Laura Dan Status Barunya

Laura Dan Status Barunya
Bab 54 Laura dan Status Barunya


__ADS_3

"Mama, bagaimana bisa Papa mewariskan semua kekayaan dan kerajaan bisnisnya untuk Laura? Bukankah Laura sudah tidak menjadi anggota di keluarga ini?" tanya Laura dengan mata berkaca-kaca. Sedari tadi dia bungkam dan hanya fokus mendengar ucapan tuan Vincent tentang warisan Papanya.


Apalagi sebelumnya Laura pernah cekcok dengan mendiang sang Papa tentang dirinya yang sudah tercoreng dari anggota keluarganya.


"Nak, kamu tetap menjadi anggota keluarga kita, kamu penerus keluarga dan menjadi masa depan Papa dan Mama. Semua yang kamu ketahui selama ini hanyalah kebohongan semata, Papa melakukannya karena sebuah keadaan yang memaksa" ucap Mama Laura sambil menundukkan pandangannya menjelaskan perihal kebohongan yang mereka tutupi.


Laura langsung berhambur memeluk Mamanya merasakan kehangatan seorang ibu yang tak bisa tergantikan dengan apapun. Nyonya Miranda menutup rapat-rapat mulutnya agar tak mengeluarkan suara kesedihannya. Wanita paruh baya itu hanya mampu mengelus punggung putrinya dengan penuh kasih sayang.


"Kamu adalah kebanggaan Papa dan Mama" ucap Mama Laura dengan perasaan sesak di dada dan berusaha meyakinkan dirinya untuk tak menangis di depan putrinya.


"Maaf, Laura belum bisa menjadi kebanggaan Papa dan Mama. Laura belum sepenuhnya membahagiakan kalian. Namun, Laura akan berusaha untuk membahagiakan kalian" ucap Laura dengan sudut mata berair.


"Tidak apa-apa nak yang jelas kamu adalah kebahagiaan kami" balas Mama Laura lalu melepaskan pelukannya dan mengusap lembut air mata putrinya yang tanpa permisi membasahi wajahnya.


"Laura sayang Mama. Mulai sekarang, Laura akan menjaga Mama sepanjang detak jantung ini masih berdetak."


Laura memegang kedua bahu mamanya dengan lembut dan tatapannya begitu meyakinkan dengan segenap jiwa dan raganya untuk menjaga orang yang sangat disayanginya di belahan bumi ini.


"Terima kasih, nak."


Dengan mata berkaca-kaca tiba-tiba saja air mata haru membasahi pipi wanita paruh baya itu. Sungguh, dia tidak ingin kehilangan kembali orang yang disayanginya. Dan kini giliran Laura yang kembali menghapus dengan lembut air mata Mamanya.


Tak ingin berlarut-larut dalam kesedihan, mereka memilih untuk makan siang bersama dan kedepannya akan menata kehidupannya. Selesai makan siang bersama, Laura memilih kembali duduk bersantai bersama mama nya di ruang keluarga tanpa melakukan aktivitas.


Kini ibu dan anak itu duduk bersantai ditemani teh hangat dan kue nastar coklat. Laura bermanja-manja di pangkuan Mama nya sambil mengelus perut ratanya sedangkan sang mama mengelus rambutnya dengan lembut untuk membiarkannya tidur di pangkuannya.


Tiba-tiba saja Laura diserang perasaan panik jika mengingat bahwa ada janin di dalam perutnya. Raut wajah Laura berubah menjadi sendu dan segera melepaskan tangannya yang menyentuh perutnya. Dia memilih memejamkan matanya berharap bisa tidur, agar pikirannya tak tertuju pada kehamilannya, hal itu selalu dia anggap sebagai mimpi buruknya.


"Laura" panggilnya dengan lembut, namun terdengar dengkuran halus dari mulut putrinya membuat wanita paruh baya itu tersenyum tipis dan membiarkan putrinya tidur di pangkuannya.


