
Serangkaian acara pernikahan Wulan dan Fero berjalan lancar, dimana acara tersebut hanyalah acara kekeluargaan antara dua belah pihak keluarga. Sekedar kumpul bersama dan menikmati jamuan yang telah disediakan katering dari hotel. Selanjutnya seluruh keluarga akan bergegas pulang ke rumah mereka masing-masing.
Laura terharu melihat kebersamaan Wulan dengan ayahnya. Jelas sekali Wulan cukup berat hati berpisah dengan ayahnya, sosok orang tua yang dimilikinya di dunia ini. Karena hanya ayahnya seorang yang ia miliki. Laura sedikit tahu tentang kehidupan Wulan, karena ia sempat diberitahu oleh nyonya Tias, mama Johan bahwa Wulan hanya memiliki seorang ayah sedangkan ibunya sudah lama meninggal dunia saat Wulan masih berumur 10 tahun.
Johan yang tidak jauh darinya sengaja curi-curi pandang melihat ke arah Laura, namun Laura sama sekali tak pernah berpaling ke arahnya.
Puas memeluk ayahnya, Wulan lalu berpindah memeluk Bibi nya, wanita yang selalu ia anggap sebagai ibunya sendiri, begitupun sebaliknya.
Sementara ayahnya bersama pamannya bergegas masuk ke dalam mobil mereka masing-masing. Begitu halnya keluarga Fero yang juga sudah masuk ke dalam mobil, mereka hanya perlu menunggu pasangan pengantin baru itu.
Terlihat Fero masih berdiri di samping mobilnya menunggu Wulan yang tak kunjung berpisah dengan bibi nya.
Sesuai janji suci pernikahan mereka, Fero berjanji untuk selalu membahagiakan Wulan dan akan setia menjaga dan menemani Wulan dikala susah maupun senang.
Tidak hanya itu ucapan ayah Wulan masih mengganggu pikirannya, dimana dirinya harus mempertahankan pernikahannya dan terus membahagiakan Wulan, istrinya, bagaimana pun caranya. Jika berhasil membuat Wulan menangis, maka ayah Wulan akan turun tangan untuk mematahkan tulang-tulang nya. Namun Fero tidak ingin ambil pusing dengan semua itu, karena dirinya sudah merencanakan sesuatu untuk istrinya sendiri.
Laura dan Johan masih saja berdiri di lobi hotel menatap ke arah Wulan yang masih saja berpelukan dengan bibi nya.
Saat merasa aman dengan situasinya, Wulan mulai buka suara. Karena sedari tadi dia hanya diam dan belum mengobrol dengan bibi nya perihal masalah yang dialaminya.
"Bibi, jangan terus merasa bersalah dengan kejadian ini. Lihatlah, aku baik-baik saja, jadi jangan khawatirkan aku ya. Sekarang aku sudah menjadi gadis dewasa dan tidak manja lagi. Bibi, tolong tetap rahasiakan misi kita, karena aku tidak akan menyerah sebelum mendapatkan mobil baru dari Bibi" bisik Wulan yang masih saja mengiming-imingkan hadiah mobil dari Bibi nya.
"Sayang, bibi tidak ingin membawamu kembali dalam masalah. Bibi sangat mengkhawatirkan mu semalaman, karena kamu tak kunjung pulang, apalagi kamu meninggalkan ponselmu di mobil" balas bibi nya dengan mata berkaca-kaca.
"Iya bibi, karena aku terjebak dengan pria yang terpengaruh obat bius. Dan itu karena kecerobohan ku, lalu aku bergegas membawanya ke salah satu kamar hotel dan aku pun kehabisan tenaga dan ikut tidur bersamanya di kamar hotel" ucap Wulan panjang lebar kepada bibi nya.
"Astaga sayang, semua itu karena kesalahan...."
"Ya ampun, tak perlu diungkit lagi bibi, pokoknya itu sudah angin berlalu. Pokoknya kita tak boleh menyerah bibi, kita harus semangat untuk mempersatukan mereka" potong Wulan antusias.
Nyonya Tias segera melepaskan pelukannya dan kembali mengelus lembut puncak kepalanya. Tatapannya begitu hangat menatap ponakannya.
"Yang jelas kamu tidak membuat bibi khawatir" lirihnya dengan mata berkaca-kaca.
Wulan mengangguk setuju dengan ucapan bibi nya. Mereka begitu
"Nanti aku kabari bibi untuk rencana selanjutnya. Bibi terus stand by melihat situasi di rumah, jika ada celah cepat hubungi aku" ucap Wulan tersenyum dan kembali berhambur memeluk bibi nya.
__ADS_1
Nyonya Tias ikut tersenyum dan juga memeluk ponakannya dengan penuh kasih sayang layaknya seorang ibu.
"Hei, jangan terus menerus peluk mama, lihatlah suami mu sudah boring menunggu mu" sindir Johan kepada adik sepupunya.
