Laura Dan Status Barunya

Laura Dan Status Barunya
Bab 48 Laura dan Status Barunya


__ADS_3

Laura duduk di kursi menghadap jendela memperhatikan suasana luar, dimana beberapa orang berdatangan dengan penampilan mewahnya.


"Sepertinya ada acara di kediaman orang tua Johan" ucap Laura sambil menopang dagu melihat suasana luar.


Terdengar langkah kaki seseorang diiringi obrolan melewati lorong kamar Laura.


"Dengar-dengar acara yang sedang berlangsung di rumah utama itu adalah acara pertunangan tuan Johan dengan wanita pilihan tuan dan nyonya." ucap pelayan wanita dengan acara yang sedang berlangsung di rumah utama.


"Ya kurasa benar, beberapa hari yang lalu tuan dan nyonya sudah mempersiapkan acara mereka" timpal temennya.


"Aku dengar-dengar wanita yang menjadi tunangan tuan Johan adalah wanita berkelas. Kamu tidak lihat tadi bagaimana penampilannya, sungguh sempurna bukan dengan tinggi badannya bak model, body yang aduhai mirip gitar spanyol dan senyuman menawan. Ku rasa tuan Johan lebih cocok dengan yang ini" ucapnya lagi.


Laura hanya mampu menguping sambil melipat bibirnya yang sedang tertegun mendengar obrolan mereka.


"Beda jauh dengan nona Laura, seperti tak ada apa-apanya. Katanya sebulan lagi mereka akan melangsungkan pernikahan" lanjut temennya.


"Memang hal baik harus disegerakan karena aku rasa memang tuan Johan jodoh wanita cantik itu." ucapnya lalu berhambur masuk ke kamar mereka masing-masing dan mengakhiri pembicaraannya.


Laura berusaha mengontrol emosinya mendengar pembicaraan mereka yang seolah sedang memanas-manasi dirinya. Dada nya begitu sesak teramat mendengar ucapan mereka tentang Johan yang bertunangan.


"Berbahagialah Johan dengan pilihan kedua orang tua mu" gumam Laura sambil menghembuskan nafasnya dengan kasar.


Tak ada yang bisa ia lakukan selain berlapang dada dan mendengar kabar baik dari mantan suaminya. Takdir tak bisa lagi dirubah ataupun dikembalikan seperti semula hanya waktu yang bisa ia lalu dikala itu susah maupun senang.


Sementara di rumah utama...


Semua pihak keluarga begitu bahagia atas pertunangan Johan dengan Catherine. Kecuali Nyonya Tias dan Wulan yang sama sekali tidak menerima pertunangan mereka namun tetap menunjukkan sikap manisnya bahwa mereka turut bahagia atas semua itu.


Johan melakukannya dengan terpaksa demi bisa melindungi wanita yang dicintainya. Bertunangan dengan Catherine bukanlah keinginannya, sungguh ia sudah mencintai


wanita yang bernama Laura, mantan istrinya.


Seolah acara ini kembali terjadi beberapa bulan yang lalu, dimana dirinya kembali dipaksa pada waktu itu bertunangan dengan Laura. Perkenalan yang begitu singkat membuat mereka terikat dengan sebuah hubungan pernikahan, dan berpisah dalam waktu singkat.


Sepanjang acara, Johan hanya memasang wajah datarnya di hadapan kerabat dan juga keluarga Catherine.


"Sayang, ayo kita berfoto" ucap Catherine manja sambil merangkul lengan Johan.


Johan hanya menatapnya sinis lalu menepis kasar tangan Catherine yang merangkul lengannya. Hal itu membuat tuan William menatap tajam putranya yang berjalan melewatinya. Johan terlihat acuh meninggalkan acara itu yang masih berlangsung, dimana tatapan ayahnya begitu tajam untuknya karena merasa Johan berbuat kesalahan dan Johan tak ingin ambil pusing dengan hal itu.


"Johan!" panggil Catherine menyusul Johan untuk menghentikan langkah Johan. Sementara Johan sama sekali tak memperdulikannya hingga berlalu keluar dari rumah mewah itu.

