Laura Dan Status Barunya

Laura Dan Status Barunya
Bab 71 Laura dan Status Barunya


__ADS_3

Laura masih terjaga, sudah dini hari dia belum juga bisa tidur. Kenangan masa lalunya mulai menghantui pikirannya, tangannya dia gunakan menutupi matanya agar lekas tertidur. Namun, tetap saja tak berpengaruh baginya.


Sesekali Laura menghembuskan nafasnya kasar lalu menatap langit-langit kamarnya. Tiba-tiba saja dia tersentak kaget mendapati sebuah tangan mendarat di keningnya, Laura segera mengalihkan pandangannya untuk melihat sang empunya dan ternyata itu ulah Johan.


"Mengapa belum tidur. Apa yang sedang kau pikirkan?" ucap Johan menghadap ke arahnya.


Jemari tangan Johan mulai mengelus alisnya lalu bergerak turun mengelus pipinya.


"Singkirkan tanganmu" ketus Laura dengan tatapan melotot.


Johan hanya terkekeh melihat raut wajah Laura yang sedang menahan marah.


"Sampai kapan kau terus bersikap seperti ini, Laura." ucap Johan menarik tangannya dan berpindah mengelus punggung jagoan kecilnya.


Sementara Laura hanya diam dan tak menggubris ucapannya.


"Sampai kau tak lagi membohongiku." ucap Laura sambil bangun dan duduk di tempat tidur. Laura segera mengikat asal rambutnya lalu turun dari tempat tidur.


Johan menarik selimut menyelimuti tubuh anak-anaknya dan memindahkan guling tepat di samping anaknya sebagai penghalang. Lalu dia bergerak turun dari tempat tidur dan mengikuti langkah Laura yang berjalan keluar kamar.


Terlihat Laura mencuci tangan di wastafel dapur. Johan segera melangkah mendekatinya.


"Aku tidak ingin kesalahpahaman diantara kita terus menjadi-jadi." ucap Johan bersandar di dinding memperhatikan gerak-gerik istrinya.


"Kesalahpahaman, kau sendiri yang melakukannya. Kau bahkan diam-diam ingin menghancurkan perusahaan Papaku." tegas Laura tanpa menatap Johan sedikitpun.


"Ya, aku mengaku salah. Itu semua aku lakukan agar kau tak lagi bekerja dan fokuslah pada anak-anak." ucap Johan mengalah.


Hanya itu satu-satunya cara agar membuatmu berhenti bekerja, Laura.


"Tapi, caramu itu salah!" kesal Laura melap tangannya lalu duduk di kursi dan meminum segelas air putih yang sudah dia siapkan.


"Maaf, sekali lagi aku minta maaf." ucap Johan sembari duduk di sampingnya dan Laura langsung bangkit membuat Johan menarik kasar tangannya hingga tubuh Laura jatuh di pangkuannya.


Pandangan mereka bertemu dengan jarak dekat. Laura segera memalingkan wajahnya dengan jantung memompa cepat.


"Turunkan aku" ucapnya dingin. Sementara Johan memegang erat pinggangnya dan tatapan Johan begitu tajam mengarah padanya. Posisi mereka sangat dekat.


"Sampai kapan kau terus menjauhiku, ingat batasanmu sebagai istriku! berapa kali aku katakan bahwa skandal yang menimpaku sama sekali tak benar adanya dan wanita gila yang mengaku mengandung anakku, semua itu hanya kebohongan semata untuk merusak rumah tangga kita. Aku bahkan sudah membuktikan kebohongan wanita gila itu dihadapan mu, tapi kau masih saja tidak percaya kepadaku" ucap Johan dengan tegasnya.

__ADS_1


Kesalahpahaman dan tidak saling terbuka membuat masalah rumah tangganya tak ada habis-habisnya. Hanya masalah sepele kembali dibesar-besarkan hingga berkoar-koar mengundang pertengkaran.


