Langit Mendung

Langit Mendung
Ayah mengetahuinya


__ADS_3

Dua hari sudah berlalu, dan aku juga belum mendapatkan penjelasan dari Windu. Dia mengatakan kalau sedang sibuk, dan aku juga harus memaklumi hal itu. Aku akan mengisi waktu kosong kali ini dengan datang kerumah ibuku, tapi tidak hanya itu. Ini kesempatan untukku juga, aku akan datang kerumah bi Gina.


"Bibi jangan datang hari ini, dan katakan saja kalau bibi sakit. Dengan begitu, aku bisa datang kesana dan bertemu adik-adikku bi. Aku sangat merindukan mereka."


Itu adalah isi pesan yang aku kirimkan tadi malam sebelum tidur. Dan kuyakini kalau bi Gina sudah membalasnya. Heh, syukurlah.


Aku berjalan menuruni anak tangga, dan akan ikut sarapan bersama ayah dimeja makan.


"Wah, yang mau pergi pagi-pagi sudah rapi sekali." Ibu tiriku ini hanya tersenyum menanggapi. Aku yakin dia sudah tau tujuanku kali ini akan kemana.


"Ayah, setelah aku pulang dari rumah ibu aku akan datang kerumah bi Gina. Katanya dia sedang tidak enak badan, aku ingin melihatnya." Ayah tidak menjawab tapi dia tersenyum, aku yakin jika ayah pasti memberi ijin.


"Kau ingin melihat bi Gina atau melihat yang lain?"


"Tidak yah, memangnya aku ingin melihat siapa lagi?"


Ibu sudah menuangkan nasi kepiring ayah, dan kini giliran ku. Ayah tidak lagi menjawab dan memilih menyantap sarapannya. Baiklah, aku tidak lagi membahas sebelum ayah juga membuka mulut.


Sesekali kulirik, ayah makan sambil satu tangannya mengelus perut istrinya.


"Makanlah dulu." Aku berpura-pura tidak tau, aku juga tidak merasa iri ataupun risih. Hanya saja aku lucu melihat sikap ayah yang seperti ini. Dia seperti laki-laki yang masih berumur 20-an.


Ting. Suara sendok yang berdeting saat bersentuhan dengan piring. Itu tanda kalau ayah sudah selesai sarapan.


"Ayah mau pergi sekarang?" Ayah mengangguk. Dia tidak beranjak dari tempatnya, begitu juga dengan ibu. Kenapa? Kenapa ayah malah menatap lekat kearah ku?


"Mau sampai kapan kau menyembunyikan hal ini dari ayah?" Deg. Apa lagi ini?


Tidak, aku yakin ayah akan kembali membahas tentang siapa laki-laki yang sudah membuatku hamil.


"Yah, aku mohon jangan bahas hal itu lagi. Aku benar-benar tidak mengenalnya yah."


"Bukan, bukan hal itu Kinara. Ayah tau kau masih butuh waktu untuk itu. Tapi mengenai anak-anak jalanan yang tinggal bersama bi Gina. Bukankah kau ingin kesana karena mau melihat mereka kan?"


"Uhuk.. Uhuk.."


"Kinara, minumlah sayang." Ibu langsung berdiri dan menyodorkan air padaku. Tidak hanya itu, dia juga menepuk-nepuk pundakku. Kalau begini sifatnya, bagaimana mungkin aku sanggup untuk membencinya. Tidak salahkan sekarang kalau aku menerimanya sebagai ibu?


Setelah kurasa nafasku sudah netral kembali, dan tenggorokan juga sudah tidak terasa gatal, aku siap menjawab pertanyaan ayah.


"Dari mana ayah tau hal itu?" Ayah malah tersenyum, lalu menoleh kearah ibu.


"Kinara, ayah tau sejak lama. Tapi sengaja ayah tidak menegurmu. Karena ayah tau jika yang kau lakukan itu benar." Ah bagaimana bisa?


"Selama kau tinggal di apartemen ayah selalu meminta pengawal untuk mengikuti kemanapun kau pergi." Jadi???

__ADS_1


"Maafkan aku ayah. Aku-"


"Sayang, yang kau lakukan itu benar. Jika ayahmu marah padamu, ibu akan siap membela untuk hal ini."


"Ayah tidak marah padamu. Hanya saja ayah kecewa kenapa kau meminta uang dengan alasan yang lain? Kalau saja kau jujur, pasti ayah akan memberinya lebih dari itu." Hah? Aku mendongak menatap ayah, semula menunduk. "Mengenai lukisan itu, ayah yang memberinya." Lukisan?


Aku mencoba mengingat kembali lukisan apa yang ayah Maksud.


"Kinara, apa kau yang mengirim lukisan itu?"


"Tidak bibi, aku tidak pernah mengirim lukisan apapun." Namun saat beralih bertanya pada Adam. Dia hanya menjawab bahwa pernah melihat lukisan itu berada dirumah ayahku.


Aku tau sekarang, jadi selama ini ayah yang mengirimkannya? Ya Tuhan, ternyata ayahku juga memiliki perhatian lebih kepada mereka yang tidak memiliki hidup yang layak.


"Ayah terima kasih."


"Pergilah, jangan pulang sampai hari gelap." Aku mengangguk dan langsung bergegas untuk pergi. Tapi tujuan pertama harus kerumah ibu terlebih dahulu.


