
"Mommy, Daddy." Anak kembarnya terkejut melihat ibu dan ayahnya berada di ruangan yang sama.
Sementara Laura hanya melirik tajam Johan yang sedang berdiri di sampingnya, dimana tatapannya meminta Johan untuk segera pergi.
Johan lalu berjongkok mensejajarkan tubuhnya dengan tubuh kecil si kembar.
"Daddy, akan berangkat ke kantor. Kalian tak boleh nakal dan harus menurut sama mommy " ucap Johan tersenyum sambil mengelus puncak kepala anaknya.
"Oke daddy " ucapnya kompak dan Johan tersenyum lalu mencium pipi gembul mereka yang sangat gemesin.
"Aku berangkat" pamitnya pada Laura dan Laura hanya mengangguk mengiyakan ucapannya dengan rona wajah memerah. Kemudian Johan melangkah menuju pintu keluar.
"Sini sayang sama mommy" Laura segera mengambil alih anak-anaknya dari babysister nya.
"Mommy, bukankah hari ini mau ajak kami jalan-jalan" ucap Jovin sambil memeluk bola nya.
"Tentu sayang, mommy ambil tas dulu. Kalian sama bi suster" ucap Laura tersenyum.
"Horeee, kita jalan-jalan" ucapnya antusias sambil melompat-lompat.
"Bi suster, tolong bawa anak-anak ke teras depan. Saya mau ambil tas di kamar" ucap Laura tersenyum pada babysister anak-anaknya.
"Baik nyonya " ucap kedua babysister dengan patuhnya dan segera membawa anak majikannya ke teras depan.
Sembari melihat kepergian anak-anaknya, Laura segera mengetik pesan untuk Pak Rival, orang kepercayaannya di kantor bahwa dirinya tak bisa mengecek file yang baru saja dikirimkan untuknya. Berhubung karena ia harus keluar untuk mengajak anak-anaknya jalan-jalan.
Walaupun tak beraktivitas dengan normal di kantor, namun Laura masih memiliki peranan penting untuk perusahaan yang dipimpinnya. Laura tetap bekerja dari rumah dan masih terus memantau perkembangan perusahaannya dari rumah dengan cara mencuri-curi waktu senggang. Karena selain bekerja, dia pun harus mengurus anak-anaknya dan juga suaminya.
Untuk pertemuan dengan para klien atau rapat penting di perusahaannya, Laura tak pernah lagi menghadirinya, hampir sebagian urusan perusahaan dia percayakan kepada orang kepercayaannya.
Setelah berhasil mengirim pesan pada pak Rival Laura bergegas ke kamar untuk mengambil tas dan dompetnya. Kemudian barulah menemui anak-anaknya di teras depan.
"Saatnya kita berangkat" ucap Laura mengagetkan anak-anaknya yang tengah memperhatikan tukang kebun memangkas tanaman di halaman yang berada dalam pengawasan babysister nya.
Sedangkan salah satu babysister sedang menyalakan mesin mobilnya, karena babysister yang bernama Dinda selalu menjadi supir jika sewaktu-waktu majikannya akan keluar.
"Mommy, ngagetin aja" ucap Jovin cemberut sambil menatap tajam ibunya. Laura tak bisa menahan tawanya melihat raut wajah menggemaskan anaknya.
__ADS_1
Tanpa basa-basi Laura mencium pipi gembul mereka dengan gemesnya.
"Iya maaf, ya sudah kalau begitu tak jadi deh jalan-jalannya" ucap Laura tersenyum yang mencoba mengerjai mereka.
"No mommy!" ucapnya kompak dan segera menarik tangan ibunya untuk segera mendekati mobil yang sudah siap membawa mereka pergi.
Laura langsung menggendong Jovan terlebih dahulu lalu memasukkannya ke dalam mobil dan mendudukkannya di kursi penumpang. Kemudian beralih menggendong Jovin dan mendudukkannya di samping Jovan, lalu disusul dirinya masuk ke dalam mobil dan duduk samping anak-anaknya.
Sementara kedua babysister duduk di kursi depan dan salah satu dari mereka yang bertugas mengemudikan mobilnya. Mobil yang membawa mereka mulai melaju meninggalkan kediamannya menuju salah satu mall milik Laura.
Sepanjang perjalanan mereka bernyanyi bersama di dalam mobil mengikuti lirik lagu yang sering mereka dengarkan di dalam mobil. Raut wajah si kembar begitu bahagia setiap kali diajak jalan-jalan oleh ibunya, begitu halnya Laura dan seketika beban pikirannya terlepas begitu saja hanya melihat raut wajah bahagia anak-anaknya.
Laura lebih senang menghabiskan waktu bersama anak-anaknya, dibandingkan harus mengajak Johan ikut bersama mereka yang hanya membuatnya kesal karena Johan selalu bertindak sesuka hatinya. Itulah sebabnya Laura tak pernah menerima ajakan Johan setiap kali mengajaknya keluar bersama.
*
*
*
Terlihat wanita dengan gaya rambut kuncir dua berpenampilan rapi namun terkesan nyentrik, baru saja keluar dari ruangan yang membuatnya tegang setengah mati, seolah ruangan di dalam sana untuk uji nyali menjalani sidang kematian yang berada di medang tempur.
