Laura Dan Status Barunya

Laura Dan Status Barunya
Bab 52 Laura dan Status Barunya


__ADS_3

Hari ini adalah hari pemakaman tuan Anthony Fernandez, Papa Laura. Semenjak proses pemakaman berlangsung hingga selesai dengan batu nisan sudah tertancap di atas tanah gembur bertuliskan nama mendiang sang Papa, Laura tak pernah berbicara sekalipun.


Air matanya tak mengalir lagi dari pelupuk mata indahnya, mengibaratkan air mata itu sudah mengering dengan hati yang sakit, hancur, rapuh, dan di torehkan luka yang begitu mendalam. Ulu hatinya begitu sakit digoreskan takdir dan seakan dicabik-cabik oleh kejamnya dunia.


Dunianya berhenti sesaat, kebahagiaannya hilang sekejap. Janji yang selalu dia torehkan untuk mendiang sang Papa belum terwujud. Tak ada yang mampu menyembuhkan kesedihannya saat ini yang begitu mendalam karena hilangnya sosok yang disayanginya.


Begitu halnya dengan sang Mama. Wajah cerianya berubah menjadi kesedihan. Semenjak bersama, dia tak pernah melihat kesedihan yang terpancar di raut wajah cantik wanita yang sudah melahirkannya di muka bumi ini. Walaupun sering menutupinya, tapi Laura mampu membacanya dan begitu kasihan melihat mama nya rapuh dan tak memiliki semangat hidup ditinggal sosok tercintanya.


Laura hanya mampu memandangi batu nisan bertuliskan nama mendiang sang Papa ditemani sang Mama yang juga tampak rapuh bahkan berkali-kali jatuh pingsan sebelum proses pemakaman itu berlangsung.


Tak henti-hentinya para pelayat memberikan bela sungkawa atas meninggalnya orang yang sangat berpengaruh di negeri ini. Hingga para pelayat satu persatu meninggalkan tempat pemakaman keluarga Anthony diiringi dengan turunnya hujan yang cukup deras mengguyur tempat tersebut.


Laura dan Mamanya tak bergeming di tempatnya membiarkan air hujan membasahi tubuhnya. Ibu dan anak itu hanya mampu saling merangkul dan menguatkan satu sama lain. Turunnya hujan sebagai saksi bisu atas kesedihannya mendalam ditinggal oleh orang terkasihnya.


Dari kejauhan Nyonya Tias dan Wulan hanya mampu berdiri tak bergeming di tempatnya, sementara air hujan sudah membasahi tubuh mereka. Sedari tadi mereka berdiri menatap proses pemakaman tersebut dan tak berani mendekat.


"Bibi, sebaiknya kita pulang" bujuk Wulan dengan mata memerah yang juga diselimuti kesedihan atas meninggalnya Papa Laura. Wulan menggenggam tangan bibi nya untuk memintanya pergi dari tempat tersebut


Tanpa menjawab, Nyonya Tias dengan berat hati melangkahkan kakinya meninggalkan tempat tersebut. Perasaan bersalah masih saja menyelimuti mereka diiringi langkah yang begitu berat menuju mobilnya. Hingga mobil mereka melaju meninggalkan tempat tersebut.


Sementara Laura tak bergeming di tempatnya yang sedang merangkul Mamanya. Sementara mata sendunya masih saja fokus menatap kuburan sang Papa, wujud nyata atas meninggalnya sang Papa.


Ajis dan Ijah yang merupakan pasangan suami istri dan sekaligus pekerja yang bekerja bertahun-tahun di kediaman keluarga Anthony bahkan sudah dianggap sebagai keluarga, tampak mendekat membawa dua payung hitam untuk sang majikan. Mereka bergerak cepat memayungi sang majikan.


Hingga Laura memutuskan untuk pulang karena melihat tubuh mamanya sedang menggigil kedinginan. Dengan langkah tertatih-tatih di temani Ijah, Laura memapah tubuh Mama nya menuju mobil yang terparkir tak jauh dari tempat pemakaman.


Dengan hati-hati Laura memasukkan mama nya ke dalam mobil dan mendudukkannya di kursi belakang lalu disusul dirinya. Ajis dan Ijah sudah menempati kursi depan. Mobil melaju meninggalkan tempat tersebut menuju kediaman keluarga Anthony.


*


*


*

__ADS_1


Sementara di tempat lain..


Tampak gedung hotel berbintang lima akan dilangsungkan pesta besar yakni sebuah pernikahan yang megah. Banyaknya karangan bunga bertuliskan ucapan selamat untuk pasangan yang akan segera menikah yakni Johan Pradipta William dan Catherine Monroe.


Beberapa tamu undangan mulai berdatangan memasuki ballroom hotel tempat diselenggarakannya acara saklar untuk mengikrarkan janji suci pernikahan.


Tuan William dan Tuan Endro menjadi tuan rumah pesta pernikahan anak-anaknya. Raut wajah mereka tampak sumringah mengobrol bersama dengan rekan bisnisnya. Karena sebentar lagi mereka akan menjadi keluarga.


Begitu halnya dengan tamu undangan lainnya yang begitu bahagia hadir ditengah-tengah pesta pernikahan yang megah tersebut.


