Laura Dan Status Barunya

Laura Dan Status Barunya
Bab 61 Laura dan Status Barunya


__ADS_3

Keesokan harinya....


Sesuai jadwal pertemuan yang sudah diatur oleh pihak Johan dan Laura pada restoran xxx. Tampak Laura bersama pengacara dan sekretarisnya berjalan beriringan memasuki restoran mewah tersebut.


Karyawan restoran segera menyambut kedatangan mereka lalu memintanya ke ruang VVIP khusus untuk kaum elit yang biasa melakukan meeting bersama.


Laura menghela nafas sebelum melangkah masuk di ruangan kedap suara itu, dimana Johan bersama sekretaris dan pengacaranya sudah menempati kursinya masing-masing.


Dengan pandangan lurus ke depan Laura berjalan anggun menghampiri mereka, diikuti Rival dan tuan Vincent (pengacara keluarganya) membuat semua orang mengalihkan pandangannya ke arahnya.


"Selamat siang" sapa Laura tenang dan sebisa mungkin bersikap profesional.


Johan langsung bangkit dari duduknya dan mempersilahkan mereka duduk di kursi. Johan mengulurkan tangannya untuk berjabat tangan dengan Laura, tapi Laura mengacuhkannya dan segera menempati kursi yang berhadapan dengan Johan, membuat Johan tersenyum tipis lalu kembali duduk hingga pandangan mata mereka bertemu.


"Bisakah tak menatapku seperti itu" sinis Laura menatap tidak suka tatapan Johan.


Johan tersenyum lalu melirik Mike dengan memberikan kode-kode untuk buka suara.


"Selamat siang semua. Semoga kita semua senantiasa berbahagia berkumpul bersama di ruangan ini. Baiklah untuk mempersingkat waktu, saya persilahkan kepada tuan Johan untuk menyampaikan pesan yang ingin disampaikan kepada nona Laura " ucap Mike lalu melirik ke arah atasannya, membuat Johan menatap tajam Mike. Lewat tatapannya mengisyaratkan bahwa Mike berbuat kesalahan.


Semua orang beralih menatap Johan, termasuk Laura menatap sinis lelaki dibencinya itu.


"Hemm" Johan membuka map hijau sama seperti yang dia diberikan kepada Laura.


"Kalian pasti sudah tahu maksud dan tujuan kita berkumpul di ruangan ini guna untuk membicarakan hak asuh anak antara aku dan nona Laura" ucap Johan setenang mungkin.


Laura mengepalkan tangannya di bawah meja dan begitu kesal duduk berhadapan dengan Johan. Hingga tak sabaran untuk mencaci-maki Johan.


"Aku menolak keras gugatanmu tuan Johan. Sampai kapan pun aku tidak akan pernah menyerahkan anakku pada lelaki br*ngsek seperti mu!. Kau tidak berhak atasnya " timpal Laura dengan sorot mata tajam.


"Maka dari itu kita selesaikan di ruangan ini. Karena aku juga memiliki hak atas anakmu. Akulah ayah biologisnya" tegas Johan tak main-main.


"Tapi, aku tak membutuhkan apapun darimu. Aku tidak butuh tanggungjawab mu, walaupun kau berulang kali memohon dan mengajakku untuk menikah!" ketus Laura sambil menunjuk ke arah Johan.


"Aku sendiri yang mengandungnya dan akan merawatnya dengan penuh kasih sayang hingga tumbuh dewasa. Jadi jangan coba-coba untuk mengambilnya dariku! apalagi mengakuinya sebagai anakmu" tambahnya.


Yang lainnya hanya diam mendengarkan perdebatan mereka. Sementara Johan mengepalkan tangannya mendengar ucapan Laura.

__ADS_1


"Kau tak akan hamil tanpa benihku Laura, karena itu aku memiliki hak yang sama sepertimu. Biarkan aku ikut membantumu merawat calon anak kita" kesal Johan tak terima ucapan Laura.


"Andai saja benih mu bisa dikeluarkan dari tubuhku. Aku akan mengeluarkannya dan membuangnya di lautan agar kau puas"sinis Laura dengan kilatan amarah.


"Kau!" tunjuk Johan yang bangkit dari duduknya yang sedang terpancing emosi menghadapi wanita keras kepala dihadapannya.


"Apa hah?" tantang Laura tak mau kalah yang juga bangkit dari duduknya sambil bertolak pinggang.


Keempat orang yang berada di ruangan itu menatap mantan suami istri itu secara bergantian hingga para pengacara mulai buka suara.


"Kita bisa selesaikan dengan kepala dingin" Pengacara Johan yang bernama tuan Regis buka suara. Lanjut tuan Vincent (pengacara Laura). "Dan secara kekeluargaan. Jadi mohon tenang" tambahnya untuk menghentikan perdebatan mereka.


Laura dan Johan kembali duduk di kursinya, mereka saling buang muka dan tak ingin tatap-tatapan.


"Sebesar apapun masalah yang anda hadapi selesaikanlah dengan tenang lalu ambil hikmahnya" ucap tuan Vincent dengan bijaknya.


"Benar sekali, jika anda sama-sama keras kepala maka akan merugikan anda sendiri, termasuk janin yang berada dalam kandungan nona Laura" timpal tuan Regis melihat dengan jelas kelakuan mantan suami istri itu.


Kedua pengacara hebat itu sudah berpengalaman dan malam melintang dengan kasus-kasus hukum para kliennya. Termasuk dalam menyelesaikan kasus-kasus seperti yang terjadi pada kliennya saat ini.