Penampilannya cukup mencuri perhatian mahasiswa yang berpapasan dengannya. Berkemeja putih dengan dua pita besar berwarna merah di kerah kemejanya dan untuk bawahannya rok hitam sebatas lutut dengan sepatu pantofel menghiasi kaki besinya.
Karena hampir semua mahasiswa dan dosen mengenalnya sebagai kaki besi. Hal itu terjadi kejadian dua tahun yang lalu dimana tendangannya mampu mematahkan tulang-tulang kelima mahasiswa yang berani mengusiknya, dari kejadian itu dia pun di juluki kaki besi. Dan akibat kejadian itu pula hampir saja dirinya di DO dari kampus tempatnya menuntut ilmu. Untungnya masih ada sosok suami yang senantiasa membantunya membereskan masalahnya.
Raut wajah wanita berkuncir dua itu tampak lega sambil memeluk tas besar berisi perlengkapannya yang habis digunakan tempur. Rambutnya yang di kuncir dua terus saja melambai-lambai menyerupai ekor kuda setiap kali melangkah. Wanita berkuncir dua itu adalah Wulan istri Fero.
Saat melangkah di koridor kampus, langkahnya terhenti saat mendengar bunyi terompet yang bersahut-sahutan diikuti rombongan orang berbaju hitam yang berjalan menghampirinya.
"Ayah" ucapnya dengan mata berkaca-kaca yang mampu menangkap sosok ayahnya di kanca terdepan dari rombongan tersebut.
"Bagaimana sayang hasil sidang ujian akhirmu?" tanya Ayahnya dan terlihat harap-harap cemas yang lebih dulu memberikan kejutan untuk putrinya dengan membawa rombongan anak didiknya.
"Ayah...aku lulus" teriaknya keras yang menghebohkan seisi kampus sambil berlari menghampiri ayahnya. Dan tanpa basa-basi dia langsung melompat memeluk ayahnya.
"Uuuhhh, hampir saja pinggang ayah encok" ucap ayahnya tersenyum sambil menopang tubuhnya agar tak jatuh.
__ADS_1
"Selamat sayang atas gelar barumu. Semoga ilmu yang kamu dapatkan bisa bermanfaat untuk orang banyak" ucap ayahnya tersenyum bahagia.
"Terima kasih ayah" ucap Wulan tersenyum dan segera melepaskan pelukannya.
Sang ayah segera memakaikan selempang emas untuknya sebagai lambang kelulusannya lalu memasang mahkota berwarna emas di kepalanya, membuat Wulan berkaca-kaca melihat kejutan demi kejutan yang diberikan oleh ayahnya.
Suara terompet kembali berbunyi saling bersahut-sahutan diikuti dua anak remaja yang merupakan anak didik ayahnya kembali memberikan buket bunga mawar merah untuknya.
"Ahhh aku terharu ayah" ucap Wulan terharu menerima buket bunga itu. Dia berusaha menahan air mata haru nya agar tak tumpah hingga Wulan kembali melompat ke tubuh ayahnya. Dan sang ayah dengan sigap menggendongnya.
"Tak masalah jika pinggang ayah encok, yang jelas putri ayah sudah jadi sarjana" canda ayahnya dan Wulan hanya berpegangan erat memeluk leher ayahnya.
Dimana sang ayah mulai berjalan menuju parkiran sambil menggendongnya diikuti oleh rombongannya yang sedang melakukan iring-iringan.
Sementara sepasang mata tersenyum memperhatikannya di parkiran yang belum keluar dari tempat persembunyiannya. Saat melihat rombongan Wulan mulai mendekat, orang itu segera turun dari mobilnya.
"Lihatlah nak, siapa yang datang" goda ayahnya melihat orang yang dikenalinya memegang buket bunga.
Wulan langsung mengalihkan pandangannya hingga matanya membulat sempurna melihat orang yang beberapa tahun meninggalkannya. Dia lantas bergegas turun dari gendongan ayahnya.
Pandangan mereka bertemu hingga memilih untuk saling tatap-tatapan sejenak. Tiga tahun lebih bukanlah waktu yang singkat untuk mereka berpisah sementara.
"Bukankah kamu tidak ingin pulang menemuiku seperti bang Toyib" ucap Wulan menyindir orang itu.
"Aku hanya bercanda dan aku bukan bang Toyib yang tak pulang-pulang. Dimana sosok gadis belia yang selalu merindukan ku" ucap orang itu tersenyum dan tak lain adalah Fero.
"Iih geer, siapa juga yang merindukanmu" kesal Wulan sambil memutar bola matanya jengah.
"Sudahlah, cepat bawa istrimu pergi" timpal Ayah Wulan sambil bertolak pinggang.
"Aaaaaahh"
Tubuh Wulan sudah diangkat oleh Fero persis membawa karung beras.
"Turunkan aku" kesal Wulan meronta-ronta sambil memukul punggung Fero dan sang ayah hanya tersenyum melambaikan tangannya melihat kepergian mereka.
Bersambung...
__ADS_1