Laura Dan Status Barunya

Laura Dan Status Barunya
Bab 76 Laura dan Status Baru


__ADS_3

Laura begitu bahagia bisa berkumpul dengan kedua orang tua Johan, apalagi dirinya sudah diterima dengan baik dan menjadi menantu di keluarga terpandang Itu. Dia merasa seperti kembali memiliki orang tua.


Ya memang pada dasarnya, dia begitu dekat dengan mama Johan dan mendapatkan kasih sayang lebih dari wanita paruh baya itu layaknya anak sendiri, sejak dulu. Lain halnya dengan Papa Johan, dia tidak begitu akrab sedari dulu. Namun, berusaha menempatkan posisinya waktu itu menjadi menantu di keluarga William.


Canda tawa terus mewarnai kediaman mewah keluarga William. Para pelayan begitu senang dengan kehadiran tuan muda mereka yang lucu-lucu dan menggemaskan, membuat para pelayan lebih bersemangat bekerja.


Kini seluruh keluarga kembali berkumpul di ruang keluarga, pasalnya sore hari akan diadakan pesta di area taman belakang untuk merayakan kepulangan orang tuanya. Johan sudah mempersiapkannya jauh-jauh hari dan kepala pelayan yang sedang mengurus pestanya dari sekarang.


Terlihat Laura duduk di atas karpet yang sedang menemani anak-anaknya mewarnai gambar pada buku gambarnya masing-masing. Tampak si kembar duduk bersila, dihadapannya terdapat dua meja lipat ukuran kecil, diatasnya terdapat buku gambar, pensil warna dan krayon dan mereka mulai aktif mewarnai gambar yang diinginkan.


Ya si kembar sedang belajar sambil bermain untuk mengasah kemampuan motorik halusnya.


Nyonya Tias dan tuan William hanya memperhatikan mereka. Johan yang baru kelar dengan urusannya yang sempat keluar sebentar, ikut bergabung bersama keluarga kecilnya.


"Apa yang sedang kalian kerjakan?" tanya Johan padahal jelas-jelas ia tahu apa yang dikerjakan anak-anaknya.


"Kami mewarnai Daddy." jawabnya kompak tanpa beralih dari lainnya dan hanya fokus pada buku gambarnya.


"Oh bagus, kalian memang anak yang pintar dan kebanggaan Daddy. Teruslah menyukai hal-hal yang berbau seni nak, jika kalian hobi mewarnai dan menggambar, nanti Daddy cari guru seni yang kompeten agar mengasah kemampuan kalian" pujinya tersenyum dan Laura ikut tersenyum mendengar ucapan suaminya.


"Laura."


"Ya." Laura mengerutkan keningnya mendengar namanya di panggil dan melirik Johan yang sudah menyandarkan kepalanya di bahunya.


"Ulurkan tanganmu." bisik nya tersenyum tipis dan Laura segera melakukan hal yang diperintahnya tanpa banyak bicara.


Johan menarik tangannya lalu menyembunyikannya di balik saku jasnya hingga Laura mampu merasakan jemari tangan Johan sedang menyematkan sebuah cincin di jemari tangannya.


"Johan." panggilnya lembut dengan bola mata menyipit. Hingga Johan segera menarik tangannya dan melepaskan tangan Laura dan bersamaan pula Laura menarik tangannya, hingga dia melihat sebuah cincin berlian dengan batu permata safir tersemat indah di jemari manisnya.


"Bagaimana? kau menyukainya?" tanya Johan dan Laura hanya mengangguk sebagai jawabannya dan tak bisa menggambarkan perasaannya saat ini.


Tanpa basa-basi Johan mendaratkan ciuman di bibirnya, membuat Laura terlonjat kaget, bukan hanya dia yang berada di ruangan itu, tapi anak-anaknya dan juga kedua orang tua Johan juga berada di ruangan yang sama dengannya. Laura memukul kecil dada Johan yang begitu malu akan ulah suaminya bahkan wajahnya lagi-lagi merona.


Sedangkan Johan hanya terkekeh menatap raut wajah istrinya dan kembali menyandarkan kepalanya di bahu istrinya, sedang tangannya merangkul mesra pinggang ramping istrinya.

__ADS_1


"Terima kasih, aku sangat menyukai cincin ini." ucap Laura tersenyum yang masih saja menatap cincin indah itu tersemat di jari manisnya.


Johan hanya mampu tersenyum sambil mengedipkan matanya mendengar ucapan istrinya.


"Aku sudah menyiapkan hadiah spesial untukmu di kamar. Jangan lupa pakai nanti sore." ucap Johan sambil mengusap lembut wajah istrinya.


"Ya, aku pasti akan memakainya." timpal Laura tersenyum dan kembali memperhatikan anak-anaknya mewarnai.


"Mommy, mana krayon warna biru langit?" tanya Jovin sambil mengangkat dua buah krayon berwarna biru.


"Ini sayang. Krayon di tangan kirimu berwarna biru langit karena warnanya lembut, sedangkan krayon yang berada di tangan kananmu itu warna birunya gelap" terang Laura sambil menunjuk krayon yang dipegangnya.


"Oke Mommy." Jovin tersenyum dan kembali melanjutkan mewarnai. Sementara Johan kembali mencium pipi kanan Laura membuat Laura menepuk dua kali pipinya dengan senyuman tipis.


