Laura Dan Status Barunya

Laura Dan Status Barunya
Bab 72 Laura dan Status Barunya


__ADS_3

"Kau tak bersiap ke kantor?" tanya Laura sembari memakaikan baju si kembar. Pasalnya Johan hanya memakai pakaian santainya dan tengah berdiri memperhatikannya.


Sementara kedua bocah menggemaskan itu segera mengalihkan pandangannya ke arah ayahnya dengan senyuman menghiasi bibirnya.


"Tidak, aku hanya ingin menghabiskan waktuku seharian ini bersama keluargaku" ucap Johan tersenyum lalu melangkah mendekati mereka.


Johan membungkuk mencium puncak kepala anaknya secara bergantian dan Laura hanya meliriknya. Tatapan Johan beralih kepada Laura hingga pandangan mereka bertemu, saat ingin mendekati istrinya dia memilih mengurungkan niatnya takutnya membuat mood istrinya buruk, lalu Johan berjongkok mensejajarkan tubuhnya di samping anak-anaknya.


"Daddy tak kerja?" tanya Jovan yang ingin mendengar langsung dari ayahnya


"Tidak sayang. Daddy, akan menemani kalian bermain sampai puas." Johan tersenyum dan mengambil alih Jovan untuk membantunya memakai celananya.


"Asyik, kita main sama Daddy." Jovan sangat bahagia sambil bertepuk tangan, hingga Jovin mengikuti tingkahnya dan secara tiba-tiba anak menggemaskan itu menangis merasakan tangannya sakit karena sepenuhnya belum sembuh.


"Mommy, hiks...hiks...hiks" bibir kecilnya terus meracau sambil memperlihatkan tangannya.


"Tidak apa-apa sayang." Laura segera meniup tangannya untuk mengurangi kesakitannya.


"Jangan nangis Jovin, kata Daddy anak laki-laki tak boleh cengeng dan harus kuat." ucapnya sambil mengelus bahu saudaranya.


Jovan segera menghapus air matanya, sedangkan Jovin melirik ayahnya dan Johan langsung mengangguk membenarkan ucapan Jovan. Laura hanya mampu menghela nafas lalu memakaikan parfum bayi pada anak-anaknya, sedangkan Johan bertugas menyisir rambut mereka.


Kini si kembar penampilannya sangat rapi, wangi plus tampan tiada tara. Johan dan Laura segera membawa mereka ke ruang makan untuk sarapan bersama. Jovan dan Jovin masing-masing berada dalam gendongan orang tuanya.


Saat melihat kedatangan majikannya, para pelayan segera menarik kursi untuk mereka duduki. Laura tersenyum sembari mendudukkan Jovin di kursinya lalu dirinya ikut duduk, begitu halnya yang dilakukan oleh Johan.


Makanan dan minuman sudah tersaji di atas meja dan mereka tampak bahagia sarapan bersama. Terutama si kembar begitu lahap memakan sarapannya.


Dua pelayan wanita tampak tersenyum melihat keluarga majikannya yang tampak harmonis dengan anak kembar yang lucu-lucu. Terdapat lima pelayan yang bekerja di kediamannya dengan tugas berbeda-beda.


Sudah dua tahun pasangan suami istri itu menempati rumah mewahnya yang terletak di pusat kota dan merupakan hunian kaum elit.


Semenjak ibu Laura meninggal dunia, Johan memborong keluarganya pindah rumah yang sudah dia siapkan jauh-jauh hari untuk keluarga kecilnya. Sementara Laura hanya mengikut saja tanpa melakukan penolakan keras terhadapnya.


Selesai sarapan bersama, kini Johan menemani anak kembarnya bermain di ruang bermain. Sementara kedua babysister nya berbaur bersama pelayan wanita.


"Daddy, ayo main kuda lumping." Jovan begitu antusias menunjukkan mainan barunya lalu menghampiri ayahnya yang tengah membantu Jovin menyusun fuzzell.


Johan mengerutkan keningnya, melihat mainan aneh yang dibawa oleh Jovan.


Darimana dia membeli mainan seperti itu.


"Bawa kemari sayang, Daddy tak pandai memainkannya. Tapi, Daddy akan mencobanya." Johan tersenyum sambil mengulurkan tangannya untuk memintanya mendekat.


