
Sepanjang perjalanan menuju perusahaan AFL Group hanya keheningan yang terjadi di dalam mobil yang terus melaju kencang membelah jalanan pusat kota. Tampak sang penumpang yang tidak lain adalah Laura duduk termenung di kursi penumpang, sementara sang supir begitu fokus mengemudikan mobilnya.
Hanya 30 menit mobil yang membawa Laura tiba di perusahaan AFL Group. Mata Laura mengerjap sempurna melihat banyaknya wartawan yang berkeliaran di halaman perusahaan bahkan sudah siaga di depan pintu masuk, membuat petugas keamanan dan para bodyguard ekstra ketat menghadang mereka dan tak membiarkannya masuk.
“Apa non akan turun disini dan melewati banyaknya wartawan?” tanya Ajis yang menjadi supir pribadi nona mudanya.
“Iya Pak, mau bagaimana lagi” jawab Laura sekenanya dengan rasa gugup dan khawatir yang sedang menyelimuti perasaannya.
Beberapa bodyguard yang masih berjaga segera menghampiri mobilnya untuk melakukan pengawalan.
Ajis bergegas turun dari mobil dan segera membukakan pintu mobil untuk majikannya. Seketika para wartawan langsung bergerak berlarian mendekati mobil yang begitu diyakini penumpangnya adalah lahan beritanya.
Laura bergegas turun saat Ajis berhasil membukakan pintu untuknya. Pertanyaan demi pertanyaan langsung dilontarkan para kerumunan wartawan kepadanya, membuat Ajis dan para bodyguard melakukan pengawalan ketat kepada nona mudanya.
“Tolong klarifikasinya nona Laura tentang kehamilan anda di luar nikah?”
“Apa ini menjadi alasan utama nona Laura bercerai dengan pengusaha muda ternama tuan Johan Pradipta William?”
“Siapakah ayah biologis dari bayi yang anda kandung?”
"Sejak kapan anda menjalin hubungan terlarang dengan mantan suami anda? apa ini menjadi penyebab mantan suami anda membatalkan pernikahan yang kedua kalinya?"
"Bagaimana tanggapan anda tentang kehamilan anda dan masalah perusahaan?"
“Apakah rumor yang beredar belakangan ini benar adanya, jika anda berselingkuh di belakang tuan Johan dan beredarnya bukti video durasi 30 menit milik anda menjadi akhir perceraian?”
Seperti itulah deretan pertanyaan yang dilontarkan wartawan untuknya.
Laura hanya bungkam melewati kerumunan wartawan yang terus saja melontarkan pertanyaan demi pertanyaan yang menyudutkan untuknya. Hingga dia berhasil masuk kedalam perusahaannya dan Bodyguardnya dengan cepat menghadang para kerumunan wartawan di depan pintu masuk dan tidak membiarkan mereka masuk begitu saja. Para bodyguard tak segan-segan menyuruh mereka pergi.
Hancur sudah, citranya sebagai pimpinan perusahaan AFL Group runtuh seketika dan menjadi buruk di mata publik dengan kabar kehamilannya di luar nikah. Bahkan semua orang bertanya-tanya siapakah ayah biologis dari bayi yang dikandungnya. Tidak hanya itu, banyaknya masalah kembali berdatangan menimpanya dan juga perusahaannya.
Seluruh harga saham turun drastis, banyaknya klien yang mundur secara mendadak menolak kerja sama dengan perusahaannya, para investor kembali berlomba-lomba menarik suntikan dananya. Hingga saat ini perusahaannya berada di ambang kebangkrutan, hanya satu cara yang bisa menyelamatkan perusahaannya adalah dirinya sendiri.
Langkah kaki Laura terasa berat memasuki lift khusus untuknya. Matanya berkaca-kaca sambil memegangi dadanya yang sesak. Dia tidak ingin perusahaan papanya jatuh bangkrut. Kerja keras papanya selama ini akan menjadi sia-sia akibat keegoisannya.
Sekretarisnya menyambut kedatangannya dengan pandangan tertunduk, dia ikut perihatin atas masalah yang menimpa atasannya. Namun, tak ada yang bisa dia lakukan untuk atasannya.
Laura berjalan dengan tatapan kosong melewati sekretarisnya hingga memasuki ruangannya. Kepalanya begitu pusing bak ingin meledak saja, dia mendaratkan bokongnya di kursi kebesarannya, perut buncitnya ikut menyembul keluar dengan posisi duduk kepala bersandar di sandaran kursi kebesarannya.
Tangannya kembali bergerak mengelus lembut perut buncitnya sambil melamun memikirkan ucapan mamanya. Tiba-tiba saja jantungnya bergemuruh jika mengingat nama lelaki yang dibencinya itu
__ADS_1
“Argghh, aku membencinya. Dasar lelaki licik dan pembohong”gumam Laura dan beralih memijit pangkal hidungnya.
Kejadian dua bulan yang lalu seketika terlintas di pikirannya, Laura kembali melamun membayangkannya.
Flashback On
“Untuk apa kau datang pagi-pagi menemuiku?” tanya Laura pada lelaki yang berdiri di teras rumahnya.
“Laura, bukankah hari ini kau ingin memeriksakan kandunganmu” jawabnya tersenyum hangat.
“Tak perlu Pradipta, aku tidak ingin merepotkanmu. Sebaiknya kamu pergi saja” ucap Laura menyuruhnya pergi.
“Maaf. Aku tidak akan pergi sebelum menemani memeriksa si kecil." ucap Pradipta cengengesan.
