Laura Dan Status Barunya

Laura Dan Status Barunya
Bab 23 Laura dan Status Barunya


__ADS_3

Laura masih saja bermanja-manja dengan wanita yang paling berharga dalam hidupnya siapa lagi kalau bukan mama tercintanya. Begitupun yang dilakukan oleh sang mama.


Ya mau bagaimana lagi sudah sebulan lebih mereka tak bertemu membuat ibu dan anak itu rindu berat.


Mereka duduk bersantai di sofa menghadap ke arah jendela taman belakang. Laura berbaring di pangkuan sang mama, sedangkan sang mama dengan penuh kasih sayang mengelus rambut panjangnya.


"Sayang, kamu tidak berencana untuk mencari kekasih?" tanya Mama Laura.


"Tidak ma, Laura ingin fokus menata karir. Lagian belum ada laki-laki yang cocok mendampingi Laura " jawab Laura santai.


"Mama doain semoga kamu segera dipertemukan laki-laki baik yang sesuai kriteria kamu sayang" ucap mama Laura dengan harapannya.


Laura tersenyum tipis mendengar ucapan mama nya dan hanya perlu mengaminkan nya karena doa seorang ibu begitu mujarab.


"Jadi apa kesibukanmu sayang?" tanya mama Laura.


"Laura mulai sibuk bekerja ma. Emmm Laura kerja sama teman gitu" elak Laura dengan jawabannya.


"Oh baguslah sayang. Jika kamu membutuhkan apapun jangan sungkan untuk menghubungi mama. Dan ini kartu debit mama cukup untuk menutupi kebutuhan kamu sayang" ucap mama nya sambil menyodorkan kartu debit tersebut.


"Laura tidak bisa menerimanya ma. Laura masih punya tabungan yang cukup untuk menutupi kebutuhan sehari-hari Laura. Lagian Laura sudah tidak boros lagi, belanja ini itu yang sama sekali tidak penting dan cuma ngabisin duit papa" tolak Laura sambil tersenyum.


"Sayang, mama tidak menyangka bahwa kamu sudah menjadi wanita mandiri dan berpikiran dewasa" ucap mama nya dengan mata berkaca-kaca.


"Bukankah Laura sudah janji akan membuktikannya" pinta Laura.


Sudah sore hari, Laura belum juga berencana untuk kembali ke kediaman orang tua Johan.


🍁🍁🍁🍁🍁


Malam harinya.....


Nyonya Tias dan Wulan terus mondar-mandir di ruang tamu sambil menunggu kedatangan Laura yang tak kunjung datang. Tuan William juga menemani mereka sambil menikmati teh hijau kesukaannya.


"Aku jadi khawatir dengan Laura. Dari tadi ponselnya tidak bisa dihubungi, ini sudah larut malam. Johan juga, kemana saja perginya anak itu tanpa ada kabar sedikit pun, hobinya kerja melulu. Sudah tak ingat pulang!" oceh mama Johan.


"Bibi, sebaiknya bibi istirahat ya. Ini sudah larut malam. Kalau kak Laura sudah pulang Wulan akan beritahu bibi" bujuk Wulan.


"Bibi tidak akan ke kamar sebelum Laura pulang" tegas mama Johan.

__ADS_1


Tuan William hanya duduk diam sambil membaca artikel perusahaannya. Tuan William sama sekali tidak ingin ikut campur dengan urusan istrinya.


Tak berselang lama kemudian, mobil Johan mulai memasuki gerbang utama. Johan melirik kaca spionnya mendapati seorang wanita baru saja turun dari mobil.


Johan segera menepikan mobilnya untuk melihat dengan jelas wajah wanita tersebut. Dan rupanya wanita tersebut adalah Laura.


"Terima kasih Fero, sampai jumpa" pamit Laura.


"Laura" panggil Fero yang belum ingin berpisah dengan Laura.


Sebenarnya mereka tak sengaja bertemu di jalan. Taksi online yang ditumpangi Laura mendadak mogok dan kebetulan sekali Fero melewati jalan tersebut dan tak sengaja pandangannya tertuju kepada Laura yang tengah berdiri di pinggir jalan seorang diri.


Laura segera berbalik badan menghadap ke arahnya.


"Ya" bingung Laura.


"Ini untukmu dan kamu tidak boleh menolaknya.Tolong terimalah Laura. Semoga kamu menyukainya" ucap Fero terdengar memaksa sambil menyodorkan paper bag sebagai hadiah untuk Laura.


"Untuk apa semua ini....." ucap Laura tampak bingung memegangi paper bag tersebut.


