
Wanita cantik berambut hitam legam terlihat meringkuk di atas ranjang. Dia sudah lelah menangis kehilangan mahkota yang begitu berharga dalam hidupnya, wanita cantik itu tampak bangkit dengan raut wajah meringis menahan kesakitan.
Hatinya hancur lebih-lebih di bagian bawah perutnya terasa berdenyut nyeri. Langkahnya terseok-seok ke kamar mandi untuk membersihkan tubuhnya. Dia tidak tahu apa yang sudah diperbuat oleh mantan suaminya sampai-sampai miliknya seperti terkoyak habis.
Perlahan Laura menanggalkan seluruh pakaiannya. Tampaklah bekas-bekas merah hasil percintaan semalam dengan mantan suaminya. Laura memegangi dadanya yang terasa sesak melihat semua itu. Dia pun segera mengguyur tubuhnya dengan air dingin guna untuk menjernihkan pikirannya.
Tak ingin berlarut-larut dalam kesedihan karena kehilangan hal yang berharga dalam dirinya, Laura memilih untuk tegar dan berusaha meyakinkan dirinya sendiri bahwa ia bisa menjalani hari-harinya dengan baik kedepannya.
Sekitar 20 menit Laura menyelesaikan ritual mandinya. Dia pun bergegas melangkah keluar, wajahnya tampak segar lebih baik dari sebelumnya. Walaupun matanya agak bengkak karena cukup lama menumpahkan kesedihannya di dalam kamar tersebut.
Laura mengedarkan pandangannya mendengar ponselnya berbunyi. Dia pun mendekati ranjang untuk mengambil ponselnya tergeletak di sana.
"Mama" Laura terkejut melihat panggilan masuk dari mama nya.
Tanpa menunggu lama, Laura segera menggeser ikon berwarna hijau untuk menjawab panggilan masuk dari mama nya.
"Sayang, kamu dimana sekarang?" tanya Mama nya di ujung telepon.
Tumben Mama menanyakan keberadaanku.
"Aku lagi liburan Mama bersama teman-teman ku" ucap Laura dengan mata berkaca-kaca.
"Kamu baik-baik saja kan nak? Mama sangat mengkhawatirkanmu" terdengar suara Mama nya begitu khawatir di ujung sana.
"Ha ha ha tentu Mama. Aku sangat senang menikmati liburanku" Laura memegang dadanya yang sedang bergemuruh menahan air matanya untuk tidak tumpah.
"Oh syukurlah, Mama senang mendengarnya. Laura, Mama sangat merindukanmu disini. Pulang lah nak, pintu rumah terbuka lebar untukmu. Mama berusaha meyakinkan Papa untuk memaafkan segalanya, jadi jangan lagi khawatir nak" ucap Mama nya di ujung telepon.
"Tidak sekarang Mama. Kapan-kapan aku akan menemui mama di rumah" ucap Laura memberikan janji bertemu dengan Mama nya.
"Benarkah? oke. Mama akan tunggu kedatanganmu nak. Secepatnya kamu harus pulang ke rumah" ucap Mama nya terdengar antusias dan bahagia sekali mendengar penuturan putrinya.
"Iya Mama. Ya sudah Mama, aku ingin bersenang-senang. Sampai jumpa" ucap Laura memilih mengakhiri pembicaraannya dan langsung menutup panggilan teleponnya secara sepihak.
Laura menggenggam erat ponselnya lalu melemparkannya ke atas ranjang.
Sudah cukup aku menderita seperti ini. Lambat laun aku akan kembali kehidupanku seperti semula.
"Anggap semuanya tak pernah terjadi, Laura. Kau bisa melakukannya" gumam Laura lalu menarik nafas dalam-dalam kemudian dihembuskannya dengan perlahan.
__ADS_1
Tok
Tok
Tok
Terdengar suara ketukan pintu dari luar, Laura segera mengedarkan pandangannya ke arah pintu kamar.
"Kak Laura, apa kamu baik-baik saja di dalam?" teriak seseorang dari luar.
