Laura Dan Status Barunya

Laura Dan Status Barunya
Bab 29 Laura dan Status Barunya


__ADS_3

"Aku berangkat kerja" pamit Johan kepada Laura dan masih tak bergeming di tempatnya berdiri.


Jelas sekali dari tatapan Johan tersirat sebuah perasaan khawatir terhadap mantan istrinya.


Baru kali ini ia melihat Laura terbaring lemah di atas tempat tidur. Biasanya wanita itu begitu aktif, begitu cerewet dan bawel banget. Hobinya ngajakin berdebat melulu dengannya.


"Iya" ucap Laura tersenyum tipis. Dan senyuman Laura sedikit melegakan hati dan pikirannya.


Johan ikut tersenyum lalu melenggang pergi meninggalkan Laura di dalam kamar.


Sepanjang menuruni anak tangga Johan mengulas senyum, membuat nyonya Tias dan Wulan yang berada di bawah tangga bertanya-tanya dalam hati saat melihat ekspresi wajah Johan pagi ini.


"Kak John, kayaknya bahagia banget pagi ini, sepertinya lagi kesambet virus cinta ya" ucap Wulan dengan tebakannya menggoda kakak sepupunya.


Seketika senyum Johan memudar dan langsung memasang wajah datar tanpa ekspresi. Johan tak menggubris ucapan adik sepupunya yang seprekuensi dengan mama nya itu.


"Sayang, mama khawatir sama kamu. Sebab, tumben aja kamu sarapan di kamar, biasanya sarapan bersama kita" ucap Mama Johan dengan tatapan hangatnya penuh kasih sayang.


"Tidak apa-apa kok ma, aku cuman pengin sarapan di kamar" elak Johan bersikap biasa-biasa saja. Takutnya sang mama mencurigainya.


Johan tidak ingin semua orang tahu bahwa Laura sedang berada dalam kamarnya. Terlebih lagi Mama nya bisa berabe dan urusannya makin rumit.


"Oh syukurlah, mama merasa lega" ucap Mama Johan tersenyum.


"Aku berangkat kerja dulu ma" pamit Johan kepada mama nya dan segera mencium punggung tangan mama tercintanya.


"Iya sayang, semangat bekerja" ucapnya antusias sambil menyentuh bahu putranya.


Johan mengangguk lalu melenggang pergi hingga tak terlihat lagi di balik pintu utama.


"Bibi tidak curiga dengan ekspresi kak John tadi" ucap Wulan sambil menggulung rambutnya.


"Samar-samar sayang, bibi belum bisa mengambil kesimpulan" ucap nyonya Tias dengan gelengan kepala.


"Ya ampun bibi kurang peka banget sih, tadi itu kak John senyum-senyum sendiri persis orang yang lagi jatuh cinta" ucap Wulan dengan entengnya.


"Masa sih? bagaimana bisa kamu tahu orang yang lagi jatuh cinta, sementara kamu sendiri belum pernah mengalaminya sayang. Bibi tidak bermaksud apa-apa ya, tapi eeemmm baiklah bibi mempercayai ucapan mu" ucap mama Johan tersenyum lebar.


"Begitu dong bibi, harus percaya sama detektif cinta yang satu ini" ucap Wulan percaya dirinya dan bergegas memeluk lengan bibi nya.


Nyonya Tias tersenyum sambil mengelus puncak kepala ponakannya.


"Ya sudah, sebaiknya kita temui Laura untuk meminta maaf soal kejadian semalam" ucap mama Johan lalu menggandeng tangan Wulan ke kamar Laura.


"Tunggu sebentar bibi, dari tadi kita belum melihat batang hidung kak Laura bukan" ucap Wulan berjalan di samping bibi nya.


"Iya yah, namun ada baiknya kita langsung saja temui di kamarnya" usul Mama Johan.


"Betul bibi" ucapnya antusias yang ingin segera bertemu sapa dengan Laura.

__ADS_1


Saat mereka berada di mes pelayan, tiba-tiba saja dua pelayan wanita datang menghampirinya.


"Nyonya pasti ingin menemui nona Laura" ucapnya dengan pandangan tertunduk.


"Iya betul sekali" ucap nyonya Tias tersenyum.


"Maaf nyonya, dari tadi kami belum melihat nona Laura. Kami jadi khawatir dan sempat mengecek kamarnya dari luar, tapi tetap saja kami tidak menemukannya, kamarnya kosong" ucap pelayan itu menjelaskan perihal Laura yang tak berada di mes pelayan.


"Lalu kemana perginya Laura, apa kalian tahu?" tanya nyonya Tias.


Kedua pelayan itu hanya menggeleng yang sama sekali tidak tahu keberadaan Laura.


Diluar dugaan, ponsel Laura terus berbunyi di dalam laci nakas di dalam kamar Laura, namun mereka sama sekali tak mendengarnya. Entah siapa yang melakukan panggilan di ponsel Laura.


