
Laura mengerjakan matanya merasakan tangan kekar melingkar di perutnya. Kesadarannya masih dia kumpulkan secara perlahan hingga dia pun terlonjat kaget merasakan hembusan nafas begitu jelas menerpa kulit lehernya dan....
"Aaaaaahh!" teriak Laura histeris mendapati dirinya bersama dengan lelaki yang dibencinya. Bersamaan pula Johan ikut terbangun.
Laura semakin syok, lebih-lebih mendapati tubuhnya polos tanpa sehelai benang pun dan hanya tertutupi selimut tebal, begitu halnya Johan. Laura langsung terduduk di atas ranjang memegang erat selimutnya.
Bayangan semalam seketika terlintas di pikirannya seperti sebuah rekaman dalam mimpinya. Seharusnya semua itu hanya mimpi belaka dalam tidurnya, namun semua tak seperti dilihatnya sekarang. Karena semuanya nyata dan semalam dia dan Johan benar-benar melakukannya.
Laura mengusap wajahnya dengan kasar tak bisa menerima kenyataan pahit yang dialaminya. Tombak besar seakan menghantam nya dan dunianya seakan runtuh seketika.
Johan hanya mampu menatap punggung polos Laura dengan perasaan bersalah. Dimana mantan istrinya sudah sepenuhnya menjadi miliknya. Andai saja jika Laura tidak menggodanya semalam, mungkin dia dan Laura tak berakhir berhubungan badan.
Kemudian Johan bergerak duduk dengan kepala bersandar di kepala ranjang. Untuk Laura sendiri terlihat begitu marah sambil mengepalkan kedua tangannya, matanya memerah memancarkan kemarahan. Tatapannya begitu tajam menatap Johan yang juga sedang menatapnya.
Tanpa basa-basi Laura mengerahkan seluruh tenaganya memukul dada Johan. Dan Johan sendiri hanya mampu membiarkannya melampiaskan kemarahan Laura beberapa menit kepadanya.
"Aku akan bertanggungjawab, Laura" ucap Johan memegang tangan Laura untuk menghentikannya. Tatapannya penuh keyakinan tanpa adanya keraguan.
Laura tak peduli semua itu, dia pun memberontak menghempaskan tangan Johan dengan kasar. Tatapan Laura penuh kebencian menatap Johan.
"Tidak perlu!, anggap saja kejadian ini tidak pernah terjadi di antara kita" tegas Laura dengan mata berkaca-kaca sambil menunjuk wajah Johan.
Johan mengusap wajahnya dengan kasar mendengar ucapan Laura. Tapi, dia tidak ingin egois untuk wanita itu. Biarlah Laura menenangkan dirinya, setelah itu, dia akan berusaha berbicara baik-baik dengan Laura.
Laura bergegas turun dari ranjang, pergerakannya cukup lambat mengingat tubuhnya remuk hasil percintaannya semalam dengan Johan.
Tertatih-tatih Laura berjalan mengambil pakaiannya berserakan di lantai lalu memakainya dengan cepat tanpa menghiraukan Johan berada di dalam kamar itu.
Perasaan Laura begitu hancur keluar dari kamar Johan. Hancur sudah, harta yang begitu dijaganya selama ini hilang sekejap. Laura masuk ke dalam kamarnya dengan perasaan sesak di dada.
__ADS_1
Kedua kakinya terasa lemas untuk melangkah, hingga Laura hanya mampu bersandar di balik pintu kamar. Seluruh tubuhnya seakan mati sesat, hingga Laura tak menyadari tubuhnya sudah merosot ke bawah. Bersamaan pula air mata Laura tumpah. Laura memeluk kedua lututnya dengan air mata membanjiri pipinya.
"Maafkan Laura Papa, Mama. Laura sudah mengecewakan kalian, hiks..hiks...hiks" gumam Laura sambil terisak. Dikarenakan dirinya tak bisa menjaga kehormatannya.
"Aku membencimu Johan!" Laura begitu marah menyebutkan nama laki-laki yang paling dibencinya di dunia ini.
Laura menganggap kejadian itu sebagai mimpi buruk baginya. Dan sudah dipastikan Johan semakin menginjak-injak harga dirinya setelah ini dan mampu melakukan segala cara demi bisa membuatnya tunduk.
Namun dibalik semua itu terdapat sebuah fakta akan diri mereka masing-masing. Dimana mereka mampu membuktikan rumor kebohongan yang selalu mereka percayai.
