
Setelah kepergian tamu penting tuan William. Nyonya Tias begitu murka kepada sang suami.
"Mama tidak habis pikir Papa berkata kasar kepada Laura. Ingat Pa, Laura pernah menjadi bagian dari keluarga kita. Tidak seharusnya Papa_"
"Papa tidak ingin wanita itu kembali menggangu kehidupan John. Wanita itu bermuka dua dan hanya benalu kecil dalam keluarga kita"potong tuan William.
Juga pembawa sial di keluarga kita.
Bukan tanpa alasan Tuan William mengeluarkan kata-kata kasar untuk Laura. Dikarenakan beberapa hari belakangan tuan William mendapatkan kabar dari tangan kanannya bahwa putranya rela mengeluarkan uang fantastis untuk membayar segala denda dan ganti rugi untuk Laura Fernandez.
"Ya ampun Papa, Mama sangat kecewa sama Papa!" ucap mama Johan tak habis pikir dan berlalu pergi meninggalkan sang suami begitu saja.
"Pokoknya secepatnya Papa akan mengatur pertunangan John dengan Catherine" ucap tuan William memperdengarkan kepada istrinya.
Nyonya Tias sempat menghentikan langkahnya hingga berlalu masuk ke dalam kamar. Sementara tuan William berlalu masuk ke ruang kerjanya yang begitu kekeh pada pendiriannya. Sepertinya malam ini ia harus bermalam di dalam sana. Dikarenakan terjadi perang dingin antara dirinya dengan istri tercintanya.
*
*
*
Terdengar suara isak tangis seorang wanita di dekat kolam renang membuat Johan menghentikan langkahnya dan hanya perlu menatapnya dari jauh.
Johan hanya mampu diam membisu menatap punggung wanita yang pernah terikat dengannya.
"Jangan keluar lagi air mata bodoh. Apa kau tidak mendengar pemilik mu" racau Laura sambil menghapus sisa-sisa air matanya.
"Ingat Laura, jikalau kau sedih semua beban pikiran mu akan bertambah. Jikalau kau senang maka semua beban pikiranmu akan berkurang" ucap Laura sambil menarik senyum di bibirnya. Kalimat tersebut selalu ia ucapkan manakala ia sedang bersedih.
"Lupakan semua kejadian yang kau alami hari ini. Masih ada hari esok yang akan memberi mu kebahagiaan" ucap Laura dengan mata berkaca-kaca dan berusaha mengontrol emosinya.
"Aku jadi rindu dengan kucing kesayangan ku. Cinta, mei-mei, putih, mail dan satu lagi aku bahkan sudah melupakan namanya, huh huh..huh, maafin mami sayang karena sudah menelantarkan kalian" ucap Laura dengan wajah cemberut.
__ADS_1
Johan tersenyum mendengar curahan hati Laura. Dia tidak menyangka bahwa Laura bisa menghibur dirinya sendiri lewat kata-kata.
Terlihat Laura tampak kedinginan sambil memeluk tubuhnya sendiri. Ingin rasanya Johan menyematkan jas nya ke punggung Laura, namun Johan tak sanggup melakukannya karena egonya begitu tinggi.
Puas memandangi kolam renang, Laura lalu bangkit dari duduknya dan berjalan sempoyongan di pinggir kolam renang dengan hati yang rapuh.
Semua orang bisanya merendahkan dirinya saat ini yang sudah tak memiliki apa-apa. Ditambah statusnya sebagai seorang janda membuat orang berspekulasi memandang rendah harga dirinya yang sudah tak bermartabat. Bahkan mencap dirinya sebagai pelakor dan wanita pembawa sial.
Laura berjalan melamun dengan tatapan kosong tanpa arah tujuan hingga semakin berada di pinggir kolam. Selangkah lagi, ia akan kecebur ke dalam kolam dan benar saja....
Byuurrrrr
Laura terjatuh ke dalam kolam. Johan yang masih membuntutinya segera berlari dan langsung melompat ke dalam air untuk menolong Laura.
Johan berenang cepat dan langsung menarik tubuh Laura yang sudah berada di kedalaman. Kemudian Johan segera membawa Laura ke permukaan.
Dan mereka pun muncul di permukaan.
"Hah..hah, untuk apa kau menolongku! bukankah kau senang jika melihat ku sudah tiada" ucap Laura dengan tubuh menggigil kedinginan.