Jovan mendekat membawa mainan berbentuk kuda dengan senyuman mengembang. Johan mengambil mainan tersebut sambil membolak-balikkan nya.


"Bagaimana cara memainkannya sayang?" tanya Johan dan begitu asing dengan mainan tersebut.


"Ya ampun, ternyata Daddy tidak tahu memainkannya." Jovan tepok jidat mendengar penuturan ayahnya.


"Jovin, ayo main bersama. Kita harus perlihatkan Daddy mainan ini." ucapnya mendekati saudaranya.

__ADS_1


"Baiklah, tapi aku jadi penumpang saja ya." balasnya karena saat ini kedua tangannya masih sakit.


Anak kembarnya langsung memainkan mainan barunya dan sedang memperlihatkan cara mainnya kepada ayahnya. Sedang Johan, tergelak tawa karena saking lucunya wajah mereka kalau sedang bermain.


"Seperti itu Daddy." ucapnya sambil menghapus peluh keringatnya dan Johan bergerak mengambil tissue untuk membantu anak-anaknya membasuh wajahnya.


"Ha ha ha, geli Daddy" ucapnya kompak sambil tertawa terbahak-bahak yang tengah di jahili oleh ayahnya.


Laura yang membawa minuman dan cemilan masuk ke ruangan itu langsung menggulung senyuman melihat kebersamaan mereka. Laura segera meletakkan nampan yang dibawanya di atas meja dan mereka sama sekali tak menyadari kehadiran Laura di ruangan tersebut.


"Ehemm" Laura berdehem melangkah mendekati mereka. Sehingga ayah dan anak kompak mengalihkan pandangannya ke sumber suara.


"Mommy" ucap Jovin dan langsung berlari kecil menghampiri ibunya, membuat Laura segera mempercepat langkahnya dan langsung menggendongnya.


"Jangan terlalu lama bermainnya. Kamu masih sakit sayang." ucap Laura lemah lembut dan memilih membawanya duduk di sofa.


"Mommy, Daddy tidak tahu memainkan kuda lumping nya." ucap Jovan diiringi tawa renyahnya melirik ke arah ayahnya.


Johan menggaruk tengkuknya yang tidak gatal mendengar ucapan anaknya. Laura hanya tersenyum yang tengah membantu Jovin minum susu.


"Bagaimana kalau kita bermain Fuzzell saja."usul Johan.


"Jovan sudah bosan, Daddy. Nggak seru, bagaimana kalau main kuda-kuda saja. Daddy yang jadi kudanya."


Seketika Johan terbatuk-batuk mendengar ucapan anaknya. Pikiran kotornya langsung konek dan mengarah pada hal itu.


"Ayo, Daddy, main kuda-kuda saja." rengek Jovan dan ayahnya belum juga bersuara.


"Jovan minum susu dulu, nanti lanjut mainnya." tegur Laura.


Jovan mengangguk segera menghampiri ibunya dan merangkak naik ke sofa untuk duduk.


Laura segera menyerahkan botol minumannya yang bermotif Avengers dan Jovan mengambilnya cepat dan langsung meminumnya.


Johan segera bergabung bersama mereka dan duduk di sisi Jovan.


"Jovin mau biskuit, mommy."


Secara spontan Laura dan Johan sama-sama mengulurkan tangannya menyentuh toples kaca hingga pandangan mereka bertemu.


"Kamu saja duluan." ucap Johan tersenyum tipis dan Laura hanya mampu menundukkan pandangannya dan mengambil biskuit kesukaan Jovin di dalam toples kaca.


Sehingga suasana mereka menjadi canggung. Laura ingin keluar dari ruang bermain, namun anak-anaknya terus menahannya hingga Laura memilih menemani mereka bermain.


"Laura, seminggu lagi kedua orang tuaku akan kembali." ucap Johan.


"Oh syukurlah, terus bagaimana kondisi Papa mu?" tanya Laura.


Pasalnya Laura tak pernah bertemu secara langsung kedua orang tua Johan selama tiga tahun terakhir yang sedang menjalani pengobatan di negara Z. Mereka hanya menjalin komunikasi lewat telepon dan saling mengabari satu sama lain.


"Tak ada kemajuan, dia akan terus menggunakan kursi rodanya." jawab Johan santai.

