
Laura masih saja betah bekerja di ruangannya meskipun jam pulang sudah lewat dari dua jam yang lalu. Rasa bencinya kepada Johan membuatnya semakin gigih menyelesaikan seluruh laporan proyek pembangunan hotel.
Sementara Lisa sang sekretaris senantiasa menunggunya di ruangan sebelah dan ikut lembur bersama atasannya.
"Uuuhhh" Laura merentangkan kedua tangannya dan membiarkan jemari tangannya yang kaku melambai-lambai di udara.
"Akhirnya selesai juga, mataku sampai berair terlalu lama di depan dua layar monitor" ucap Laura sambil menyandarkan punggungnya di kursi kebesarannya menatap komputer dan laptop yang baru saja dia matikan.
"Hoamm" Laura menguap sambil mengucek mata lelahnya. Lalu dia bersiap-siap untuk pulang ke rumah.
Laura bangkit dari kursinya dan berjalan mendekati meja untuk menghabiskan jus alpukat dan kebab isi daging yang belum sempat dia habiskan.
Otaknya bekerja, sementara mulutnya ingin makan ini itu hingga tak mengganggu janin dalam kandungannya. Dan beruntungnya mendapatkan sekretaris yang bisa diandalkan jika dia menginginkan sesuatu.
"Mengapa kamu tak pulang" ucap Laura mendapati Lisa berdiri di depan pintu ruangannya yang sepertinya menunggunya pulang.
"Saya tidak bisa meninggalkan nona Laura sendirian di kantor. Jika nona Laura pulang maka saya pun ikut pulang" ucapnya sambil menundukkan pandangannya.
"Ya ampun Lisa, Satpam dan penjaga masih berkeliaran di kantor ini guna menjalankan tugasnya mengamankan kantor. Jadi jangan sungkan, jika kamu ingin pulang lebih awal" ucap Laura tersenyum.
Lisa hanya menundukkan kepalanya dan tak berani menimpali ucapan atasannya.
"Ayo pulang, aku sudah merindukan suasana rumah" ucap Laura melangkah lebih dulu, lalu disusul Lisa yang mengekor di belakang atasannya.
Untungnya Laura sempat mengabari Mamanya bahwa dia lembur dan pulangnya agak malam.
Saat Laura melangkah menuju mobilnya, tiba-tiba saja dikejutkan oleh seseorang.
"Happy birthday!"
Laura terlonjat kaget dan refleks memukul lengan orang itu menggunakan tasnya.
"Hei ini aku, Pradipta" ucapnya menangkap tas Laura untuk menghentikannya. Sementara hadiah yang dia bawa disembunyikan di balik punggungnya.
"Astaga maaf Pradipta. Aku pikir kamu orang jahat" ucap Laura dan segera mengambil tasnya dari tangan Pradipta.
"Happy birthday" ucap Pradipta sambil menyodorkan sebuket bunga mawar merah untuk Laura.
"Apa-apaan kau ini, aku tidak ulang tahun" ucap Laura tersenyum menolak hadiah dari Pradipta.
"Ya sudah ambil saja, aku hanya ingin memberimu kejutan kecil" ucapnya sambil menggaruk tengkuknya yang tidak gatal.
"Baiklah, aku ambil ya" ucap Laura mengambilnya dan tak lupa menghirup aroma wangi bunga mawar merah kesukaannya.
Sudah sebulan Laura berteman baik dengan Pradipta, lelaki misterius menurutnya.
"Laura, aku ingin mengajakmu jalan sebentar" ajak Pradipta.
__ADS_1
"Kemana?" tanya Laura.
"Ke suatu tempat yang membuatmu nyaman" jawab Pradipta.
"Emm lain kali saja ya soalnya aku, eeehh mau dibawa kemana aku__" Laura terkejut tubuhnya sudah terangkat dan meronta-ronta dalam gendongan Pradipta yang seperti membawanya kabur.
"Aku tidak membawamu kabur. Kita hanya jalan disekitaran sini" ucap Pradipta dan Laura menjadi diam sambil berpegangan erat di leher Pradipta. Tak sengaja pandangan Laura tertuju pada Kepala Pradipta yang berbalut kain perban.
"Kita sudah sampai" ucap Pradipta lalu menurunkan Laura dari gendongannya.
"Luka apa ini?" tanya Laura menyentuh kepala Pradipta yang terluka.
"Tadi pagi aku mendapatkan kecelakaan kecil di tempat kerja karena tidak mematuhi aturan SOP pekerja di proyek. Aku lupa pakai helm, jadinya begini" jawab Pradipta tersenyum.
"Oh" Laura sama sekali tak menaruh curiga.
"Lihatlah, apa kamu menyukainya?" tanya Pradipta pada danau buatan yang berada di belakang gedung perusahaan AFL Group.
"Wow, ini sangat indah. Aku sama sekali tidak tahu bahwa ada danau seindah ini di area perkantoran" ucap Laura tersenyum menatap lampu-lampu berwarna-warni disekitaran danau.
Laura dan Pradipta menatap pemandangan indah danau buatan dengan penuh takjub. Hingga kembang api mulai bersahutan menghiasi langit malam di area danau.
"Sangat indah, kembang api bersinar indah di langit" ucap Laura dengan mata berbinar dan sesekali tertawa menatap takjub objek didepan matanya.
