Laura Dan Status Barunya

Laura Dan Status Barunya
Bab 35 Laura dan Status Barunya


__ADS_3

Pagi kembali menyapa, semua pekerja di kediaman tuan William tampak sibuk mengerjakan pekerjaannya pagi ini, tak terkecuali Laura.


Terlihat Laura sedang menyiram tanaman di area taman belakang. Raut wajah Laura tampak berseri-seri melihat deretan bunga-bunga bermekaran, persis dengan suasana hatinya pagi ini.


Meong


Meong


Meong


Laura mengalihkan pandangannya dengan senyuman terukir di sudut bibirnya manakala mendapati kucing kesayangannya sedang bergelayut manja di kakinya.


"Ooh sayang, masih kangen sama mami ya" ucap Laura tersenyum sambil membungkukkan badannya menatap kucing kesayangannya berjenis persia dan berbulu lebat menyerupai macan tutul.


Kucing Persia yang diberi nama Mail, mulai mengelus-elus manja kaki pemiliknya. Laura hanya mampu tergelak tawa yang merasa geli merasakan bulu-bulu halus dari kucing nya.


Johan yang berada di balkon kamar menikmati udara pagi mampu mendengar gelak tawa Laura, dia pun segera mengalihkan pandangannya ke bawah dimana Laura sedang menyiram tanaman.


Tatapan Johan begitu dingin sambil menyentuh beberapa luka cakaran di sekitar wajahnya dan juga lehernya.


Seketika Johan mengingat kembali kejadian semalam dimana dirinya mendapatkan luka cakaran itu.


Flashback on


Tampak Laura sedang menunggu Fero di bassment hotel dan bersiap untuk pulang, namun orang yang ditunggu kedatangannya sama sekali tak muncul-muncul. Laura mulai celingak-celinguk mencari keberadaan Fero. Karena ia yakin Fero akan menyusulnya.


Berkali-kali Laura menghela nafas panjang dan menghentakkan kakinya yang terasa pegal berdiri memakai high heels sedari tadi. Laura menundukkan kepalanya sambil menghitung mundur untuk mengurangi kebosanannya.


Meong


Meong


Meong


Laura segera mengangkat kepalanya mencari sumber suara tersebut. Dia merasa tidak asing dengan suara kucing yang sedang mengeong, maklum dirinya pecinta kucing jadi jika mendengar suara kucing yang mengeong membuatnya merasa tertarik untuk melihatnya dan mengelus lembut bulu-bulunya.


"Meong"


"Meong, kemarilah baby" ucap Laura menirukan suara kucing.

__ADS_1


Tanpa diduga tiba-tiba seekor kucing keluar dari tempat persembunyiannya dan langsung melompat ke arahnya.


Laura terlonjat kaget, namun sepersekian detik Laura segera membungkuk untuk menggendong kucing tersebut. Laura begitu senangnya menggendong kucing itu layaknya menggendong bayi.


"Oh baby, sedang apa kau disini? bukankah kau bersama dengan pemilik baru mu?" tanya Laura sambil mengelus-elus kucing itu.


Meong... Meong.... Meong


Laura seolah mengerti ucapan dari kucing itu, maklum dirinya lah pemilik sesungguh nya kucing berjenis persia itu. Laura lalu memeluk kucing kesayangannya itu dengan bahagianya. Sedangkan si kucing juga seperti merindukan pemiliknya.


Johan yang sedari tadi memperhatikan Laura menyeringai licik diwajahnya. Kemudian Johan menghampiri Laura.


"Ayo pulang, kau tak perlu menunggu bookingan" ucap Johan terdengar ketus dengan tatapan sinis.


Laura tak menggubris ucapannya dan seolah dia tak melihat keberadaan Johan. Laura malah asyik mengelus-elus kucing nya.


Merasa diacuhkan, lalu Johan menarik tangan Laura untuk mengikutinya.


"Apa-apaan kau ini, main tarik-tarik segala. Hello...kita tidak barengan ya" sinis Laura sambil menghempaskan tangan Johan.


"Kau yakin disini aman untuk wanita seperti mu. Aku angkat tangan jika lelaki hidung belang datang menggangumu ataupun menggodamu" ketus Johan dengan tatapan sinis nya.


"Aku rasa kaulah pengganggu sesungguhnya. Sebaiknya tak perlu mengurusi urusan ku. Urus saja wanita cantik yang bersamamu" ucap Laura dengan pandangan lurus ke depan tanpa ingin bersitatap dengan Johan.


"Hei turunkan aku" ucap Laura meronta-ronta dalam gendongan Johan.


