
Aku tidak tau harus berkata apa lagi sekarang. Meminta Satria untuk tidak mendekatiku sepertinya sangat mustahil. Bukankah dia akan curiga pada akhirnya? Lalu jika terus bersama seperti ini, aku takut jika ada perasaan yang tidak bisa dikendalikan.
Tapi, aku tetap memikirkan Adam. Dengan datangnya lukisan ini padaku, bukankah itu sudah pertanda bahwa aku tidak akan pernah lagi bertemu dengannya? Aku tidak bisa menghindari kesedihan, jatuhnya air mata itu sudah hal lumrah. Perpisahan yang harusnya memiliki sedikit dramatis. Tapi tidak denganku dan Adam.
Kami berpisah tepat disaat aku bertaruh nyawa, begitu juga dengannya.
Aku lebih memilih untuk pulang, dengan membawa lukisan itu. Tapi tidak langsung pulang kerumah, aku meminta untuk supir mengantar kesuatu tempat yang bisa membuat pikiranku tenang.
"Hallo bi?"
"Iya Nara, kau dimana?"
"Bi, kalau ayah bertanya, bilang aku sedang pergi sebentar. Jangan khawatir."
"Kinara!"
"Bi, nanti saja aku akan menceritakannya ke bibi."
Aku kembali menutup sambungan telepon. Menatap kearah jalanan. Yang seharusnya aku sudah lapar kali ini, tapi tidak. Aku sudah kehilangan selera makan. Apa sebegitu pentingnya Adam saat ini untukku? Ya Tuhan, apa yang aku rasakan sebenarnya!
"Sudah sampai nona."
"Tunggulah saja di mobil." Supir yang mengantarku mengangguk, lalu aku turun dan melangkah menuju tempat yang aku mau.
Aku hanya minta diantarkan ke taman kota. Karena kutahu, jika disiang hari yang panas seperti ini pasti tidak banyak yang berminat untuk datang kesini. Hanya ada beberapa pasangan saja yang tampak duduk dibawah pohon yang paling besar. Begitu juga denganku, mencari tempat ternyaman. Meskipun sinar matahari tetap masuk disela-sela dedaunan.
"Heh." Aku menarik nafas, menetralkan segala pikiranku. Aku tidak tau kedepannya aku harus bagaimana? Apa aku juga akan menikah seperti orang-orang? Lalu, jika aku siap membuka hati, apakah ada yang mau padaku? Bukankah saat ini aku adalah orang yang paling hina.
"Kau sudah sampai?" Aku menoleh, lalu tersenyum melihat siapa yang datang kali ini.
"Munah, apa yang kita pikirkan benar." Aku tetap tidak berkedip menatap lurus ke depan.
"Maksudnya?"
"Iya, tentang Satria. Dia benar-benar kakak kandung Adam."
"Apa!!"
"Jadi, jadi kau sudah bertanya padanya langsung?"
__ADS_1
"Iya-"
"Memangnya kenapa kalau aku kakak kandungnya Adam?" Deg! Sialan, dia memang seperti hantu yang suka tiba-tiba muncul, dia ada dimana-mana.
"Eh." Munah langsung kikuk, begitu juga denganku. Kami saling pandang.
"Aku sengaja mengikuti tadi, tapi saat kulihat mobil yang membawamu berhenti aku juga ikut berhenti." Aku hanya mengangguk. Apa dia benar-benar tidak pergi kekantor hari ini?
"Maaf kak, apa tidak seharusnya kau sudah kembali kekantor?"
"Kurasa Kinara sudah tau jawabannya." Munah langsung menoleh ke arahku. Sepertinya ada tatapan curiga darinya.
"Aku baru saja bertemu dengannya tadi." Aku berbisik pada Munah.
Dan, berakhir duduk bertiga ditaman kota. Menikmati air kelapa muda, dan kusadari bahwa aku belum memakan apapun, aku hanya minum saja sedari bertemu Satria tadi.
"Jika kalian tidak keberatan, aku ingin bicara." Aku dan Munah saling pandang.
"Tapi ini hanya khusus untukmu Nara." Aku menunjuk diriku sendiri dengan jari. Lalu Satria menjawab dengan anggukan. Dan yang membuatku lebih merasa aneh, Munah dengan ulahnya malah mengelus punggungku. Seakan-akan Satria ingin berbicara tentang kabar duka.
