
Laura membulatkan matanya melihat sosok yang dikenalinya sedang berdiri menatapnya dengan intens, membuat Laura menundukkan pandangannya lalu berjalan tergesa-gesa melewati mereka.
"Kak Laura" panggilnya dengan suara cempreng untuk menghentikan langkah kaki Laura.
Sedangkan Laura terus saja berjalan tanpa mempedulikan mereka. Sehingga mau tak mau nyonya besar di kediaman William harus turun tangan.
"Apa kamu baik-baik saja sayang" ucap nyonya Tias yang lebih mengkhawatirkan kondisi Laura. Maklum sifat keibuannya selalu ia tunjukkan untuk orang-orang yang disayanginya.
Apalagi melihat penampilan Laura cukup berantakan dengan mata memerah yang seperti baru saja menangis membuat nyonya besar itu mengkhawatirkannya.
Laura menghentikan langkahnya lalu berbalik badan menghadap ke arah nyonya Tias. Dengan anggukan kepala menandakan bahwa dirinya baik-baik saja. Setelah itu Laura kembali melangkah menuruni anak tangga hingga tak terlihat lagi dari pandangan nyonya Tias.
Nyonya Tias sangat memakluminya, ia tahu bahwa Laura saat ini tidak ingin diganggu. Privasi seseorang patut untuk di maklumi, dia tidak ingin gegabah dalam mengambil keputusan, apalagi ini urusan anak-anaknya.
"Lebih baik kita temui Johan, bibi rasa ada yang tidak beres di antara mereka" ucap mama Johan dengan tatapan tajam.
"Benar bibi, sesuatu terjadi diantara mereka. Apa bibi tidak lihat, kak Laura mengenakan jubah mandi kak John, terus wajah kak Laura tampak sendu habis nangis gitu, aku semakin curiga saja" ucap Wulan ceplas-ceplosnya.
"Hemm" mama Johan manggut-manggut mendengar ucapan ponakannya.
Mereka lalu berjalan bersama-sama menuju kamar Johan.
Johan yang baru saja keluar dari kamar mandi terkejut melihat wanita yang sangat dikenalinya melangkah masuk ke dalam kamarnya.
"Mama sedang apa di sini?" tanya Johan sambil merapikan tali jubah mandinya.
"Apa yang sudah kamu perbuat kepada Laura? mengapa wajah Laura tampak sembab? Lantas mengapa Laura berada di dalam kamar mu Johan?. Apa kamu sedang bersikeras menahannya di dalam sini?" tanya Mama Johan dengan pertanyaan bertubi-tubi menatap tajam putra semata wayangnya.
"Jangan menggiring opini yang tidak-tidak Ma. Jujur, aku cuman bantu Laura Ma, hanya itu saja. Dan sama sekali tidak melakukan apapun kepada Laura" ucap Johan dengan sedikit elakan yang berhasil keluar dari mulutnya.
"Bohong, jangan bilang jika kamu berusaha untuk melecehkan Laura . Lihatlah penampilanmu, kamu habis dari kamar mandi dan mengenakan jubah mandi persis dengan Laura! jadi jangan mengelak lagi Johan" ucap mama Johan dengan penekanan dan memiliki kecurigaan menatap manik mata putranya yang seperti sedang menyembunyikan sesuatu darinya.
"Jika kamu melakukannya, maka kamu harus meminta maaf kepada Laura dan mempertanggungjawabkan semua perbuatanmu kepadanya" tegas Mama Johan jika semua itu benar. Dan itu artinya dia tidak perlu lagi bersusah payah untuk menyatukan Laura dan Johan.
"Aku tidak melakukan apapun kepadanya ma" elak Johan membela diri.
__ADS_1
"Baiklah, jika kamu tidak mengakuinya maka mama akan bertanya langsung kepada Laura tentang apa yang sudah kamu perbuat kepadanya" ancam mama Johan kepada putranya. Wanita paruh baya itu tidak main-main dengan urusan mereka.
Johan tak punya pilihan lain selain menceritakan seluruh tunduk perkaranya.
"Oke, aku akan mengatakannya kepada Mama. Aku menolong Laura tadi malam yang terjatuh di kolam, terus aku membawanya ke kamar ini. Mama, semua itu kulakukan hanya untuk menolong Laura tak lebih. Tak ada yang terjadi diantara kami. Hanya saja sepulang kerja, aku dan Laura sedikit cekcok masalah kecil hingga aku..... memberikan sedikit pelajaran untuknya" ucap Johan panjang lebar menjelaskan kepada mama nya.
"Seperti apa pelajaran yang kak John berikan kepada kak Laura?" timpal Wulan penasaran.
Seketika Johan diam seribu bahasa dan tak menggubris ucapan Wulan.
"Nah benar yang dikatakan Wulan, kamu memberi pela__" Mama Johan tak melanjutkan ucapannya.
