
"Astaga, aku bangun kesiangan" ucap Laura dan bergegas turun dari ranjangnya.
Derttt
Derttt
Derttt
Laura mengalihkan pandangannya mencari sumber suara yang sangat diyakini nada dering ponselnya, hingga pandangannya tertuju diatas nakas dimana sumber suara itu berada. Laura lalu melangkah mendekati nakas untuk mengambil ponselnya.
"Daniel" ucapnya melihat panggilan masuk dari ponselnya.
Tanpa basa-basi Laura langsung mengangkat panggilan masuk dari Daniel.
"Laura apa kau baik-baik saja?" tanya Daniel diujung telepon.
"Menurutmu bagaimana Daniel?" tanya balik Laura yang terdengar ketus.
"Kuharap kau baik-baik saja Ra. Kita perlu bicara, setelah pekerjaanku selesai aku menunggumu di tempat biasa" ucap Daniel.
"Emm baiklah" ucap Laura lalu mematikan sambungan teleponnya secara sepihak.
"Laura, Laura..."
Daniel terus berucap memanggil nama Laura di ujung telepon, namun Laura sudah tak ingin meladeninya di ujung telepon.
Laura menggenggam ponselnya dengan bimbang. Entah bagaimana perasaannya saat ini kepada Daniel. Mungkinkah perasaan cintanya masih seperti dulu kepada Daniel? ataukah benih-benih cinta itu sudah berguguran sudah.
Mengapa jantungku tak berdebar-debar saat mendengar suara Daniel? biasanya juga terus berdebar-debar. Ada apa denganku?. Batin Laura.
Tak ingin pusing dengan masalah jantungnya yang tak berdebar-debar, Laura melangkah ke kamar mandi untuk membersihkan tubuhnya.
Sekitar 20 menit Laura selesai melakukan ritual mandinya. Jubah mandi melekat di tubuhnya, handuk kecil ia lilitkan di kepalanya guna mengeringkan rambutnya.
Laura berjalan santai keluar dari kamarnya. Ia ingin melihat kucing kesayangannya yang belum juga di sapa dari tadi pagi.
"Huhhh kasihan, kalian pasti lapar ya" ucap Laura lalu memberikan biskuit kesukaan kucing kesayangannya.
Meong
Meong
Meong
Kucing-kucing lucu nya mulai mengeong dengan antusias yang sangat bahagia mendapatkan jatah makanan.
Setelah selesai memberikan makan kucing kesayangannya, Laura melangkah ke dapur untuk sarapan. Tampak Laura begitu bingung melihat isi kulkasnya.
"Astaga, aku begitu bodoh membeli bahan makanan seperti ini. Aku bahkan tak tahu harus memasak menu apa dengan sayur dan buah ini. Hanya mie instan yang sangat mudah untuk dimasak" gumam Laura.
__ADS_1
Dengan terpaksa Laura mengambil susu full cream dan satu buah apel menjadi menu sarapannya sekaligus makan siang nya.
🍁🍁🍁🍁🍁
Sementara Johan tampak uring-uringan di dalam ruangannya. Akibat jadwal meeting mendadak pagi ini membuatnya tak memiliki waktu untuk kembali menemui Laura.
"Apa ada kabar dari kepala pelayan?" tanya Johan kepada sekretarisnya.
"Belum tuan, sampai siang ini tak ada tanda-tanda akan datangnya nona Laura" ucap Mike sambil menundukkan pandangannya.
"Ooh. Aku akan menghubungi nya" ucap Johan sambil berdengus kesal.
Johan lalu menunjuk ponselnya di atas meja kerjanya, sehingga Mike bergegas mengambil ponsel tersebut.
"Ini tuan" ucap Mike sambil menyodorkan ponsel atasannya dengan hati-hati.
Johan langsung mengambil ponselnya dan segera mencari nomor ponsel Laura. Saat menemukan nama kontak yang bernama Laura, tiba-tiba saja Johan berpikir sejenak sambil menimbang-nimbang keputusannya, apakah ia harus menghubungi Laura atau tidak.
"Bagaimana tuan?" tanya Mike penuh tanda tanya melihat atasannya tampak bimbang.
Tidak biasanya ia melihat atasannya yang super dingin, galak dan banyak maunya menjadi bimbang.
"Tidak jadi, taruh kembali ponselku di tempatnya semula" ketus Johan dengan raut wajah kesal.
"Baik tuan" ucap Mike lalu mengambil ponsel tersebut dan menyimpannya di tempat semula.
Johan kembali duduk di kursi kebesarannya untuk melanjutkan kembali pekerjaannya. Laporan dan berbagai berkas penting sudah siap memborbardir pikirannya.