"Kau menyukainya"
Pradipta tersenyum menatap wanita disampingnya hingga tangannya mulai lancang menggenggam tangan wanita cantik itu. Laura sama sekali tak menolak tangannya digenggam oleh Pradipta. Lama mereka menikmati pemandangan danau hingga memilih kembali ke parkiran.
"Terima kasih sudah membawaku ke tempat yang indah dan nyaman" ucap Laura tersenyum manis dan membuat Pradipta terpesona melihat senyuman langka itu.
"Ya sama-sama" ucap Pradipta yang masih menggenggam tangan Laura.
"Tolong lepaskan tanganku, aku mau masuk ke mobil" ucap Laura sambil menatap tangannya yang masih di genggam.
"Oh maaf" ucap Pradipta kikuk.
Sementara Laura bergegas masuk ke dalam mobilnya dan dengan cepat memanaskan mesin mobilnya.
"Selamat malam" pamit Laura menurunkan kaca mobilnya lalu melajukan mobilnya menuju kediamannya.
Sementara Pradipta hanya menatap kepergian mobil Laura yang semakin menjauh dari pandangannya. Setelah itu dia pun bergegas masuk ke dalam mobilnya dan membuka topeng diwajahnya.
"Aku sangat senang melihatmu tersenyum." ucapnya dengan senyuman menghiasi wajah tampannya. Mobil yang membawanya melaju kencang meninggalkan tempat tersebut.
*
*
__ADS_1
*
"Pak Rival tolong jelaskan semua ini?" tanya Laura dengan raut wajah datarnya melihat map hijau diatas meja kerjanya.
"Maaf, sebaiknya nona periksa sendiri" ucap Rival tak berani menyimpulkannya. Padahal dia sudah lebih dulu membaca segala sesuatunya dari map hijau itu.
Laura segera membaca dengan seksama berkas demi berkas di map hijau itu hingga matanya membulat sempurna dan menjatuhkan map hijau beserta berkas-berkas penting di dalamnya.
"JOHAN!!!"
Laura mengepalkan tangannya dengan amarah memuncak membaca berkas penting itu yang pengirimnya adalah Johan, mantan suaminya.
"Saya akan menghubungi pengacara kita untuk menyelesaikan kasus ini nona" ucap Rival menunduk memberi saran atasannya. Dan dia sendiri begitu syok mengetahui kehamilan atasannya karena akan berpengaruh besar terhadap perusahaan.
"Lakukanlah pak Rival, aku tidak ingin penjahat itu menang diatas penderitaanku! Berani-beraninya dia mengincar darah dagingku yang belum terlahir di dunia ini" ucap Laura dengan kilatan amarah sambil menyentuh perutnya.
"Baik nona Laura. Pihak tuan Johan sudah menjadwalkan pertemuan anda besok siang di restoran xxxx guna membicarakan duduk perkara ini" ucap Rival dengan hati-hati, mengingat atasannya tengah hamil. "Permisi nona Laura" lanjutnya pamit undur diri dari hadapan atasannya.
"Iya pak" ucap Laura yang menurunkan amarahnya sambil memijit keningnya yang tiba-tiba saja kepalanya terasa pusing.
Laura menarik nafas dalam-dalam lalu menghembuskannya dengan pelan lalu dia meminum air putih yang selalu tersedia di atas meja kerjanya.
"Yang kuat ya sayang di perut mama, kita bisa melaluinya bersama. Sampai kapanpun kita akan selalu bersama" lirih Laura lalu menyandarkan kepalanya di sandaran kursi. Kemudian Laura menghubungi Lisa untuk memesan makanan untuknya.
Akhir-akhir ini, setiap kali dia stress maka larinya ke makanan. Membuat tubuh Laura semakin berisi dan montok.
Sementara di tempat lain.....
Johan memilih menghentikan rapatnya karena tiba-tiba saja dia mual-mual di ruang rapat, membuat semua orang menatap aneh kepadanya yang berlari keluar dari ruang rapat.
"Hoeekk, cari mangga muda dan pisang susu Mike" teriak Johan di dalam ruangannya yang berjalan tergesa-gesa masuk ke kamar mandi.
"Baik tuan" ucap Mike panik yang masih saja mengikuti langkah kaki atasannya ke kamar mandi
"Apalagi, sana pergi!!" bentak Johan sebelum menutup pintu kamar mandi.
Mike terlonjat kaget dan bergegas pergi meninggalkan ruangan atasannya.
"Tuan, kau mendapat karma dari nona Laura" gumam Mike menutup pintu ruangan atasannya dan berlalu pergi menjalankan perintah atasannya.
Sementara di dalam kamar mandi, Johan terus saja mual-mual. Setelah agak mendingan, Johan membasuh wajahnya berulang kali.
"Apa yang sudah kau perbuat kepadaku Laura. Sungguh, kau menyiksaku. Karena disini aku lah yang ngidam dan melakukan semua yang dinginkan anak kita" ucap Johan menunjuk wajahnya di pantulan cermin.
Dikarenakan Johan sudah berobat keliling, mendatangi rumah sakit hanya untuk berkonsultasi dengan dokter guna menanyakan sakit yang dialaminya. Tidak hanya itu, dia sempat berkonsultasi pada psikolog dan psikiater tentang sakit yang dialaminya. Tanpa diduga jawaban menohok kesemuanya menganggap bahwa dirinya tengah ngidam.
"Aku sangat mencintaimu Laura" pinta Johan menjambak rambutnya. Segala cara akan dia lakukan demi bisa bersama dengan wanita yang dicintainya.
__ADS_1
Bersambung.....