"Jangan terus ambil kesempatan dariku." tegurnya dan Johan kembali mengulanginya.


Sementara orang tua Johan hanya mampu tersenyum tipis yang begitu senang dan terharu melihat interaksi putranya dan menantunya yang sudah saling mencintai di depan matanya.


Mata tuan William berkaca-kaca yang begitu menyesali perbuatannya selama ini. Dulu, dia begitu kekeh untuk memisahkan putranya dengan Laura, anak rekan bisnisnya. Bahkan menentang keras hubungan mereka.


Seiring berjalannya waktu, Tuan William baru menyadari semua kesalahan dan perbuatannya selama ini, setelah musibah menimpa dirinya. Sakit yang dideritanya saat ini, sebagai bentuk teguran Tuhan kepadanya. Semasa sehat dia begitu berkuasa dan berkoar-koar melakukan hal yang diinginkan dan sekarang dia hanya mampu duduk diam di kursi rodanya dengan tubuh setengah lumpuh yang tak bisa melakukan apa-apa.


Untungnya dia memiliki istri yang baik hati dan begitu tulus menemaninya dikala susah maupun senang, yang senantiasa mengurusi segala keperluannya. Sang istri tak henti-hentinya memberikan doa dan semangat, agar dia kembali sehat sediakala. Itulah bentuk rasa syukur yang masih dia dapatkan dari Tuhan.


Nyonya Tias menggenggam tangannya saat melihatnya termenung.


"Mas, apa yang kamu pikirkan." ucap Nyonya Tias sambil mengelus menggenggam tangannya.


Tuan William hanya mengedipkan matanya dengan mata berkaca-kaca.


"P-a-n-g-g-i-l.....J-o-h-a-n.....da-nnn.....L-a-u-r-a." ucapnya mengeja dan terbata-bata.


Nyonya Tias mengangguk dan sudah mengerti setiap kata yang dilontarkan oleh suaminya.


"Johan, Laura, Papa memanggilmu." ucap Nyonya Tias dengan suara lembutnya.

__ADS_1


Johan yang sedang bermanja-manja dengan istrinya segera menghentikan aksinya. Mereka segera mendekat dan duduk di hadapan Papa nya.


Laura dengan senang hati menyentuh kaki Papa mertuanya yang posisinya kurang nyaman dan segera memperbaiki posisinya dengan baik di atas kursi rodanya. Tangan tuan William mulai terangkat ingin menyentuh puncak kepala Laura. Hal itu membuat Laura sedikit mendekat hingga tangan kaku Papa mertuanya berhasil menyentuh puncak kepalanya.


"M-a-a-f-i-n...pa-pa...La-u-ra." ucapnya terbata-bata yang kurang jelas dan Laura hanya mengangguk menanggapi ucapannya.


"Yang lalu biarlah berlalu. Laura, sudah memaafkan Papa, dan kini kita sudah jadi keluarga. Laura menganggap Papa seperti Papa Laura sendiri." ucap Laura dengan mata berkaca-kaca dan Johan langsung merangkul pundak istrinya untuk memberikan kehangatan.


Nyonya Tias segera menghapus sudut matanya berair dan tersenyum melihat mereka.


"Mulai sekarang, Papa harus fokus pada pengobatan dan menjalani terapi secara rutin tanpa memikirkan hal yang menggangu pikiran Papa, supaya papa cepat sembuh. Lihatlah, cucu Papa semakin pintar dan seiring waktu mereka akan tumbuh dewasa. " ucap Johan tersenyum.


Selama ayahnya menjalani perawatan di negara Z. Johan selalu mendapatkan kabar tak mengenakkan dari dokter yang menangani ayahnya, bahwa sang ayah sudah bosan melakukan pengobatan dan terapi semacamnya. Tidak hanya itu, terkadang ayahnya memberontak ingin menjatuhkan tubuhnya dari kursi roda dan hal-hal lainnya untuk melukai dirinya sendiri, sampai-sampai ingin mengakhiri hidupnya.


Johan langsung melepaskan rangkulannya dan beralih memeluk ayahnya. Air mata mereka tiba-tiba mengalir dengan sendirinya, begitu halnya wanita-wanita hebat yang selalu menemaninya selama ini.


"Horeee, mommy lihatlah. Kami sudah selesai mewarnai." ucapnya bersorak gembira sambil mengangkat buku gambarnya untuk memperlihatkan hasil mewarnainya.


Laura segera menghapus air matanya dan tersenyum menatap ke arah anak-anaknya.


"Kok main nangis, apa kakek terluka." ucapnya khawatir lalu mendekat.


"Tidak sayang, mata kami hanya kelilipan karena saking bahagianya punya cucu pintar seperti kalian." timpal nyonya Tias tersenyum lalu berjongkok memeluk mereka. Si kembar pun mulai percaya ucapan neneknya.


"Hehehe. Jadi begitu nenek" ucap Jovan. "Untung mata kami tidak kelilipan." timpal Jovin dengan wajah polosnya, membuat siapa saja akan gemes kepada bocah kembar itu.


Anak kembarnya berhasil mencairkan suasana, membuat semua orang tersenyum mendengar ucapan mereka.


Visual Jovan dan Jovin




Bersambung......

__ADS_1


Jangan lupa like dan vote ya teman-teman 🙏🤗


__ADS_2