Laura Dan Status Barunya

Laura Dan Status Barunya
Bab 74 Laura dan Status Barunya


__ADS_3

Semua keluarga sudah berkumpul di ruang tamu. Mereka tampak senang bisa berkumpul dan terlihat asyik mengobrol bersama yang masih diselimuti perasaan haru. Canda tawa dan keakraban satu sama lain terdengar di ruangan itu.


Dimana Laura dan Johan duduk bersama tanpa rasa canggung dan terlihat serasi yang sesekali mereka tertawa bersama. Untuk kedua anak kembarnya, Jovan dan Jovin duduk di pangkuan nenek nya dengan nyamannya, Wulan juga duduk disisinya yang kerap kali mencubit gemas pipi gembul mereka. Sedangkan Tuan William seperti biasa menempati kursi rodanya dan Tuan Teddy duduk di sofa singel bersebelahan dengannya.


"Mama sangat senang bisa berkumpul bersama kalian. Terutama cucu-cucu ku yang lucu ini" ucap Nyonya Tias dengan mata berkaca-kaca yang diselimuti haru lalu mencium pipi gembul cucunya secara bergantian.


Laura hanya mampu tersenyum melihat keakraban mereka.


"Kita akan melewati bersama dan saling support, semuanya akan baik-baik saja, Mama. Semoga Papa cepat sembuh" timpal Laura tersenyum sambil menggenggam tangannya. Setiap kali dia mendapatkan masalah pasti dia akan teringat ucapan mendiang ibunya 'Semuanya akan baik-baik saja'. Dan Nyonya Tias mengangguk sambil mengelus punggung tangannya, dimana dirinya saling menguatkan satu sama lain.


Pandangan Johan berpaling kepada istrinya lalu ikut menggenggam tangan wanita yang sudah menjadi ibu anak-anaknya. Laura terhentak dengan mata menyipit melihat tangannya digenggam oleh suaminya hingga pandangan mereka bertemu dan sudut bibirnya terangkat membentuk senyuman manis, membuat jantung mereka berdebar-debar kencang.


"Aduh mesranya ibu dan ayah si kembar." goda Wulan melihat keromantisan pasangan suami istri itu.


Buru-buru Laura memalingkan wajahnya dengan rona wajah memerah. Sementara Johan hanya mampu mengontrol debaran jantungnya.


Jovin langsung melirik ke arah ibunya lalu mengulurkan tangannya untuk berpindah kepada ibunya, bola matanya begitu sendu dengan tatapan memohon dan sangat menggemaskan, seolah ingin mendapatkan perlindungan dari ibunya.


Sementara Laura yang melihat itu dengan pelan melepaskan genggaman tangannya lalu mengambil Jovin dan mendudukkannya di pangkuannya.


"Mommy." bisik nya dengan bibir bergetar sambil melirik kearah kakeknya.


"Iya sayang." Laura mengerutkan keningnya melihat tatapan anaknya yang tertuju pada Papa mertuanya.


"Apa kakek penyihir?" tanyanya takut-takut lalu melipat bibirnya.


Laura yang mendengar ucapan anaknya hanya mampu membulatkan matanya dengan kening berkerut.


"Tidak sayang, Kakek bukan penyihir." jawab Laura tersenyum tipis. Ada-ada saja anaknya satu ini yang menganggap kakeknya penyihir.


"Lalu, mengapa wajah Kakek jelek dan menyeramkan, persis di kartun-kartun yang sering Jovin tonton pemerannya jahat" ucapnya pelan dan segera menyembunyikan wajahnya di dada ibunya saat melihat sorot mata kakeknya. "Jovin takut, Mommy" tambahnya lagi lalu mengubah posisinya memeluk erat ibunya.


Tangan Laura bergerak mengelus punggungnya untuk menenangkannya. Johan yang melihat gelagat anaknya hanya mampu mengerutkan keningnya dan meminta jawaban dari Laura, sedangkan Laura hanya menggeleng pelan bahwa tidak apa-apa.


"Jovin, tidak boleh berkata seperti itu. Jangan menilai seseorang dari wajahnya dan juga fisiknya. Kakek sedang sakit hingga berpengaruh pada wajahnya. Kakek orang yang baik dan tidak jahat serta bukan seorang penyihir. Jadi Jovin jangan lagi mengatakan hal itu, janji ya" ucap Laura menasihati anaknya dan Jovin tampak berpikir sebentar mendengar ucapan ibunya.

__ADS_1


"Baik Mommy, Jovin janji tidak akan mengulanginya lagi." ucapnya pelan dan ibunya tersenyum mendengarnya.


"Sebaiknya bawa anak-anakmu ke kamar. Sepertinya dia sudah mengantuk. Mama juga mau bawa Papamu ke kamar untuk beristirahat." ucap Nyonya Tias tersenyum.


"Iya Mama" ucap Laura tersenyum.


Nyonya Tias bangkit dari duduknya dan bergerak mendorong kursi roda suaminya. Sedangkan Laura bergerak membawa anak-anaknya ke kamar di bantu Babysister Dinda.


Sementara Johan, Wulan dan tuan Teddy ( ayah Wulan ) memilih mengobrol bersama membicarakan perihal kondisi ayahnya.


Hingga waktu makan siang pun tiba, mereka kembali berkumpul di meja makan guna makan siang bersama.


🍁🍁🍁🍁


Malam harinya.....


