Laura Dan Status Barunya

Laura Dan Status Barunya
Bab 70 Laura dan Status Barunya


__ADS_3

Laura tampak lega mendengar semua penjelasan dokter yang baru saja memeriksa kondisi anaknya. Hasilnya Jovin sudah diperbolehkan pulang oleh Dokter, membuat pasangan suami istri itu sudah bisa bernafas lega.


"Astaga, aku melupakan Jovan bersama Bi susternya di mobil" ucap Laura yang baru mengingat mereka karena saking paniknya melihat kondisi Jovin.


"Aku sudah meminta Mike untuk mengantarkan mereka pulang" timpal Johan dan tengah membantu Jovin minum.


"Oh syukurlah" ucap Laura yang tengah mengganti pakaian Jovin, karena anaknya sudah diperbolehkan untuk pulang.


"Hiks hiks hiks, tangan Jovin sakit mommy" rengek Jovin sambil memperlihatkan tangannya yang berbalut kain kasa. Air matanya menetes begitu saja membasahi pipi gembul nya, dengan lembut ibunya menghapus air matanya.


"Sini, biar mommy obati." Laura berucap lemah lembut dan lekas meniup telapak tangan anaknya.


Johan hanya memperhatikan mereka dengan tatapan sulit diartikan.


"Jovin harus rutin minum obat, biar cepat sembuh." Laura tersenyum sambil menatap manik matanya, hingga membuat Jovin merengek minta di gendong.


Laura segera menggendongnya dengan hati-hati sambil mengelus lembut punggung kecilnya. Jovin langsung menjatuhkan kepalanya di bahu ibunya dengan mata sendunya yang sepertinya mengantuk.


"Semuanya sudah selesai?" tanya Johan memastikan kepada Laura.


"Ya, aku sudah mengurus administrasinya." Jawab Laura.


"Jovin, sekarang kita harus pulang ke rumah" ucap Johan tersenyum menyentuh puncak kepala anaknya.


"Jovin haus mommy."


Jovin sesekali menguap dengan matanya yang terlihat sembab.


"Tunggu sayang, mommy ambil_"


"Biar aku saja." potong Johan cepat dan langsung bergerak mengambil botol air mineral di atas nakas lalu membantu Jovin minum.


Setelah itu, mereka bergegas keluar dari ruang pasien, lalu berjalan bersama-sama keluar dari rumah sakit.


"Berikan resep obatnya, biar aku saja yang tebus di apotik" ucap Johan membukakan pintu mobil untuk Laura. Kemudian Laura bergegas masuk dan duduk di samping kemudi dimana Jovin sudah berpindah posisi di pangkuannya.


Lalu Laura menyerahkan secarik kertas berisi resep obat yang harus ditebus. Johan mengambilnya dan melangkah ke apotek di sebrang jalan.


Pandangan Laura kembali tertuju pada anaknya yang sudah tertidur pulas dalam pangkuannya. Dia kembali mengusap lembut punggung kecilnya supaya tidurnya semakin nyenyak.


Laura yang menyandarkan punggungnya di sandaran kursi terhentak kaget saat mendapati Johan membuka pintu mobil.


"Dia kembali tertidur?" tanya Johan melihat jagoan kecilnya tampak nyaman berada di pangkuan ibunya.


"Hemm." Laura bahkan memberi kode untuknya agar tak banyak bicara.


Johan bergegas masuk ke dalam mobil dan segera menyalakan mesin mobilnya. Setelah itu, Johan mulai melajukan mobilnya meninggalkan tempat tersebut.


Disepanjang perjalanan hanya keheningan yang menyelimuti mereka tanpa adanya obrolan. Hingga mobil yang membawa mereka tiba di kediamannya.


Matahari tampak turun ke peradabannya dan langit mulai berganti malam. Lampu-lampu berwarna-warni disekitaran halaman rumahnya mulai bersinar terang untuk menyinari sekitarnya.