"Ini sudah tiga tahun, Laura. Dan kau masih saja bersikap dingin kepadaku. Jika itu mau mu, aku bisa saja membuat skandal itu benar agar kau puas. Tidakkah kau melihat bagaimana tersiksanya diriku? aku laki-laki normal dan butuh belaian darimu. Aku bisa saja membayar wanita untuk menuntaskan hasratku, tapi, aku bukanlah lelaki bodoh yang hanya mementingkan hasrat belaka dan menghancurkan kebahagiaan anak-anakku."


Johan begitu marah mengatakannya, kesabarannya benar-benar diuji oleh istrinya. Sedangkan Laura hanya diam seribu bahasa mendengar ucapannya.


"Hari ini kau lengah menjaga anak-anak. Aku yakin jika kau hanya sibuk bertelepon dengan bawahanmu membahas tentang pekerjaan kalian bukan, sampai kau tak memperhatikan anakmu sendiri" ucap Johan memberi pukulan telak untuknya. "Kapan kau akan berhenti bekerja, Laura!" lanjutnya dengan suara meninggi.


Laura hanya mampu menunduk memegangi dadanya yang sesak jika mengingat kembali kejadian yang dialami anaknya.


"Mengapa kau tak bersuara! apa selama ini aku tak menanggung semua kebutuhanmu bersama anak-anak sampai kau harus bekerja keras. Apa perlu aku menghancurkan perusahaan mu!" ancam Johan dan Laura langsung menatapnya tajam.


"Cukup Johan, jangan terus menyalahkanku. Aku bekerja atas keinginanku sendiri dan demi masa depan anak-anakku. Aku tidak ingin berpangku tangan kepada pembohong besar seperti dirimu dan kau, bukan milik kami!"


"Ya, aku memang lengah menjaga anakku. Tapi, tidakkah kau bercermin, apa yang sudah kau lakukan selama ini kepada anak-anakku jauh lebih menyakitkan. Kau terus bekerja dan bekerja tanpa memperdulikan kami. Saat anak-anakku sudah pandai memanggilmu Papa, kau baru sadar dan mulai meliriknya bahkan ingin merebutnya dariku." terang Laura dengan mata berkaca-kaca.


Johan hanya mampu bungkam mendengar setiap ucapan Laura. Karena giliran Laura yang kembali buka suara.


"Seluruh skandal perselingkuhanmu bersama wanita terus saja menghiasi media. Hal itu mengusik ketenangan kami, dan kau tahu aku begitu sakit hati dan menyesal menikah denganmu!" ucap Laura dan bersamaan itu pula air matanya mengalir membasahi pipinya.


Bagai pisau belati menghantam keras jantung Johan mendengar ucapan Laura. Namun dia tidak akan menyerah untuk meluluhkan hati wanita yang dicintainya.


"Tetap saja itu mengusik ketenangan kami. Bahkan wanita lain mengaku-ngaku mengandung anakmu." Laura menghapus kesal air matanya.


"Aku bersumpah tidak pernah menduakanmu dan menghamili wanita gila itu, Laura. Wanita gila itu hanya ingin merusak rumah tangga kita. Dia terbukti mencelakai Papa dan aku mencebloskannya dalam penjara hingga kariernya hancur, selang satu tahun lamanya dia berhasil bebas karena diam-diam membayar jaminan dengan nilai tinggi. Maka dari itu, dia datang di kehidupan kita hanya untuk balas dendam. Percayalah" ucap Johan panjang lebar meluruskan kesalahpahaman antara dia dengan istrinya.


Laura menatap manik mata Johan untuk mencari kebohongan di sana namun tidak menemukannya.


"Aku minta maaf atas segala kesalahan yang pernah aku lakukan kepadamu. Kita akhiri perselisihan ini. Anak-anak sangat membutuhkan kita. Aku ingin hubungan rumah tangga kita harmonis seperti pasangan suami istri pada umumnya" ucap Johan dengan tatapan memohon sambil menangkup wajah Laura. Sedangkan Laura hanya menunduk diam, entah apa yang dipikirkannya.


