
Laura perlahan mengerjapkan matanya sambil meringis kesakitan mendapati tangannya tertusuk jarum infus. Sayup-sayup matanya mulai terbuka dengan pandangan agak kabur melihat disekelilingnya.
Saat mata indahnya sepenuhnya terbuka. Laura terlonjat kaget melihat siapa saja sosok orang yang berada di ruangan yang sama dengannya. Pandangan matanya langsung menelisik satu persatu orang yang berada dalam ruangan itu. Hingga pandangannya berakhir pada sosok orang yang sangat di sayangi nya tengah berdiri di samping tempat tidur yang dia tempati.
"Mama, Papa" ucap Laura dengan raut wajah pucatnya. Perlahan Laura menggerakkan tubuhnya untuk bangun dan sosok lelaki dibencinya bergerak cepat untuk membantunya.
"Tak perlu, aku bisa sendiri" tolak Laura acuh dan tak ingin lagi terlibat dengan lelaki itu. Laura berhasil duduk di atas tempat tidur sambil bersandar di kepala ranjang dalam ruangan tersebut berkat bantuan Mamanya dengan penuh kasih sayang, lalu sang mama duduk di sampingnya dengan raut wajah cemasnya.
Sementara sang Papa hanya mampu menghela nafas berat dengan tatapan kosong. Laura menjadi curiga melihat semua orang yang berada di ruangan itu hanya diam menatapnya dengan tatapan sulit diartikan. Mulai dari Papa dan Mamanya, Johan dan kedua orang tuanya juga berada di ruangan tersebut.
"Dimana ini? Apa yang sudah terjadi kepadaku? mengapa kalian semua berada di sini?" tanya Laura yang melontarkan pertanyaan dan Laura merasa yakin bahwa saat ini dirinya sedang berada di rumah sakit.
Semua orang hanya diam tak merespon pertanyaannya. Seketika Laura menunduk mengigat kembali kejadian beberapa jam berlalu hingga dirinya jatuh pingsan dan tak tahu apa yang terjadi selanjutnya.
"Aku akan bertanggungjawab atas kehamilan Laura" ucap Johan buka suara memperdengarkan semua orang yang berada di ruangan tersebut bahwa dirinyalah yang menghamili Laura. Dan Johan bersungguh-sungguh mengatakannya untuk mempertanggung jawabkan perbuatannya. Sedangkan Laura membulatkan matanya mendengar ucapan Johan, tiba-tiba tenggerokannya seolah tercekik mendengar kata lancnat itu.
"Johan! tak ada yang perlu kamu pertanggungjawabkan. Bisa saja anak yang dikandung wanita ini adalah anak orang lain. Besok adalah hari pernikahanmu dan kamu tak boleh mundur sekalipun. Kamu harus menikahi Catherine!" bantah Tuan William sambil menatap tajam mereka dengan amarah menggebu-gebu.
"Papa!" kesal mama Johan mendengar kata-kata kasar yang dilontarkan suaminya.
Antara bahagia dan kasihan yang sedang menyelimuti perasaan Nyonya Tias. Satu sisi dia begitu bahagia mendengar kabar kehamilan Laura. Tapi dia pun kasihan kepada Laura beserta kedua orang tua Laura. Mana ada orang tua yang bahagia mendapati kabar kehamilan putrinya yang sedang hamil diluar nikah.
Deg!
Jadi, aku hamil.
Mata Laura berkaca-kaca mengetahui kenyataan pahit tentang dirinya yang sedang hamil, apalagi saat ini dirinya hamil diluar nikah. Nyonya Miranda hanya mampu menggenggam tangan putrinya untuk memberikan kekuatan dan meyakinkan dirinya untuk tak menumpahkan kesedihannya.
Johan mengepalkan tangannya mendengar ucapan Papa nya.
__ADS_1
"Aku tidak pernah setuju untuk menikahi wanita pilihanmu. Jika kau ingin menikahinya lakukan saja!" ucap Johan dingin dengan tatapan tajamnya cukup sudah dia menjadi boneka papa nya.
Tuan Anthony menghela nafas berat dengan kepalan di tangannya yang sedang melangkah lebih dekat ke arah putrinya. Sedari tadi dia hanya mampu diam menahan amarahnya.
"Siapa yang sudah menghamilimu Laura?" tanya tuan Anthony dengan suara satu oktaf untuk memperjelas kepada putrinya. Laura menjadi bungkam, seketika Mama Laura segera memeluk putrinya yang tampak rapuh.
Laura hanya mampu terisak dengan tubuh bergetar di pelukan mamanya karena begitu syok mendapati dirinya hamil.
"Aku yang sudah menghamilinya" jawab Johan tanpa ragu. Seketika tuan Anthony langsung mendaratkan pukulan keras tepat di wajah tampan Johan. Hingga membuat tubuh Johan terjungkal ke belakang dan hampir saja membentur dinding.
