
Kini Laura dan Johan baru saja tiba di villa. Mereka masuk ke kamar masing-masing tanpa bicara sepatah kata pun. Laura memilih duduk di kursi untuk mengistirahatkan tubuhnya sejenak.
Laura termenung menatap ke luar jendela. Pikirannya masih saja tertuju pada Johan. Laura tidak tahu perasaannya seperti apa kepada Johan. Dia membenci lelaki jangkung itu, tapi tidak risih jika bersamanya, segala sentuhan yang diberikan lelaki jangkung itu sama sekali tak ada penolakan dari dirinya.
Tatapan hangat dan ketulusan hati selalu Johan tunjukkan untuk dirinya, hal itu mampu dia lihat dari sisi baik seorang Johan.
Seketika insiden semalam tidak lagi menghantui pikirannya, dan terlupakan oleh sikap baik Johan kepadanya.
Seperti halnya saat ia bersama Johan di dalam hutan. Bagaimana pria jangkung itu memperlakukannya dengan baik, menjaganya, menuntunnya dan menggendongnya dengan pencahayaan seadanya hingga keluar dari hutan.
Dan perlakuan Johan benar-benar tulus untuknya, menjaga dirinya seolah berlian yang sangat berharga.
Ada apa denganku, mengapa wajah Johan terus menari-nari di pikiranku.
Laura membatin sambil meremas jaket kulit yang masih menempel di tubuhnya. Aroma maskulin dari jaket tersebut begitu menyeruak masuk di indera penciumannya.
Ya Aroma tubuh Johan masih menempel di sana. Laura tersenyum tipis mencium aroma jaket kulit itu hingga sudut bibirnya mengembang membentuk senyuman manis.
"Ada-ada saja, mengapa aku sebahagia ini mencium jaket miliknya" ucap Laura tersenyum lebar lalu menyentuh sudut bibirnya dengan lembut.
Laura melipat bibirnya dan sesekali tertawa kecil dengan ulahnya sendiri.
"Aku harus berendam air hangat, setelah itu mencari makan untuk mengganjal perutku" ucap Laura dan bangkit dari duduknya.
Membuka jaket Johan lalu meletakkannya di atas ranjang. Kemudian Laura melangkah masuk ke kamar mandi.
Sementara Johan terlihat segar yang baru saja keluar dari kamar mandi. Otot-otot di perutnya menonjol jelas karena Johan bertelanjang dada dengan handuk yang terlilit di pinggangnya.
Rambut basahnya perlahan menetes membasahi perut sixpack nya dan Johan segera mengibaskan rambutnya nya dengan asal lalu meraih handuk kecil untuk mengeringkan rambutnya.
"Kuharap Laura tidak lagi menjaga jarak denganku" gumam Johan lalu memakai pakaiannya.
Johan mengalihkan pandangannya mendengar ponselnya berbunyi dan itu panggilan masuk dari mama nya. Namun sayangnya tiba-tiba ponselnya mati karena baterainya sudah habis akibat digunakan sebagai senter untuk menapaki jalan keluar dari hutan.
"Nanti aku hubungi mama kembali" ucap Johan dan segera mencharger ponselnya.
Johan melangkah keluar dari kamarnya menuju area dapur di villa tersebut.
Tampak suasana dapur sangat sepi tanpa adanya orang yang berkeliaran di villa termasuk penjaga villa yang sepertinya sudah tertidur. Johan tak ingin membangunkan mereka, karena dialah yang akan turun tangan untuk membuat minuman dan makanan.
Johan mulai beraksi membuat minuman hangat terlebih dahulu untuk dirinya dan juga Laura. Satu cangkir kopi dan segelas susu hangat sudah dia siapkan. Johan kembali bergerak membuka kulkas untuk mencari bahan makanan siap saji yang bisa ia buat lewat bungkus kemasannya. Pasalnya dia tak tahu memasak apapun.
Hingga Johan mengusap wajahnya dengan kasar karena tak menemukan makanan instan itu. Dan sekarang dia tidak tahu harus memasak apa.
Terdengar langkah kaki seseorang berjalan ke arahnya. Johan segera bersembunyi di bawah meja dan sayangnya dia lebih dulu tertangkap basah oleh orang itu.
"Kau sedang apa di sini?" tanya seorang wanita dan berhasil mengagetkannya.
Johan segera berbalik badan karena mengenali suara itu.
__ADS_1
"Aku lapar dan tidak menemukan makanan yang bisa di santap" ucap Johan sambil menggaruk tengkuknya yang tidak gatal.
"Oh" Laura bergegas membuka kulkas untuk mengambil bahan makanan yang bisa ia masak dan Johan hanya mampu memperhatikannya.
"Kau butuh bantuan? aku siap membantumu memasak" tawar Johan melihat Laura mengeluarkan beberapa sayuran dari kulkas.
"Baiklah, jika itu mau mu" ucap Laura lalu mengambil dua pisau dapur untuk dia dan Johan.
Tampak Laura memotong brokoli sedangkan Johan mengupas wortel lalu memotong wortel itu berukuran dadu. Mereka tampak akur saling membantu, Johan selalu saja curi-curi pandang melihat ke arah Laura hingga kurang fokus memotong wortel dan alhasil jemari tangannya terluka tergores pisau.
"Akhhh" Laura langsung mengalihkan pandangannya melihat ke arah Johan yang tampak meringis kesakitan.
Dengan cepat Laura mendekati Johan dan langsung meraih jemari tangan Johan lalu membersihkan darah yang mengalir di wastafel.