__ADS_1


"Semoga Papa mu cepat sembuh." timpal Laura sambil menepuk bahunya, membuat Johan meliriknya dan mengangguk menanggapi ucapannya.


Laura bergegas berdiri dan berjalan mengambil mainan yang di minta Jovin. Namun sayangnya, Laura tak sengaja menginjak mainan anak-anaknya hingga membuatnya terpeleset, untungnya Johan dengan sigap menarik pinggangnya hingga kedua tangan Laura langsung berpegangan erat di bahu Johan. Pandangan mereka bertemu dan dalam hati saling memuji satu sama lain.


"Yeay Mommy, Daddy, main peluk" goda si kembar dengan kompaknya melihat kedua orang tuanya.


"Emm terima kasih" ucap Laura malu dan segera menjauh, namun lagi-lagi tubuhnya kembali oleng dan Johan mengulanginya lagi menariknya kembali, hingga Laura langsung memeluk Johan sementara kedua tangan Johan mendekap erat pinggangnya.


Baik Laura dan Johan sama-sama tertawa dengan posisi berpelukan. Mereka merasa lucu dengan tingkahnya sendiri. Sementara anak kembarnya hanya senyum-senyum melihatnya.


*


*


*


Sementara di tempat lain....


Di sebuah rumah sederhana dengan pekarangan rumah yang luas tampak pasangan suami istri duduk bersantai di teras rumah disuguhkan teh hangat dan kue bolu. Tiga jam lalu mereka tiba di rumah nan asri itu.


"Mengapa terus menatapku, apa aku terlihat aneh?" tanya Wulan dan merasa risih dengan tatapan nakal dari suaminya.


"Cebol manis ku sudah berubah menjadi gadis dewasa. Tubuhmu bahkan terlihat berisi dibandingkan dulu." ucapnya jujur bahkan Fero tak pernah mengalihkan pandangannya dari wajah sang istri.


"Aku sudah katakan jangan memanggilku cebol. Aku tidak sependek itu juga kali. Lagian aku memakai uang mu untuk jajan dan perawatan, jelas aku berubah cantik. Dibandingkan dirimu semakin tua dan mirip om-om mesum" ketus Wulan dan masih kesal dengan suaminya yang kembali akan pergi meninggalkannya.


"Aku tua, om-om mesum....ha ha ha, umurku masih tiga puluhan. Jaga sopan santunmu kepada suamimu" tegur Fero yang tidak suka diejek istrinya.


"Mengapa kamu tidak mengajakku ke negara xxx" ucap Wulan memasang wajah cemberut.


"Aku hanya seminggu di sana untuk menyelesaikan pekerjaan ku dan setelah itu aku kembali dan menetap di negara ini bersamamu." ucap Fero.


"Awas, jangan macam-macam di sana. Tidak hanya ayahku yang membunuhmu, tapi aku dan seluruh anak didik di perguruan ini akan mengulitimu hidup-hidup" ancam Wulan dan bersamaan pula terdengar suara anak didik ayahnya menjerit kesakitan yang sepertinya cedera.


Fero bergidik ngeri melihat anak remaja diangkat pakai tandu, namun dia memasang wajah biasa saja.


"Aku akan berangkat sekarang. Jaga dirimu baik-baik" ucap Fero tersenyum sembari bangkit dari duduknya dan Wulan hanya diam sambil meremas kesal ujung bajunya yang tidak ingin ditinggal pergi. Setelah mendapatkan mahkotanya lelaki itu begitu santainya pergi, pikirnya.


"Kamu akan berangkat nak." timpal Ayah Wulan sambil menepuk keras pundak Fero.


"Ya ayah."


Fero melirik istrinya sebentar lalu berjalan menuju mobilnya.


"Tunggu" teriak Wulan dan segera berlari menghampirinya membuat langkah Fero terhenti.


Wulan langsung melompat memeluknya membuat Fero mendekap erat tubuhnya. Mereka berpelukan sebentar lalu mengakhirinya dan kembali saling tatap-tatapan.


"Astaga, kalian merusak konsentrasi anak-anak yang latihan" teriak ayahnya dan berlari menghampiri mereka sambil membawa payung hitam. Saat melebarkan payung hitamnya bersamaan itu pula pasangan suami istri itu berciuman mesra.


Bersambung......

__ADS_1


Jangan lupa, like love komen dan vote ya teman-teman 🙏🤗


__ADS_2