
Pertemuan Laura dengan mama Johan memberikan kesan tersendiri bagi mereka. Awalnya menjadi menantu dan mertua, namun sekarang mereka malah menjadi perawat dan pasien yang akan saling menguntungkan.
"Nyonya, bagaimana keadaan anda?" tanya Laura dengan pandangan menunduk.
"Aduh jangan panggil seperti itu sayang, panggil saja mama seperti biasa. Mama agak risih mendengarnya dan kurang srrekk gimana gitu" tegur mama Johan dengan suara lemah lembut.
Laura merasa canggung bertemu dengan mantan ibu mertuanya. Hingga ia tak berani mengangkat kepalanya untuk bertemu pandang.
"Semuanya sudah berubah nyonya. Sekarang kita bukan lagi sebatas...pokoknya keadaan tidak seperti dulu lagi dan aku tidak ingin melewati ..." ucap Laura tak mampu melanjutkan ucapannya.
"Tak ada yang berubah, sampai kapanpun kamu tetap menjadi menantuku. Hanya kamu wanita yang cocok bersanding dengan putra ku. Mama membenci keadaan yang tidak memihak kepada kalian. Tapi, mama tetap percaya bahwa keadaan bisa kembali mempersatukan kalian. Sebenarnya kalian hanya belum mengenal lebih jauh" potong Mama Johan dengan senyuman menghiasi bibirnya.
Nyonya Tias tidak akan pernah merubah keputusannya, sekali satu tetap satu. Bukan tanpa sebab, nyonya Tias sudah mengenal lama keluarga Laura dan ia percaya bahwa jodoh putranya adalah putri Fernandez.
Dan tidak dapat dipungkiri nyonya Tias begitu menyayangi Laura seperti anak sendiri. Sehingga sampai kapan pun ia tidak akan berpaling darinya.
Laura meremas tangannya sambil melipat bibirnya yang dilanda perasaan bingung. Sangat tidak pantas baginya jika memanggil majikannya dengan sebutan mama.
Nyonya Tias tersenyum melihat tingkah Laura yang terlihat bingung.
"Baiklah, jika kamu merasa kurang nyaman memanggil ku mama, bagaimana kalau panggil bibi saja. Ya panggil bibi saja, lebih keren kan dan persis seperti yang dilakukan ponakan ku" usul Mama Johan sambil menyentuh lengan Laura hingga mau tak mau Laura mengangkat kepalanya dan langsung bertemu pandang dengan mama Johan.
Laura tersenyum lalu mengangguk mengiyakan ucapan nyonya Tias.
"Begitu dong, mama jadi semangat melihat senyum mu....eeh ralat, bibi jadi semangat melihat senyuman manis mu" ucap mama Johan bersemangat sambil mencolek dagu Laura.
Laura kembali tersenyum merekah mendengar pujian nyonya Tias atau mama Johan. Sehingga mama Johan kembali bersemangat memeluk Laura.
"Bibi sangat senang bertemu dengan mu" ucap Mama Johan lalu melepaskan pelukannya.
"Aku juga sangat senang bertemu bibi. Semoga bibi di berikan kesehatan dan umur panjang" ucap Laura yang sudah tidak canggung.
"Terima kasih sayang, kamu memang anak baik, semoga kamu betah menjadi partner bibi" timpal mama Johan tersenyum.
"Ya bibi. Kalau begitu, sebaiknya bibi istirahat kembali. Aku akan menjaga dan merawat bibi dengan baik" ucap Laura antusias yang kembali mengeluarkan sifat aslinya.
Laura lalu membantu mama Johan berbaring, setelah itu kembali menyelimutinya. Tangan Laura pun mulai bergerak memijat kaki mama Johan.
"Tidak perlu sayang, bibi jadi tidak enak"
Nyonya Tias merasa tidak enak hati atas tindakan Laura.
__ADS_1
"Tidak apa-apa bibi, aku senang melakukannya"
Nyonya Tias tersenyum mendengar ucapan Laura. Sungguh wanita cantik di hadapannya benar-benar menantu idamannya.
🍁🍁🍁🍁🍁
Sementara Johan sibuk bekerja di kantornya. Sebelum melanjutkan rapat yang ketiga kalinya, Johan sempat menghubungi anak buahnya untuk mengirim pelayan wanita yang bekerja di kediaman orang tuanya untuk mengemasi pakaian Laura yang berada di apartemen.
Dan kebetulan sekali apartemen yang ditempati Laura salah satu apartemen miliknya. Jadi sangat mudah bagi anak buahnya untuk membobol masuk ke apartemen Laura tanpa menggunakan akses sekalipun.
Saat memasuki ruang rapat, tiba-tiba Johan menghentikan langkahnya karena ponselnya berdering. Johan segera keluar dari ruang rapat untuk menjawab panggilan masuk tersebut.
