Laura Dan Status Barunya

Laura Dan Status Barunya
Bab 59 Laura dan Status Barunya


__ADS_3

Laura berjalan tertatih-tatih masuk ke rumahnya. Sang mama tampak khawatir sedang berada di ruang keluarga guna untuk menunggu kedatangannya. Pelayan wanita baru saja memberitahunya bahwa nona muda mereka baru saja pulang membuat wanita paruh baya itu bergerak cepat untuk menemui putrinya.


"Apa yang terjadi nak?" tanya Mama Laura khawatir melihat Laura kesusahan berjalan dan bergerak memapahnya.


"Aku habis jatuh di area pemakaman Mama" jawab Laura tersenyum.


"Mana yang terluka" panik Mamanya yang begitu khawatir dengannya.


"Tidak apa-apa kok Mama ku sayang, hanya lututku yang sedikit lecet. Mama tak perlu khawatir ya, aku mau ke kamar dulu" ucap Laura tersenyum dan memasang wajah ceria bahwa dirinya baik-baik saja.


Walaupun Laura kekeh tak ingin dipapah oleh mamanya, namun sang mama bersikeras dan tak bisa dibantah menuntunnya ke kamar. Setelah memastikan putrinya sudah berada di kamar, dia bergegas keluar membiarkan putrinya beristirahat.


Laura menghempaskan tubuhnya di atas ranjang empuknya sambil menatap langit-langit kamarnya. Tangannya sibuk mengelus lembut perut ratanya yang sudah keseringan melakukannya.


"Sayang, yang sehat ya diperut Mama, karena ini baru awal perjalanan kita, masih banyak halangan dan rintangan yang akan kita lewati bersama kedepannya" ucap Laura yang sudah siap melawan badai besar yang sewaktu-waktu ingin menghancurkannya.


"Mulai sekarang tak ada yang boleh meremehkan kita, saat Mama bersedih maka tutuplah mata dan telingamu dan jangan merasakan kesedihan Mama ya" ucap Laura mengajak janin dalam perutnya berbicara.


Ini pengalaman pertama baginya mengandung buah hatinya. Jadi dia tidak memiliki pengalaman apapun dan hanya bisa mengajaknya berbicara lewat usapan lembut diperutnya.


***


Sementara di tempat lain, Johan baru saja tiba di apartemennya dengan penampilan basah kuyup. Johan melangkah ke kamarnya namun langkahnya berhenti saat mendengar ponselnya berbunyi di balik saku jaketnya.


Tanpa basa-basi Johan langsung mengangkat panggilan masuk tersebut dari orang kepercayaannya.


"Mobilmu sudah ada di bawah tuan beserta parfum yang anda minta" ucap seseorang di ujung telepon.


"Hemm, terima kasih Mike, kau sudah bekerja keras untukku" ucap Johan dan segera mematikan sambungan teleponnya secara sepihak.


Johan melangkah cepat masuk ke kamarnya dan berlalu masuk ke kamar mandi untuk mandi. Johan menanggalkan seluruh pakaiannya dan menatap dirinya di depan cermin. Johan menyentuh dagunya sambil menyeringai.


"Aku akan melakukan segala cara untuk mendapatkanmu, Laura. Aku janji akan membahagiakanmu dan menebus semua kesalahan yang pernah ku perbuat kepadamu dan juga keluargamu" ucap Johan tersenyum tipis.


"Walau dengan cara licik sekalipun" tambahnya menyentuh wajahnya.


*


*

__ADS_1


*


Tak terasa sudah sebulan berlalu Laura memimpin perusahaan Papanya. Hal baru dan pengalaman kerja yang semakin menantang di depan mata membuatnya terus berpikir kritis demi tanggung jawab besar yang dipegangnya.


Namun dibalik semua itu, dia terus belajar dan belajar guna menggali potensi dan kemampuannya dalam menjalankan bisnis pada orang yang sudah dipercayakan oleh mendiang sang Papa untuk mengajarinya, termasuk Rival dan orang-orang kepercayaan Papanya.


"Lisa, tolong cek kembali laporan proyek pembangunan hotel di kota xxx" ucap Laura pada wanita yang terpaut tiga tahun diatasnya dan merupakan sekretaris barunya.


"Baik nona" ucap Lisa tersenyum dan selalu bersikap sopan pada atasannya.


"Jika sudah selesai tolong langsung kirim ke email ku. Satu lagi jangan menerima tamu siapapun untuk hari ini" ucap Laura tak beralih dari layar monitornya.


"Baik nona. Emm saya sudah memesan makan siang untuk anda, lima belas menit lagi akan datang" ucap Lisa sembari mengambil beberapa berkas penting di atas meja atasannya untuk dia pelajari.


"Ya, terima kasih Lisa. Kamu boleh keluar" ucap Laura sambil berkutat dengan laptopnya.


Lisa bergegas keluar dari ruangan atasannya. Namun dua lelaki jangkung tampak berdiri di depan pintu ruangan atasannya.


"Maaf tuan-tuan, untuk saat ini nona tidak ingin ditemui" ucap Lisa sopan untuk meminta mereka pergi.


Tak berselang kemudian, muncullah dua satpam berjalan tergopoh-gopoh menghampiri mereka.


