
"Laura!" teriak Johan memanggil nama Laura yang sedang berada di pinggiran pantai di pulau eksotis keluarga Fero.
Langit senja tampak indah menghiasi pulau eksotis dengan burung-burung berterbangan di langit yang berlomba-lomba untuk kembali ke sarangnya, dimana pertanda akan turunnya matahari di peradabannya dan akan berganti menjadi malam.
Johan melihat disekelilingnya dengan wajah gusar karena sebentar lagi akan gelap dan pastinya tak ada pencahayaan apapun disana jika berada di luar.
Johan semakin panik saja, seharian dia mencari keberadaan Laura yang tak kunjung ditemukan. Mau tak mau Johan dengan terpaksa mengambil resiko masuk ke dalam hutan untuk menyusuri hutan luas itu demi mencari keberadaan Laura. Ditambah signal di pulau tersebut sangat tidak mendukung untuknya mencari keberadaan Laura.
Sementara Wulan bersama lainnya begitu panik mencari keberdaan Laura yang tak kunjung ditemukan. Wulan begitu sedih karena merasa bersalah atas kejadian tersebut, dimana dia mengajak Laura bertemu di pinggir pantai namun nyata nya mereka tak bertemu karena dia harus berurusan terlebih dahulu dengan Fero.
“Hiks…hiks….hiks… bagaimana ini. Aku takut kak Laura hilang dan tak bisa pulang atau jangan-jangan kak Laura diculik penjahat di pulau ini dan..." ucap Wulan menduga-duga diiringi isak tangis dan sebelah tangannya berusaha menghapus air matanya yang tak berhenti mengalir membasahi pipinya.
Fero hanya mampu menghembuskan napasnya dengan kasar. Lelaki bermanik hitam itu juga tampak mengkhawatirkan teman baiknya. Bagaimana pun dia bertanggungjawab atas insiden hilangnya Laura, karena pulai eksotis itu adalah milik orang tuanya. Wulan mendekat ke arahnya yang berderai air mata, Fero segera mengalihkan pandangannya melihat ke arah Wulan hingga mengerutkan keningnya melihat gadis belia itu tampak terpuruk dengan mata sembab.
“Hiks, hiks…huuhksss” dengan santainya Wulan menghapus cairan bening di mata dan juga di hidungnya menggunakan ujung kemeja Fero, membuat Fero terbelalak kaget dan merasa jijik dengan ulah Wulan.
“Maaf, aku tidak ingin mengotori bajuku dengan air mata bodohku dan hidung tersumbatku”ucap Wulan tanpa rasa bersalah sedikit pun sambil sesenggukan.
Fero mengepalkan tangannya sambil berdengus kesal menahan emosinya melihat tingkah Wulan, akan tetapi, tidak mungkin dia memarahi Wulan dalam keadaan seperti ini.
Sementara Ferdy dan Sisil juga tampak panik atas insiden hilang nya Laura, berkali-kali lelaki berkumis tipis itu menghubungi seseorang yang mampu membantunya mencari Laura di pulai eksotis itu namun selalu terkendali jaringan karena signal di pulau tersebut kurang mendukung.
Tiba-tiba ponsel Ferdy berdering heboh yang menandakan sebuah panggilan masuk, Ferdy sempat terkejut karena sedari tadi menghubungi orang lain namun tak kunjung tembus dan hanya berada di luar jangkauan membuatnya menjadi kesal setengah mati.
Tak ingin menunda lama, Ferdy segera mengangkat panggilan masuk tersebut dari orang yang dikenalinya.
“Ya halo, ada apa tuan Johan” ucap Ferdy tenang dan berbicara formal memperdengarkan kepada orang disekitarnya.
“Kalian tak perlu khawatir, aku...tuttttt"
Suara lawan bicaranya tak terdengar lagi karena terpotong oleh signal yang kurang baik dan secara tiba-tiba panggilannya terputus.