"Diam! kau bisa membuat orang lain berspekulasi bahwa aku sedang mencuri mu" ketus Johan lalu memasukkan paksa Laura ke dalam mobilnya lalu menutup pintu mobilnya dengan cepat.


Kemudian Johan bergerak ke samping untuk menyusul Laura. Di luar dugaan, kucing peliharaan Laura langsung melompat ke tubuhnya. Johan segera memegang tubuh kucing itu untuk menjauh darinya. Namun sayangnya, kucing itu mengamuk dan langsung mencakar wajah dan juga leher Johan.


Laura yang melihat itu bergegas keluar dari mobil dan segera membantu Johan lepas dari kucing peliharaannya yang tengah ngamuk. Kucing yang bernama Mail begitu marah besar melihat pemiliknya dalam bahaya di tangan orang lain.


Meong.... Meong....Meoooggg


Terdengar jelas suara kucing itu mengeong dengan kerasnya yang menandakan bahwa ia tidak suka dengan Johan.


Laura lalu menenangkan kucing nya itu untuk tidak menyakiti Johan. Karena dia tahu kucing nya yang bernama Mail lah yang paling garang jika dia diganggu orang.


Sementara Johan sudah terduduk di jalan dengan penampilan berantakan. Laura lalu mendekati Johan dan membantunya berdiri.

__ADS_1


"Aku minta maaf atas ulah kucing ku. Mari ku bantu untuk mengobati lukamu" ucap Laura tak enak hati lalu memapah tubuh Johan masuk ke dalam mobil.


Si mail pun ikut masuk ke dalam mobil lewat jendela kemudi. Lagi-lagi Johan terlonjat kaget melihat kucing Laura duduk di dasbor mobil nya.


"Dia tidak akan mengganggumu lagi" pinta Laura sambil membuka dasbor untuk mencari kotak obat di dalamnya.


Johan lantas membuka jas nya dan segera melempar ke arah kucing itu. Laura yang melihatnya segera mengambil kucing nya lalu memangku nya.


"Mendekatlah, aku akan mengobati lukamu secara gratis" ucap Laura dan sudah memegang kotak obatnya. Laura menjadi kasihan kepada Johan.


Johan lalu memajukan wajahnya ke wajah Laura membuat pandangan mereka bertemu. Laura lalu mengulurkan tangannya menyentuh tiga bekas cakaran di wajah Johan, membuat Johan meringis kesakitan. Lalu dengan hati-hati Laura mengobati luka nya.


"Awwww"


Johan terus meringis kesakitan merasakan obat merah menyentuh permukaan kulitnya. Lagi-lagi Laura merasa kasihan kepadanya karena menjadi korban amukan dari kucing peliharaannya.


Dengan hati-hati Laura membuka dasi Johan, lanjut membuka tiga kancing atas kemeja Johan untuk memastikan luka lainnya. Kembali terlihat satu luka cakaran tepat di leher Johan. Laura dengan hati-hati kembali mengobati luka nya dan terkadang meniupnya untuk mengurangi rasa sakitnya.


"Maaf, aku sudah membuat mu terluka" ucap Laura bersalah sambil menyentuh pundak Johan.


"Hemm, tak perlu membahasnya lagi" acuh Johan lalu menyalakan mesin mobilnya yang sudah siap meninggalkan tempat tersebut.


Setelahnya mobil mereka pun melaju meninggalkan tempat tersebut.


Flashback off


Johan lalu melangkah masuk ke dalam kamarnya untuk bersiap-siap ke kantor.


Sementara Nyonya Tias terlihat cemas di dalam kamarnya. Semalam dia tidak menemukan Wulan, hingga dengan terpaksa meninggalkan ponakan nya di hotel itu.


"Aduh kemana perginya Wulan, aku jadi khawatir dengannya" gumam nyonya Tias dan belum menceritakan masalahnya kepada keluarganya.


Tiba-tiba ponselnya berdering, Nyonya Tias segera mengambil ponselnya di atas nakas. Raut wajahnya tampak bimbang melihat nomor tak dikenal melakukan panggilan masuk di ponselnya.


"Angkat tidak, angkat tidak, aduh angkat saja deh" ucapnya dengan pilihan akhirnya.


"Halo bibi, ak-aku akan menikah hari ini di hotel kemarin yang kita datangi" ucap seseorang di ujung telepon.


Jedarrr...

__ADS_1


Nyonya Tias hampir saja menjatuhkan ponselnya mendengar ucapan seseorang di sebrang sana yang sangat dia kenali. Tenggerokannya terasa tercekik mendengar kabar baik sekaligus kabar duka untuknya.


Bersambung.......


__ADS_2