__ADS_1


Awas kamu Johan, setelah aku menjadi nyonya di keluarga mu. Akan ku buat kamu bertekuk lutut di kaki ku. Hanya kamu lelaki pertama yang menolak ku seperti ini. Batin Catherine.


Catherine mencoba tersenyum menutupi kekesalannya pada Johan, tunangannya. Dia pun kembali bergabung dengan saudaranya yang tengah mengobrol bersama mama Johan dan juga Wulan di sana


Kapan ya acara ini berakhir, sungguh aku tidak bisa terus bersandiwara di depan mereka. Batin Mama Johan.


Kasian kak John, aku yakin kak John terpaksa bertunangan dengan wanita ular itu. Dan sepertinya kak John sudah jatuh cinta kepada kak Laura. Batin Wulan.


Wulan mencoba untuk mencairkan suasana melihat ketegangan raut wajah Catherine yang tampak kesal.


"Selamat ya kak Catherine atas pertunangan mu. Kamu dan kak John memang pasangan serasi" puji Wulan begitu muak dengan ulahnya sendiri sambil memberikan pelukan untuk Catherine.


Nyonya Tias ikut tersenyum ramah melihat mereka dan bersikap seolah-olah menerima Catherine menjadi menantu selanjutnya di keluarganya.


"Terima kasih adik manis, tetap doakan kami hingga ke jenjang pernikahan" balas Catherine tersenyum ramah.


Tidak akan pernah, pokoknya kak John harus bersatu kembali dengan kak Laura. Batin Wulan.


Wulan hanya tersenyum kecil dengan anggukan kepala sebagai jawabannya.


Hingga acara pertunangan itu berakhir tanpa kepulangan Johan yang pergi entah kemana.


Sementara keluarga Catherine tampak meninggalkan kediaman keluarga William. Begitu pula dengan kerabat dekatnya, termasuk Wulan yang memilih undur diri.


Saat tiba di kediaman orang tua Fero, Wulan berjalan mengendap-endap layaknya pencuri. Karena suasana rumah sudah sepi dan hanya beberapa lampu penerangan yang masih menyala di ruangan tertentu.


Pandangan Wulan diarahkan ke kanan dan ke kiri. Setelah merasa aman, dia pun bergegas menaiki anak tangga menuju kamarnya. Wulan menarik nafas dalam-dalam saat berada di depan pintu kamarnya, perlahan ia pun menempelkan telinganya di pintu untuk memastikan sesuatu di dalam sana.


"Aman" gumam Wulan tersenyum tipis lalu memegang handle pintu dan membukanya pelan tanpa mengeluarkan suara.


Suasana kamarnya sudah gelap dan Wulan bernafas lega menutup kembali pintu kamarnya dan tak lupa menguncinya cepat. Saat berbalik badan seketika suasana kamarnya menjadi terang benderang dan memperlihatkan sosok lelaki bermanik hitam bersikadap berdiri tegak dihadapannya dan sedang menatapnya dengan intens.


"Kamu darimana saja?" pertanyaan langsung keluar dari mulut Fero.


"Cari angin malam" ucap Wulan acuh sambil meletakkan sepatunya di rak sepatu. Lalu Wulan berjalan melewati Fero dengan santainya, namun Fero dengan sigap menarik tangannya lalu mendorong tubuhnya hingga menempel di dinding.


Wulan membulat sempurna melihat aksi Fero, dimana kedua tangan Fero sudah mengukung tubuh mungilnya dan tak akan melepaskannya sebelum dirinya berkata jujur.


Fero menatapnya dengan tatapan tajam meminta kejujuran dari gadis belia itu. Wulan menjadi gugup di tatap seperti itu hingga keringat dingin membasahi wajahnya.


"Aku memang sedang cari angin di luar, jika terus berada di kamar mu yang aneh ini membuatku pengap dan ingin muntah" elak Wulan mencoba meyakinkan Fero.