Johan mendekatkan wajahnya ke wajah Laura. Tanpa basa-basi mendaratkan ciuman di keningnya dengan penuh cinta lalu memeluknya dengan erat merasakan tubuh yang dirindukannya. Dia mampu merasakan tubuh istrinya bergetar yang sedang menangis.


*


*


*


Sinar mentari pagi masuk tak permisi lewat cela jendela kamar mewah, membuat dua insan dibawah selimut menggeliat. Sayup-sayup mata mereka terbuka sambil mengumpulkan kesadarannya, mengingat semalaman mereka melakukan pertempuran hebat.

__ADS_1


"Morning" ucap lelaki bermanik hitam sambil membelai pipi chubby teman tidurnya yang seutuhnya menjadi miliknya.


"Sudah pagi ya" ucap wanita itu dengan suara khas bangun tidur dan kembali menguap.


"Hemm."


Lelaki bermanik hitam itu bergegas turun dari tempat tidur dan berjalan ke kamar mandi tanpa menghiraukan penampilannya yang polos tanpa sehelai benangpun menempel di tubuhnya.


Sementara wanita yang masih meringkuk di atas tempat tidur masih saja mengumpulkan kesadarannya dengan rambut acak-acakan bagai singa betina yang baru bangun.


Tubuhnya remuk habis dibantai suaminya semalaman, membuat wanita itu kesulitan mengubah posisinya hingga berkali-kali meringis kesakitan merasakan selangkangannya berdenyut nyeri saat mencoba duduk.


"Awwww"


"Burung bangau nya benar-benar mengambil mahkotaku" Wanita itu berucap pelan meringis kesakitan sambil menggigit bibir bawahnya yang juga bengkak akibat ulah suaminya.


Selimut yang membalut tubuhnya sedikit melorot hingga bekas-bekas merah hasil percintaannya semalam terpampang jelas.


"Astaga! aku seperti macan tutul korengan. Fero!" omelnya dengan rona wajah memerah menatap tajam ke arah pintu kamar mandi yang tertutup rapat.


Sementara lelaki yang dipanggil namanya tampak senyum-senyum berdiri di bawah shower hingga guyuran air membasahi tubuhnya dan membuatnya rileks.


Ya mereka adalah pasangan Wulan dan Fero yang habis merayakan sidang kelulusannya sekaligus melakukan ritual malam pengantinnya.


Saat kakinya berhasil menginjak lantai, lagi-lagi Wulan meringis kesakitan. Untungnya Fero yang baru saja keluar dari kamar mandi segera menghampirinya dan langsung menggendongnya masuk ke kamar mandi.


"Apa perlu aku memandikanmu sayang?" tanya Fero sambil meletakkan tubuh istrinya di dalam bathtub yang sudah dia isi air dan aromaterapi di dalamnya.


"Tak perlu, aku bisa sendiri" ketusnya sambil menyilangkan kedua tangannya di depan dada.


"Ya sudah, cepat bersihkan tubuhmu. Setelah itu, kita sarapan bersama. Karena aku harus kembali berangkat ke negara xxx siang ini untuk menyelesaikan seluruh pekerjaanku" ucap Fero sambil mengelus puncak kepalanya.


"Apa? setelah kamu mendapatkan milikku kamu akan pergi begitu saja? curang" kesalnya.


"Ya kira-kira begitu, ternyata istriku sangat perhitungan" ucap Fero tersenyum tipis dan melangkah keluar meninggalkan Wulan seorang diri di dalam kamar mandi.


"Hufff, nyebelin."


Wulan menggerutu kesal yang sedang menikmati ritual berendam nya.

__ADS_1


Bersambung


__ADS_2