"Hemm"


Lelaki jangkung itu langsung menyelonong masuk membuat Lisa yang berada di depan pintu tersenggol hingga membentur daun pintu. Saat ingin masuk pintu sudah tertutup rapat dan terkunci pula membuat Lisa merutuki kebodohannya.


"Ada apa lagi Lisa" ucap Laura tak beralih dari layar laptopnya karena mendengar langkah kaki seseorang masuk ke ruangannya.


"Bagaimana kabarmu Laura?" ucap Lelaki jangkung yang berdiri tegak berdiri di hadapannya.


Laura segera mengalihkan pandangannya mendengar suara yang tidak asing baginya. Laura hanya mampu membulatkan matanya melihat lelaki dibencinya sedang berdiri menatapnya.


"Keluar!" teriak Laura dengan amarah.


"Mengapa kau terus menghindariku?" tanya lelaki jangkung itu yang tak lain adalah Johan melangkah mendekat kearahnya.


"Aku membencimu dan pergi dari hadapanku" bentak Laura yang tak mampu mengontrol emosinya yang kini sudah berdiri di hadapan Johan.


Tanpa basa-basi Johan langsung menariknya ke dalam pelukannya dan Laura memberontak sambil memukul dada Johan.

__ADS_1


"Lepaskan aku b*jingan! aku sangat membencimu!" ucap Laura dengan amarah menggebu-gebu.


Johan malah mengeratkan pelukannya dan membiarkan Laura mencaci maki dirinya. Diluar dugaan Laura mengulurkan tangannya mencari sesuatu yang bisa dia gunakan untuk membela diri hingga Laura menggapai Vas bunga kristal dan langsung memukul keras kepala Johan.


Bughhhh


Johan meringis kesakitan memegangi kepalanya hingga darah segar mengenai telapak tangannya dan pelukannya terlepas begitu saja. Laura kembali bergerak mengambil tongkat baseball yang selalu dia siapkan untuk berjaga-jaga jika seseorang ingin berbuat macam-macam kepadanya.


"Sampai kapan kau terus membenciku Laura!" ucap Johan dengan tatapan dinginnya memegangi kepalanya.


"Seumur hidupku, aku tidak ingin mengenalmu selama-lamanya!" Laura mengatakannya dengan tatapan kebencian.


"Apa salahku Laura? aku bahkan ingin mempertanggungjawabkan semua perbuatanku kepadamu. Tapi, kau malah menolaknya mentah-mentah bahkan menganggap ku sebagai penjahat sesungguhnya dan bersalah atas kehamilan mu. Padahal jelas-jelas kita melakukannya karena keinginan bersama" ucap Johan hingga tubuhnya merosot dan bersimpuh di hadapan Laura. Sedangkan Laura begitu waspada memegang tongkat baseball nya.


"Karena kau! aku kehilangan Papa ku. Karenamu! hidupku hancur" teriak Laura hingga air matanya mengalir dengan sendirinya.


"Maafkan aku Laura, biarkan aku menebus semua kesalahanku" ucap Johan tulus dengan tatapan memohon di hadapan mantan istrinya.


"Aku tidak butuh maaf darimu. Dan aku tidak butuh belas kasihan orang seperti dirimu! pergilah karena aku muak melihat wajahmu, Johan!" ucap Laura dengan nada penekanan menyebut nama lelaki dibencinya. Dadanya begitu sesak lebih-lebih hatinya hancur karena kini sedang mengandung anaknya.


Johan mengepalkan tangannya bangkit dan berdiri tegak dengan raut wajah sulit diartikan.


"Kau sendiri yang membuat genderang perseteruan antara kita berdua. Jadi jangan salahkan aku, jika tindakanku di luar batas" ucap Johan dingin lalu melenggang pergi meninggalkan ruangan Laura bahkan membanting pintu ruangannya.


"Pergi!" teriak Laura menggema sambil menyeka kesal air matanya melihat kepergian Johan.


Tubuhnya lemas langsung merosot ke lantai dengan tangis semakin pecah.


"Aku membencimu Johan, sampai kapanpun aku membencimu!" ucap Laura berderai air mata. Lisa segera menghampirinya dan membantunya berdiri.


"Tolong keluarlah, aku hanya ingin sendiri" perintah Laura kepada sekretarisnya.


Lisa hanya mampu mengangguk patuh lalu menyimpan paper bag berisi makan siang atasannya di atas meja dan bergegas keluar. Dia sama sekali tidak tahu masalah yang dialami atasannya.


Sementara Johan berjalan tegak dengan pandangan lurus ke depan. Saat seseorang menghalangi jalannya, dia tidak segan-segan memukulinya. Sedangkan Mike tak bisa berbuat apa-apa untuk menghentikan atasannya yang sedang diselimuti amarah berapi-api.


"Hubungi pengacara terkenal di negeri ini, berapapun bayarannya aku siap membayarnya. Aku ingin menggugat hak asuh anak kami secepatnya" ucap Johan dingin lalu masuk ke dalam mobilnya. Dan Mike senantiasa mengangguk patuh lalu ikut masuk dan duduk di kursi kemudi.


Mobil melaju meninggalkan perusahaan AFL Group. Dari atas gedung Laura mampu melihat kepergian Johan dengan tatapan kebencian.

__ADS_1


Bersambung.....


__ADS_2