__ADS_1


Fero hanya diam menatapnya tanpa menimpali ucapannya.


"Minggir aku mau ke kamar mandi" ucap Wulan sambil mendorong dada Fero yang sama sekali tak bergeming.


"Apa kamu tuli hah! aku sudah menjelaskannya dengan jujur dan kamu masih mengurungku seperti tawanan saja asal kamu tahu aku muak melihat wajah.....emmppp"


Wulan tak mampu melanjutkan ucapannya karena bibirnya sudah dibungkam habis oleh bibir Fero. Mata Wulan membulat sempurna dan langsung mendorong tubuh Fero untuk segera menghentikan ciumannya, namun sayangnya Fero seolah tuli akan hal itu.


"Aaaa kepalaku sedikit pusing, minuman kaleng itu masih mempengaruhi pikiranku" ucap Fero dan segera menjauhi Wulan dan seolah tak terjadi apa-apa diantara mereka dan sekedar hanya tipu muslihatnya saja.


Sedangkan Wulan masih saja syok dengan aksi Fero yang main nyosor seenaknya. Wulan berdengus kesal melewati Fero yang sedang duduk di pinggir ranjang sambil menyentuh hidungnya. Wulan menutup keras pintu kamar mandi yang menandakan bahwa dirinya sedang kesal.


🍁🍁🍁🍁


Laura terus membolak-balikkan tubuhnya di atas ranjang yang belum bisa tidur. Kabar pertunangan Johan dengan Catherine seolah menghantui pikirannya dan membuatnya tak bisa tidur.


Bagaimana tidak, sesuatu hal yang berharga dalam dirinya sudah direnggut oleh Johan dan sekarang lelaki itu sudah bertunangan, otomatis kemungkinan besar tidak lama lagi mereka akan melangsungkan pernikahan.


"Sanggupkah aku melewati semua ujian ini? Tuhan, berilah jalan terbaik untukku karena hanya engkau tempat terbaik kami berlindung" gumam Laura sambil memejamkan matanya.


Hatinya resah dan seakan hancur mendengar kabar pertunangan Johan. Entah bagaimana nasibnya selanjutnya.


Laura bergerak turun dari ranjang, sungguh ia harus menjernihkan pikirannya. Laura berjalan terseok-seok untuk membuka pintu kamarnya. Seketika pintu kamar itu terbuka, angin berhembus kencang menerpa wajahnya. Laura mengedarkan pandangannya hingga menemukan sebuah tongkat besi tergeletak di depan pintu kamarnya dan lewat benda itu mampu membantunya berjalan.


Tak ingin berpikir jauh siapa orang yang meletakkan benda itu, Laura segera memakainya guna untuk membantunya berjalan mencari udara segar.


Laura mendapati punggung lebar seseorang sedang duduk di pinggir kolam renang dan Laura sangat meyakini siapa pemilik punggung lebar itu. Laura berjalan mendekat lalu duduk di samping orang itu.


"Johan" Laura menepuk pundaknya dengan pelan seketika lelaki jangkung itu menoleh ke arahnya.


Penampilan Johan tampak berantakan dengan rambut acak-acakan, mata memerah, tiga kancing kemejanya terbuka dan terdapat noda lipstik di sana.


"Laura" ucap Johan dengan tatapan sendunya lalu menyandarkan kepalanya di bahu Laura.


Laura terkejut melihat penampilan Johan saat ini dan merasa kasihan kepadanya, hingga Laura mengulurkan tangannya mengusap lembut punggung kekar Johan.


"Aku begitu nyaman berada di sampingmu Laura. Tetaplah berada di sampingku Laura karena aku sangat mencintaimu" ucap Johan dengan kejujurannya yang diam-diam menaruh hati kepada Laura.


Deg!


Laura membulatkan matanya dengan keterkejutan mendengar ucapan Johan yang ternyata menaruh hati kepadanya. Laura hanya mampu diam membisu yang sudah tak bisa berkata-kata.

__ADS_1


Bersambung.....


__ADS_2