Kedua pebisnis hebat itu hanya mampu mengirimkan karangan bunga sebagai tanda belasungkawa atas meninggalnya rekan bisnisnya tanpa ingin datang menghadiri proses pemakaman sebagai peristirahatan terakhir untuk rekan bisnisnya. Padahal salah satu dari mereka pernah menjadi besannya.


"Aku tidak ingin ada sedikitpun kesalahan dalam pesta pernikahan putriku" ucap Tuan Endro terdengar seperti mengancam.


"Tenang, semuanya akan berjalan lancar sesuai rencana kita. Aku sudah meminta anak buahku untuk menjemput paksa Johan yang sedang menjalani perawatan di rumah sakit. Dan sebentar lagi mereka akan datang. Tak ada yang bisa menggagalkan pesta pernikahan ini" ucap Tuan William tersenyum sinis.


"Baguslah, karena ini menyangkut kebahagiaan putriku" tegas tuan Endro tak main-main.


Sementara di rumah sakit tempat Johan menjalani perawatan. Tampak 5 orang lelaki berpakaian hitam berdatangan menyusuri lorong rumah sakit menuju ruang perawatan kelas VVIP khusus untuk pemilik rumah sakit terbaik itu.


Mereka terkejut mendapati ruangan tersebut sudah kosong tak berpenghuni.


"Kemana perginya tuan muda? cepat cari!" teriak salah satu dari mereka yang diyakini sebagai bos nya melihat ruangan itu kosong.


Seketika mereka berlarian mencari keberadaan orang yang dicarinya dan merupakan tuan mudanya.


"Sial, kita kehilangan tuan muda" ucap lelaki bertubuh kekar dengan rambutnya yang gondrong kepada rekannya.


"Periksa cctv rumah sakit ini, aku rasa tuan muda belum lama meninggalkan rumah sakit ini" ucap lelaki dengan wajah garangnya sambil mengepalkan tangannya dan merupakan bos mereka.


Seketika yang lainnya kembali bergerak ke ruang cctv rumah sakit tersebut. Mereka tidak boleh kehilangan tuan mudanya.


Sementara orang dicarinya tampak keluar dengan santainya dari rumah sakit tersebut dengan memakai pakaian perawat dan masker yang digunakan sebagai penutup wajahnya bentuk memperlengkap penyamarannya.

__ADS_1


Saat merasa aman dia pun bergegas masuk ke dalam mobil hitam yang terparkir di parkiran rumah sakit. Mobil melaju dengan kecepatan tinggi meninggalkan rumah sakit tersebut.


Johan melepas dengan kesal masker dan baju perawat yang dipakainya menggantinya dengan pakaian yang sudah disiapkan oleh sekretarisnya. Sedangkan sekretaris tampak fokus mengemudikan mobilnya.


"Kita akan kemana tuan Johan?" tanya Mike buka suara.


"Jalan saja, nanti aku beritahu" timpal Johan sambil mengancing kemejanya.


Mike hanya menatapnya sekilas lalu kembali menambah kecepatannya. Sedangkan Johan menopang dagu menatap lurus ke depan dengan pikiran melayang kemana-mana. Sepanjang perjalanan tak ada obrolan antara bos dan bawahannya.


"Bawa aku ke tempat peristirahatan terakhir Papa Laura" ucap Johan dingin sambil menghembuskan nafasnya dengan kasar.


"Baik tuan" ucap Mike diiringi anggukan kepala.


Tak berselang lama kemudian, mereka tiba di sebuah tempat perkuburan khusus keluarga Anthony yang berada dipinggiran kota. Tempat perkuburan itu begitu sepi tanpa adanya pelayat ataupun keluarga Laura. Johan mengedarkan pandangannya dan hanya mendapati sosok lelaki tua yang sibuk membersihkan area perkuburan.


Johan menghela nafas berat lalu melangkah mendekati kuburan baru dengan batu nisan bertuliskan nama mendiang Papa Laura, Anthony Fernandez.


Perlahan Johan membungkukkan badannya memberi hormat atas kedatangannya di tempat peristirahatan terakhir orang yang diseganinya.


Johan berjongkok menyentuh batu nisan itu dengan perasaan sesak di dada. Sementara Mike hanya mampu berdiri tak jauh darinya dengan pandangan tertunduk.


"Maaf, aku sudah membuatmu kecewa."


Johan berusaha menghapus air matanya yang tiba-tiba mengalir begitu saja.


"Percayakan kepadaku untuk menjaga putrimu. Aku akan membahagiakannya segenap jiwa dan ragaku" ucap Johan dengan tulusnya. Lalu Johan membuka paksa perban yang melilit di pergelangan tangannya dan menekan keras luka di tangannya hingga mengeluarkan darah segar.


Luka itu ia dapatkan akibat tendangan keras mendiang Papa Laura yang mengoyak pergelangan tangannya hingga lecet.


Setetes darah segar dipergelangan tangannya dia jatuhkan di atas batu nisan kuburan mendiang Papa Laura.


"Aku bersumpah untuk menjaga dan membahagiakan putrimu. Darahku menjadi saksi bisu sumpahku kepadamu."

__ADS_1


Ketulusan hati Johan dan sumpahnya di hadapan peristirahatan terakhir mendiang tuan Anthony Fernandez akan mengawali hidupnya.


Bersambung


__ADS_2