Laura Dan Status Barunya

Laura Dan Status Barunya
Bab 73 Laura dan Status Barunya


__ADS_3

"Apa semuanya sudah siap?" tanya Johan sembari membuka pintu kamarnya.


"Kami sudah siap Daddy" jawab anak kembarnya dengan kompaknya yang terlihat rapi dan menggemaskan memakai tas kecilnya.


Pertanyaannya malah di jawab oleh anak kembarnya, padahal pertanyaan itu dia tujukan untuk Laura, namun Laura tak bersama mereka, sepertinya Laura berada di ruang ganti.


Mengingat hari ini adalah hari dimana kedua orang tuanya kembali dari negara Z. Johan terlebih dahulu membawa keluarga kecilnya ke kediaman orang tuanya, setelah itu dia akan berangkat ke bandara untuk menjemput kedua orang tuanya.


"Oh, jagoan Daddy yang paling tampan sudah siap rupanya." Johan tersenyum menghampiri mereka. Dan tak lupa mencium pipi gembul anak-anaknya secara bergantian.


Tak berselang muncullah Laura dengan penampilan anggunnya membawa tas besar yang berisi baju ganti mereka. Johan yang melihat penampilannya hanya berdecak kagum dengan sudut bibir terangkat membentuk senyuman.


"Mengapa tak gunakan koper saja." ucap Johan yang begitu yakin isi tas itu berisi baju ganti.


"Bukankah kita hanya menginap semalam saja. Tas ini muat untuk baju ganti kita dan anak-anak" terang Laura.


"Lalu mainan mereka." tunjuk nya pada anak kembarnya.


"Mereka masing-masing bawa mainan dalam tasnya." ucap Laura dan kembali mengambil tas berukuran sedang berisi perlengkapan anak kembarnya yang dia letakkan di dekat sofa.


"Tas itu isinya apa?"


"Isinya perlengkapan si kembar, perlengkapan mandinya, susu, botol minumannya, pampers untuk jaga-jaga siapa tau salah satu dari mereka ngompol dan masih banyak lagi. Jika aku sebutkan kita bisa terlambat perginya." ucap Laura panjang lebar.


"Ya sudah, berikan tas itu padaku." Johan tersenyum mendengar penjelasan istrinya


"Tak usah, aku sudah meminta pelayan untuk membawa tas ini ke mobil. Bawa saja Jovan dan Jovin turun ke bawah." ucap Laura tersenyum dan kembali masuk ke ruang ganti untuk mengambil tasnya.


"Baiklah." teriaknya lalu segera membawa anak kembarnya turun ke lantai satu.


"Jagoan-jagoan Daddy, saat kita sampai di rumah kakek, kalian tidak boleh nakal dan harus menjadi anak pintar yang patuh." ucap Johan menasihati mereka, pasalnya kondisi Papanya tak baik-baik saja, terkadang mengeluarkan sifat tempramental nya dan masih tidak terima kondisinya sekarang yang terkena stroke.


"Baik, Daddy" ucapnya kompak tersenyum.


"Bagus, Daddy, sangat senang mendengarnya." pujinya lalu memeluk anak kembarnya.


" Emm satu lagi. Daddy, mau tanya, apa kalian senang akan menginap di rumah kakek?" tanya Johan sambil menatap manik mata mereka.

__ADS_1


"Kami senang Daddy." jawabnya kompak.


Ah Lucunya anak-anakku, benar-benar anak kembar yang kompak. Apa-apa jawab barengan. Batinnya tersenyum.


"Mengapa masih berdiam diri disitu, bukankah kita harus berangkat sekarang." ucap Laura yang melihat mereka duduk begitu santainya di sofa.


"Ini juga kami akan bergegas Mommy." ucap Johan menirukan gaya bicara anak-anaknya membuat si kembar tertawa renyah.


"Ayo berangkat, bukankah kau akan menjemput kedua orang tuamu di bandara" tegur Laura.


"Yes Mommy."


"Johan!" terdengar suara bass Laura menegurnya untuk tak bercanda.


"Ya Mommy" ucapnya bersamaan dengan anak kembarnya dan Laura langsung memasang wajah mode galak sambil menatap tajam Johan. Sementara Johan terkekeh membawa si kembar berjalan mendahuluinya.


Mobil yang membawa mereka pergi sudah siap. Tampak Johan membukakan pintu mobil untuk Laura dan Laura bergegas masuk dengan ekor matanya yang tajam. Johan hanya mampu tersenyum melihat raut wajah istrinya. Sementara anak-anaknya sudah duduk tenang di kursi penumpang bersama Babysister Dinda.


Setelah itu, barulah Johan bergegas masuk ke dalam mobil dan duduk di kursi kemudi. Johan melirik istrinya sebentar lalu bergerak maju membetulkan sabuk pengamannya, hingga membuat Laura memundurkan tubuhnya.


"Aku hanya membantumu, lihat ini." ucapnya tersenyum dan Laura langsung memalingkan wajahnya dengan senyuman tipis menghiasi bibirnya.


Sementara Laura dan Johan hanya mampu tersenyum mendengar segala kekocakan anak-anaknya. Hingga suara tawa mereka tak terdengar lagi saat dipertengahan jalan menuju kediaman keluarga William. Suasana perjalanannya berubah jadi keheningan akibat kedua jagoan kecilnya sudah tertidur di belakang sana.