__ADS_1


Johan bergegas turun dari mobil dan bergerak cepat membukakan pintu mobil untuk Laura. Dengan hati-hati Laura kembali menggendong Jovin dan bergerak turun.


Supir pribadi nya segera menghampirinya, lantas Johan memberikan kunci mobilnya. Karena supir pribadinya bertugas memarkirkan mobilnya di garasi.


Johan melangkah masuk ke dalam rumah mengikuti langkah Laura yang tengah membawa Jovin ke kamar.


"Daddy" teriak Jovan dan berlari menghampirinya dan babysister nya bergerak mengikutinya.


Johan segera mempercepat langkahnya dan langsung berjongkok mensejajarkan tubuhnya dihadapan jagoan kecilnya.


"Daddy, bagaimana keadaan Jovin?" tanya Jovan dengan wajah sendunya.


"Jovin baik-baik saja. Mulai sekarang kamu harus menjaga saudaramu dengan baik" jawab Johan tersenyum.


"Jovan senang dengarnya, daddy. Jovan janji akan menjaga Jovin dengan baik" ucap Jovan dan wajahnya berubah ceria.


"Ya sudah, kamu main sama bi suster dulu. Daddy mau ke kamar" ucap Johan tersenyum.


Hanya anggukan kepala yang dilakukan Jovan, lalu berbalik badan mendekati babysister nya dan Johan kembali berjalan menuju kamarnya.


Saat membuka pintu kamar, pemandangan yang pertama kali dia lihat adalah istri dan anaknya. Dimana Laura begitu telaten mengganti pakaian anaknya dengan piyama tidur dan sama sekali tidak membangunkannya. Lalu Laura menyapukan minyak telon pada perut anaknya dengan lembut lalu menurunkan kembali bajunya dan terakhir memberikan ciuman di keningnya.


Johan hanya mampu tertegun melihat kasih sayang yang dicurahkan Laura kepada anaknya. Lalu Johan melangkah masuk dan tak lupa menutup pelan pintu kamarnya dan berjalan ke kamar mandi.


Hanya Johan dan Jovan yang menempati meja makan. Selesai makan malam, mereka bergegas kembali ke kamar untuk melihat keadaan Jovin.


Tampak Jovin masih saja tertidur pulas dalam dekapan ibu nya


"Mommy masih kenyang sayang." jawab Laura tersenyum yang tengah berbaring di atas tempat tidur, tepatnya mendekap Jovin.


Sementara Johan duduk di pinggir tempat tidur sambil menatap wajah Jovin yang tertidur pulas.


"Mengapa kau tak membangunkan Jovin untuk makan, hingga obatnya tak dia minum" ucap Johan dingin dengan tatapan datarnya.


"Aku tak tega membangunkannya. Biarkan saja, setelah dia bangun pasti akan meminta sesuatu" ucap Laura tenang.


"Kalau begitu kalian beristirahat. Aku akan tidur bersama Jovan di kamar sebelah." ucap Johan dan bangkit dari duduknya.


"Jovan mau tidur disini, bantu mommy jagain Jovin." ucap Jovan dan bergerak naik ke tempat tidur dan Johan segera membantunya.


"Daddy harus tidur disini biar lengkap. Bukankah biasanya, Jovin tidur sambil dipeluk mommy dan Jovan tidur sambil dipeluk Daddy" kekeh Jovan bertolak pinggang diatas tempat tidur.


Johan segera melirik Laura, pasalnya mereka tak pernah tidur sekamar. Biasanya Laura tidur bersama anak-anaknya dan Johan hanya membantunya menidurkan salah satu anaknya, setelah itu Johan tidur di kamar sebelah. Esok pagi baru dirinya kembali ke kamar agar anak-anaknya tak menaruh curiga kepadanya.


"Baiklah." Johan mengiyakan keinginan anaknya karena Laura sama sekali tak kunjung buka suara.