"Iih kak John, ganggu saja" ucap Wulan cemberut sambil mengerucutkan bibirnya.
Johan tersenyum melihat tingkah laku adik sepupunya. Sedangkan Laura ikut tersenyum tipis melihat keakraban mereka.
Wulan lalu berjalan menghampiri Fero, dimana wajah Fero tampak kusut yang sudah lama menunggunya.
"Ayo masuk" perintahnya dan berlalu membuka pintu kemudi.
Sedangkan Wulan memutar bola matanya jengah lalu membuka pintu mobil dan bergegas masuk lalu duduk di samping kemudi.
Tak berselang kemudian, mobil yang membawa mereka melaju kencang meninggalkan hotel tersebut. Wulan sempat melambaikan tangannya sebagai tanda perpisahan dirinya dengan keluarganya.
Beberapa menit kemudian, barulah mobil yang ditumpangi ayahnya dan juga bibi nya melaju meninggalkan tempat tersebut.
Sekarang tinggal Laura dan Johan yang masih tak bergeming di tempatnya.
Laura langsung mengalihkan pandangannya dan menatap tajam Johan yang saat ini juga sedang menatapnya.
"Benarkah? apakah ekspresi ku terlihat menyedihkan karena habis ditinggal nikah oleh teman baikku? huh huh malang benar yang nasibku" ejek Laura dengan tatapan sinis.
"Oh iya, apakah dirimu sebaik malaikat, sampai-sampai kau menuduh orang yang tidak-tidak" sambung Laura.
Johan berdengus kesal mendengar setiap ucapan Laura.
"Jelas dia baj,...."
"Bukankah dia masih bertanggungjawab atas perbuatannya" timpal Laura lalu melangkah menuju parkiran.
"Laura!" panggil Johan.
Sedangkan Laura terus saja berjalan tanpa mempedulikan Johan yang tengah memanggil namanya. Lalu Johan bergegas menyusulnya, dia tidak ingin Laura pergi begitu saja.
Namun sayangnya Laura sudah memberhentikan taksi yang melintas di sebrang jalan. Laura berlari kecil menghampiri taksi itu lalu bergegas masuk dan mengatakan perihal tujuannya kepada supir taksi.
__ADS_1
Taksi yang Laura tumpangi melaju meninggalkan tempat tersebut. Kembali Johan mengepalkan tangannya lalu bergegas masuk ke dalam mobil untuk mengikuti taksi yang ditumpangi Laura.
Johan terus membunyikan klakson mobilnya untuk meminta supir taksi itu memelankan lajunya. Sedangkan Laura terus saja berucap kepada supir taksi itu untuk lebih cepat lagi karena dia sedang dikejar-kejar oleh rentenir.
Sementara supir taksi itu dibuat pusing oleh mereka. Demi keselamatan penumpangnya supir taksi itu melajukan mobilnya seperti biasanya. Sehingga Johan dengan cepat menyalip taksi yang ditumpangi Laura.
Si supir taksi langsung merem mendadak membuat tubuh Laura pontang panting dan hampir saja berbenturan kepala dengan supir taksi itu.
"Hufff, apa yang terjadi pak?" tanya Laura sambil melihat ke arah luar.
"Laura, buka pintunya" ucap Johan sambil mengetuk kaca mobil itu. Membuat Laura terhentak kaget yang melihat Johan berdiri di samping taksi.
"Johan, astaga nih orang terlalu banyak tingkah" kesal Laura lalu membuka pintu mobil nya dan bergegas turun dari mobil.
Johan langsung menarik paksa tangan Laura membuat Laura mau tak mau mengikuti langkahnya.
"Neng bayarannya" tegur si supir taksi.
Membuat Johan dan Laura menghentikan langkahnya. Johan langsung mengeluarkan beberapa lembar uang tunai dari dompetnya lalu menghampiri si supir taksi.
"Ini terlalu banyak tuan" tolaknya cepat melihat uang tunai yang diberikan oleh Johan.
"Ambil saja, sebagai imbalan mu" ucap Johan.
"Terima kasih tuan" ucap supir taksi itu dengan bahagianya menerima uang lebih dari salah satu penumpangnya.
Johan berbalik badan, kembali si supir taksi itu berucap.
"Lagi berantem ya, makanya jangan galak-galak sama pasangan tuan" tebak si supir taksi yang cukup nyinyir melihat mereka.
Johan mengibaskan tangannya untuk menyuruh supir taksi itu pergi. Dan benar saja dengan gelagapan supir taksi itu langsung menancap gas meninggalkan mereka.
"Temani aku ke kantor, karena kau sudah menguji kesabaran ku" ucap Johan dingin dengan tatapan sulit diartikan lalu menutup keras pintu mobilnya dan itu membuat Laura terlonjat kaget.
Laura menghentakkan kakinya lalu masuk ke dalam mobil dan duduk tepat di samping Johan. Mobil yang mereka tumpangi melaju kencang menuju perusahaan William group.
Bersambung......
__ADS_1