
Laura tak bisa membalas perasaan Johan untuknya. Laura sadar diri bagaimana hubungan mereka saat ini, ibarat langit dan bumi yang akan begitu sulit untuk dijangkau.
Tak ada jalan yang bisa mempersatukan mereka kembali. Kedua belah pihak keluarga sudah saling berseteru dan tak akan pernah berbaikan.
Perlahan Laura bangkit dari duduknya dan membiarkan Johan melamun seorang diri.
"Mengapa kau tak mengucapkan apapun Laura? setelah kau tahu bagaimana perasaanku kepadamu" tanya Johan tanpa mengalihkan pandangannya ke arah Laura.
Sementara wanita cantik yang dimintai jawaban hanya diam membisu.
"Aku menyukaimu Laura. Aku jatuh cinta kepada dan ingin terus bersamamu" ucap Johan menatap ke arah Laura dan menggenggam tangan wanita yang sudah memporak-porandakan pikirannya untuk meyakinkannya.
"Kau sedang mabuk, sebaiknya kembali lah ke kamarmu" ucap Laura lemah lembut sambil menunduk yang tak ingin bersitatap dengan Johan. Dan Laura sama sekali tak merespon ucapan Johan.
Laura menarik tangannya dari genggaman Johan dan segera bangkit dari tempatnya.
"Orang mabuk akan menjadi bodoh dengan sendirinya, jadi tak ada yang perlu dibahas. Dan satu lagi, maaf, aku tidak pernah memiliki perasaan kepadamu." ucap Laura terdengar ketus lalu berjalan meninggalkan Johan menuju kamar sederhana yang sudah beberapa bulan ia tempati.
Dulu kau memintaku untuk menjadi wanita simpanan mu. Tapi, sekarang kau kembali berbicara seenaknya jika kau menyukaiku. Aku tidak tahu jalan pikiranmu Johan, bisa saja semua ini hanya rencana mu semata yang sedang kau susun rapi untukku. Batin Laura.
Sudah cukup hidupnya hancur, dia tidak ingin kembali hancur untuk kedua kalinya di tangan lelaki yang sudah merenggut harta yang begitu berharga dalam dirinya. Ucapan lelaki itu tidak bisa dipercaya, bisa saja berkata bohong dan membuatnya makan hati dengan cinta yang bertepuk sebelah tangan.
Laura mendorong pelan pintu kamarnya lalu menutupnya kembali untuk ia kunci. Laura menyandarkan tubuhnya di balik pintu dengan perasaan campur aduk menjadi satu.
"Aku tidak pernah mengharapkan cintamu Johan. Mengapa kau terus saja membawaku dalam masalah mu. Haruskah aku mencintaimu seperti yang kau katakan? bila mana cintamu hanya memberiku luka, walau sepertinya aku bahagia, satu sisi aku menangis."
Laura memukul kecil dadanya untuk mengurangi perasaan sesak di dadanya. Salahkah dirinya jika tak membalas perasaan lelaki yang pernah menjadi mantan suaminya itu.
"Jujur saja perasaanku seakan tidak rela melihatmu bertunangan dengan wanita lain. Apalah dayaku, aku bukan lagi wanita yang sering dipuja-puja dan mendapatkan tempat terbaik. Aku hanya seorang Laura yang berstatus baru di kehidupanmu" ucap Laura sambil memejamkan matanya hingga tubuhnya merosot ke bawah dan menyentuh lantai yang begitu dingin mengenai permukaan kulitnya.
Laura memeluk kedua lututnya menyembunyikan wajahnya yang sudah dibanjiri air mata. Mulutnya bisa saja berbohong namun hati kecilnya berkata jujur bahwa dia pun menyukai Johan. Hanya cinta dalam diam yang mampu menggambarkan perasaannya untuk seorang Johan.
__ADS_1
Sementara Johan tersenyum sinis menemukan fakta tentang Laura, sekarang dia sadar bahwa Laura sama sekali tak memiliki perasaan untuknya. Cintanya tak terbalaskan dan hal itu sangat menyakitkan, namun Johan tak akan pernah menyerah sebelum meluluhkan hati wanita yang dicintainya.
Johan hanya mampu mengusap wajahnya dengan kasar melampiaskan kekesalannya dan membiarkan Laura pergi begitu saja meninggalkannya. Dunia seakan tak pernah berpihak padanya untuk mengapai kebahagiaannya.
Tangannya dia kepal kuat-kuat hingga memutih lalu dilampiaskannya meninju kursi besi yang dia duduki hingga punggung tangannya terluka dan mengeluarkan darah. Johan sama sekali tidak peduli dengan tangannya yang terluka. Hatinya lebih sakit dari pada ini mendapatkan penolakan dari wanita yang dicintainya.
"Arrgghhh!" Johan menjambak rambutnya penuh frustasi. Untuk pertama kalinya dia jatuh cinta, namun sayangnya cintanya tak terbalaskan. Sungguh sakit, memang sakit yang tak berdarah baginya, namun luka itu tak mampu disembuhkan jika dia tak bekerja keras untuk mendapatkan hati wanita yang bernama Laura.
*
*
*
Sebulan kemudian.....
