
"Kita mau kemana sih" omel Wulan memasang wajah masam. Karena sepanjang perjalanan dia merasa asing dengan jalanan yang ia lewati.
"Ke hotel " ucap Fero tersenyum tipis.
"Hotel! turunkan aku di depan. Kamu pasti ingin nunjukin selingkuhanmu di hotel, lalu kalian bermesraan di depan mataku hingga membuatku nangis bombai. Oh tidak, aku bukan gadis lemah yang cengeng dan mudah ditindas oleh orang seperti dirimu. Sebelum kesabaran ku habis hingga mematahkan burung bangau mu, cepat berhenti di depan" kesal Wulan panjang lebar dengan dugaannya sendiri.
Fero tersenyum tipis sambil geleng-geleng kepala mendengar ucapan nyeleneh istrinya. Dia semakin menambah kecepatan laju mobilnya yang sebentar lagi akan sampai di hotel dan malah menghiraukan ucapan istrinya yang memintanya berhenti di depan.
"Sekarang juga berhenti di depan. Apa kamu tuli hah!" ucapnya dengan suara meninggi dan Fero semakin bersemangat menyalip mobil di depannya, membuat Wulan mengepalkan tangannya yang sudah naik pitam.
"Berhenti om-om si*lan!!!!..." teriaknya keras dan membuat gendang telinga suaminya memanas.
Critttt
Tanpa basa-basi Fero menghentikan laju mobilnya tepat di pelataran hotel membuat tubuh Wulan meringsut ke depan hingga keningnya membentur dasboard mobil.
"Arghh, dasar menyebalkan" Wulan berdengus kesal memegangi keningnya yang memerah akibat benturan dasboard mobil.
"Kamu berkata apa hah!" ucap Fero dingin dengan sorot mata tajamnya. Wulan hanya mampu menelan ludahnya dengan kasar melihat raut wajah suaminya.
"Dasar menyebal_" Wulan tak melanjutkan ucapannya karena Fero memotong ucapannya cepat.
"Bukan yang itu!" terdengar nada penekanan dari ucapan Fero membuat Wulan sedikit bergidik ngeri dengan sikap suaminya.
"Om-om s*alan, dasar menyebal..... emmppp...." Wulan tak mampu melanjutkan ucapannya karena mulutnya sudah dibungkam habis oleh suaminya.
Wulan membulatkan matanya sambil memukul dada bidang Fero untuk menghentikannya, namun Fero semakin melancarkan aksinya memegang tengkuknya demi memperlancar ciumannya. Hingga pukulan Wulan melemah dan ikut hanyut dalam permainan suaminya.
Wajah Wulan memerah yang sudah kehabisan nafas akibat serangan membabi buta dari sang suami membuatnya mencengkeram kuat lengan suaminya hingga ciuman mereka terlepas.
"Hah hah,...apa kamu ingin membunuhku dengan menciumku seperti itu" kesal Wulan dengan deru nafas ngos-ngosan.
"Itu hukuman untukmu. Berhentilah mengomel cebol dan hilangkan segala prasangka buruk mu. Apa seperti ini sikap seorang istri kepada suaminya? ingat! istri yang berdosa masuk neraka" ucap Fero dengan tatapan elangnya sambil menyentuh sudut bibirnya, membuat Wulan terlonjat kaget mendengar ucapannya.
"Lagian kamu terus membuatku kesal. Main cium segala lagi, aku tidak sudi disentuh tukang selingkuh dan aku tidak rela jika kamu berselingkuh di belakangku!" ucap Wulan kesal lalu mengerucutkan bibirnya.
Ingin rasanya Fero tergelak tawa mendengar ucapan istrinya di tambah raut wajahnya berubah menggemaskan jika sedang marah.
"Siapa juga yang selingkuh, apa kamu punya buktinya? Fitnah lebih kejam dari pembunuhan" bantah Fero dengan nada penekanan.
"Kamu yang berselingkuh. Buktinya, setiap kali aku menelponmu selalu saja suara wanita yang menjawab panggilanku. Apa kamu mau mengelak lagi." sinis Wulan yang diam-diam menaruh cemburu kepada suaminya.
Wulan langsung membuka salah satu ponselnya dan menyalakan rekaman yang biasa dia gunakan untuk merekam suara wanita yang menjawab panggilannya.
"Oh itu suara sekretarisku, dia sudah bersuami" ucap Fero santai.
__ADS_1
"Apa? aku tidak percaya!" Wulan langsung menutup mulutnya yang masih belum percaya dengan suaminya.
"Terserah, yang jelas tuduhan mu tidak benar. Aku tidak habis pikir kamu punya dua ponsel hanya untuk menerorku selama ini" sindir Fero melihat kedua ponsel Wulan.
Wulan menjadi gelagapan dan segera menyembunyikan salah satu ponselnya di dalam tasnya.
"Ap-apa maksudmu, ponsel ini hanya membantuku dalam bermain game online" elak Wulan menatap tajam Fero.
"Alasan." Fero menjitak kening istrinya yang sedang mengelak membuat wanita berkuncir kuda itu meringis kesakitan.
"Awwww"
Lagi-lagi Wulan mengepalkan tangannya melihat tingkah laku suaminya.
"Aku sama sekali belum percaya dengan ucapanmu. Bisa saja kamu berselingkuh di belakangku, mengingat dirimu tampan, mapan, banyak harta dan bisa melakukan apa saja. Asal kamu tahu, aku rela menjaga hatiku demi untukmu dan menjaga semua dalam tubuhku semata-mata hanya untukmu. Ya, jika kamu mengganggap ku berlebihan dan cemburuan memang benar adanya, karena aku tidak ingin milikku diambil oleh orang lain" ucap Wulan mengeluarkan semua unek-uneknya selama ini dan Fero hanya diam mendengarkannya.