Sementara Johan yang berada di dalam kamarnya hanya mampu menjambak rambutnya dengan penuh sesal. Akibat kebanyakan minum bir, akal dan hasratnya tak bisa dia kontrol dengan baik.
"Arrgghhh!" Johan mengusap wajahnya dengan kasar.
Tak bisa dipungkiri, Johan tak bisa berbohong dengan dirinya sendiri bahwa dia menginginkan kembali mantan istrinya untuk kembali kepadanya. Berbagai cara pun sudah dia lakukan untuk membuat Laura tetap berada di sampingnya.
Sebuah rahasia besar yang masih dia sembunyikan dengan rapat mampu mengubah segalanya suatu saat nanti. Namun untuk sekarang dia belum bisa mengungkapkannya, biarlah waktu yang menjawabnya.
"Laura!" Johan seakan tidak percaya hal itu.
Seketika kejadian dimasa lalu kembali merasuki pikirannya.
'Dasar gadis mur*han!'
Johan membayangkan kembali kejadian di masa lalu, dimana dia memergoki Laura sekamar dengan seorang laki-laki. Lebih parahnya Laura tidur seranjang dengan laki-laki dengan selimut hingga sebatas leher menutupi tubuh mereka.
Kejadian tersebut terjadi dua tahun lalu, dimana pelanggan hotelnya yang tak lain adalah Laura salah masuk kamar dengan teman laki-lakinya. Harusnya kamar yang ditempati Laura adalah kamar VVIP khusus pelanggan, namun Laura malah masuk ke kamar VVIP khusus miliknya dan hal itu mulailah terjadi spekulasi yang beredar bahwa Laura hanyalah gadis mur*han yang bisa dipakai oleh laki-laki berdasi.
Johan menutup mulutnya seakan tidak percaya akan hal itu. Seketika bayangan percintaannya semalam dengan Laura kembali terbayang di ingatannya dan itu membuat tubuhnya kembali memanas.
__ADS_1
Wajah cantik Laura terus menari-nari di pikirannya. Akibatnya, aset berharganya kembali on dan sudah sesak di bawah sana untuk keluar mencari kenikmatan.
"Sial!" Johan bergegas turun dari ranjang dan berjalan menuju kamar mandi untuk membersihkan tubuhnya.
****
Sementara Wulan dan Fero masih saja terbuai mimpi indah. Mereka tidur sambil berpelukan di gasebo belakang. Kejadian semalam membuat mereka tidak kembali ke kamarnya akibat mabuk berat.
Salah satu dari mereka mulai mengerjapkan matanya mendengar dengkuran keras yang sedang mengganggu tidurnya. Pemilik manik hitam itu sayup-sayup terbuka dan terdiam sesaat memasang indra pendengarannya.
Untuk sesaat Fero ingin mendengar jelas suara berisik itu. Kemungkinan dua hal yang dia pikirkan, suara ombak dari pantai atau suara hewan buas yang kelaparan.
Pandangannya langsung dialihkan pada tubuh kecil yang sedang dia peluk layaknya guling di kamarnya. Hingga Fero terlonjat kaget akan hal itu, Fero buru-buru melepaskan pelukannya, namun sayangnya gadis belia yang menjadi bulan-bulanannya malah memeluknya dengan erat yang sedang mencari kehangatan.
"Hei cebol, ayo, bangun" ucapnya menepuk pundak gadis belia itu yang merupakan istrinya.
"Emm nyam-nyam" Wulan hanya mengigau tak jelas.
Fero mengerutkan keningnya mendengar Wulan mengigau tak jelas.
"Ayo bangun, orang lain akan melihat kita pagi ini" ucapnya kembali berusaha membangunkan Wulan dan Wulan semakin terlelap saja.
Dengan terpaksa Fero mengangkat tubuh mungil Wulan lalu membawanya ke kamar. Jika terus berada di luar bisa-bisa mereka masuk angin.
"Benar-benar nyusahin" omel Fero sambil membaringkan tubuh Wulan di atas ranjang dan kembali menarik selimut untuk menutupi tubuh gadis belia itu.
Fero berdengus kesal melihat bekas inces Wulan mengotori bajunya. Kemudian Fero bergegas masuk ke kamar mandi untuk membersihkan tubuhnya.
Bersambung.....
__ADS_1
Terima kasih atas dukungannya teman-teman 🙏🙏🙏