Kemungkinan dari semalaman ponsel Laura terus berbunyi, dikarenakan Laura sengaja menyimpan ponselnya di kamar guna untuk mengikuti acara makan malam keluarga Johan.


"Astaga, kemana perginya Laura. Bibi jadi mengkhawatirkannya."


Nyonya Tias menjadi khawatir mendengar penjelasan pelayan yang sama sekali tidak tahu keberadaan Laura.


Apa jangan-jangan kejadian semalam membuat Laura pergi. Batin nyonya Tias.


"Mungkin saja kak Laura ada urusan mendadak di luar, makanya tidak sempat minta izin sama bibi" ucap Wulan mencoba menenangkan bibi nya.


"Bisa jadi, semoga saja Laura tidak kenapa-kenapa dan secepatnya kembali lagi ke rumah ini" ucap mama Johan sambil menghembuskan nafasnya kasar.


"Tolong ya kakak-kakak, beritahu kami jika kak Laura sudah datang" ucap Wulan kepada kedua pelayan itu.


"Iya nona" ucapnya kompak lalu pamit undur diri.


Kemudian Wulan dan nyonya Tias memilih duduk di kursi taman untuk berdiskusi sambil menikmati udara sejuk di pagi hari.


"Bibi tidak bisa tinggal diam jika paman mu sudah turun tangan untuk mengatur kembali perjodohan Johan" ucap mama Johan dengan tatapan tajam.


"Terus kita harus apa bibi?" tanya Wulan.


"Menjebak Johan dan Laura" jawab mama Johan menyeringai.


Wulan membulatkan matanya mendengar penuturan bibi nya. Hingga mereka pun kembali saling tos bersama, demi kelancaran rencana mereka selanjutnya.


*


*


*


Di kamar Johan..


Laura tak bisa melakukan apapun di kamar Johan. Kepalanya masih sedikit pusing hingga membuatnya bermalas-malasan di atas ranjang.

__ADS_1


Padahal tadi pagi Johan ingin mengajaknya ke rumah sakit, hanya saja Laura menolaknya mentah-mentah dan cuman butuh istirahat.


"Kamar ini sangat kaku persis pemiliknya. Tak ada figura, tv dan yang bisa menghibur" gumam Laura lalu menghela nafas panjang.


Laura kembali menatap ke arah jendela, ingin melihat suasana luar jendela, dimana langit tampak mendung dengan awan-awan hitam berkabut persis dengan suasana hatinya saat ini.


Kembali ucapan tuan William terlintas dipikirannya membuat hati Laura kembali bergemuruh dengan rasa sesak di dada.


"Memang aku tidak pantas duduk bersama mereka" gumam Laura dengan mata berkaca-kaca, namun Laura berusaha menahan air matanya untuk tidak tumpah.


Laura berusaha menarik senyuman di sudut bibirnya, ia kembali menghibur dirinya dan tak ingin berlarut-larut dalam kesedihan mendengar omongan tak jelas orang lain.


Lama dalam lamunannya, tiba-tiba saja Laura kepikiran dengan janji bertemu dengan Daniel.


"Astaga, aku hampir lupa. Inikan janji aku bertemu dengan Daniel dan pembeli mobil bekas ku" ucap Laura panik dan beranjak bangun.


Lagi-lagi Laura merasakan pusing. Namun Laura tidak memperdulikan kondisinya saat ini. Laura berjalan tertatih-tatih mendekati pintu kamar dan hampir saja membentur tembok.


"Ya Tuhan, kuatkan aku" ucapnya sambil memegangi kepalanya.


Laura mengulurkan tangannya memegangi handle pintu untuk membuka pintu kamar Johan, namun sayangnya pintu kamar Johan terkunci dari luar.


"Sial, dia mengunci dari luar. Bagaimana ini, jika aku berteriak minta dibukakan pintu otomatis semua orang tahu keberadaan ku di dalam sini" ucap Laura frustasi.


Dengan terpaksa Laura mengurungkan niatnya dan memilih kembali ke tempat ternyaman nya.


*


*


*


Sementara di perusahaan William group.....


Johan tampak tidak serius mengikuti rapat pentingnya. Bayangan wajah Laura terus menghantui pikirannya.


Setiap kali para petinggi perusahaan mengajukan persetujuan darinya, Johan hanya mampu manggut-manggut yang sedang kurang fokus tanpa memberikan masukan sedikit pun. Hingga rapat penting itu berakhir.


Johan memijit pangkal hidungnya keluar dari ruangan rapat. Sekretarisnya sempat menegurnya melihat sikap atasannya tidak seperti biasanya.


"Apa anda baik-baik saja tuan" ucap sekretarisnya yang bernama Mike.


"Hemm" timpal Johan.


Mengapa wajah Laura terus memenuhi pikiranku. Apakah aku sedang memendam rasa kepadanya atau kah aku sedang memikirkannya saja. Batin Johan.


Johan memasuki ruangannya guna untuk melanjutkan kembali pekerjaannya. Sepertinya hari ini ia harus pulang lebih awal.


Bersambung......

__ADS_1


__ADS_2