
Sepanjang perjalanan pulang, baik Laura maupun Johan sama-sama diam entah apa yang dipikirkannya. Mereka tampak canggung tanpa membuka pembicaraan. Laura fokus menatap jalanan yang cukup padat dengan lamunan dan Johan fokus mengemudikan mobilnya.
Laura terus melamun di samping kemudi dengan kepala tertunduk. Pikirannya masih saja tertuju pada kejadian tadi, dimana dirinya hampir saja melakukan hubungan terlarang dengan Johan.
Untungnya ucapan Johan mampu menghentikan segalanya. Laura kembali tersadar apa yang mereka lakukan. Ditambah ucapan lelaki menyebalkan itu seperti boomerang baginya.
'Jadilah wanita simpanan ku! Kau akan mendapatkan segalanya'
'Jadilah wanita simpanan ku! Kau akan mendapatkan segalanya, rumah, hotel, mobil, perusahaan dan apapun itu yang kau inginkan. Termasuk perusahaan Fashion queen akan menjadi milikmu'
Kalimat tersebut terus terngiang-ngiang di kepala Laura hingga mobil yang membawanya tiba di kediaman orang tua Johan.
Johan menghela nafas melirik ke arah Laura yang masih saja melamun.
"Kita sudah sampai" Johan menegur mantan istrinya.
"Ya" Laura begitu acuh sambil membuka sabuk pengamannya lalu membuka pintu mobil untuk bergegas turun.
Kembali Johan memegang tangannya untuk memintanya agar tidak terburu-buru pergi.
"Pertimbangan kembali ucapanku Laura. Jika kau tidak ingin melakukannya, maka kau akan tahu akibatnya" ancam Johan dan tak ingin melepaskan mantan istrinya.
"Maaf Johan, aku tidak bisa menerima tawaranmu. Walaupun kau memintaku untuk kembali rujuk demi bisa membuktikan kejantanan mu, aku tetap tidak bisa melakukannya" ucap Laura dengan sedikit sindiran halus untuk mantan suaminya lalu bergegas turun dari mobil.
Johan mengepalkan tangannya dan dasboard mobilnya menjadi amukan kemarahannya.
"Arrgghhh, kita lihat saja seberapa kuat kau bertahan dengan kehidupan menyedihkan mu, Laura!" kesal Johan dan kembali meninju dasboard mobilnya.
Dia menawarkan sesuatu yang menguntungkan untuk mantan istrinya demi bisa terus berada disampingnya, namun kenyataannya mantan istrinya begitu keras kepala dan menolak tawarannya secara mentah-mentah.
Sementara di kediaman keluarga Fero.....
Sepasang pengantin baru tampak uring-uringan berada di dalam kamar yang didominasi warna silver. Mereka tampak menjaga jarak, sang istri duduk selonjoran di sofa sambil memainkan ponselnya sedangkan sang suami berada di atas ranjang sambil menyandarkan punggungnya di kepala ranjang dan sibuk dengan laptopnya.
Setelah beberapa menit berlalu mereka kompak menyudahi aktivitasnya masing-masing. Pasangan pengantin baru itu tidak lain adalah Wulan dan Fero.
"Hoaaamm" Wulan menguap sambil meregangkan otot tangannya, membuat Fero menegurnya.
"Kamu bisa tidur di sofa yang kamu tempati" ucap Fero dan berlalu masuk ke ruang kerjanya untuk menyimpan laptopnya.
"Apa? tidur di sofa. Enak aja, ini tidak bisa dibiarkan. Sekali menginjak maka dia akan terbiasa untuk melakukannya" ucap Wulan sambil melipat kedua tangannya di depan dada.
__ADS_1
Sedikit berpikir keras, akhirnya Wulan menyeringai tak jelas. Wulan bangkit dari duduknya dan melangkah mendekati ranjang.
"Saatnya tunjukkan bakat mu Wulan. Buat laki-laki darah tinggi itu begitu ilfil kepadamu" gumamnya dengan seringai licik diwajahnya sambil menyimpan ponselnya di atas nakas.
Wulan menghempaskan tubuhnya di tengah-tengah ranjang lalu merentangkan kedua tangannya demi bisa mengambil banyak tempat, agar Fero tidak tidur seranjang dengannya.
"Emmm nyaman juga, aku suka aroma parfum laki-laki darah tinggi itu. Huh bagaimana jika aku mengerjainya dulu ya" ucapnya cekikikan sambil menarik selimut untuk menutupi tubuhnya.
Tak berselang kemudian, Fero muncul di balik pintu dan tatapannya begitu tajam mengarah ke tempat tidur dimana sosok wanita yang menjadi bulan-bulanan balas dendamnya saat ini.
Aku akan membuatmu menderita dengan pernikahan ini. Batin Fero.
Fero melangkah mendekati ranjang, dimana sosok wanita yang dibencinya sedang terlelap dibalik selimut sebatas leher.
"Hei bangun, disini bukan tempatmu" ketus Fero sambil mengguncang lengan Wulan untuk menyuruhnya bangun.
Wulan yang berpura-pura tidur terus memejamkan matanya, membuat Fero semakin kesal melihatnya.