"Setiap hari aku menghubungimu hanya untuk mengetahui kabarmu. Aku bahkan rela begadang hanya untuk menunggu teleponmu di malam hari, namun kamu terkadang mengacuhkan ku, padahal disini aku sangat merindukan suaramu dan wajah ngeselin mu. Tidakkah kamu tahu bahwa aku itu diam-diam menyukai mu sejak lama, sementara kamu selalu saja menyakitiku" lanjutnya dengan pandangan tertunduk.
Fero mengerutkan keningnya mendengar ucapan istrinya yang sepertinya mengungkapkan perasaannya.
"Jawab dulu pertanyaanku, apa kamu selingkuh?" tanya Wulan.
"Tidak, buang jauh-jauh semua tuduhanmu itu. Karena aku selalu setia terhadap istriku" jawab Fero.
"Apa kamu menyukaiku?" tanya Fero.
Kemudian Fero langsung menariknya ke dalam pelukannya, membuat Wulan membalas pelukannya dan segera menyembunyikan wajahnya di dada bidang suaminya. Wulan memang merindukan aroma tubuhnya dan pemilik tubuh yang berstatus sebagai suaminya.
"Apa kamu menyukaiku?" tanya Wulan dan tak ingin cintanya bertepuk sebelah tangan.
"Ya, aku menyukaimu" jawab Fero membuat wajah Wulan merona di pelukannya.
"Teruslah menyukaiku cebol manis" ucapnya tersenyum tipis.
"Hemm,... heh apa katamu barusan."
Wulan mendongak menatap wajah suaminya, membuat pemilik manik hitam itu mencubit gemas hidung mancungnya.
"Cebol manis ku" ucapnya tersenyum.
"Aaah berhenti mengatai ku cebol, aku tidak suka mendengarnya" balas Wulan manja.
"Aku lebih suka memanggilmu cebol manis" goda Fero tanpa melepas pelukannya.
"Kalau begitu aku tidak akan menyukaimu lagi."
__ADS_1
"Jangan lakukan itu, bagaimana jika aku memanggilmu si manis atau sayang."
Fero mencoba membujuk istrinya dan Wulan langsung menggangguk di pelukannya. Mereka berpelukan cukup lama di dalam mobil untuk melepaskan rindu yang teramat dalam yang mereka pendam dalam kurun waktu beberapa tahun lamanya.
Kini mereka kembali dipertemukan dengan perasaan yang sama. Saling menyukai satu sama lain sungguh hubungan jarak jauh yang berhasil membuat mereka mengerti akan arti kesetiaan.
Lama berpelukan, mereka bergegas turun dari mobil dan berjalan sambil bergandengan tangan masuk ke hotel. Manager hotel dan karyawan hotel langsung menyambut kedatangan mereka dengan ramah dan memberikan kartu akses pada pemilik hotel bintang lima tersebut.
"Ngapain kamu mengajakku ke hotel, ini masih siang menjelang sore" ucap Wulan penuh curiga dan Fero hanya tersenyum menanggapi ucapannya yang sudah memegang kartu aksesnya.
"Nanti juga kamu bakalan tahu" ucap Fero tersenyum dan segera menarik pinggangnya masuk ke dalam lift dan memencet angka tertinggi pada lantai tertinggi hotel bintang lima tersebut.
Ting
Pintu lift terbuka, tanpa basa-basi Fero langsung menggendong Wulan, membuat wanita itu meronta-ronta dalam gendongannya.
"Turunkan aku, tubuhku berat tahu" ketus Wulan sambil berpegangan erat di leher suaminya.
"Setelah kita sampai di kamar hotel" balas Fero tersenyum dan segera berjalan mendekat pada pintu kamar nomor 999.
Tangan Fero begitu telaten menempelkan kartu aksesnya hingga pintu kamarnya terbuka lebar dan Fero segera masuk sambil menggendong Wulan. Tak lupa Fero menutup pintu kamarnya sambil menendangnya hingga pintu itu tertutup rapat.
Sementara Wulan sangat terkesima melihat suasana kamar hotel yang begitu mewah dengan furniture mahal yang menghiasi kamar mewah tersebut.
Dengan hati-hati Fero menurunkan tubuh Wulan di sofa panjang lalu dia ikut duduk di sampingnya.
"Untuk apa kita disini?" tanya Wulan dengan polosnya.
"Memangnya untuk apa jika pasangan suami istri main ke hotel?" tanya Fero balik.
"Aku tidak tahu" jawab Wulan bermasa bodoh.
"Mendekatlah, biar aku kasih tahu" ucap Fero menyeringai.
"Tidak mau."
Wulan hanya menggeleng dan Fero segera menarik tangannya hingga tubuh Wulan menempel di tubuhnya.
"Kita akan menghabiskan waktu di kamar hotel ini hingga kamu hamil." bisik Fero lalu mencium leher jenjang istrinya.
"Apa? aaaaaahh"
Kembali tubuh Wulan diangkat dan dijatuhkan di atas ranjang berukuran king size lalu Fero menjalankan aksinya. Setelah sekian lama, akhirnya pasangan suami istri itu merayakan malam pengantinnya, dan kamar hotel menjadi saksi bisu persemaian mereka di sore hari.
Bersambung...
__ADS_1
Terima kasih atas dukungannya teman-teman 🙏