
"Nona Laura, nyonya besar sedang menunggumu di teras di depan" ucap salah satu pelayan yang sedang berdiri di luar pintu kamar Laura.
"Ya, sebentar lagi." Laura segera memasukkan pakaiannya di koper miliknya. Setelah merasa semua keperluannya lengkap, dia pun bergegas keluar untuk menemui nyonya Tias yang sudah menunggunya di teras depan.
Laura melangkah ke teras depan, terdengar suara seseorang sedang berdebat di sana. Laura tampak ragu untuk mendekat, mengingat di sana sudah tampak jelas Nyonya Tias dan tuan William duduk bersama.
"Batalkan saja liburannya. Mama tak perlu ikut bersama mereka. Sebaiknya kita persiapkan saja pertunangan Johan dan Catherine secepatnya." tuan William begitu kekeh dengan keputusannya.
"Johan belum setuju untuk bertunangan dengan Catherine. Jadi Papa tak perlu mendesaknya seperti ini."
"Setuju atau tidak setuju Johan harus melakukannya. Ini akan menguntungkan perusahaan. Nilai harga saham akan terus melonjak naik jika perjodohan bisnis ini dilakukan" jelas tuan William.
"Bisa-bisanya Papa mengorbankan anak sendiri. Johan perlu bahagia dengan wanita yang dia cintai. Jangan terus melakukan perjodohan dengan anak rekan bisnis Papa, karena itu akan membuat Johan semakin membenci kita."
Cukup Laura saja yang menjadi jodoh Johan, wanita pertama dan sekaligus wanita terakhir di dalam hidupnya.
Nyonya Tias mengatakannya dengan bibir bergetar. Dia tidak ingin jika perjodohan Johan kembali di lakukan, bisa saja lewat perjodohan itu mendatangkan bencana untuk dirinya dan juga keluarganya.
Terkadang kawan akan berubah menjadi lawan jika jalan mereka lalui berbeda-beda dan malah sebaliknya lawan bisa saja menjadi kawan jika mereka satu jalan.
"Aku lakukan semua ini demi kebaikan Johan. Banyak orang diluaran sana ingin menjatuhkan posisi Johan, jadi mama harus setuju. Dan harus ikut turun tangan membantu segala persiapan pertunangan Johan dengan Catherine"ucap tuan William sambil menghela nafasnya.
"Baiklah, semoga Johan bisa menerima kembali perjodohannya." Nyonya Tias menghembuskan nafasnya dengan kasar. Berpura-pura setuju adalah jalan terbaik untuk hubungannya dengan sang suami.
Laura terkejut mendengar pembicaraan mereka. Namun dia akan bersikap biasa-biasa saja dan bermasa bodoh seolah tak mendengar segala pembicaraan orang tua Johan.
"Laura, kemarilah sayang. Sedang apa kamu di sana" ucap mama Johan yang menyadari keberadaan Laura.
Tuan William segera mengalihkan pandangannya. Dari tatapannya menandakan bahwa dirinya tidak menyukai keberadaan Laura.
Sementara Laura menundukkan pandangannya sambil melangkah mendekat ke teras depan, membuat Tuan William bergegas pergi meninggalkan mereka.
"Sayang kamu pasti dengar apa yang dikatakan suami bibi. Maaf ya, bibi tidak bisa ikut bersama kalian. Sampaikan saja salam bibi untuk ponakan tersayang bibi" ucap mama Johan tersenyum.
"Ya sudah bibi, aku juga tidak akan ikut liburan bersama Wulan dan lainnya" timpal Laura tersenyum kikuk.
"Tidak, kamu harus pergi liburan, ini kesempatan bagus untuk kamu dan Jo....." tersadar dengan apa yang diucapkannya. Nyonya Tias melanjutkan ucapannya " Maksud bibi, kamu bisa saling akrab dengan keluarga Wulan dan lainnya."
Nyonya Tias hampir saja keceplosan, karena rencana liburan mereka sudah ia rencanakan bersama Wulan.
Laura sempat mengerutkan keningnya mendengar ucapan terpotong mama Johan dan setelahnya dia pun menghembuskan nafasnya dengan kasar.
"Baiklah bibi, jika itu keinginan bibi. Aku akan tetap ikut liburan" ucap Laura tersenyum.
"Itu mobil Johan, dia datang untuk menjemputmu" nyonya Tias begitu antusias melihat mobil Johan berhenti di halaman.
__ADS_1
Laura segera mengalihkan pandangannya melihat ke arah mobil Johan yang terparkir di halaman. Lalu turunlah Johan dengan penampilan tidak seperti biasanya mengenakan setelan jasnya, kali ini dia mengenakan pakaian kasual.
Kemeja biru dipadukan celana panjang hitam dan tetap saja penampilannya sangat kharismatik sesuai umurnya. Johan lalu melangkah menghampiri mereka.
Buru-buru Laura segera mengalihkan pandangannya ke sembarang arah dan dengan gugup mengambil ponselnya dari dalam tas untuk dimainkan.
Nyonya Tias langsung menyambut putranya, melakukan cipika-cipiki dengan penuh kasih sayang seorang ibu dan tak lupa memeluknya.
"Mengapa Mama belum bersiap. Sebentar lagi kita akan berangkat" ucap Johan kepada mamanya.
"Sayang, Mama dan Papa tidak bisa ikut bersama kalian. Papa banyak kerjaan dan tak bisa ditinggalkan, jadi kamu saja ya" ucap mama Johan sambil melirik ke arah Laura.
"Baiklah jika seperti itu. Jaga diri Mama, jika terjadi sesuatu cepat hubungi Johan" ucap Johan tersenyum sambil berpamitan kepada mamanya.