Sementara Laura yang sudah terbuai mimpi, merasakan dirinya berada di sebuah tempat dengan padang pasir mengelilingi. Laura terus mengedarkan pandangannya mencari seseorang di tempat tersebut namun tak kunjung menemukan apapun.


Tak beralas kaki, Laura berusaha melangkah melewati gurun pasir yang tak terhitung luasnya saking luasnya tempat tersebut. Namun, tiba-tiba saja pandangannya tak bisa melihat apapun di depannya karena angin berhembus kencang menerbangkan pasir berdebu hingga menyelimuti tubuhnya.


Laura terbatuk-batuk mengibaskan tangannya agar pasir itu menjauh darinya. Langkahnya terhenti dengan mata kelilipan dan tak tentu arah kemana akan perginya. Bisa saja angin berhembus jauh lebih kencang diikuti badai pasir yang mengerikan daripada ini, pikirnya.

__ADS_1


Perlahan Laura berusaha keras melangkahkan kakinya untuk keluar dari tempat tersebut sebelum yang dipikirkannya benar-benar terjadi. Bahkan berkali-kali dia terjatuh menggelinding di pasir dan kembali bangkit merangkak naik lalu melanjutkan perjalanannya tanpa arah tujuan.


Tenggerokannya begitu kering sepanjang perjalanan dan setetes air tak pernah dia temukan membuat tubuhnya dehidrasi. Laura berjalan tertatih-tatih hingga melihat sebuah pohon besar yang satu-satunya tempat peneduh di tempat tersebut.


Namun diluar dugaan, badai pasir datang secara tiba-tiba hingga menerbangkan apapun di tempat tersebut termasuk tubuh Laura ikut terseret dan terombang ambing bagaikan kapas di gurun pasir. Laura hanya mampu memejamkan matanya sambil berdoa kepada Tuhan untuk keselamatan dirinya agar bisa membahagiakan kedua orang tuanya kelak.


Dan atas kuasa Tuhan, tubuh Laura terjatuh di atas jerami yang entah dari mana asalnya bisa berada di tempat tersebut. Laura mengerjapkan matanya hingga menangkap sosok yang di sayangi nya duduk di sampingnya.


"Papa" Laura segera bangun dan duduk berhadapan dengan orang yang di panggil Papa. Tanpa basa-basi Laura langsung memeluk tubuh sosok yang disayanginya untuk melepaskan kerinduannya.


"Ambil ini nak, kamu harus pulang. Tempat ini bukan tempatmu. Karena mulai sekarang kamu harus menggantikan posisi Papa dan Papa percayakan kepada kamu untuk menjaga Mama mu dengan baik. Berjalanlah ke arah barat setelah itu kamu tidak akan tersesat lagi" ucapnya sambil menyerahkan tongkat kayu untuk Laura dan bergegas pergi meninggalkan putrinya.


"Papa jangan pergi" teriak Laura melihat punggung Papa nya semakin menjauh darinya. Laura bergegas mengejarnya namun sosok Papanya sudah tak terlihat lagi keberadaannya.


"Papa!"


Nyonya Miranda semakin panik saja mendengar racauan Laura. Bahkan keringat dingin membasahi wajah putrinya yang sepertinya sedang mimpi buruk.


"Laura, nak bangunlah" ucapnya menepuk bahu Laura hingga sang empunya berteriak.


"Papa!"


"Apa kamu baik-baik saja nak?" tanyanya khawatir kepada putrinya.


Laura hanya mengangguk sebagai jawabannya dan segera meminum teh yang belum sempat ia habiskan. Nyonya Miranda mengelus lembut punggung putrinya untuk menenangkannya.


"Aku bermimpi bertemu Papa. Dan papa menyuruhku pulang karena tempat itu bukanlah tempat yang baik untukku. Papa sepenuhnya mempercayakan posisinya untukku bahkan memintaku untuk menjaga Mama" ucap Laura dengan mata berkaca-kaca dan Nyonya Miranda langsung memeluknya dengan penuh kasih sayang.