***


Mentari sudah mengintip dibalik awan. Dia menampakkan sedikit sinarnya, tapi biasan cahayanya mampu memperlihatkan indahnya ciptaan Tuhan dipagi ini. Dan awan putih itu seperti gelombang pantai yang menghias diatas langit. Aku ingin terbang kesana, menari dan menyentuhnya.


Ada beberapa fase ciptaan Tuhan yang sangat aku kagumi, contohnya seperti yang tengah aku lihat sekarang. Bersamaan dengan mobil yang terus bergerak aku tetap menatap kearah langit.


Hingga suara rem mobil yang berdecit mampu mengalihkan perhatian ku.


"Tidak nona, ada mobil lain yang masuk sembarangan." Kudengar supirku juga menggerutu.


Pandanganku kali ini sudah lagi tidak kepada langit, tapi teralih dengan segerombolan anak yang berjalan di atas trotoar jalan. Membawa tas selempang ataupun tas gendong milik mereka. Tertawa lepas tanpa beban, tidak tau tentang masalah. Seragam merah putih itu, aku juga pernah memakainya.


Meski masa kecilku tidak seindah mereka, tapi sekarang ayah dan ibu berusaha menebus itu semua. Dengan memperlakukan aku bak ratu didalam rumah. Aku tau, jika mereka akan berangkat ke sekolah tidak pernah menggunakan mobil. Tapi tawa mereka seakan tengah menghibur diri sendiri. Melangkah dengan kedua kaki dan menciptakan suara gelak tawa.


"Pak, bisa berhenti sebentar?" Supirku mengangguk, dan menunggu hal apa yang akan aku lakukan. Mobil berhenti tepat dipinggir jalan. Aku turun dan berlari kecil untuk menghampiri mereka. Tidak peduli lagi pengendara lain merasa terganggu akibat mobilku berhenti dibahu jalan.


"Hei, kalian akan kesekolah ya?"


"Iya kak."


"Kalau begitu sini?" Mereka malah diam membeku, saling pandang dan kembali menatapku.


"Apa kakak akan menculik kami?" Aku langsung tertawa mendengarnya.


"Ibu kami berpesan, agar jangan berbicara kepada sembarang orang." Aku menggeleng dan tersenyum, kemudian mengeluarkan uang pecahan untuk aku bagikan kepada mereka.


"Kalau kalian takut, dan kakak berbuat macam-macam bukankah kalian bisa berteriak?" Salah satu diantara mereka mendekat.

__ADS_1


"Terima kasih kak."


"Sama-sama. Belajarlah yang pintar, dan ibu kalian berpesan seperti itu, karena ibu kalian takut kehilangan kalian, takut kalau kalian kenapa-kenapa." Mereka serempak mengangguk, tapi sepertinya tidak sepenuhnya mereka mendengar ucapanku. Mereka malah lebih tertarik pada lembaran uang yang sudah dipegang.


Tin.. Tin..


"Sudah cantik baik pula, benar-benar bisa menjadi calon istri." Aku mendengarnya dengan jelas, dan menoleh kearah mobil yang baru saja berhenti.


"Kau?" Aku menatap tajam kearahnya. Dia malah tertawa.


"Kau sedang apa?"


"Kau sudah melihatnya kak, kenapa masih bertanya. Pergilah, pengendara lain tidak bisa lewat karena kau menghalangi." Aku berlalu pergi tanpa mau mendengar lagi apa yang Windu katakan. Kalau saja ini tidak dipinggir jalan, kupastikan aku meminta penjelasannya sekarang juga.


"Jalan pak?" Windu masih membuka kaca mobilnya, melihatku yang sudah duduk didalam mobil. Aku hanya melirik sekilas dan dia tersenyum. Kenapa aku sangat marah padanya? Hanya karena dia meminta Elena untuk pergi melihat kondisi Adam ya?


Lamunanku buyar ketika mendengar suara ibu yang berteriak memanggil. Padahal aku juga belum turun, begitu senangnya dia melihatku datang kesini?


"Kau sehatkan? Ibu sangat merindukanmu?"


"Ibu, aku baik-baik saja sekarang."


"Kita masuk ya, om Asraf sudah pergi kekantor." Aku mengangguk, ibu menggandeng lenganku sampai masuk kedalam. Dia terus membawaku, dan duduk di sofa.


"Kinara, katakan pada ibu?" Ibu memegang wajahku dengan kedua tangan. "Apa kau menerima perjodohan itu?" Deg. Perjodohan???


"Bu, perjodohan yang mana? Aku tidak pernah merasa dijodohkan."


"Ayahmu memberitahu ibu, kalau kau akan segera dijodohkan dengan anak dari almarhum Hendrawan." Deg.


"Ibu?"


"Ayahmu meminta pendapat ibu."


"Bu, bukankah Adam sedang kritis sekarang. Kenapa malah memikirkan perjodohan?" Ibu menggeleng.


"Bukan Adam Kinara, tapi kakaknya Adam." Ya Tuhan, bak disambar petir dipagi hari yang cerah. Nafasku mulai naik turun tidak teratur. Ayah, kenapa kau seenaknya begini?


"Nara, itu semua sudah dibicarakan. Karena kakaknya Adam bersedia menerimamu yang sudah tidak suci lagi nak." Ahhhhhhhhh sehina itukah aku sekarang??


"Ibu, kalau begitu aku tidak ingin menikah!" Ibu memelukku, dia pasti tau bagaimana perasaan ku sekarang.


"Maaf, ibu pikir kau sudah mengetahui hal ini?"


Adam, bagaimana perasaannya jika tau kalau kakaknya dijodohkan denganku?

__ADS_1


Bersambung..


__ADS_2