
Laura kembali terikat pernikahan dengan Johan, lelaki dibencinya. Pagi tadi mereka melangsungkan pernikahan di kantor pencatatan sipil dan saling mengikrarkan janji suci pernikahan di tempat tersebut. Setelah itu, mereka ke rumah sakit untuk memeriksakan kandungan Laura yang sudah memasuki usia lima bulan.
Kemudian pasangan suami istri itu kembali melanjutkan perjalanan menuju makam Papa Laura, mereka ingin berziarah sekaligus memberitahu pada mendiang Papa Laura bahwa mereka sudah resmi menikah.
Kini mobil yang mereka tumpangi terus melaju menuju tempat pemakaman khusus keluarga Anthony. Hanya keheningan yang terjadi di dalam mobil pasangan suami istri yang baru saja resmi menikah.
Sepanjang perjalanan, Laura lebih fokus menatap pepohonan di jalan yang mereka lewati menuju makam Papa nya. Sedangkan Johan fokus mengemudikan mobilnya dan sesekali melirik wanita disampingnya yang sudah resmi menjadi istrinya dengan senyuman tipis.
“Bolehkah aku mengatakan sesuatu kepadamu?” tanya Johan yang fokus mengemudikan mobilnya memasuki kawasan tempat pemakaman.
“Apa yang ingin kau katakan?” Laura balik bertanya dan terdengar ketus.
"Selama ini aku tidak percaya dengan takdir. Namun, saat aku mengenalmu, aku mulai mempercayainya karena takdir lah yang kembali mengikat kita dalam janji suci pernikahan" ucap Johan tersenyum tipis memarkirkan mobilnya.
Laura segera mengalihkan pandangannya ke arahnya mendengar setiap ucapannya.
"Aku merasa takdir ku begitu buruk karena dipertemukan kembali orang licik seperti dirimu" kesal Laura lalu bergegas turun dari mobil dan Johan hanya menghela nafas melihat tingkah istrinya.
"Hati-hati, pelan kan langkahmu" teriak Johan dan bergegas menyusul istrinya.
Johan langsung menggenggam erat tangan istrinya dan tak ingin melepaskannya.
"Kau harus berada di sampingku selama kita bersama. Baby bumil" ucap Johan dengan nada penekanan diakhir kalimat.
"Baby bumil. Heh! jangan pernah memanggilku dengan nama itu" kesal Laura terdengar marah.
"Jangan marah-marah melulu, aku tidak ingin kau cepat tua" goda Johan cengengesan.
"Kau!" Laura langsung menatapnya dengan tatapan melotot.
"Aku mencintaimu Laura. Ayolah kita memulai kembali hubungan rumah tangga kita bersama si kecil " ucap Johan lalu menyentuh perut buncit Laura.
Laura segera memalingkan muka dengan jantung berdegup kencang mendengar ucapan Johan.
"Aku mencintaimu Laura Fernandez, entah sejak kapan rasa cinta ini terus tumbuh di hatiku. Yang jelas, aku ingin selalu bersamamu, membuatmu tersenyum dan setiap membuka mata hanya sosok dirimu yang ingin aku lihat pertama kali" ucap Johan dengan tatapan hangatnya dan pertama kalinya melontarkan kata-kata romantis.
__ADS_1
Lagi-lagi Laura hanya diam seribu bahasa dan terkejut tubuhnya sudah menempel pada tubuh Johan, dimana kedua tangan Johan sedang memeluknya.
"Beri aku kesempatan untuk memulai kembali hubungan rumah tangga kita. Aku janji akan membahagiakanmu Laura" pinta Johan.
Seketika perasaan Laura tersentuh akan ucapan Johan. Dia mematung ditempatnya dengan jantung yang kembali berdemo. Pandangan yang tertunduk mulai mendongak menatap suaminya.
"Baiklah, aku memberimu kesempatan" lirih Laura dengan bibir bergetar yang masih belum yakin dengan keputusannya.
"Terima kasih Laura" ucap Johan tersenyum dan mendaratkan ciuman di kening Laura cukup lama dan sang empunya sama sekali tak melakukan penolakan.
"Hemm"
"Ayo, kita segera ke makam papamu" ajak Johan menggandeng tangannya.
"Tunggu, kau melupakan buket bunganya. Cepat ambil di mobil" ucap Laura menghentikan langkah Johan.
