
Di sebuah unit apartemen tampak pasangan suami istri tengah duduk bersama menikmati sarapannya tanpa adanya pembicaraan. Mereka adalah pasangan Wulan dan Fero yang terlihat seperti orang asing.
Fero tampak lahap menyendok nasi goreng buatan istrinya dan menjadi sarapan favoritnya. Dan Fero sedikit diuntungkan dengan keahlian Wulan yang pandai memasak.
Sedangkan Wulan tak berselera makan dan hanya mengaduk nasi goreng di piringnya sambil termenung yang sedang merindukan ayahnya dan juga kepikiran dengan Paman dan Bibi nya yang berada di negara Z.
"Cepat habiskan makanan mu, aku akan berangkat ke kantor" tegur Fero melihat tingkah istrinya.
Wulan langsung mendongak menatap Fero dengan tatapan malas sambil menopang dagu mengaduk nasi gorengnya.
"Aku ingin berkunjung ke rumah ayah dan ingin menginap di sana selama seminggu" ucap Wulan memasang wajah cemberut yang sedang meminta izin kepada suaminya.
"Ya sudah pergilah, nanti aku menyusul setelah pulang kerja" ucap Fero santai lalu meminum teh manis buatan Wulan.
"Benarkah? terus bagaimana dengan pekerjaanmu? apa kamu akan bolak-balik keluar kota hanya untuk menyusul ku?" tanya Wulan sambil melipat tangannya di depan dada.
"Nanti aku pikirkan, mungkin dua atau tiga hari aku menginap di sana" jawab Fero sambil bangkit dari duduknya yang sudah menggenggam kunci mobilnya untuk berangkat ke kantor.
"Terima kasih sudah mengizinkanku untuk menemui ayah" ucap Wulan menunduk sambil menyembunyikan senyumannya.
"Hemm, aku berangkat" ucap Fero melirik kearah Wulan lalu melangkah menuju pintu keluar.
"Berikan padaku, aku akan mengantarmu ke depan" Wulan berjalan menghampiri Fero lalu mengambil tas kerja Fero untuk mengantarnya sampai di depan pintu.
Dan Fero sendiri hanya membiarkannya, dia merasa aneh dengan sikap Wulan yang tiba-tiba berubah, biasanya Wulan selalu saja membuatnya kesal setengah mati setiap kali bersamanya.
"Jaga dirimu baik-baik, jika terjadi sesuatu cepat hubungi aku" ucap Fero dan Wulan hanya mengangguk.
Fero segera mengambil tas kerjanya ditangan Wulan hingga refleks tak sengaja menyentuh tangan kasar Wulan. Sementara Wulan menjadi gelagapan dan segera menarik tangannya lalu menyembunyikannya di saku bajunya, pasalnya dia tidak ingin ketahuan bahwa memiliki tangan yang kasar seperti lelaki pekerja keras.
"Ada apa?"
"Tidak apa-apa. Cepatlah berangkat jangan sampai kamu telat" tegur Wulan untuk meminta Fero segera pergi.
Wulan menghela nafas melihat punggung Fero semakin menjauh dari pandangannya lalu dia bergegas masuk dan menutup pintu apartemennya.
"Ya ampun, aku ketahuan deh memiliki tangan yang kasar. Apalagi tangan dia selembut sutra mirip wanita yang jemarinya lentik, hobi pedicure medicure gumam Wulan menirukan suara lelaki gemulai sambil memukul kecil kepalanya.
*
*
*
__ADS_1
Sementara di perusahaan AFL Group....
Seluruh para petinggi perusahaan dan karyawan-karyawati berkumpul di ruang aula dan begitu antusias menyambut pemimpin baru perusahaan AFL Group. Tak lupa mereka semua memberikan selamat untuk pemimpin baru perusahaan dengan gembira dan penuh sukacita.
"Dipersilahkan dengan hormat kepada nona Laura Fernandez selaku President direktur perusahaan AFL Group untuk menyampaikan pesan dan kesan perusahaan AFL Group" ucap MC acara dengan hormatnya meminta Laura naik ke podium.
Tampak wanita cantik yang tak lain adalah Laura dengan penampilan elegannya berdiri di atas podium dengan senyuman merekah indah sambil melambaikan tangannya sebagai sapaan untuk semua orang yang berada di ruang aula. Lalu dengan hormat Laura mulai berpidato singkat tentang pesan dan kesan beserta visi dan misi perusahaan AFL Group kedepannya agar semakin maju dan mendunia.
Tidak hanya itu, sosok wanita paruh baya yang merupakan orang tersayangnya tampak duduk bersama dengan para petinggi perusahaan dengan mata berkaca-kaca yang begitu terharu menyaksikan langsung putrinya berada di atas podium selaku pimpinan baru perusahaan AFL Group dan akan berpidato tentang kepemimpinannya dalam memimpin perusahaan AFL Group.
"Majulah perusahaan AFL Group" ucap Laura mengakhiri pidatonya dan semua orang serempak mengikutinya dan memberikan up plus untuknya.
Tak henti-hentinya sang mama tersenyum bangga melihat putrinya di atas podium dan akan memimpin perusahaan AFL Group kedepannya.
"Mama" ucap Laura tersenyum melangkah mendekati Mamanya dan sang Mama langsung merentangkan kedua tangannya sebagai tanda selamat atas pencapaian dan kesuksesan yang diraih putrinya.
