
Laura sedang menemani anak-anaknya bermain di taman. Tampak si kembar begitu antusias main perosotan, ayunan, tarik tambang, naik rumah pohon dan mencoba segala permainan di area taman yang tersedia di area kompleks perumahannya.
Niat awalnya untuk ke mall digagalkan oleh si kembar. Karena kedua anak kembar itu lebih tertarik dengan anak-anak kompleks yang bermain perosotan di taman.
"Mommy, lihat Jovin main perosotan" ucapnya antusias yang begitu senang bermain perosotan bersama saudara kembarnya dan anak sebayanya.
"Iya sayang, mommy terus mengawasi kalian" ucap Laura tersenyum yang duduk di kursi besi yang tak jauh dari mereka bermain.
Kedua babysister yang bertugas mengawasi Jovan dan Jovin begitu telaten setiap kali kedua bocah kembar itu berlari ke permainan yang lain. Mereka tak pernah lengah dan selalu dalam pengawasan menjaga si kembar.
"Hati-hati sayang, jangan terus berlari" tegur Laura dan segera menghampiri anaknya melihat kedua babysister yang sepertinya kewalahan menghadapi anak kembarnya.
"Mommy, besok kita ajak Daddy kesini ya " ucap Jovan antusias dan merasa tidak lengkap tanpa kehadiran ayahnya.
Laura hanya tersenyum dan mengangguk menanggapi ucapannya.
"Tapi, Daddy harus bekerja dulu. Setelah pulang kerja, Daddy baru temanin kalian bermain." Laura tersenyum sambil mendorong pelan ayunan yang dinaiki Jovan dan Jovin, hingga membuat anak menggemaskan itu tertawa terbahak-bahak sambil berpegangan erat pada sisi pegangan ayunan.
"Dan Mommy harus ikut menemani Jovin dan Jovan bermain" timpal Jovin tersenyum jenaka memperlihatkan deretan gigi susunya.
"Iya sayang, Mommy janji akan temani kalian bermain" Laura tersenyum melihat tingkah anaknya yang semakin aktif dan menggemaskan.
"Asyik, pasti seru" Jovin bersorak gembira dengan banyak gaya dan terus menggerakkan tubuhnya di atas ayunan, membuat ibunya segera memegangi tubuhnya takutnya terjatuh dari ayunan.
"Yang tenang Jovin, nanti kamu jatuh dari ayunan" tegur Laura pada anaknya.
"Maaf Mommy, Jovin begitu senang main ayunan" ucapnya dengan raut wajah menggemaskannya, hingga ibunya langsung mencium pipi gembul nya.
"Lain kali jangan ulangi ya" ucap Laura tersenyum sambil mengelus punggung kecil anaknya. Dan babysister nya hanya tersenyum melihat tingkah lucu anak asuhnya.
"Baik Mommy."
"Jovan mau es krim." ucap Jovan merengek sambil menunjuk stan penjual es krim di sebrang jalan.
Laura segera mengalihkan pandangannya melihat ke arah yang di maksud anaknya.
"Bi suster, tolong beli es krim untuk Jovan dan Jovin. Seperti biasa rasa coklat dan rasa strawberry" ucap Laura dan segera mengeluarkan beberapa lembar uang dari dompetnya.
__ADS_1
"Baik nyonya" ucap babysister bernama Dinda dan langsung mengambil uang pemberian Laura untuk membeli es krim si kembar.
Sementara Laura memasukkan kembali dompetnya. Namun tiba-tiba ponselnya berdering, Laura langsung mengambil ponselnya dan mengerutkan keningnya melihat nama yang tertera di layar ponselnya.
"Pak Rival, ada apa ya" gumam Laura bingung melihat tiga panggilan masuk dari pak Rival.
"Bi titip si kembar, saya mau jawab telepon dulu" ucap Laura.
"Baik nyonya."
Laura segera menjauh untuk menjawab panggilan masuk dari pak Rival.
"Halo pak Rival, ada apa ya?" tanya Laura.
"Maaf mengganggu waktu Anda. CEO perusahaan Smiller Group begitu kekeh ingin bertemu dengan Anda. Jika Anda tak datang di acara pertemuan, maka kontrak kerja dibatalkan" ucap Rival dengan hati-hati di ujung telepon.
Laura tampak berpikir sejenak dan masih bimbang dengan keputusannya. Kembali Pak Rival berbicara panjang lebar dan Laura tampak serius mendengarkannya.
Sementara si kembar begitu asyik bermain ayunan yang dalam pengawasan babysister nya.
"Aku mau main perosotan lagi" Jovin bergegas turun dari ayunan dan langsung berlari kencang ke tempat perosotan.
"Hiks, hiks hiks...Mommy.... Daddy" tangisnya langsung pecah yang sedang kesakitan. Darah segar terus saja keluar dari keningnya yang terluka hingga tangisnya semakin pecah. Babysister segera menggendongnya untuk menenangkannya.