"Astaga, aku akan mengambilnya dulu" ucap Johan sambil mengelus puncak kepala istrinya dan bergegas berjalan menuju mobilnya.
Laura segera merapikan rambutnya karena menganggap usapan tangan Johan membuat rambutnya berantakan. Selesai berziarah di makam Papa Laura, mereka kembali ke kediaman Laura.
Johan tersenyum sambil menggenggam tangan Laura, seolah Laura harus selalu berada disisinya. Mereka berjalan bersama-sama masuk ke dalam rumah.
Nyonya Miranda tak henti-hentinya tersenyum melihat pasangan pengantin baru itu. Wanita paruh baya itu begitu bersyukur kepada Tuhan karena mereka kembali dipersatukan.
Kini mereka berkumpul di meja makan untuk makan siang bersama. Kehangatan jelas sekali terlihat di antara keluarga itu.
Hingga hari terus berganti mengarungi bahtera rumah tangga pasangan Laura dan Johan. Dimana Laura berusaha membuka hatinya untuk sang suami dan menerima segala kekurangannya, demi sosok janin yang dikandungnya.
*
*
*
Di dalam ruangan bernuansa putih terlihat wanita hamil tampak mengeram kesakitan di atas tempat tidur pasien. Perutnya yang membuncit tertutup selimut hingga tangannya sesekali mencengkeram kuat selimutnya.
__ADS_1
Tampak wanita paruh baya begitu cemas yang sedang duduk di kursi samping tempat tidur. Tangannya terus menggenggam sosok putrinya untuk memberinya kekuatan.
"Mama" lirih wanita hamil itu dengan mata memerah menahan kesakitan luar biasa yang baru saja mengalami kontraksi.
"Tenang nak, kau harus kuat. Sebentar lagi kau akan melihat bayimu" ucapnya memelas untuk menenangkan putrinya.
Wanita paruh baya itu tak lain adalah Nyonya Miranda. Sementara wanita hamil yang terbaring di atas tempat tidur adalah Laura.
Tak berselang lama kemudian pintu ruangan itu terbuka, dokter dan suster bergegas masuk ke ruangan untuk melihat kondisi pasiennya. Lalu disusul Johan yang baru saja kembali dari ruangan dokter tersebut yang menangani istrinya. Karena disini Johan lah yang bertindak mengambil keputusan sebagai suami dari pasien.
"Cepat suster, pasien harus di bawah ke ruang operasi" ucap Dokter wanita tampak tenang menghampiri pasiennya.
"Baik dokter" ucap dua suster bersamaan.
"Sayang bertahanlah, kau pasti bisa" ucap Johan membungkuk membelai lembut wajah istrinya.
Laura hanya mampu menangis dengan tatapan sendunya sambil mencengkram erat lengan Johan hingga suster membawanya ke ruang operasi.
Tak henti-hentinya Johan berdoa kepada sang pencipta demi kelancaran persalinan istrinya. Hingga tatapannya tak mampu lagi menangkap sosok wanita yang dicintainya dibalik pintu ruang operasi.
Johan dan Nyonya Miranda hanya mampu menunggu di luar. Mereka memilih duduk di kursi tunggu dengan perasaan khawatir dan harap-harap cemas. Sementara dokter di dalam ruang operasi mulai menangani pasiennya.
Hampir tiga jam lamanya, hingga terdengar suara pintu ruang operasi terbuka lebar dan bersamaan terdengar pula suara bayi di dalam sana sedang menangis.
Johan dan nyonya Miranda tersenyum lega mendengar suara tangis bayi di dalam sana. Mereka mendekati dokter yang baru saja membantu persalinan istrinya.
"Dokter bagaimana keadaan istri saya?" tanya Johan khawatir.
"Persalinannya berjalan lancar. Nona Laura melahirkan bayi kembar berjenis kelamin laki-laki dengan selamat. Namun, untuk saat ini mereka belum bisa ditemui. Setelah nona Laura dipindahkan ke ruang perawatan, anda bisa menemuinya di sana" ucap Dokter menjelaskan.
"Syukurlah, terima kasih dok" ucap Johan dengan perasaan lega plus haru sedang menyelimuti perasaannya. Dia sungguh tidak sabar melihat bayinya di dalam sana.
Sementara Nyonya Miranda tersenyum dengan mata berkaca-kaca dan merasa lega mendengar ucapan dokter. Lalu dokter wanita itu undur diri dari hadapan mereka.
Bersambung......
__ADS_1