"Ayo kita ke kamar mandi untuk bersih-bersih sebelum tidur. Kamu harus sikat gigi, supaya gigimu bersih dan kuat." ucap Johan dan langsung membawa anaknya masuk ke kamar mandi.


Laura tersenyum tipis melihat kedatangan mereka dengan piyama tidur motif yang sama dan terlihat kompak. Apalagi wajah ayah dan anak itu mirip dan ibarat jelmaan ayahnya sendiri sewaktu kecil.


"Jangan berisik, Daddy, nanti Jovin bangun" bisik Jovan kepada ayahnya dan sang ayah segera mengangkatnya ke tempat tidur dan menurunkannya dengan hati-hati.

__ADS_1


Johan langsung membaringkan tubuhnya di sisi kiri tempat tidur bersama Jovan hingga pandangannya bertemu dengan Laura, membuat Laura memalingkan wajahnya.


Seketika Laura kembali teringat dengan kelakuan Johan di masa lalu tepatnya dua tahun yang lalu.


Flashback on


"Apa ini Johan?" Laura melemparkan sebuah berkas penting berisi riwayat penyakit ibunya.


"Laura, aku_"


"Sudah cukup, kau selalu saja membohongiku!" teriak Laura berderai air mata.


Kembali kekecewaan dia dapatkan. Laura berlari menuju pintu keluar untuk menenangkan dirinya di halaman depan. Namun langkahnya di hentikan oleh seorang wanita berpakaian minim diambang pintu. Laura langsung menatap intens wanita tersebut hingga mendengar suara para penjaga mendekat ke arahnya.


"Anda siapa?" tanya Laura dengan tatapan tajamnya.


"Kau lupa dengan wajahku Laura? Aku sedang mencari Johan Pradipta William" ucap Wanita itu dengan sinis nya dan Laura langsung mengenali wajahnya.


"Catherine."


"Ya, aku Catherine. Mana Johan, aku datang untuk meminta pertanggungjawaban darinya." Terlihat Catherine bertolak pinggang mengibaskan rambutnya.


"Apa yang sudah Johan perbuat kepadamu? sampai-sampai kau meminta pertanggungjawaban darinya" tegas Laura.


"Aku sedang mengandung anaknya" ucap Catherine dengan entengnya. Seketika kedua kaki Laura terasa lemas mendengar ucapan wanita dihadapannya.


"Cepat bawa nona ini pergi" ucap penjaga dan langsung menyeret paksa Catherine untuk segera pergi.


"Ingat Laura, aku sedang mengandung anak Johan." teriak Catherine dengan seringai licik diwajahnya.


Johan bergegas keluar karena mendengar suara keributan di luar.


"Untuk apa wanita gila itu datang ke kediamanku" ucap Johan melihat Catherine diseret oleh penjaganya.


"Apa kau menghamili Catherine? jawab Johan" kesal Laura dengan sorot mata tajam.


"Kau mempercayai ucapan gadis gila itu" Johan balik menatapnya.


"Karena kau seorang pembohong, tidak menutup kemungkinan jika ucapan Catherine benar. Bahkan semua orang sedang membicarakan skandalmu dengan seorang wanita" bentak Laura dengan amarah menggebu-gebu. "Aku ingin cerai darimu! lepaskan aku bersama anakku!" tambahnya dengan suara meninggi.


"Aku tidak akan menceraikanmu sampai kapanpun!" ucap Johan dengan nada penekanan dan bergegas masuk ke dalam mobilnya dan langsung menancap gas meninggalkan kediamannya.


Flashback off


Laura mengepalkan tangannya di bawah selimut jika teringat itu kembali.


Tidak hanya itu, pertengkaran mereka terus saja berlanjut hingga hubungannya semakin renggang, namun sosok anak-anaknya seperti sedang menyatukan kembali hubungan mereka menjadi keluarga harmonis.


Bersambung....


Terima kasih atas dukungannya teman-teman 🙏🤗

__ADS_1


__ADS_2