"Tuan, tenanglah, jangan memperburuk situasi" bisik Mike kepada atasannya.


"Walaupun sekeras baja kau menolaknya, aku tetap akan melakukannya Laura. Aku akan memperhatikanmu, menjagamu dan menyiapkan segala kebutuhanmu selama masa kehamilan mu"ucap Johan menurunkan egonya dengan tatapan tertunduk. Sungguh dia tidak ingin egois mementingkan dirinya sendiri.


Laura hanya memutar bola matanya jengah mendengar setiap ucapan Johan. Tuan Vincent dan tuan Regis, sesama pengacara berbakat hanya saling pandang lalu menghela nafas.


"Kalian memiliki hak masing-masing, tapi tidakkah anda begitu egois tuan Johan. Nona Laura sedang hamil, sementara anda menggugatnya hak asuh anak yang belum terlahir di dunia. Tidak seharusnya anda lakukan semua ini, karena akan berpengaruh pada kondisi kehamilan nona Laura. Bisa saja nona Laura stress berkepanjangan dan berakibat fatal jika sampai nona Laura keguguran, akibat terus memikirkan gugatan anda. Ada baiknya masalah ini kita kembali bicarakan setelah nona Laura berhasil dengan selamat melahirkan buah hatinya" ucap tuan Vincent panjang lebar.


"Betul sekali, saya sangat setuju bung" timpal tuan Regis pada rekan sesama pengacaranya.


Dan Mike manggut-manggut mendengar pembicaraan mereka. Sementara Johan dan Laura hanya saling diam tanpa merespon sedikit pun dengan wajah datarnya.


"Akan tetapi, tuan Johan harus bertanggungjawab penuh terhadap keselamatan nona Laura beserta anak dalam kandu_" Tuan Regis tak melanjutkan ucapannya.


"Aku tidak setuju dan tak perlu memintanya untuk bertanggungjawab. Karena selama masa kehamilanku, Johan tak boleh muncul di hadapanku sampai anakku terlahir di dunia" potong Laura.


"Benar yang dikatakan nona Laura, agar tak mempengaruhi kondisi kehamilannya. Wanita hamil merasa tertekan jika orang yang dihindarinya terus saja menggangu ketenangannya. Tapi jika bermaksud baik demi melindungi nona Laura dan janinnya, saya rasa sah-sah saja" timpal tuan Vincent sambil melirik Johan yang tengah bersikadap.

__ADS_1


"Bagaimana tuan Johan? saya rasa anda harus setuju demi kebaikan bersama" ucap tuan Regis pada kliennya.


"Baiklah, aku setuju tidak akan muncul di hadapanmu selama masa kehamilanmu. Akan tetapi, jika kau mendapatkan masalah, aku dengan senang hati siap membantumu" ucap Johan berat hati. Pasalnya dia ingin terus berada di samping Laura dan melihat tumbuh kembang darah dagingnya dalam kandungan Laura.


"Bagaimana nona Laura?" kembali tuan Vincent memastikan keputusan Laura dan Laura hanya bisa mengangguk pasrah dan ingin segera pergi dari tempat tersebut.


"Ya saya rasa kedua belah pihak saling sepakat. Mengenai hak asuh anak, kita akan bahas kembali setelah nona Laura melahirkan buah hatinya. Jika ada salah-salah kata harap di maklumi. Tak ada yang sempurna di muka bumi ini karena kesempurnaan hanya milik sang pencipta" ucap Tuan Vincent tersenyum mengakhiri pembicaraannya.


"Kalau begitu, kami permisi" pamitnya sambil berjabat tangan. Laura ikut bangkit dari duduknya dan dengan terpaksa ikut berjabat tangan dengan Johan dan lainnya, lalu melenggang pergi keluar dari restoran tersebut.


Semuanya akan baik-baik saja Laura. Kamu bisa menang dari Johan. Batin Laura.


*


*


*


Empat bulan kemudian...


Tampak wanita hamil dengan perutnya yang sudah membesar terlihat mengamati penampilannya di dalam cermin yang sedang memakai gaun hamil.


Raut wajahnya tak seceria biasanya dan dibawah matanya tampak menghitam akibat kurang tidur karena beberapa hari belakangan dia mendapatkan masalah yang selalu dia wanti-wanti selama ini.


Sementara wanita paruh baya yang baru saja masuk ke dalam kamarnya berjalan mendekatinya.


"Sayang, kamu yakin akan berangkat ke kantor?" tanyanya dengan wajah sendunya memastikan kembali keputusan putrinya.


"Mama, aku tidak ingin berdiam diri di rumah hanya karena kabar kehamilanku yang sudah menyebar luas. Aku memiliki peranan penting terhadap perusahaan" ucap wanita hamil itu yang tak lain adalah Laura.


"Mama tidak ingin kamu di bully dan dicaci-maki diluaran sana, mama tidak ingin kamu bersedih" ucap Mama Laura dengan mata berkaca-kaca.


"Tidak apa-apa mama, ini sudah menjadi takdir Laura hamil diluar nikah. Biarlah mulut mereka berbusa dan terus mencemooh Laura, yang jelas Laura tidak ingin ambil pusing" ucap Laura tersenyum dan sudah menerima takdirnya.


"Turunkan egomu, nak. Biarkan Johan bertanggungjawab untuk menikahimu" ucap Mamanya dan langsung berhambur memeluknya.


"Maaf mama, aku tidak bisa. Aku belum memaafkannya sampai kapanpun" ucapnya dengan bibir bergetar. Rasa bencinya kepada Johan tak akan pernah berubah.

__ADS_1


Bersambung....


__ADS_2