Ferdy menghela nafas panjang untuk lebih sabar menghadapi signal yang super menjengkelkan di pulau itu sambil memegangi ponselnya.
Wulan dan Fero baru saja menajamkan pendengarannya namun sayangnya sudah tak mendengar apa-apa.
__ADS_1
Ferdy kembali antusias melihat panggilan masuk tersebut dan dengan cepat mengangkatnya. Dia pun tak lupa tampak mengangkat tinggi-tinggi tangannya di udara demi mendapatkan signal bagus.
Bahkan Wulan begitu bersemangat untuk mengangkat tubuhnya, namun hanya sebatas angan-angan belaka karena hal itu mustahil. Sehingga lelaki berkumis tipis itu menggelengkan kepalanya dan berusaha tersenyum kepada adik iparnya dengan posisinya semula.
"Kalian tak perlu khawatir aku sudah menemukan Laura dan saat ini sudah bersamaku” ucap seseorang begitu antusias di ujung telepon yang tidak salah lagi adalah Johan.
Wulan tersenyum mendengar kabar baik itu dan refleks memeluk tubuh Fero. Sedangkan Fero hanya mampu membiarkannya saja, apalagi melihat raut wajah Wulan kembali ceria seperti sedia kala.
“Oh syukurlah. Kami semua merasa lega mendengarnya dan.....tutttttt” ucap Ferdy tersenyum dan lagi-lagi tak mampu melanjutkan ucapannya karena terputus oleh signal. Dan panggilan mereka pun berakhir dan semua orang tampak menunggu jawaban detailnya.
"Laura sudah ditemukan" ucap Ferdy antusias mengucapkan kabar baik itu dan sang istri penuh cinta memeluk lengannya dengan kepala bersandar di pundaknya.
Sementara Wulan dan Fero merasa lega mendengarnya, dimana Wulan masih setia memeluk tubuh Fero, lelaki yang selalu berseteru dengannya.
“Kita tak perlu lagi khawatir, ada tuan Johan yang menjaga Laura. Sebaiknya kita kembali ke kamar. Langit tampak mendung seperti akan turun hujan” ucap Ferdy sambil merangkul istrinya lalu berjalan menuju kamarnya meninggalkan pasangan suami istri yang belum akur juga.
Baik Wulan maupun Fero tampak saling diam-diaman di bawah pohon rindang, sementara gerimis mulai turun membasahi tempat disekelilingnya. Wulan menggosok-gosok kedua tangannya untuk mengurangi kadar dingin yang menusuk permukaan kulitnya, sedangkan Fero melipat kedua tangannya di depan dada sambil melirik gadis di sampingnya.
“Aku akan menunggu Kak John dan Kak Laura disini” ucap Wulan melihat sorot mata Fero yang sepertinya memintanya kembali ke kamar, sementara dia masih betah berdiri di bawah pohon rindang halaman Villa yang mereka tempati.
“Udara semakin dingin dan gerimis mulai turun, bisa-bisa kamu masuk angin dan terserang flu” ketus Fero dan langsung menggandeng tangan Wulan.
Wulan berusaha untuk melepaskan tangannya dari tangan Fero, namun sorot mata Fero begitu tajam membuatnya menurut saja. Ditambah tangan Fero cukup hangat untuk digenggam membuatnya sedikit nyaman mengkuti langkah kaki lelaki bermanik hitam itu.
Sementara di tempat lain, tepatnya di pulau yang sama tampak dua insan duduk bersantai di bawah pohon trembesi, pohon peneduh berbentuk seperti payung raksasa dengan akar, batang dan dahan tampak berukuran besar, sehingga pohon tersebut sangat cocok dijadikan tempat peneduh.
Setelah menyusuri hutan dengan jarak tempuh dua kilometer, akhirnya Johan menemukan sosok yang dicarinya sedang duduk di bawah pohon trembesi yang rindang. Lalu Johan segera memberitahu yang lainnya bahwa dia sudah menemukan Laura, kemudian segera menghampiri Laura.