"Woi bangun!" Fero mengeluarkan suara bass-nya sambil menepuk pipi chubby Wulan. Hasilnya tetap saja sama, Wulan masih saja berpura-pura tidur, dengan kesal Fero menarik selimut yang menutupi tubuh Wulan hingga dia pun terlonjat kaget dan mengumpat tak jelas mendapati Wulan hanya mengenakan dalaman.
"Sial, dia sengaja ingin memancing amarahku" kesal Fero lalu melenggang pergi keluar kamar.
Wulan yang merasa aman segera membuka matanya dan langsung tertawa cekikikan.
Wulan mendudukkan tubuhnya dan kembali memakai lingerie seksi yang disembunyikan di bawah bantal. Setelah selesai memakainya, tiba-tiba raut wajahnya menjadi masam. Dia tidak menyangka akan takdirnya saat ini yang berujung menikah muda.
Bahkan dia belum sempat-sempatnya melakukan registrasi di salah satu universitas terbaik di kotanya. Begitu terobsesi dengan hadiah satu unit mobil yang akan diberikan oleh bibi nya membuatnya harus berujung menikah muda dengan laki-laki super menyebalkan dengan umur jauh di atasnya.
"Hufff, ini tak akan lama. Aku bisa melaluinya" gumamnya.
Pintu kamar terbuka lebar menampilkan sosok Fero sedang bertolak pinggang dengan raut wajah datarnya. Wulan menjadi gelagapan dan langsung merebahkan tubuhnya terlentang dan langsung menarik selimut untuk menutupi tubuhnya hingga sebatas leher.
"Prokkk, prokkk,..." Fero bertepuk tangan masuk ke kamar melihat aksi Wulan. Fero tak lupa menutup pintu kamarnya dengan keras dan segera menguncinya.
"Menyingkirlah di atas sana, sebelum kesabaran ku habis" ucap Fero dingin seolah ingin memakan Wulan hidup-hidup.
"Tidak mau, aku berhak di atas sini!" kekeh Wulan pada pendiriannya.
Fero berdengus kesal lalu ikut berbaring di samping Wulan.
"Apa yang kau lakukan, menjauh lah!"
__ADS_1
Wulan langsung mendorong tubuh Fero menggunakan kedua tangannya.
"Hei! ini kamarku dan aku berhak tidur di sini"
Fero mencekal kedua tangan Wulan membuat gadis belia itu langsung menendang lututnya.
"Awww, gadis nakal!" kesal Fero dengan tatapan tajam.
Wulan malah menjulurkan lidahnya membuat Fero semakin kesal saja, Fero membuka bajunya dan melemparkannya sembarangan lalu menindih tubuh kecil Wulan. Pandangan mereka bertemu, tampak raut wajah Wulan ketakutan membuat Fero menyeringai licik.
Fero mendekatkan wajahnya untuk menakut-nakuti gadis belia itu. Dan benar saja Wulan memejamkan matanya dengan dada terasa naik turun menempel permukaan kulitnya.
"Aku ingin meminta hak ku sebagai suami mu" bisik Fero tepat di telinga Wulan. Hingga membuat tubuh mungil gadis belia itu gemetar ketakutan.
Setelahnya terdengar suara laki-laki mengeram kesakitan dan sudah terkapar di lantai.
*
*
*
"Sayang sini, Wulan mengajakmu liburan bersama, katanya mau rayakan honeymoon bareng keluarga suaminya" ucap mama Johan tersenyum lebar meminta Laura duduk di sampingnya.
"Maaf bibi, bukannya aku menolak ajakan Wulan, tapi takutnya keberadaan ku mengganggu bulan madu mereka." Laura mengatakannya dengan hati-hati takutnya menyinggung perasaan wanita paruh baya itu.
"Loh, kok kamu berpikiran seperti itu. Wulan begitu senang mengajakmu liburan dan bibi mengizinkan mu. Kita sekeluarga akan liburan bersama. Ayolah, sekali-kali kamu ikut liburan bersama kami" ucap mama Johan dengan antusiasnya.
Laura berpikir sejenak dan dia tidak ingin mengecewakan mama Johan yang begitu antusias untuk mengajaknya liburan bersamanya.
"Baiklah bibi, aku akan ikut liburan bersama kalian" ucap Laura tersenyum manis dan senyumnya mampu membuat sosok lelaki tampan yang sedang berdiri tidak jauh darinya menyunggingkan senyuman.
Nyonya Tias langsung memeluk Laura dan sangat bahagia mendengar ucapan Laura.
Maafkan bibi Laura, bibi harus egois demi bisa menjadikanmu kembali menantu di keluarga kami. Bibi pikir dengan cara seperti ini mampu menentang keras rencana suami bibi.
"Ya sudah, sebaiknya kamu bersiap-siap, sore hari kita sudah berangkat ke suatu tempat yang menjadi tempat liburan kita" ucap mama Johan dengan bahagianya.
Laura hanya tersenyum dengan anggukan kepala. Dia tak berani menolak permintaan wanita paruh baya itu yang sudah dia anggap sebagai ibunya sendiri.
Bersambung...
__ADS_1
Terima kasih atas dukungannya teman-teman 🙏🤗