Laura berdecak sebal lalu melangkah menuju mobilnya, diikuti Pradipta di belakangnya. Saat akan membuka pintu mobilnya, tiba-tiba saja Pradipta mencekal tangannya.
"Sebaiknya kita barengan saja, nanti kamu hubungi saja supir pribadimu untuk membawa mobilmu ke kantor" usul Pradipta.
"Baiklah" ucap Laura patuh dan tak menolak usulannya.
Pradipta tersenyum dan bergerak membukakan pintu mobil untuk Laura. Tanpa basa-basi Laura bergegas masuk ke dalam mobilnya dan duduk di samping kemudi. Lalu disusul Pradipta yang masuk ke dalam mobil dan duduk di kursi kemudi.
Mobil melaju pelan melewati gerbang meninggalkan kediaman keluarga Anthony.
Pradipta terlebih dahulu turun dari mobil dan berlari kecil ke samping membukakan pintu mobil untuk Laura.
"Terima kasih" ucap Laura dan merasa canggung turun dari mobil.
"Mari" ucap Pradipta membawa Laura masuk ke rumah sakit dan terus mengikutinya hingga tiba di depan pintu ruangan yang diyakini ruangan khusus dokter spesialis kandungan. Dikarenakan beberapa wanita hamil masih duduk di kursi tunggu menunggu gilirannya di persilahkan masuk ke ruangan tersebut.
Laura dan Pradipta berdiri sebentar di depan pintu ruangan tersebut hingga suster menyebutkan nama Laura mempersilahkannya masuk.
Pradipta tetap menemani Laura masuk ke ruangan dokter untuk memeriksakan kandungan wanita yang sangat penting dalam hidupnya. Hingga matanya berbinar sambil mengukur sebuah senyuman mendengar penjelasan dokter bahwa janin dalam kandungan Laura sehat, ditambah Laura sedang hamil bayi kembar.
Mata Laura tak henti berkaca-kaca melihat hasil USG dan penjelasan dokter tentang bayi dalam kandungannya.
"Aku tidak menyangka tengah hamil bayi kembar" ucap Laura dengan raut wajah bahagianya.
"Selamat Laura, karena kau wanita yang sangat istimewa hingga mengandung bayi kembar. Semoga akulah orang yang pertama melihat mereka terlahir di dunia" ucap Pradipta tersenyum dengan tatapan hangatnya sambil mengelus puncak kepala Laura.
Sementara Laura tak menggubris ucapannya dan masih saja senyum-senyum sendiri memandangi dua janin dalam lembaran hasil USG nya.
__ADS_1
Mereka bergegas keluar dari rumah sakit tersebut sambil bergandengan tangan. Lelaki yang berada disampingnya begitu siaga menjaganya dan bertugas melakukan pengawalan untuknya hingga mereka tiba di parkiran.
"Masuklah, aku ada urusan sebentar" ucap Pradipta mempersilahkan Laura masuk ke dalam mobil dan Laura begitu patuh yang masih saja memeluk hasil USG nya.
Pradipta menutup pintu mobilnya lalu bergerak menyebrang jalan dan masuk ke sebuah supermarket untuk membeli sesuatu.
Sementara Laura menyimpan hasil USG nya dan dianggap sebagai benda berharga untuknya. Laura merasa tenggerokannya kering, dia perlahan membuka dasboard untuk mencari air mineral di dalamnya.
Tangannya terus meraba-raba hingga menemukan benda karet yang sedikit lentur. Laura segera menariknya keluar hingga mengerutkan keningnya melihat benda ditangannya berupa topeng wajah. Saat akan menyimpannya kembali, tak sengaja pandangannya tertuju pada secarik kertas yang sudah kusut.
Dengan malas Laura mengambil kertas tersebut lalu melihatnya dengan seksama hingga matanya melotot sempurna.
"Jadi selama ini?" Laura mulai menerka-nerka melihat kertas di tangannya dan juga topeng wajah.
Seketika pikirannya berkecamuk pada satu sosok nama yang sedang membuka pintu mobil dan bergerak duduk di sampingnya.
"Apa semua ini?" tanya Laura dengan suara meninggi sambil melempar topeng wajah beserta remasan kertas.
"Laura ini...." jawabnya setenang mungkin dengan mode waspada.
Tanpa basa-basi Laura langsung menarik topengnya yang melekat sempurna di wajahnya. Hingga wajah tampannya terpampang jelas.
"JOHAN!!" Laura terkejut bukan main melihat wajah asli lelaki yang belakangan ini menemaninya.
Plakkk
Satu tamparan keras mendarat di wajah tampan Johan, membuat sang empunya hanya bisa menunduk diam.
"Br*ngsek, dasar licik dan pembohong"kesal Laura sambil menunjuk wajah Johan dengan tatapan tajam lalu bergegas turun dari mobil.
"Laura, tunggu sebentar. Aku akan menjelaskan semuanya" ucap Johan berusaha menghentikan Laura.
Namun Laura seolah tuli dan bergegas menghentikan taksi yang melintas di jalan lalu bergegas masuk ke dalam taksi dan meninggalkan tempat tersebut dengan kekesalan.
Flashback off
"Beraninya dia membohongiku."
Kembali Laura menunduk menatap perut buncitnya. Seketika dadanya sesak jika memikirkan kembali masa depan calon bayinya. Orang-orang akan terus mengulik kehidupannya, terlebih lagi akan mengucilkan anaknya dan mengganggap nya sebagai anak haram.
"Haruskah aku mengikuti ucapan Mama" ucap Laura gundah gulana dengan mata berkaca-kaca.
__ADS_1
Bersambung....
Jangan lupa, like, love, komen dan vote ya teman-teman 🙏🙏🤗