Laura yang mendengar suara tangis anaknya langsung membulatkan matanya dan berlari kencang menghampiri mereka.
Raut wajah Laura tampak panik melihat anaknya terluka, dia segera mengambil alih anaknya dari gendongan babysister. Lalu segera melangkah ke mobil.
"Hiks hiks hiks, sakit mommy" Jovin terus saja menangis sesenggukan merasa kesakitan dengan semua luka ditubuhnya.
"Tenang sayang, semuanya akan baik-baik saja" ucap Laura dengan bibir bergetar hebat dan mata memerah. Sungguh dia merutuki dirinya sendiri yang lalai menjaga anaknya.
Jovin terus saja menangis sejadi-jadinya memeluk leher ibunya, membuat sang ibu semakin panik saja.
"Kita harus ke rumah sakit" teriak Laura pada babysister yang menggendong Jovan untuk segera menyusulnya ke mobil.
Laura segera masuk ke mobil dan langsung duduk di kursi kemudi, dimana Jovin berada dalam gendongannya. Lalu disusul babysister anaknya yang sedang menggendong Jovan dan mendudukkannya di pangkuannya.
__ADS_1
Mobil melaju kencang meninggalkan tempat tersebut, sementara babysister bernama Dinda hanya menatap bingung mobil majikannya yang sudah pergi.
"Jovin jangan nangis lagi ya, nanti daddy beli mainan baru yang banyak untuk Jovin" ucap Jovan dengan mata memerah yang mencoba menghibur saudara kembarnya. Padahal dirinya pun ingin menangis melihat keadaan saudara kembarnya.
Sambil mengemudikan mobilnya sesekali Laura mengusap kasar air matanya yang berhasil lolos membasahi pipinya. Hingga mobil yang membawa mereka tiba di rumah sakit terdekat.
Tak ingin menunda waktu, Laura bergegas melarikan anaknya masuk ke dalam rumah sakit. Dokter segera membawanya ke ruang UGD untuk menangani pasiennya. Sementara Jovan bersama babysister nya hanya menunggu di mobil.
"Dokter tolong anak saya." Laura begitu panik melihat anaknya sedang ditangani oleh dokter beserta suster yang bertugas.
"Tenang nona, anak anda baik-baik saja. Luka dikening nya sudah kami jahit dan luka memar lainnya sudah kami obati. Sebentar lagi anak anda akan siuman, mengingat obat biusnya berfungsi tidak lama" ucap Dokter itu tersenyum.
"Terima kasih dok" ucap Laura terisak menatap anaknya terbaring lemah di atas tempat tidur pasien dan Dokter bergegas undur diri dari hadapannya.
Seketika pintu ruang perawatan anaknya terbuka lebar dan menampilkan sosok Johan yang juga terlihat panik berjalan tergesa-gesa menghampirinya.
"Mengapa Jovin bisa terluka seperti ini, Laura? apa kau hanya sibuk bekerja sampai lengah menjaga anakmu" tanya Johan dengan tatapan tajam.
Pandangan Laura tertunduk dan hanya diam tak berani bersuara. Tangannya yang bergetar segera menutup mulutnya agar suara tangisnya tak terdengar.
"Jawab Laura" Johan malah mengintimidasinya melihat kondisi anaknya yang terbaring lemah di atas tempat tidur pasien.
"Sudah kuduga, kau hanya sibuk mengurusi pekerjaanmu sampai melalaikan kewajibanmu sebagai ibunya." Laura hanya mampu menangis dengan dada sesaknya. Pertama kalinya anaknya terluka dan ia merasa gagal menjaga anaknya.
Johan begitu marah besar kepada Laura melihat kondisi anaknya, bahkan Laura tak mengabarinya. Untungnya babysister yang bernama Dini mengabarinya bahwa anaknya Jovin berada di rumah sakit. Sehingga Johan langsung membatalkan meeting dengan kliennya dan bergegas menyusul anaknya ke rumah sakit.
Lalu Johan duduk di pinggir tempat tidur sambil menggenggam tangan mungil anaknya dan sesekali menciumnya. Sungguh hatinya begitu sakit melihat anaknya terluka.
Tak berselang lama kemudian, bola mata kecil anaknya mulai terbuka dan langsung menangkap sosok ayahnya.
"Daddy" ucapnya antusias dan mulai menggerakkan tubuhnya untuk bangun. Laura segera mengalihkan pandangannya dan buru-buru menghapus sisa-sisa air matanya.
"Jangan sayang, tetaplah berbaring. Kamu harus istirahat biar cepat sembuh" ucap Laura lemah lembut sambil mengelus puncak kepala anaknya.
"Daddy pengen peluk" Johan mengangguk menanggapi ucapannya, membuat anak menggemaskan itu tersenyum dengan mata berbinar.
Johan perlahan memeluk anaknya dengan hati-hati mengingat banyak luka di sekujur tubuh anaknya. Laura tersenyum melihat keakraban mereka.
__ADS_1
Bersambung.....