"Aku tidak akan membiarkanmu bunuh diri di kediaman orang tuaku, jadi jangan pernah lakukan itu" tegas Johan lalu menggendong tubuh Laura untuk membawanya naik.
"Turunkan aku, kau tak perlu kasihan kepadaku" ucap Laura meronta-ronta di gendongan Johan.
"Diam! kau selalu saja keras kepala" ucap Johan dengan nada satu oktaf.
Laura menjadi bungkam dan tak bersuara lagi. Johan segera membawa Laura ke kamarnya. Tubuh Laura begitu lemas hingga tak mampu berpegangan di tubuh Johan.
Laura terus berucap kedinginan yang sedikit hilang kesadaran. Johan menjadi panik melihat raut wajah Laura yang pucat pasih dengan tubuh menggigil kedinginan.
Tiba-tiba saja para penjaga berdatangan menyusuri lokasi mes pelayan, yang sedang melakukan patroli di malam hari. Dengan cepat Johan berbelok arah takutnya ketangkap basah oleh para penjaga.
Johan segera membawa Laura ke rumah utama, dimana kamarnya berada. Johan mengendap-endap seperti pencuri berjalan ke kamarnya, takutnya kedua orang tuanya atau yang lainnya memergokinya.
__ADS_1
Saat berada di depan pintu kamarnya, dengan cepat Johan membawa Laura masuk dan tak lupa mengunci pintu kamarnya. Lalu Johan membaringkan tubuh Laura di sofa.
Kepanikan jelas terpancar dari wajah Johan. Saat mendapati Laura menutup mata dengan tubuh terus menggigil kedinginan. Johan memegang pergelangan tangan Laura untuk mengecek denyut nadinya. Ada perasaan sedikit lega saat mengeraskan denyut nadi Laura.
Terlebih dahulu Johan mengambil handuk lalu membuka satu persatu pakaian basah yang melekat di tubuh Laura.
Setelah itu, Johan mengambil salah satu kemejanya lalu memakaikannya kepada Laura.
"Laura" ucap Johan sambil menepuk pipi Laura. Namun Laura hanya meracau Kedinginan.
Johan kembali masuk ke kamar mandi untuk mengganti pakaiannya terlebih dahulu. Tak lama kemudian, muncullah Johan dari balik pintu sudah mengenakan t-shirt dan celana pendek.
Johan semakin khawatir dengan kondisi Laura. Ia pun segera mengangkat tubuh Laura lalu membaringkannya di ranjang empuknya. Johan kembali menarik selimut menyelimuti tubuh Laura hingga sebatas leher. Lagi-lagi Laura meracau Kedinginan.
Kemudian Johan mencari obat di kotak obatnya, namun tak menemukan obat penurun panas dan sejenisnya.
"Eughhhhh.. dingin....." racau Laura menggigil kedinginan.
Lalu Johan menghubungi dokter pribadi keluarganya, namun panggilannya berada di luar jangkauan.
Johan mengusap wajahnya dengan kasar yang tak tahu harus berbuat apa sekarang. Tiba-tiba saja terlintas di pikirannya dengan satu cara yang dianggap cukup membantu untuk orang yang terkena hipotermia.
Johan langsung melepaskan t-shirt nya dan merangkak naik ke ranjang mendekati Laura. Johan segera menurunkan selimut yang menutupi tubuh Laura. Kemudian Johan dengan hati-hati melepaskan pakaian Laura, Johan hanya mampu menelan ludahnya dengan kasar melihat tubuh polos Laura terekspos di depan matanya.
Johan segera membuang jauh-jauh pikiran kotornya, yang harus ia lakukan sekarang adalah menyelamatkan Laura.
Kemudian Johan memeluk tubuh Laura dengan eratnya untuk memberikan kehangatan untuknya. Tak lupa Johan menarik selimut untuk menutupi tubuh mereka. Tanpa diduga, Laura tak meracau Kedinginan lagi, Johan menghela nafasnya.
Hanya itu satu-satunya cara untuk menyelamatkan Laura. Johan tak peduli seperti apa murkanya Laura esok hari jika mendapati keadaannya ya seperti itu.
Bersambung.....
Terima kasih atas dukungannya BESTie 🙏🤗
__ADS_1