"Sebaiknya kau duduk saja, tak usah membantuku memasak" omel Laura sambil mengobati luka Johan dengan obat merah lalu membalutnya dengan kain kasa.
Hanya anggukan kepala yang dilakukan Johan yang sedang memperhatikan wajah Laura. Sedangkan Laura kembali sibuk memasak sup ayam bening yang menjadi masakan andalannya.
Aroma masakan Laura sudah tercium di indera penciuman Johan, membuat Johan bersemangat ingin mencicipi masakan Laura.
Dua mangkok sup ayam bening tersaji di atas meja beserta teh hangat. Johan begitu antusias memegang sendok untuk mencicipi masakan lezat di hadapannya.
"Pelan-pelan makannya, tak ada yang mendahuluimu" tegur Laura melihat tingkah Johan.
Mereka menikmati sup ayam bening dengan lahapnya bahkan tak tersisa.
"Terima kasih Laura, kau membuat makanan super lezat. Kapan-kapan kau harus memasak kembali untukku" ucap Johan tersenyum memuji keahlian memasak Laura.
"Tak masalah, aku tidak akan bosan memakannya" Johan bangkit dari duduknya lalu mengambil nampan berisi minuman hangat yang sempat dibuatnya.
"Kau tak boleh beranjak jika tak menghabiskan segelas susu spesial untukmu" ucap Johan meletakkan segelas susu untuk Laura.
"Aku sudah kenyang, kau saja yang habiskan ya" tolak Laura sambil mengelus perutnya.
"Tidak bisa, aku bersusah payah membuatkan untukmu, kalau perlu minumlah seteguk saja" ucap Johan dengan tatapan hangatnya dan mau tak mau Laura segera meminumnya.
Kemudian mereka beranjak dari duduknya untuk kembali ke kamarnya masing-masing. Ada perasaan tak ingin berpisah diantara mereka berdua yang sedang berjalan beriringan tanpa bicara.
Saat Johan sudah berada di depan pintu kamarnya, dia pun segera berbalik badan ke arah Laura yang tampak melangkah menjauhinya.
"Laura" panggil Johan.
Membuat Laura segera menghentikan langkahnya lalu pandangannya mengarah ke arah Johan. Tampak Johan melangkah mendekatinya lalu menarik tubuh Laura masuk ke dalam pelukannya.
"Johan!"
"Biarkan seperti ini, aku hanya ingin memelukmu sebentar" ucap Johan terdengar memohon yang sedang memeluk erat tubuh Laura dan Laura ikut membalas pelukan Johan.
Sungguh wanita cantik itu seperti terperdaya oleh tubuh lelaki yang dibencinya tanpa melakukan penolakan.
__ADS_1
Aku mencintaimu Laura, sungguh aku tidak ingin kehilangan dirimu. Batin Johan.
Hanya bisa membatin dengan perasaan terhadap wanita yang dicintainya.
*
*
*
Keesokan harinya.....
Semuanya tampak berkumpul di meja makan guna untuk sarapan bersama. Pasalnya pagi ini mereka akan mengeksplor pulau eksotis itu sebelum kembali ke kota nya.
"Kak Laura, apa kakak baik-baik saja?" tanya Wulan untuk memastikan kondisi Laura.
"Ya, seperti yang kamu lihat" jawab Laura tersenyum.
"Selama kak John berada di samping kak Laura, semuanya akan baik-baik saja" ucap Wulan tersenyum sambil melirik kakak sepupunya yang sedang menatap ke arah Laura yang duduk berhadapan dengannya.
Fero menyudahi sarapannya dan langsung bangkit dari duduknya meninggalkan mereka.
"Biarkan saja, dia hobi menyendiri" bisik Wulan kepada Laura melihat kepergian Fero.
Laura merasa Fero selalu menjauhinya, tapi Laura tidak ingin ambil pusing dengan masalah itu.
"Kalian selalu saja terlihat sebagai pasangan serasi, tapi sangat disayangkan jika kalian ternyata sudah berpisah" ucap Sisil buka suara, membuat Ferdy langsung menggenggam tangan istrinya untuk tak bicara masalah pribadi mereka.
"Benar yang dikatakan kakak ipar, semua orang terus mengatakan seperti itu dan aku masih berharap kak John dan kak Laura kembali bersatu" timpal Wulan dengan entengnya.
Baik Johan maupun Laura tampak tenang memakan sarapannya.
"Apa kalian tidak berencana untuk kembali memulai....." Sisil tak melanjutkan ucapannya karena Ferdy segera menghentikannya.
"Sebaiknya anda lanjutkan saja sarapannya. Kami ingin berenang ke pantai" ucap Ferdy lalu membawa istrinya pergi dari hadapan mereka.
"Aku ikut kakak ipar" ucap Wulan dan langsung meminum orange jus nya lalu menyusul mereka.
Sehingga hanya Laura dan Johan yang masih berada di meja yang sedang menghabiskan sarapannya. Kembali mereka saling curi-curi pandang hingga Laura buka suara.
"Mengapa terus menatapku" ucap Laura.
"Kau cantik" ucap Johan tersenyum dan membuat wajah Laura merona memerah.
"Dasar gombal" sinis Laura lalu bangkit dari duduknya.
"Aku mengatakannya secara fakta tapi kalau kau sedang marah persis singa betina" ucap Johan cengengesan mendahului langkah Laura.
"Johan!" Laura segera menyusul Johan dan tak terima dengan ucapan Johan.
__ADS_1
Bersambung....