"Katakanlah kak, aku sudah menunggu." Hei, padahal Satria akan berbicara padaku kan?
"Nara-"
"Haha." Satria tertawa dan geleng-geleng. Ah kalau aku sudah biasa melihat Munah yang seenaknya saja.
"Tidak. Aku hanya ingin mengatakan, jika Nara memerlukan sesuatu, ataupun butuh orang untuk mengaduh maka aku siap."
"Kak, kalau itu sudah ada aku." Dengan bangganya Munah menepuk dirinya sendiri. Eh tapi aku merasa ada yang aneh, kenapa Satria tiba-tiba saja berkata begini?
"Iya aku tau, hanya saja aku berusaha menggantikan posisi Adam sekarang. Bukankah biasanya selalu ada Adam dengan kalian?" Deg. Benarkan dugaan ku, pasti ini sudah direncanakan oleh Adam dan Satria.
"Jangan berpikir jika Adam yang meminta, ini memang inisiatif ku sendiri. Lagian juga berteman dengan kalian lebih menyenangkan, dari pada harus berteman dengan orang satu kantor yang statusnya sudah menikah semua."
"Ppffft.." Sialan? Kenapa Munah menahan tawa?
"Jadi, maksudnya kakak sedang melamar untuk menjadi teman kami?" Satria mengangguk.
"Baiklah, kalau begitu diterima." Eh dengan gampangnya Munah menjawab, ada aku juga disini!
__ADS_1
"Nara, jika kau mengalami kesulitan maka jangan sungkan untuk menghubungiku." Aku masih diam. "Tenanglah, ayahmu tidak akan marah jika kau pergi bersamaku." Deg. Hal apa saja yang aku tidak tau sebenarnya?
"Sepertinya ini ayahmu yang meminta bukan Adam." Munah berbisik kepadaku, aku juga sepemikiran dengannya. Bukankah kondisi Adam masih lemah saat ini, bagaimana mungkin dia bisa berbicara banyak? Tidak salah lagi, ini pasti ulah ayah.
"Kinara?" Aku menoleh kearah Satria. "Kau keberatan?" Aku menggeleng. Satria tersenyum lalu mengeluarkan kotak kecil.
"Ini untukmu, pakailah sebagai tanda pertemanan kita."
Aku melihat gelang yang sudah terukir namaku disana. Berarti Satria sudah menyiapkan ini jika aku menerimanya?
"Kak, apa kau sedang melamarku lagi?"
"Lagi!!!" Munah sampai berdiri dari duduknya.
"Berarti kau sudah pernah dilamar olehnya?"
"Hei tenanglah, aku hanya memberinya untuk Kinara sebagai tanda pertemanan. Jika besok ada yang menjual maka akan aku belikan juga untukmu."
"Tidak usah kak. Aku sudah memiliki gelang sendiri." Munah memamerkannya dihadapan Satria.
"Wahid?" Aku sudah menahan tawa sekarang.
"Apakah kau mencuri gelang orang lain?"
"Tidak, ini gelang milik temanku."
"Berarti kau mencurinya kan? Bukankah kau sendiri bilang ini milik temanmu?" Munah memukul lengan Satria. Anak ini benar-benar tidak memiliki rasa canggung ya, wah apa lagi sekarang dia tau kalau Satria adalah kakaknya Adam. Bisa-bisa Munah memanfaatkan situasi.
"Wahid calon suamiku."
"Munah?" Aku menggeleng, lalu Satria menoleh kepadaku. Dan anehnya, kenapa tatapannya berubah? Aku sendiri jadi salah tingkah.
"Nara, dari pada aku harus dituduh mencuri."
"Wahid, apa Wahid temannya Adam?" Kini giliran ku yang harus tertawa, ya Tuhan ternyata Satria juga mengenalnya ya?
"Eh iya kak." Satria manggut-manggut. Aku dan Munah seperti tengah berbicara kepada guru.
"Kak, sudah sana kau pergi. Sudah waktunya aku dan Nara bergosip."
__ADS_1
"Baiklah, aku pergi. Nara, lukisan itu kau simpan dengan baik ya?" Aku hanya bisa mengangguk, dan siap diserang beberapa pertanyaan oleh Munah.
Bersambung...