"Si*alan kau! berani-beraninya menghamili putriku. Aku sangat menjaganya dan kau malah menyakitinya!" bentak tuan Anthony dan kembali memegangi kerah kemeja Johan lalu melayangkan pukulannya di perut Johan.
"Hentikan!" teriak histeris para wanita di ruangan itu melihat aksi brutal Papa Laura sedangkan Johan sama sekali tak melakukan perlawanan.
Nyonya Miranda segera memencet tombol darurat agar dokter dan para perawat berdatangan ke ruangan tersebut.
"Berhenti Papa, kamu bisa membunuhnya" teriak histeris Laura berderai air mata melihat aksi brutal Papa nya yang terus menghajar tubuh Johan habis-habisan bahkan tak segan-segan menendangnya berulang kali, hingga Johan terkapar di lantai dengan sisa tenaganya.
"Cukup! jangan mencampuri urusanku! Di dalam janin Laura adalah anakku, darah dagingku! karena wanita yang sudah mengandung anakku adalah istriku yang sesungguhnya" teriak Johan tak terima dengan ucapan Papa nya dengan sisa tenaga yang dimilikinya yang sedang terduduk di lantai.
"Bohong. Dan sampai kapan pun aku tidak akan merestui hubungan kalian! apalagi mengakui anak yang dikandungnya adalah darah dagingmu" Kesal tuan William sambil mengepalkan tangannya. Dan tuan Anthony kembali memukul Johan hingga tak sadarkan diri.
"Keparat kau!_" tuan Anthony mengatakannya dengan amarah menggebu-gebu berbalik badan untuk kembali menghajar lelaki paruh baya yang sedang merendahkan putrinya.
"Putrimu hamil diluar nikah dan aku meragukan kehamilannya jika itu perbuatan putraku. Bisa saja dia jual diri kepada lelaki lain!" sinis tuan William sambil menunjuk-nunjuk ke arah tuan Anthony. Sedangkan sang istri berusaha menghentikannya untuk segera membawanya keluar dari ruangan itu.
Tuan Anthony melangkah cepat untuk menghajar habis-habisan lelaki paruh itu. Tampak jelas otot-otot di lehernya dan seluruh wajahnya memerah yang diselimuti amarah.
"Berhenti Papa, jangan lakukan apapun" teriak Laura berderai air mata melihat kembali Papanya mendekati Papa Johan. Laura ingin melepas jarum infus ditangannya untuk segera turun merelai Papanya namun sang mama tak membiarkannya.
__ADS_1
"Cukup mas, jangan lakukan apapun" teriak sang istri untuk menghentikan aksi suaminya.
Sementara tuan Anthony sudah tersulit amarah dan tak bisa lagi diredam oleh siapapun. Nyonya Miranda segera melangkah menghampirinya dengan tubuh lemas nya mendapat kabar yang kurang menggenakan itu.
"Lihatlah Anthony kau akan menanggung malu atas ulah putrimu" sinis tuan William menyeringai yang sedang diseret oleh istrinya menuju pintu keluar.
"Kau!" geram Tuan Anthony dan langsung melayangkan pukulannya ke punggung tuan William. Namun belum sepenuhnya terjadi, tiba-tiba saja lelaki paruh baya itu terserang sesak nafas dan seketika tubuhnya kaku tak mampu digerakkan hingga tak sadar tubuhnya sudah membentur lantai.
"Papa!"
"Mas!"
Teriak bersamaan Laura dan Mama nya. Sedangkan tuan William dan Nyonya Tias berhasil keluar dari ruangan tersebut.
Laura langsung membuka paksa jarum infus ditangannya dan bergerak turun dari tempat tidur. Kemudian Laura berlari menghampiri Papanya yang sudah tergeletak di lantai.
Nyonya Miranda hanya mampu menangis melihat keadaan suaminya yang sudah tak sadarkan diri dan berlumuran darah. Hidung, mulut dan telinganya sudah mengeluarkan darah. Baju dipakainya dipenuhi darah dari sang suami yang sedang memangku kepala suaminya.
"Papa, hiks..hiks....hiks.." dengan berderai air mata Laura mengguncang lengan Papa nya dengan tangis semakin pecah.
Tak berselang muncullah dokter dan perawat masuk ke dalam ruangan tersebut dan langsung menghampirinya.
"Dokter, selamatkan Papa ku" ucap Laura memohon berderai air mata dihadapan dokter tersebut.
Dokter bergerak memeriksa denyut nadi tuan Anthony, hanya gelengan kepala diiringi hembusan nafas dengan berat.
"Maaf, kami tak bisa berbuat apa-apa, nyawanya sudah tak tertolong. Kolesterol yang tinggi dan tekanan darahnya yang sangat tinggi membuat pembuluh darahnya pecah" ucap dokter menjelaskan dengan berat hati.
"Papa!" teriak Laura menggema di ruangan itu yang menjadi saksi bisu kehilangan Papa nya, orang yang sangat disayanginya.
__ADS_1
Bersambung......