"Aku menciumnya" potong Johan cepat dengan debaran jantung yang kembali memompa cepat jika adegan ciumannya kembali terputar di pikirannya.
Seketika Mama Johan dan Wulan terlonjat kaget mendengar jawaban menohok dari Johan. Sedangkan Johan merasa malu atas apa yang diucapkannya. Johan segera melangkah masuk ke ruang ganti meninggalkan mereka.
Sementara nyonya Tias masih syok berdiri di tempatnya, dan setelahnya sudut bibirnya terangkat hingga membentuk senyuman. Yang berarti tidak lama lagi rencananya akan terwujud.
Ini kabar gembira, aku harus memanfaatkan keadaan ini. Batin mama Johan.
"Johan kamu harus bertanggungjawab karena sudah main ***** anak orang" teriak Mama Johan yang sedang mengolok-olok putranya.
Sementara Johan yang berada di ruang ganti hanya pura-pura tak mendengar ucapan mama nya. Kembali masalah menghampirinya dengan Laura. Jalan satu-satunya yang harus dia tempuh yaitu menghilang sementara dari kediaman orang tuanya.
Tak ada kamus baginya untuk kembali ke sang mantan istri. Entah ia sendiri masih bingung seperti apa perasaannya kepada Laura.
*
*
*
Tiga hari berlalu....
Laura kembali beraktivitas seperti biasanya. Merawat dan membantu keperluan nyonya Tias. Padahal wanita paruh baya itu sudah sehat sediakala namun tuntutan pekerjaan masih harus dia jalankan dengan baik.
__ADS_1
Bayang-bayang wajah Johan tak menghantuinya belakangan ini. Karena sosok yang dibencinya seperti sedang menghindarinya. Dan itu membuat Laura merasa lebih baik dan leluasa bernafas.
Laura tampak bersiap-siap di dalam kamarnya. Karena kebetulan malam ini ia akan dijemput oleh Fero untuk menghadiri sebuah pesta.
Penampilan Laura begitu cantik dan memukau dengan dress panjang berwarna hitam tanpa lengan, bagian depan sisi kiri ke bawah dari ujung dress itu terlihat terbelah hingga sebatas paha dan mampu memperlihatkan kaki jenjangnya yang begitu putih mulus dan bersih.
Rambut panjangnya tergerai indah dengan model rambut curly demi menyempurnakan penampilannya. Riasan wajahnya pun tampak natural dan terkesan manis dengan bibir berwarna merah muda persis buah ceri.
Senyuman terukir di sudut bibir Laura manakala mendengar ponselnya berbunyi.
"Itu pasti Fero" gumam Laura yang masih menatap dirinya di depan cermin.
Lalu bergerak mengambil ponselnya untuk mengangkat panggilan masuk tersebut. Dan benar saja dugaannya ternyata panggilan masuk itu dari Fero.
"Aku sudah menunggumu di gerbang" ucap Fero di ujung telepon.
"Oke, aku akan segera kesana" ucap Laura tersenyum.
"Baiklah, sampai nanti" ucap Fero dan panggilan mereka pun berakhir.
Laura segera memasukkan ponselnya ke dalam tasnya. Dan tak lupa kembali merapikan rambutnya di depan cermin. Setelah itu, Laura bergegas keluar dari kamarnya dan berjalan menuju gerbang utama.
Cukup memakan waktu bagi Laura untuk bisa sampai di gerbang utama, mengingat dirinya memakai high heels super tinggi dengan jarak yang cukup jauh.
"Ya ampun, bisa saja riasan wajahku berantakan sebelum tiba di pesta" gumam Laura sedikit kesal karena sudah berkeringat.
Tanpa diduga sebuah mobil sport merah baru saja memasuki gerbang utama. Mata Laura sempat melotot berpapasan dengan si pengemudi mobil. Laura boro-boro buang muka sambil melangkah cepat. Hingga mobil yang dikenalinya melaju ke arahnya.
"Fero" teriak Laura sambil melambaikan tangannya.
Mobil Fero melaju pelan menghampiri Laura dan berhenti tak jauh dari tempat Laura berdiri. Kemudian Fero turun dari mobil dan berlari kecil ke samping membukakan pintu mobil untuk Laura.
Laura tersenyum manis dan bergegas masuk ke dalam mobil lalu disusul oleh Fero. Tak berselang kemudian, mobil yang membawa mereka melaju meninggalkan kediaman orang tua Johan.
Sementara Johan yang masih berada dalam mobilnya mengepalkan tangannya melihat interaksi Laura bersama dengan laki-laki lain. Kemudian Johan berubah haluan dan langsung menancap gas untuk menyusul mereka.
__ADS_1
Bersambung.....
Terima kasih atas dukungannya BESTie 🙏