Laura Dan Status Barunya

Laura Dan Status Barunya
Bab 39 Laura dan Status Barunya


__ADS_3

Laura duduk di sofa sambil memperhatikan suasana ruangan yang saat ini dia tempati. Terdapat rak buku beserta buku-buku tebal tersusun rapi di sudut ruangan dan Laura percaya itu bahwa Johan hobi membaca. Satu buah sofa beserta meja bundar yang sedang Laura duduki. Kembali Laura melirik ke arah brankas yang hampir menyerupai lemari dua pintu, lalu pandangannya beralih pada pintu berwarna silver.


Aku rasa dibalik pintu berwarna silver itu adalah ruang pribadi Johan. Batin Laura.


Lagi-lagi Laura memberikan penilaian terhadap ruangan Johan dan menurutnya ruangan Johan benar-benar kaku persis dengan pemiliknya.


Kembali Laura mengedarkan pandangannya hingga tertuju pada Johan yang tampak sibuk di kursi kebesarannya dengan tumpukan berkas di atas meja kerja nya. Laura diam-diam memperhatikan dengan seksama wajah tampan Johan karena mampu mencuri perhatiannya.


Terkadang Johan geleng-geleng kepala atau memijit pelipisnya saat memeriksa berkas di tangannya. Lelaki tampan itu merasa sedang diawasi oleh Laura dengan cepat mengangkat kepalanya menatap ke arah Laura. Dan benar saja Laura menjadi gelagapan yang seperti tertangkap basah.


Johan tersenyum tipis melihat raut wajah Laura buang muka hanya untuk menghindari tatapannya. Johan kembali beralih pada berkas penting ditangannya.


"Kau membawaku ke sini cuman untuk melihatmu berpusing-pusing dengan pekerjaan mu, huh!" ucap Laura buka suara memutar bola matanya malas untuk mengalihkan perhatian Johan.


"Aku tahu, kau pasti iri dengan kesuksesan ku, karena dunia kerjaku jauh berbeda dengan dunia kerjamu. Lihatlah dirimu hanya bekerja sebagai pelayan di kediaman orang tua ku, sedangkan aku akan tetap seperti ini, bisa mendapatkan apa yang kuinginkan" sinis Johan yang sama sekali tak beralih dari berkas penting nya.


"Teruslah merendahkan ku sampai mulutmu berbusa. Dunia kerja kita memang berbeda, tapi aku percaya itu suatu saat nanti aku bisa menyamakannya denganmu. Aku baru menyadari sekarang bahwa dunia kerja ibarat seperti hutan belantara, penuh resiko dan penuh lawan. Banyaknya halangan dan rintangan termasuk hewan buas di dalamnya yang akan menggagalkan ku ketika ingin menjelajah hutan belantara itu" ucap Laura dengan tatapan sendunya, membuat Johan tertegun sambil menghela nafas dan merasakan hal aneh melihat mantan istrinya.


"Hanya tersisa tiga bulan lebih aku bekerja di kediaman mu. Setelah itu, aku akan angkat kaki dan pergi sejauh mungkin demi bisa menikmati kehidupan bebasku. Dan kembali setelah aku menjadi wanita sukses" ucap Laura tersenyum sinis dengan penuh keyakinan.


Saat aku menduduki tingkat tertinggi di puncak kesuksesan, bersiap-siaplah aku akan kembali mengangkat kepala dan membalas semua perbuatanmu terhadapku. Batin Laura.


Setelahnya Johan tergelak tawa mendengar kalimat terakhir Laura.

__ADS_1


"Jangan terus bermimpi, kesuksesan tak mampu kau dapatkan tanpa adanya pengorbanan. Apa yang akan kau korbankan demi bisa menjadi sukses? jual diri atau mencari pria kaya diluaran sana?" sindir Johan menyeringai.


"Ya. Omongan mu ada benarnya juga. Tak mungkin kesuksesan bisa kita raih tanpa adanya pengorbanan. Aku rasa mencari pria kaya yang jauh lebih di atasmu cukup menguntungkan bagiku, supaya dengan gampangnya aku bisa membalas perbuatanmu" balas Laura dengan gamblangnya.


Johan tersenyum miring dan menutup berkas di tangannya. Lalu Johan bangkit dari duduknya dan tak lupa merapikan jasnya melangkah mendekati Laura.