Laura segera mengalihkan pandangannya ke arah belakang untuk memastikan anak-anaknya yang tengah tertidur ditemani babysister nya. Laura tersenyum melihat mereka dan kembali memperbaiki posisi duduknya.


Saat melihat gerbang kediaman orang tua Johan, tiba-tiba raut wajah Laura berubah sendu. Hal ini adalah momen pertama baginya untuk bertemu langsung dengan kedua orang tua Johan setelah kembali resmi menjadi pasangan suami istri.


Johan melirik ke arah Laura yang hanya menundukkan pandangannya membuatnya berinisiatif menggenggam tangannya.


"Apa yang sedang kau pikirkan?" tanyanya dan tetap fokus mengemudikan mobilnya memasuki kediaman orang tuanya.


"Tidak ada, aku hanya tidak menyangka bisa mengunjungi kembali kediaman orang tuamu." ucap Laura tersenyum dan mengalihkan pandangannya ke arahnya.


"Oh, berpikirlah yang positif. Jangan selalu terbebani dengan hubungan rumah tangga kita." Johan tersenyum menatapnya dan Laura mengangguk setuju.


Mobil yang membawa mereka berhenti tepat di halaman rumah dimana dua mobil hitam juga berhenti tepat di depannya.

__ADS_1


"Kita sudah sampai, mommy." ucap Jovan yang baru saja bangun lalu disusul Jovin yang sedang mengucek matanya.


"Iya sayang, kita sudah sampai di rumah kakek dan nenek. Mommy turun lebih dulu, kalian tunggu sebentar ya" Laura tersenyum melihat mereka di belakang dan anaknya hanya mengangguk mengerti.


Sementara Johan bergegas turun dari mobil dan bergerak menghampiri mobil di depannya, dimana supir dan orang dikenalinya sedang membantu seseorang dari dalam mobil.


"Mama." ucap Johan mempercepat langkahnya untuk menghampirinya.


"Johan." ucap mamanya dan langsung berhambur memeluknya. Perasaan haru menyelimuti mereka. Laura berjalan mendekati mereka, hingga wanita paruh baya itu tersenyum melihatnya dan berpindah memeluknya.


"Laura." ucapnya dengan mata berkaca-kaca sambil memeluk erat tubuh menantunya. Sedangkan Laura membalas pelukannya dengan mata berkaca-kaca.


Lalu turunlah sosok lelaki paruh baya menggunakan kursi roda. Wajahnya tampak tidak simetris atau mengalami kelumpuhan wajah akibat stroke yang dideritanya.


Sedikit penjelasan tentang penyakit stroke yang dialami tuan William. Stroke adalah penyakit dimana gumpalan darah masuk ke dalam pembuluh darah di otak. Akibatnya suplai oksigen jadi terganggu dan menyebabkan kerusakan otak, kelumpuhan anggota tubuh, dan bahkan kematian.


Kita ketahui bahwa stroke termasuk penyakit yang mengerikan dan butuh penanganan medis yang serius dan butuh waktu bertahun-tahun lamanya.


Orang yang terkena stroke, setengah wajahnya jadi lumpuh sehingga terlihat miring. Selain miring, separuh wajah juga mati rasa. Hal ini terjadi karena saraf yang bertugas menyuplai oksigen ke otot-otot wajah rusak. Seperti itulah yang dialami tuan William saat ini.


"Papa." panggil Johan dan berjongkok di depan ayahnya lalu berhambur memeluknya. Sementara lelaki yang berada di kursi roda hanya diam dengan mulut miring dan berusaha untuk digerakkan.


"Sebaiknya bawa dia masuk, dia butuh istirahat." tegur lelaki paruh baya yang baru saja keluar dari mobil. Johan langsung melepaskan pelukannya.


"Paman, Wulan" Johan tak menyangka melihat kehadiran mereka.


"Aku dan ayah yang menjemput Paman di bandara. Lagian kak John tak kunjung datang. Aku sih memakluminya karena kak John sepertinya sangat sibuk mengurus si kembar." ucap Wulan tersenyum.


"Terima kasih, Paman, Wulan. Aku jadi merepotkan kalian" ucap Johan.


"Tak masalah kak John. Sebaiknya kita masuk ke dalam." usul Paman nya.


"Tunggu sebentar, mana cucuku. Mengapa kalian tak membawanya" timpal Nyonya Tias dan sama sekali tidak melihat keberadaan cucunya. Laura hanya mampu tersenyum mendengar ucapan ibu mertuanya.


Hingga suara heboh anak kecil terdengar berjalan ke arahnya.


"Kakek, Nenek" teriaknya kompak yang berjalan beriringan bersama babysister nya.

__ADS_1


Semua orang mengalihkan pandangannya ke arahnya. Hingga Nyonya Tias tersenyum dan segera menghampirinya, sementara tuan William berusaha menggerakkan bibirnya untuk membentuk senyuman dan matanya ikut berkaca-kaca melihat bocah kembar yang sangat menggemaskan itu yang merupakan cucunya.


Bersambung.....


__ADS_2