Sedari tadi mereka duduk bersama namun belum ada yang buka suara. Gerimis mulai terdengar di indera pendengarannya membasahi daun-daun pohon rindang itu, namun satupun tak ada yang ingin beranjak dari tempat tersebut.
Laura mengalihkan pandangannya ke samping menyadari sebuah jaket kulit bertengger di punggungnya.
“Semoga jaket ini membantu menghangatkan tubuhmu” ucap Johan tersenyum hangat dan Laura membiarkannya karena memang dia sedang kedinginan.
Laura sama sekali tak melirik Johan disampingnya, entah apa yang sedang dipikirkannya hingga hanya fokus diam membisu.
__ADS_1
"Kau tak berencana untuk kembali ke Villa?" tanya Johan.
Laura langsung meliriknya sekilas dan kembali dengan pandangan lurus ke depan.
"Aku masih ingin disini, tempat ini begitu damai" jawab Laura acuh.
"Dan kamu tidak takut dengan binatang buas disekitar mu" ucap Johan dan tak sengaja melihat dengan mata elangnya seekor ular sanca bertengger di ranting pohon.
"Mana ada, jangan coba-coba menakut-nakuti ku, Johan!" sinis Laura sambil melihat di sekelilingnya.
"Apa perlu aku tunjukkan kepadamu?" tanya Johan tersenyum.
"Apa maksudmu Johan, jangan menakut-nakuti ku" jawab Laura dengan bibir bergetar sambil menggeser tubuhnya mendekati Johan. Sungguh dia begitu takut dengan hewan buas.
"Di atasmu" ucap Johan dan Laura langsung mendongak untuk melihatnya.
"Awas" Johan langsung menarik tubuh Laura masuk ke dalam pelukannya dan ular sanca terjatuh ke tanah lalu pergi menjauh meninggalkannya karena ranting kayu yang dipegang oleh Johan mampu membuat hewan berbisa itu menghindarinya.
Laura memeluk erat tubuh Johan dengan tubuh bergetar. Sungguh dirinya begitu takut, apalagi tak sengaja melihat sisik mengkilap dari hewan berbisa itu lewat sinar rembulan malam.
"Sudah pergi, kau aman selama bersamaku" ucap Johan tersenyum tipis menenangkan Laura.
Laura segera melepaskan pelukannya dengan degup jantung berdebar kencang dan berusaha untuk menjaga jarak dengan Johan, tapi Johan kembali mengagetkannya.
"Dibelakangmu" usil Johan dan membuat Laura melompat ke dalam pelukannya hingga tubuh Johan terhuyung ke belakang membentur akar kayu. Pandangan mata mereka bertemu, dimana tubuh Laura berada di atas tubuhnya.
"Ha ha ha ha...aku hanya bercanda" ucap Johan cengengesan dan Laura langsung melayangkan tangannya untuk memukul Johan, tapi Johan malah mencium punggung tangannya.
"Ingat! tak boleh galak-galak di tempat ini" tegur Johan membuat Laura buang muka menahan rasa kesalnya.
Johan langsung menarik tubuh Laura hingga membuat tubuh Laura menempel di dadanya. Pandangan mata mereka bertemu, entah siapa yang memulainya bibir mereka sudah saling bertautan memberikan kehangatan.
Suasana sangat mendukung mereka bermesraan di bawah pohon rindang dan sinar rembulan tampak mengintip kegiatan mereka, ditambah gerimis mengundang dan bisa saja mereka melakukan hal lebih.
Puas mencium bibir manis Laura, Johan lalu menarik tubuh Laura bersandar di dadanya.
__ADS_1
"Tetaplah berada di sampingku, Laura. Aku akan menjagamu segenap jiwaku" Janji Johan kepada Laura dan Laura hanya diam membisu yang tak mampu berkata-kata.
Bersambung