"Begitu kah? Aku rasa kau harus menerima tawaranku kembali" ucap Johan menyeringai sambil membungkukkan badannya tepat di hadapan Laura.


"Aku sama sekali tak tertarik" ketus Laura sambil melipat tangannya di depan dada.


Johan langsung duduk di samping Laura membuat Laura refleks bangkit. Namun Johan kembali menarik tangannya hingga membuat keseimbangan tubuh Laura oleng dan jatuh di pangkuannya.


"Johan!" pekik Laura kesal dan berusaha bangkit. Namun Johan tetap memegang erat pinggangnya.


Sangat menarik. Batin Johan menyeringai.


"Ha ha ha, ini bukan lagi jam kantor. Seluruh karyawan ku sudah pulang. Jadi aku bebas melakukan apapun "ucap Johan diiringi gelak tawa dan benar saja Laura melirik ke luar gedung di mana langit sudah berganti malam.


"Bagaimana? kau sudah percaya."


Johan memajukan wajahnya ke wajah Laura dengan cepat Laura memukul dadanya dengan keras. Johan segera memegang kedua tangan Laura untuk berhenti memukulinya.


"Jangan macam-macam kepadaku, Johan!"

__ADS_1


Laura mendongak menatap Johan dengan tatapan tajam dan penuh keberanian. Johan menunduk menatap intens wajah Laura, hingga tatapan mereka bertemu.


Tak ada kebohongan dari manik mata keduanya, dimana keduanya diam-diam saling mengagumi atas wajah yang dimilikinya. Ya cantik dan tampan yang menjadi fokus utama dalam menggambarkan pikiran mereka.


Johan menelan salivanya dengan kasar memandangi bibir mungil Laura yang sudah berulang kali dia nikmati dan rasanya tetap saja sama semanis gula. Hal itu mampu membangkitkan gairah yang belum pernah dia alami sebelumnya.


Tanpa sadar, bibir Johan sudah menempel sempurna di bibir Laura memberikan ciuman dalam dan penuh perasaan. Membuat wanita cantik itu membulatkan matanya dan memberontak untuk lepas. Namun usahanya sia-sia karena sentuhan lembut Johan mampu membuatnya ikut hanyut.


Tubuh mereka menempel seperti lem, dengan kedua tangan Johan mendekap erat pinggang Laura, agar wanita itu tak terjatuh dari pangkuannya. Sementara Laura mengalungkan kedua tangannya di leher Johan.


Cukup lama mereka berciuman hingga mengakhirinya, karena mereka sama-sama membutuhkan oksigen lebih jika ingin kembali melakukannya. Dan benar saja kembali mereka berciuman dengan hasrat menggebu-gebu dan sulit untuk dikendalikan.


Tangan Johan mulai mengelus pinggang Laura, lalu turun mengangkat gaun Laura untuk mengelus paha mulusnya membuat pemiliknya menggeliat merasakan geli luar biasa dengan sentuhan tangan Johan.


Keduanya hilang akal dengan gelenyar aneh merasuki tubuhnya. Johan lalu berpindah menciumi leher jenjang Laura dan memberikan tanda kepemilikan di sana. Sedangkan Laura hanya mampu mencengkeram rambutnya dengan kuat, membuat Johan ingin melakukan hal lebih daripada itu.


Johan kembali mencium bibir manis Laura dan mengakses seluruh rongga mulut Laura tanpa henti bahkan tak ingin melepaskannya sedetik pun. Hingga membuat wanita cantik itu hampir kehabisan nafas dan langsung menarik keras rambut Johan untuk menghentikan aksinya.


Dan benar saja, mau tak mau Johan langsung melepaskan ciumannya. Deru napas mereka ngos-ngosan yang sedang mengontrol debaran jantungnya. Ditambah wajah keduanya memerah bak kepiting rebus yang sedang terbakar gelora dari dalam tubuh mereka dan harus dituntaskan sekarang juga.


"Jadilah wanita simpanan ku, aku akan mengabulkan semua keinginanmu" ucap Johan dengan tatapan penuh hasrat sambil menangkup wajah Laura.


Laura yang mendengar ucapan dari Johan seketika tersadar dari alam bawah sadarnya yang beberapa menit juga diselimuti hasrat.

__ADS_1


Bersambung......


__ADS_2