Hari-hari telah berlalu hingga bulan pun berganti, namun Laura tak pernah lagi melihat keberadaan Johan di kediaman mewah orang tuanya.
Ada perasaan rindu yang teramat berat untuk lelaki jangkung itu. Laura pun tidak tahu perasaan rindu seperti apa yang jelas dia ingin memeluk erat tubuh lelaki jangkung itu dan menghirup aroma khas maskulin dari tubuh lelaki yang bernama Johan Pradipta William.
Laura yang sedang bersiap-siap langsung membekap mulutnya merasakan mual dan gelenyar aneh di tenggerokannya. Wanita cantik itu bergegas berlari ke kamar mandi untuk mengeluarkan isi perutnya.
Sambil memijit tengkuknya Laura berusaha mengeluarkan isi perutnya namun tak sesuai dengan peraduganya, hanya cairan bening yang terus mengganggu tenggerokannya. Tubuh Laura begitu lemas, lalu segera membersihkan mulutnya dan bergegas keluar dari kamar mandi.
Mengambil permen asem di atas meja untuk menetralisir tenggerokannya yang terasa aneh. Laura segera membuka bungkusan permen asem lalu mengemilnya cepat, permen asem itu sempat dia beli di supermarket tadi malam, entah apa yang merasukinya dia ingin memakan permen asem padahal dia sama sekali tak begitu menyukai yang berbau asem dan sejenisnya.
Laura kembali merapikan seragam pelayan nya dan tak lupa menyisir rambutnya lalu mengikatnya tinggi hingga rambut panjangnya melambai-lambai mirip ekor kuda.
Setelah merasa penampilannya cukup sempurna Laura kembali menatap dirinya di pantulan cermin. Ada yang aneh dengan dirinya saat ini, wajahnya tampak pucat dan terlihat kusam, bibirnya tak merah lagi semerah buah ceri. Walaupun jarang memakai lipstik namun ia mampu membedakannya.
Pikirannya terus bertanya-tanya 'ada apa dengan diriku'. Laura dengan terpaksa memoles liptin di bibirnya guna mempercantik penampilannya. Setelah itu, dia pun bergegas keluar dari kamarnya untuk memulai aktivitasnya merawat nyonya Tias dengan baik.
__ADS_1
Raut wajah Laura kembali murung saat melewati lorong kamarnya, dimana para pelayan kembali bergosip hangat di pagi hari membicarakan perihal pernikahan anak majikannya. Sehingga membuat moodnya menjadi buruk.
"Aku dengar-dengar dari pelayan di rumah utama bahwa pernikahan tuan Johan dan nona Catherine akan dilaksanakan besok. Katanya sih pesta pernikahannya akan diselenggarakan sangat megah di hotel bintang lima milik tuan besar" ucapnya dengan antusias.
"Semoga kita semua diajak di pesta pernikahannya, aku tidak sabar ingin memakai gaun bagus" timpal temannya.
Laura hanya menutup mulutnya karena kembali merasakan mual saat melewati mereka yang tengah heboh bergosip di lorong mes. Laura tak pernah berbaur ataupun sekedar menyapa mereka yang memang hobinya bergosip tanpa kenal waktu karena ujung-ujungnya mengobrol bersama mereka cuman memojokkannya.
Tampak nyonya Tias duduk termenung di teras belakang tanpa semangat pagi sedikit pun. Dengan tubuh lemas dan kepala sedikit pusing Laura menyeret kakinya untuk menghampiri nyonya Tias.
Walaupun dia kurang enak badan, namun Laura tetap bersikap profesional demi tuntutan pekerjaannya. Laura mendekat menghampiri nyonya Tias sambil memasang wajah cerianya.
"Selamat pagi bibi" sapa Laura tersenyum.
"Pagi sayang" ucap Mama Johan dengan tatapan sendunya.
Laura memilih berjongkok di depan wanita paruh baya itu untuk memakaikan kembali gelang kaki nya yang terjatuh di lantai.
"Apa yang kamu lakukan sayang" tegur mama Johan kepada Laura.
"Gelang kaki bibi terlepas dan aku ingin memakaikannya di kaki bibi" ucap Laura tersenyum hangat.
Nyonya Tias tersenyum lebar, sungguh wanita paruh baya itu masih mengharapkan Laura sebagai menantunya. Tersisa hari ini kehidupan di keluarganya akan berubah dengan kehadiran anggota baru di keluarganya esok hari.
Tangan nyonya Tias terulur menyentuh puncak kepala Laura lalu mengusapnya dengan lembut. Laura mendongak deselingi senyuman dan segera duduk di samping Mama Johan.
"Apa kamu sakit sayang?" tanya Mama Johan memperhatikan raut wajah Laura yang tampak pucat.
Laura hanya menggeleng sebagai jawabannya hingga rasa mual kembali menyerangnya. Laura bangkit dari duduknya dan bergegas berlari ke arah dapur untuk mengeluarkan sesuatu yang selalu mengganggu tenggerokannya.
Nyonya Tias bergegas menyusulnya takutnya Laura kenapa-kenapa. Hingga mendapati sosok yang dikenalinya sudah tergeletak di lantai.
__ADS_1
"Laura!" teriaknya bersamaan dengan seseorang yang baru saja tiba di ruangan tersebut.
Bersambung....