"Aku ingin mengajakmu ke sebuah pesta di akhir pekan dan kamu tidak boleh menolaknya Laura. Oh satu lagi jangan lupa pakai hadiah spesial ku" ucap Fero dengan entengnya.


"Fero...."


"Baiklah" pasrah Laura yang tidak ingin mengecewakan ajakan Fero.


"Yes" Fero kembali memperjelas ucapan Laura.


"Double yes" ucap Laura.


Fero melompat kegirangan dan refleks memeluk tubuh Laura. Sedangkan Laura terlonjat kaget dan merasa kikuk dengan ulah Fero.


Johan yang mengintip mereka berdengus kesal sambil mengepalkan tangannya yang tidak suka dengan keakraban mereka. Johan langsung membunyikan klaksonnya berulang kali hingga membuat Fero melepaskan pelukannya karena merasa risih dengan suara klakson mobil.


"Sepertinya ada yang sedang mengintimidasi kita. Kalau begitu aku pergi dulu. Jaga dirimu baik-baik, aku akan menjemputmu tepat waktu" ucap Fero lalu masuk ke dalam mobilnya.


"Bye bye" ucap Laura sambil melambaikan tangannya.


Pak penjaga segera membukakan pintu gerbang untuk Laura dan tak lupa menyapa Laura dengan ramahnya. Laura hanya mampu tersenyum ramah sambil berjalan terburu-buru. Pasalnya perjalanannya masih panjang yang harus ia lewati sebelum sampai di kamarnya.

__ADS_1


"Luas banget sih pekarangannya" gumam Laura. "Ini juga, lumayan berat. Apa sih isi dari paper bag ini ? " ucap Laura mengomel terus.


"Baru pulang jam segini? apa rumah ini punya nenek moyang mu hah!" ketus Johan menghalangi jalan Laura.


"Aku ada urusan sebentar, tolong jangan halangi jalanku" ucap Laura dingin.


"Hah, habis bersenang-senang kau melupakan pekerjaanmu bahkan lupa pulang segala, bagus!" kesal Johan. Entah apa yang merasukinya membuat moodnya menjadi buruk.


Laura kembali berjalan, ia tidak menggubris ucapan Johan. Karena ia sudah bertekad untuk tidak berurusan lagi dengan Johan. Namun Johan langsung mencengkeram kuat tangan Laura.


"Aku belum selesai bicara denganmu!" ucap Johan dingin dengan tatapan sulit diartikan.


"Tolong lepaskan tanganku" ucap Laura mendongak menatap Johan.


"Tidak akan!" tegas Johan.


Laura segera menarik tangannya kembali, namun cengkeraman tangan Johan yang begitu kuat membuat tubuh Laura malah membentur tubuh Johan.


"Maaf, aku tak sengaja" lirih Laura sambil buang muka.


Johan lalu memepet tubuh Laura dengan satu tangan digunakan memegangi tangan Laura dan tangan satunya digunakan memegangi pinggang ramping Laura. Ingin rasanya Laura berteriak keras meminta tolong. Ditambah wajah Johan semakin dekat dengan wajahnya.


Johan menyeringai melirik paper bag Laura. Kemudian Johan membisikkan sesuatu di cuping Laura.


"Berapa tarif seorang pel*cur sepertimu setiap kali kencang dengan laki-laki kaya raya" bisik Johan dengan tuduhannya yang sangat kasar.


Mata Laura membulat sempurna dengan kilatan amarah. Wajahnya memerah bagaikan gunung api yang siap meledak mendengar ucapan kasar Johan. Namun tenggerokan Laura seolah tercekik untuk membalas ucapan Johan.


"Aku mempekerjakanmu untuk menghilangkan kebiasaan buruk mu itu. Tapi dugaan ku salah, ternyata kau hobi menjadi pel*cur!" ejek Johan dengan entengnya.


Plakkkk


Satu tamparan keras mendarat tepat di pipi kanan Johan membuat Johan mengepalkan tangannya ingin membalas tamparan Laura.


"Cukup! aku begitu muak dengan tuduhan mu!" bentak Laura dengan mata memerah. sambil mendorong tubuh Johan dengan sekuat tenaga hingga cengkeraman tangan Johan terlepas dari tangannya.


Laura berlari meninggalkan Johan yang hanya diam membisu ditempatnya.


"Ada apa denganku! mengapa aku begitu kesal melihat Laura bersama laki-laki lain" ucap Johan sambil menatap kepergian Laura.

__ADS_1


Bersambung.....


Terima kasih atas dukungannya teman-teman 🙏🙏🤗


__ADS_2