menelpon. Aku tau, jika itu suara om ku sendiri. Meskipun tidak bisa melihat wujudnya, hanya saja ibu selalu memarahiku jika aku menuduhnya. Aku hanya di anggap anak kecil yang tidak tau apa-apa bi." Bi Gina mengelus lengan Adam.


Aku yang merasa iba mengajak Adam untuk pergi keluar, sekedar mencari angin disiang hari. Duduk di pinggir jembatan kota. Memarkirkan mobil di tepi jalan raya. Aku dan Adam berdiri dengan memegang besi pembatas. Tatapan mata melihat lurus ke depan. Membuang nafas yang menjadi beban kami selama ini. Adam meraih tanganku dan menggenggamnya.


"Tidak di sangka, jika takdir hanya berputar di sekitaran saja."


"Kata-katamu membuatku terinspirasi untuk membuat puisi." Adam menoleh dan tersenyum.


"Terima kasih Nara." Aku tersenyum dan mengangguk.


Aku belum tau posisi Adam saat ini untukku, teman atau ayah dari anakku? Atau juga pacarku, aku tidak tau. Yang aku tau, mulai sekarang aku ingin merajut hubungan baik dengannya. Membuka hati bukan hanya sekedar merasakan cinta. Tapi aku juga mau merajut hubungan baik dengan keluarga. Tepat saat aku selesai melahirkan. Tapi itu hanya rencana belum bisa mengatakan janji dengan apapun sekarang yang hatiku katakan.


"Kita pulang?" Adam menggeleng.


"Aku akan membawamu ke suatu tempat."


"Kemana?"


"Kau nanti juga tau." Adam membukakan pintu mobil untukku. Jujur, aku sangat penasaran. Bagaimana kalau Adam mengajakku pergi kerumah omnya?


"Hanya makan ice cream di taman kota. Kau berpikir apa?" Aku tersenyum, hah syukurlah.


"Aku akan membelikan mu ice cream sebanyak mungkin." Ucapnya lagi, padahal dia yang bersedih. Tapi malah dia yang mencoba menghiburku.


Sesederhana ini, tapi aku akan mengucapkan terima kasih padanya. Meskipun sumber masalah yang aku hadapi karena ulahnya.


Bersambung..

__ADS_1


__ADS_2