"Ada apa?" tanya Johan dingin di ujung telepon.
"Begini tuan, bagaimana dengan kucing peliharaan nona Laura? Tidak mungkin nona Laura bolak-balik ke...." ucap anak buahnya di ujung telepon yang tidak melanjutkan ucapannya.
"Bawa kucing itu ke tempat penitipan hewan. Jika ada yang berminat untuk membelinya jual saja" potong Johan dengan entengnya.
"Baik tuan. Tapi, saya tidak berani menjual hewan kesayangan nona Laura tuan" ucapnya dengan hati-hati.
"Lakukan sesuai dengan ucapan ku" tegas Johan dan langsung mematikan sambungan telepon secara sepihak.
Johan meregangkan otot lehernya lalu kembali melangkah masuk ke ruang rapat untuk mengikuti kembali peluncuran produk terbarunya.
🍁🍁🍁🍁🍁
Laura membantu nyonya Tias ke ruang makan menggunakan kursi roda. Laura begitu hati-hati mendorong kursi roda nyonya Tias.
Johan yang berada di ujung tangga menghentikan langkahnya dan memilih memperhatikan Laura dan mama nya.
Para pelayan sudah menyiapkan makan malam untuk keluarga William.
Tuan William sudah menempati kursinya sebagai kepala rumah tangga dan hanya perlu menunggu kedatangan orang-orang tersayangnya.
Tak berselang lama, nyonya Tias sudah bergabung bersamanya. Laura yang sempat membantu nyonya Tias lagi-lagi menawari Laura untuk makan malam bersama, namun Laura dengan cepat menolaknya.
Sungguh Laura begitu malu untuk bergabung bersama keluarga Johan. Ditambah tatapan tidak suka dari tuan William membuatnya tidak percaya diri.
Nyonya Tias hanya mampu memaklumi kondisi saat ini, ia pun tidak ingin Laura menjadi tidak betah atas tindakannya sendiri.
Sesegera mungkin Laura menepi ke dapur dan tidak ingin jadi pusat perhatian keluarga Johan.
__ADS_1
"Sayang, mama senang kamu kembali ke rumah" ucap mama Johan tersenyum melihat kedatangan putra satu-satunya.
Johan hanya mampu tersenyum tipis lalu menarik kursi untuk diduduki. Pandangan Johan mulai mencari-cari keberadaan Laura. Tapi sayangnya ia tidak melihat keberadaan Laura.
"Kamu cari siapa sih? mengapa celingak-celinguk begitu" tegur mama Johan dan jelas tahu apa yang sedang dicari putranya.
"Ooh, tidak ma. Johan melihat wajah mama tampak berseri-seri" ucap Johan cepat.
"Benarkah!... ini pasti karena perawat mama yang baik hati" ucap mama Johan antusias.
"Ehemm"
Tuan William berdehem meminta mereka untuk menghabiskan makanannya. Hingga ibu dan anak itu tampak kompak melanjutkan makannya.
Sementara Laura duduk di depan jendela menatap bintang di langit. Sedangkan para pelayan begitu sibuk sekitarnya yang tengah membersihkan peralatan masak yang kotor.
"Apa nona sudah makan?" tanya pelayan senior.
"Emm..aku belum lapar, nanti saja ya" tolak Laura cepat, namun perutnya sama sekali tidak berbohong.
Kruyukkk
Kruyukkk
"Nah itukan... jangan bohong nona" ucapnya sambil memainkan telunjuknya.
"He he he...." Laura hanya mampu cengengesan.
"Mari nona, anda bisa makan disini" ucap pelayan itu dengan ramahnya menunjukkan meja yang biasa digunakan untuk pelayan.
Laura segera bangkit dari duduknya lalu berjalan mendekati meja tersebut yang sudah tersedia makanan untuk para pelayan.
"Sehabis makan malam nyonya kembali mengobrol bersama di ruang keluarga dan akan bubar setelah topik pembicaraan mereka selesai. Jadi nona tak perlu khawatir" ucap pelayan senior.
Laura mulai menyantap makanan nya dengan diam, ditemani pula intan yang juga baru datang untuk makan malam setelah selesai mengerjakan pekerjaannya.
"Benar nona" timpal Intan yang tampak lahap menyantap makanannya yang duduk di samping Laura.
Status Laura saat ini benar-benar menguji mentalnya. Tapi, Laura bertekad untuk menjalani kehidupannya dengan semangat 45.
Bersambung.......
__ADS_1
Terima kasih atas dukungannya teman-teman 🙏 🙏🙏
Terima kasih juga untuk pihak Noveltoon yang sudah membuat cover untuk Laura dan Status Barunya. Author suka banget cover nya, makasih 😘