Laura Dan Status Barunya

Laura Dan Status Barunya
Bab 28 Laura dan Status Barunya


__ADS_3

Keesokan harinya....


Bisik-bisik para pelayan mulai heboh di mes nya. Mereka membicarakan Laura yang mendapat teguran dari majikannya. Di pagi hari, Laura menjadi gosip terhangat para pelayan.


Untungnya kepala pelayan segera bertindak tegas membereskan masalah tersebut. Supaya gosip tak berfaedah itu tak menyebar luas atau melenceng kemana-mana di kediaman William.


Tidak sepatutnya seorang pelayan mencampuri urusan rekannya atau pun orang lain dari segala pihak manapun jika masih ingin bertahan hidup dengan pekerjaannya.


Kejadian semalam masih saja menjadi permasalahan di keluarga William. Nyonya Tias dan tuan William masih saja perang dingin pagi ini.


Mereka sarapan dengan diam tanpa ada obrolan sedikitpun, apalagi saling menyapa. Wulan yang menjadi penengah diantara pasangan suami istri itu seperti seorang wasit bagi mereka. Tapi, mau bagaimana pun jelas Wulan memihak kepada Bibi nya.


Wulan hanya menunduk menikmati sarapannya dan ingin cepat-cepat pergi dari hadapan mereka.


Untuk Johan sendiri pagi ini belum muncul batang hidungnya. Nyonya Tias sempat meminta pelayan untuk memanggil Johan sarapan bersama, namun pelayan melapor bahwa tuan mudanya belum juga bangun. Hal tersebut dimaklumi oleh nyonya Tias.


Di dalam kamar Johan, tampak pasangan mantan suami istri sedang berpelukan mesra di atas ranjang. Mereka belum menyadari sepenuhnya tidur seranjang sambil berpelukan.


Salah satu dari mereka mulai meregangkan otot-ototnya yang terasa kaku akibat perbuatan teman tidurnya.


Senyuman terukir di sudut bibir lelaki jangkung itu manakala ia menatap wajah teduh wanita yang sedang terlelap dalam pelukannya.


Johan melakukan gerakan tangan untuk memindahkan anak rambut Laura yang sedikit menghalangi pandangannya hingga gerakannya berhasil membangunkan Laura.


Sayup-sayup Laura mulai membuka matanya hingga terlonjat kaget mendapati Johan bersamanya. Tidak tidak dia sedang memeluk Johan dan Johan pun memeluknya, lebih tepatnya posisi mereka berpelukan.


"Aaaaaahh" teriak Laura berusaha memukuli Johan hingga Johan segera melepaskan pelukannya, dengan cepat Johan membekap mulutnya.


"Huaccimmm, Huaccimmm..." Laura pun bersin-bersin.


"Kau bisa menghebohkan seisi rumah" ucap Johan memperingatinya lalu melepaskan bekapan tangannya.


"Apa yang sudah kau perbuat kepadaku Johan? dan mengapa aku berada di dalam kamarmu, jangan-jangan kau menjebak ku!" cercah Laura dengan suara serak yang sedang terserang flu.


Tatapan Laura begitu tajam menatap Johan di sampingnya. Apalagi ia menyadari dirinya berada di kamar Johan dengan tubuh lemas badai.


Tidak hanya itu, Laura juga menyadari tubuhnya polos tanpa sehelai benangpun dibalik selimut. Sehingga pertanyaan terus menyerang pikirannya.

__ADS_1


Johan tak menggubris ucapan Laura, Johan malah menatap manik mata Laura lalu tangannya terulur menyentuh kening Laura.


Secepat kilat, Laura menepis tangannya yang begitu murka kepada Johan.


"Aku hanya ingin mengecek suhu tubuhmu" ucap Johan dan terpaksa mengurungkan niatnya.


"Mengapa kau tak menjawab pertanyaan ku Johan" kesal Laura sambil memegang erat ujung selimut yang menutupi tubuhnya.


Johan segera bergeser lalu menyibak selimut dari tubuhnya dan bergegas turun dari ranjangnya. Tampak Laura begitu waspada terhadapnya.


"Lihatlah, aku masih mengenakan boxer. Tak ada yang terjadi diantara kita. Dan kau perlu memeriksa seluruh tubuhmu jika ada yang lecet sekalipun. Laura, asal kau tahu aku hanya membantumu dengan cara memelukmu semalaman karena tubuhmu menggigil kedinginan" ucap Johan membela diri.