Laura sudah berada di dalam kamar bersama anak-anaknya. Sementara Johan sedang mengantar Paman dan sepupunya ke teras depan untuk melihat kepergiannya.


"Terima kasih, Paman sudah membantu Papa. Lain kali Paman harus berkunjung ke rumahku." ucap Johan tersenyum sambil merangkul Pamannya.


"Tentu Paman." balas Johan tersenyum kepada saudara ibunya.


"Kapan kalian akan berhenti mengobrol." omel Wulan mencodongkan kepalanya yang sudah berada di dalam mobil.


"Ya sudah, Paman pergi dulu." pamitnya dan bergegas masuk ke dalam mobil.


"Hati-hati di jalan." ucap Johan sambil melambaikan tangannya kearah mobil Pamannya yang sudah melaju meninggalkan kediaman orang tuanya.


Setelah memastikan mereka pergi, Johan bergegas masuk dan berjalan menuju kamarnya.


Cklek


Johan membuka pintu kamarnya dengan pelan dan tak lupa menutupnya kembali lalu melangkah masuk. Pandangannya langsung tertuju pada Laura yang sedang berbaring bersama anak-anaknya di atas tempat tidur.


"Kamu belum juga tidur." ucap Johan yang melihat Laura mengerjapkan matanya.

__ADS_1


"Hemm, seperti yang kamu lihat. Aku menunggumu." ucapnya tersenyum manis dan merasa malu dengan ucapannya sendiri yang menunggu kedatangan suaminya.


Johan mendekat kearah tempat tidur tanpa melirik lagi istrinya, karena jika terus menatap wajah istrinya, maka bisa saja meruntuhkan pertahanannya. Istrinya begitu mempesona, sementara dirinya hanya bisa menahan diri setelah sekian lama.


Sehingga dia hanya berinisiatif untuk tidak melihatnya dan menghentikan langkahnya tepat di samping tempat tidur untuk melihat wajah anak-anaknya yang sedang tertidur pulas.


"Tidurlah bersama anak-anak, aku akan tidur di ruang kerjaku, jika kau membutuhkan sesuatu masuk saja ke ruang kerjaku. Aku pasti terjaga karena harus mengecek beberapa email masuk di ponselku. Tadi Mike mengirim banyak pesan tentang urusan pekerjaan dan memintaku untuk mengeceknya." ucap Johan tanpa meliriknya dan membuat Laura merasa aneh karena diacuhkan.


Laura hanya diam membisu di atas tempat tidur sambil menatap punggung Johan yang melangkah masuk ke ruang ganti. Laura memilih duduk sambil menyandarkan tubuhnya dengan pandangan yang masih mengarah pada ruang ganti hingga dia kembali menangkap sosok Johan yang sudah berganti piyama tidur dan melangkah masuk ke ruang kerjanya.


"Mengapa perasaanku jadi bimbang begini. Aku bahkan tidak ingin dia mengacuhkan ku. Padahal, selama ini akulah yang begitu egois kepadanya." gumam Laura meremas ujung piyama tidurnya dengan mata berkaca-kaca. Dadanya begitu sesak yang baru saja menyadari akan ulahnya kepada suaminya.


Seketika ucapan Wulan terlintas di pikirannya.


'Aku harus segera pulang, kak Laura. Kasihan dengan suamiku, dia pasti sedang menungguku. Dia sudah bekerja keras di negara orang dan aku harus pulang untuk segera melayaninya dengan baik dan memuaskan hasratnya.'


Wajah Laura berubah pias mendengar ucapan Wulan tadi.


'Berhati-hatilah kak, banyak bibit-bibit pelakor bertebaran di luaran sana dan bisa saja merusak rumah tangga kita. Apalagi jika kita tak pandai-pandai memuaskan hasrat suami di ranjang. Hehehe, aku rasa kakak lebih ahli dalam urusan itu'


Deg!


Pikiran Laura mulai gusar dan tak karuan, hatinya ikut bergemuruh di dalam sana, semua ucapan Wulan terngiang-ngiang di pikirannya. Laura mengalihkan pandangannya menatap wajah anak-anaknya yang tertidur pulas. Seketika jantungnya berdegup kencang, entah apa yang terjadi.


Sementara Johan di dalam ruang kerjanya terlihat mengusap wajahnya dengan kasar yang sedang bersandar di kursinya. Wajah cantik istrinya terus saja terngiang-ngiang di pikirannya.


Hingga dia buang jauh-jauh pikiran yang mengarah pada istrinya. Dia bergegas menyalakan komputernya, lalu mengecek file masuk di ponselnya. Johan terus bergelut dengan pekerjaannya, dia tak menyadari pintu ruangannya terbuka lebar.


Hingga menampilkan sosok wanita cantik dengan balutan piyama tidur seksi berdiri di ambang pintu, rambut panjangnya sebatas pinggang dibiarkan tergerai indah, sehingga saat melangkah rambut panjang wanita cantik itu terus melambai-lambai di balik punggungnya.


Johan langsung mengalihkan pandangannya saat mencium aroma tubuh khas seseorang yang sangat dikenalinya dan selalu meruntuhkan dunianya. Hingga Johan hanya mampu membulatkan matanya melihat sosok wanita dicintainya.


"Laura." ucapnya tak berkedip melihat wanita cantik berdiri di hadapannya.


Bersambung....

__ADS_1


Terima kasih atas dukungannya teman-teman 🙏🤗


__ADS_2