Derttt
Derttt
Johan melirik ponselnya yang masih berdering, namun tangannya masih sibuk memeriksa per lembar kenaikan sahamnya.
"Nggak sabaran banget nih orang" kesal Johan lalu meletakkan berkas penting ditangannya.
Johan menyambar ponselnya lalu mengangkat panggilan masuk tersebut.
"Mana Laura! mama dari tadi menunggunya Joh" cercah seseorang di ujung telepon.
"Mama" gumam Johan lalu menjauhkan ponselnya dari kupingnya.
Dan benar saja sang mama lah yang menelponnya saat ini.
"Laura ada urusan ma, dia akan menemui mama nanti malam" bohong Johan sambil memegangi keningnya.
"Ya, lama amat. Jangan sekali-kali bohongi mama, awas ya!" ancam mama nya.
"Iya Mama, Johan sudah janji untuk bawa Laura dihadapan mama, jadi apapun caranya Johan akan buktikan" ucap Johan dengan entengnya.
__ADS_1
"Apa! jangan sampai culik anak orang, bahaya sayang. Bisa saja kamu dituntut untuk mempertanggung jawabkan perbuatan mu loh" ucap mama Johan sambil cekikikan menjauhkan ponselnya.
Johan mengetuk-ngetuk telunjuknya di atas meja mendengar ucapan mama nya.
"Oke sayang, semangat bekerja" ucap Mama Johan dengan semangatnya.
"Hemm"
Panggilan telepon ibu dan anak itu berakhir. Johan mengusap wajahnya dengan kasar lalu menduduki kursi kebesarannya. Sekarang ia hanya perlu menghubungi Laura.
"Berani-beraninya dia menolak panggilan ku" kesal Johan karena Laura belum juga mengangkat panggilan teleponnya.
"Hufff, ini sudah panggilan ke sepuluh, dan masih tetap sama. Sibuk banget dia!" oceh Johan tak jelas yang mulai kesal.
"Arrgghhh, sial! awas kau j*lang" ucap Johan dengan kesalnya
Johan memilih menyimpan ponselnya, lalu melanjutkan kembali pekerjaannya. Tak ada cara lain selain membawa paksa Laura di kediaman orang tuanya. Ya hanya itu satu-satunya cara agar bisa mempertemukan Laura dengan mama nya.
🍁🍁🍁🍁🍁
Sementara Laura sendiri sedang melakukan janji bertemu dengan Daniel. Laura sudah berada di salah satu restoran favoritnya bersama dengan Daniel.
Laura tampak celingak-celinguk mencari keberadaan Daniel yang tak kunjung datang. Ditambah cacing-cacing di perutnya sudah berdemo ria meminta jatah makan.
Tanpa rasa malu, Laura memegangi perutnya yang terus berbunyi dan pastinya sudah keroncongan. Sehingga mau tak mau ia pun memesan makanan terlebih dahulu daripada menunggu kedatangan Daniel. Laura tak ingin mati kelaparan saat itu juga.
Saat sedang menikmati makan siang nya, tiba-tiba seseorang mengagetkannya.
"Lahap benar. Sepertinya ada yang lagi kelaparan" ejek orang tersebut yang tidak lain adalah Daniel.
"Ya ya...aku kelaparan menunggu si tukang lelet sepertimu" kesal Laura dengan mulut belepotan.
Daniel menarik kursi dihadapan Laura untuk didudukinya. Lalu Daniel menatap Laura dengan intens nya. Laura mengerutkan keningnya yang merasa diperhatikan oleh Daniel.
"Ha ha ha ha, ekspresi mu sangat lucu tahu" ucap Daniel diiringi gelak tawa melihat raut wajah Laura.
"Sana pesan makanan, jangan hanya terus menerus menatapku. Aku cantik dan idaman pria, jangan sampai kau jatuh cinta" ucap Laura membanggakan diri.
"Baiklah nona manis" timpal Daniel sambil menyentuh kepala Laura.
Laura kembali salting dengan perlakuan Daniel untuknya. Hingga mereka pun bercanda gurau dan tertawa bersama.
Setelah itu, barulah Daniel melambaikan tangannya memanggil karyawan restoran untuk memesan makanan dan minuman.
Dari kejauhan sepasang mata mengamati gerak-gerik mereka.
"Aku akan membuatmu menderita Laura" ucapnya dengan kepalan kedua tangannya.
Bersambung......
__ADS_1
Jangan lupa dukungannya teman-teman 🙏
Saran dan masukan kalian sangat membangun cerita ini kedepannya.