Laura langsung berhambur memeluk Mamanya dengan mata berkaca-kaca.
"Selamat sayang. Mama yakin Papa bangga melihatmu di tempat terbaiknya" ucap mama nya dengan perasaan haru.
"Terima kasih mama, Laura sayang Mama" ucap Laura yang juga diselimuti perasaan haru dan tak ingin mengeluarkan air matanya karena momen bahagianya akan terganggu jika raut wajahnya berubah sembab.
Sementara di luar gedung, terlihat Johan dan sekretarisnya berdiri di lobi perusahaan menonton layar monitor berukuran besar yang memperlihatkan suasana pelantikan pimpinan baru perusahaan AFL Group.
"Tuan, sebentar lagi rapat pemegang saham akan segera dimulai. Sedangkan tuan masih betah disini bahkan sudah melewatkan meeting dengan klien" ucap Mike sambil memijit keningnya.
"Ayo pergi, aku sudah puas melihat Laura lewat layar monitor" ucap Johan dan berjalan lebih dulu. Mike segera menyusulnya.
Setibanya di perusahaan William Group, Johan tampak tergesa-gesa berjalan menuju ruangannya.
"Segera kumpulkan kepala bagian divisi di ruang rapat" perintah Johan kepada sekretarisnya.
"Mereka sudah berkumpul tuan sejak 20 menit yang lalu" ucap Mike penuh kesabaran kepada atasannya. Tidak hanya pelupa namun juga pikun.
"Ya sudah tunggu apalagi" kesal Johan dan segera melangkah lebar ke ruang rapat.
Seluruh para petinggi perusahaan William Group dan kepala bagian divisi berkumpul di ruang rapat dan sudah menempati kursinya masing-masing.
Johan berdehem masuk ke ruang rapat diikuti oleh sekretarisnya. Untuk pertama kalinya dia datang terlambat menghadiri rapat penting tersebut.
"Silahkan dimulai" ucap Johan yang sudah menempati kursi kebesarannya. Dengan tatapan dingin, Johan menatap satu persatu orang yang berada di ruang rapat sambil memainkan bolpoin nya, seketika setiap orang yang bertemu pandang dengannya segera menunduk takut.
Rapat pemegang saham berjalan lancar dan semua orang yang berada di ruang rapat menghela nafas lega saat benar-benar melihat atasannya keluar dari ruang rapat.
__ADS_1
***
Tepat pukul 5 sore, Laura bersiap-siap untuk pulang ke rumah mengingat pekerjaannya sudah selesai dan waktu sudah menunjukkan jam pulang. Sementara sang mama pulang lebih awal tepat selesainya rapat pemegang saham.
Rival membantu membereskan berkas penting dan sejumlah laporan proyek terbaru perusahaan di atas meja kerjanya. Karena Rival tetap bekerja menjadi sekretarisnya dan akan mengajari dan membimbingnya.
"Terima kasih atas kerjasamanya pak Rival, mohon bimbingannya kedepannya" ucap Laura merendah diri.
"Sama-sama nona Laura, saya akan lebih giat membimbing anda kedepannya" ucap Rival menunduk hormat dan sudah menjadi janjinya kepada mendiang atasannya.
Laura berjalan lebih dulu kemudian disusul Rival yang berjalan di belakangnya dengan langkah lambat memberi ruang bagi atasannya.
Mereka kembali berjalan beriringan menuju area parkiran. Tampak mobil sport hitam terparkir tepat di samping mobil Laura. Sang pengemudi mobil terus saja menajamkan pandangannya mencari sosok yang dicarinya.
"Itu dia" ucapnya dan segera memakai topeng penyamarannya.
Laura berdengus kesal mendapati ban belakang mobilnya kempes.
"Ya ampun, mengapa aku selalai ini bahkan tak memeriksanya" ucap Laura kesal dan menendang kesal ban mobilnya hingga ia sendiri meringis kesakitan.
"Ada yang bisa saya bantu nona" ucap lelaki jangkung memakai topi dengan suara serak basah berdiri di depan mobilnya.
Laura segera mengalihkan pandangannya hingga mampu melihat sosok pria asing di hadapannya.
"Oh tak perlu. Permisi" ucap Laura dan segera menjauh. Dia tidak ingin meladeni orang asing.
Namun sayangnya pria asing itu malah berjalan ke samping mengecek ban mobilnya.
"Aku bisa menggantinya dengan ban serep" ucapnya dan berhasil menghentikan langkah Laura.
Laura segera mengalihkan pandangannya melihat ke arah pria asing yang sedang berjongkok di samping mobilnya. Dengan terpaksa Laura menghampirinya.
Pria asing itu begitu cekatan dan sangat ahli mengganti ban belakang mobilnya membuat Laura bersandar di samping mobilnya sambil memperhatikan punggung pria itu.
"Sudah selesai" ucapnya sambil menyeka keringatnya.
"Terima kasih tuan" ucap Laura ramah.
"Pradipta" ucapnya sambil mengulurkan tangannya sebagai tanda perkenalan.
"Laura" balasnya tersenyum dan ikut berjabat tangan sebagai tanda perkenalannya hingga pandangan mereka bertemu sepersekian detik lalu mengakhirinya sambil melepaskan tangan masing-masing dengan suasana canggung.
Bersambung......
__ADS_1
Terima kasih atas dukungannya teman-teman 🙏