Laura juga melakukan hal yang sama berpamitan kepada mama Johan, hingga mereka tak terlihat lagi dengan mobil yang membawa mereka melaju kencang meninggalkan kediaman orang tua Johan.
"Mereka sangat serasi. Kuharap Tuhan kembali mempersatukan mereka." ucap mama Johan dengan mata berkaca-kaca melihat kepergian mereka.
*
*
*
Lelaki itu tidak memberi jawaban dan hanya berdengus kesal mendahului Wulan masuk ke dalam mobil.
"Iih dasar aneh"omel Wulan.
Lelaki dengan wajah ditekuk itu adalah Fero. Kejadian beberapa hari yang lalu tepatnya di malam pertama mereka menimbulkan musibah untuknya.
Dimana Fero diam-diam ingin mengerjai Wulan malah dirinya yang dibuat apes oleh gadis belia itu. Aset berharganya menjadi tendangan bebas dari Wulan dan membuat seluruh tubuhnya KO malam itu juga.
Sampai sekarang Fero mendiamkan Wulan dan akan membalas perbuatan Wulan secepatnya. Hal yang perlu dia lakukan membuat rencana untuk balas dendam kepada gadis belia itu, supaya membuatnya kapok setengah mati.
Wulan masuk ke dalam mobil dan duduk tepat di samping kemudi. Tampak Fero begitu cuek mulai melajukan mobilnya menuju tempat yang akan mereka tuju.
"Mana yang lainnya. Apa cuma kita berdua yang akan melakukan honeymoon?" tanya Wulan penuh kecurigaan.
"Hemm" hanya deheman yang berhasil keluar dari mulut Fero.
"Kalau begitu, aku tidak jadi pergi. Jangan sampai kamu membuang ku di pulau hantu lalu meninggalkan ku seorang diri hingga aku mati mengenaskan dan arwahku kembali datang menghantuimu" ucap Wulan dengan sekali tarikan nafas.
Fero tersenyum tipis mendengar ucapan Wulan.
"Ya, bisa jadi aku melakukannya."
__ADS_1
"Maka dari itu aku tidak akan membiarkan mu melakukan hal itu. Karena ayahku bakal mencincang-cincang tubuhmu hingga hancur berkeping-keping" ancam Wulan.
Mengingat ayahnya mantan atlet taekwondo dan meraih banyak penghargaan di negaranya. Sabuk hitam sudah dipegang oleh ayahnya dan menjadi tingkatan tertinggi dalam teknik beladiri. Sudah dipastikan orang-orang akan berpikir dua kali jika ingin berurusan dengannya, apalagi ayahnya.
Jlekk
Fero menjitak kening Wulan cukup keras membuat gadis belia itu meringis kesakitan mengusap keningnya berulangkali.
"Berhentilah mengoceh, kurcaci" ketus Fero yang fokus mengemudikan mobilnya.
Wulan mengerucutkan bibirnya sambil mengepalkan tangannya dan berjanji pada dirinya untuk membalas perlakuan kasar Fero kepadanya.
Lain kali, wajah songongnya yang harus ku remas sampai kendor. Batin Wulan.
Sekitar 3 jam perjalanan melalui darat dan lautan, akhirnya rombongan mereka tiba di sebuah pulau eksotis dan pulau itu merupakan pulau milik keluarga Fero.
Tampak hamparan pasir putih di pinggir pantai begitu cantik dan siap untuk dijajal mereka. Hamparan pohon kelapa berjejer rapi dan siapa saja yang melihatnya begitu puas hanya dipandang mata.
Laura dan Wulan berlarian dengan gembiranya menginjakkan kakinya di pulau tersebut, pasir putih terasa nyaman menyentuh kaki nya. Sementara Johan dan Fero memilih berjalan memasuki villa menuju ke kamar mereka masing-masing.
Beda halnya kakak Fero yang juga pasangan pengantin baru yakni Ferdy dan Sisil tampak menikmati langit senja sambil berpegangan tangan dengan mesranya menatap matahari yang hampir saja turun ke peradabannya.
Penjaga Villa yang merupakan pasangan suami istri dan dua pelayan wanita yang bekerja di kediaman Fero tampak sibuk membawa koper mereka dan menaruhnya pada kamar mereka masing-masing.
"Wow, amazing" teriak Laura dan Wulan bersamaan yang sedang menikmati suasana pantai.
"Kak Laura, ayo kita kembali ke Villa. Lihatlah, sudah mau gelap."
Wulan menarik tangan Laura untuk kembali ke Villa dan Laura begitu setia mengikutinya.
"Ini kamar kak Laura dan kamar aku di sebelah sana berdampingan dengan kamar kak ipar" ucap Wulan sambil menunjuk pada bangunan Villa arah barat. "Dan itu, kamar kak John" tunjuk Wulan pada kamar yang bersebelahan dengan kamar Laura.
"Oke, aku masuk dulu" ucap Laura tersenyum dan Wulan bergegas ke kamarnya.
Semoga rencanaku bersama bibi berhasil di pulau ini. Batin Wulan.
Saat membuka pintu kamarnya, Johan tampak keluar dari kamarnya.
"Ini kopermu, aku tidak sempat membawa ke kamar mu" ucap Johan mendorong koper Laura.
"Ya, terima kasih" ucap Laura tersenyum sambil mengambil alih kopernya dari tangan Johan hingga jemari tangan mereka bersentuhan.
"Maaf, aku tak sengaja."
Laura segera membawa kopernya masuk ke dalam kamarnya. Sedangkan Johan tersenyum tipis menatap pintu kamar Laura yang tertutup rapat.
__ADS_1