Laura seketika teringat dengan kejadian semalam dimana dirinya terjatuh ke kolam renang lalu Johan menolongnya. Kemudian Laura memeriksa bagian atas tubuhnya lanjut bagian terlarangnya. Seketika Laura bernapas lega karena yang dituduhkan kepada Johan tidak benar adanya.


Syukurlah, dia tak melakukan apapun kepadaku. Akan tetapi, aku tak terima jika Johan melihat seluruh tubuhku. Sudahlah, lupakan saja. Batin Laura.


"Aku begitu khawatir dengan kondisimu, hingga aku melakukan cara yang sering orang lakukan pada penderita hipotermia. Berpelukan, ya cara itu sangat manjur, maka dari itu aku melakukannya kepadamu."


Laura menggigit bibir bawahnya mendengar penjelasan Johan.


"Awas saja jika kau macam-macam kepadaku! Lantas mengapa kau membawaku ke kamar ini" pinta Laura dengan kecurigaannya dan kembali bersin-bersin.


Laura berdengus kesal mendengar sindiran Johan.


Lalu Johan berlalu masuk ke kamar mandi untuk menunaikan ritual mandinya di pagi hari.


"Sebaiknya aku bergegas keluar dari kamar Johan"gumam Laura.


Saat ingin menyibak selimut tiba-tiba saja Laura pusing dan penglihatannya berkunang-kunang. Laura langsung memegangi keningnya yang juga ikut berdenyut-denyut.


"Aaakhh, kepala ku" ucapnya merintih kesakitan.


"Huaccimmm"


Dengan terpaksa Laura mengurungkan niatnya. Laura memilih berbaring kembali dengan kondisi tubuh lemas, pusing, pokoknya kurang enak badan.


Tak berselang kemudian, muncullah Johan yang tampak segar dengan handuk terlilit di pinggangnya.

__ADS_1


"Apa kau butuh sesuatu?" tanya Johan melirik Laura yang sedang melamun.


"Aku butuh pakaian, aku tidak suka seperti ini" lirih Laura yang berbalut selimut.


Johan berlalu masuk ke ruang ganti mengambil pakaian untuk Laura. Setelah itu, Johan kembali menghampiri Laura sambil memegang t-shirt berwarna putih dan celana pendek ketat. Lalu Johan meletakkannya tepat di atas bantalnya.


"Pakai saja ini, aku tidak mungkin ke kamar pelayan untuk menggeledah pakaian milikmu" ucap Johan lalu melangkah ke ruang ganti untuk bersiap ke kantor.


Laura bergegas mengambil pakaian Johan lalu memakainya cepat, takutnya Johan keluar dari ruang ganti. Dan benar saja dugaannya Johan sudah rapi dengan setelan jasnya.


"Untuk sementara waktu kau bisa beristirahat di kamarku. Aku sudah meminta kepala pelayan untuk membawa sarapan dan juga obat untukmu. Jadi jangan kemana-mana, tetaplah di sini. Kau bisa kembali ke kamarmu setelah malam hari" ucap Johan dengan entengnya.


Tok


Tok


Tok


Terdengar seseorang mengetuk pintu dari luar. Johan dan Laura segera mengalihkan pandangannya ke arah pintu kamar.


Johan memberi kode kepada Laura untuk tetap tenang di ranjang. Pasalnya Johan sangat menyakini bahwa kepala pelayan lah yang sedang mengetuk pintu. Johan segera membuka pintu kamarnya dan benar saja dugaannya.


Johan segera mengambil alih nampan yang di bawa kepala pelayan lalu menyuruhnya pergi. Kemudian Johan menutup pintunya kembali lalu menghampiri Laura.


"Kau harus sarapan" ucap Johan sambil meletakkan nampan berisi sarapan mereka.


Semangkok bubur, tiga potong sandwich, susu hangat dan air hangat, beserta obat untuk Laura.


Laura mengangguk setuju, lalu bersandar di kepala ranjang. Wajah Laura tampak pucat pasih membuat Johan merasa kasihan kepadanya.


"Aku akan menyuapi mu" ucap Johan tak ingin dibantah dan Laura membiarkannya saja.


Laura mengunyah makanannya sambil menatap wajah Johan yang sedang menyuapinya.


Terima kasih, aku berhutang budi kepadamu. Batin Laura.


Tanpa sungkan Johan membersihkan sudut bibir Laura yang belepotan menggunakan jemari tangannya. Hingga Laura refleks menyentuh jemari tangan Johan dan terjadilah aksi saling pandang-pandangan diantara mereka.

__ADS_1


Bersambung....


__ADS_2