"Lewat mimpi itu, Papa bercerita bahwa kamu lah yang menggantikan posisinya karena kamu adalah putri satu-satunya yang harus menggantikannya dan juga menjaga Mama" timpal Nyonya Miranda tersenyum sambil melepaskan pelukannya.


"Iya Mama, mulai sekarang Laura janji akan melakukan segala hal sesuai keinginan Papa" ucap Laura tersenyum sambil menatap hangat mamanya dan merasa bersyukur bisa bertemu kembali Papanya lewat mimpi.


"Ya sudah, sebaiknya kamu mandi. Lihatlah rambutmu agak basah dan lembab" tegur mama nya sambil mencolek hidung mancungnya.


"Oke, mama" Laura mencium pipi Mamanya lalu melangkah menuju kamarnya yang berada di lantai dua.

__ADS_1


Sore harinya, Laura dan Nyonya Miranda terlihat berada di halaman depan sedang memetik buah strawberry yang siap panen dan sengaja wanita paruh baya itu tanam pada pot bunga sekitar 20 pot di halaman rumah.


Saat mereka asyik memetik buah strawberry. Tiba-tiba saja sebuah mobil Jeep melaju pelan di pelataran rumahnya. Laura dan Nyonya Miranda berhenti memetik buah strawberry, mereka mengalihkan pandangannya pada sosok lelaki yang baru saja turun dari mobil.


"Tumben Rival datang, ayo. Sepertinya ada kabar penting yang dia bawa" ucap nyonya Miranda menarik tangan putrinya melihat kedatangan sekretaris suaminya.


Kini mereka berada di ruang kerja tuan Anthony dan tengah duduk bersama.


Ragu-ragu lelaki dewasa yang bernama Rival tak kunjung buka suara. Hingga dia pun berdehem sebelum membuka pembicaraan.


"Begini nyonya, sepeninggal tuan Anthony harga saham perusahaan anjlok, jika terus dibiarkan perusahaan bisa saja bangkrut. Tidak hanya itu, banyaknya desas-desus untuk menduduki posisi pimpinan perusahaan, para petinggi perusahaan mulai melakukan konspirasi bersama untuk menduduki posisi mendiang tuan Anthony. Maka dari itu secepatnya kita harus mengumumkan pemimpin baru perusahaan AFL Group dan rapat pemegang saham secepatnya " ucap Rival panjang lebar.


"Hufff, jawabannya ada di tangan putriku" ucap nyonya Miranda sambil menghela nafas berat.


"Aku siap melakukannya Mama, menduduki posisi mendiang Papa" ucap Laura dengan entengnya penuh percaya diri.


Nyonya Miranda tersenyum sambil melirik putrinya, begitu halnya Rival ikut tersenyum mendengar ucapan putri mendiang atasannya.


"Baik Nona. Secepatnya saya akan membuat jadwal untuk anda dan persiapkan diri anda dengan baik karena anda akan memikul beban dan tanggung jawab besar di perusahaan AFL Group " ucap Rival sambil menundukkan pandangannya.


*


*


*


Malam harinya tampak Laura berada di dapur dengan suasana sepi, karena waktu menunjukkan dini hari dan waktu seperti itu semua orang sudah terlelap.


Saat merasa aman, Laura segera membuat jus nanas dengan takaran satu gelas dan sisa dari buah nanas kembali dia sembunyikan dalam kulkas. Kemarin sore dia meminta salah satu pelayan untuk membeli buah nanas untuknya.


Satu gelas jus nanas siap untuk diminum. Laura kembali memasukkan dua kapsul obat di jus nanas nya lalu mengaduknya cepat. Obat berbentuk kapsul itu sempat dia beli di apotik sore tadi.


"Maaf, aku tidak menginginkan kehadiranmu" gumam Laura sambil menyentuh perut ratanya dengan rasa sesak di dada.


Bersambung......

__ADS_1


Terima kasih atas dukungannya BESTie 🙏🙏🤗


__ADS_2