Laura begitu mengenali suara tersebut.
"Ya, aku baik-baik saja" balas Laura dan tak ingin menemui siapapun hari ini.
"Oh syukurlah. Kak Laura, tolong buka pintunya dong, aku pengen masuk untuk membicarakan hal penting dengan kak Laura" kembali Wulan berteriak dari luar.
"Maaf Wulan, aku sedang berpakaian. Nanti kita ketemu ya" ucap Laura yang masih enggan bertemu dengan Wulan.
"Bagaimana kalau aku tunggu kak Laura di pinggir pantai saja. Kita bisa berbicara santai dan menikmati panorama laut" usul Wulan.
Laura mengerutkan keningnya mendengar ucapan Wulan. Tidak mungkin baginya untuk terus berdiam diri di dalam kamar, bisa-bisa Wulan dan lainnya mencurigainya.
"Oke"
Sedangkan Wulan tersenyum tipis yang masih berdiri di depan pintu kamar Laura, entah apa yang sedang dipikirkan gadis belia itu hingga pandangannya bolak-balik menatap dua pintu kamar yang tertutup rapat.
Semoga saja sesuatu terjadi antara kak Laura dan kak John. Batin Wulan.
Tak ingin berlama-lama, Wulan melenggang pergi mencari kesenangan untuknya. Saat melewati lorong kamarnya, tiba-tiba saja seseorang mencekal tangannya dan menyeretnya masuk ke kamar yang ia tempati.
"Siapa sih ini, oi lepas" kesal Wulan mencoba melepaskan tangannya. Namun tak berhasil juga, malahan tubuhnya sudah di kurung di dinding.
Wulan begitu kesal dan langsung mendorong tubuh kekar seseorang yang sedang mengurungnya di dinding. Alhasil usahanya tak berhasil, Wulan mendongak menatap orang yang sedang mencari masalah dengannya.
Pletakkkk
"Awwww"
Wulan meringis kesakitan memegangi keningnya yang baru saja di jitak oleh orang yang mengurung tubuhnya.
__ADS_1
"Cebol nyusahin! Darimana saja kamu hah!"
Manik mata hitam itu langsung mengintimidasinya dengan tatapan tajam. Wulan mengepalkan tangannya dan kembali mendongak menatap wajah dingin Fero hingga pandangan mereka bertemu.
"Kamu lagi! kurcaci dan sekarang cebol. Apa kamu lebih hobi memanggilku dengan nama embel-embel! mentang-mentang ya tubuhmu kayak samson dan gorila Afrika, kamu begitu bebas merendahkan tinggi badanku. Awas ya kalau tinggi badanku melampaui mu aku tidak segan-segan untuk menarik rambut ikalmu setiap hari" ucap Wulan dengan kesalnya sambil menggertakkan gigi ratanya.
Fero menatap intens wajah Wulan dengan manik mata hitamnya. Tinggi badan Wulan yang hanya sebatas dada nya membuat gadis belia itu harus mendongakkan kepalanya menatapnya.
"Puas bicaranya, tidak hanya pembangkang, kamu juga sangat cerdik!" Tatapan Fero begitu tajam dan itu sangat menakutkan di mata Wulan.
"Ap-apa maksudmu" Wulan tergagap mengatakannya.
Fero menyeringai licik lalu mendekatkan wajahnya ke wajah Wulan. Membuat gadis belia itu berpaling dengan jantung memompa dengan cepatnya. Tangan Fero langsung menarik paksa pinggang Wulan hingga menempel di tubuhnya.
Wulan hanya mampu membelalakkan matanya dan menggerutu melihat tingkah Fero yang sangat menyebalkan.
"Apa ini? mengakulah sebelum kesabaran ku habis" ancam Fero sambil memainkan gantungan kunci yang berhasil dia ambil dari balik saku celana belakang Wulan.
"Ak-aku...." Wulan berusaha berpikir sejenak sambil mengerutkan keningnya. Hingga melihat situasinya aman, Wulan langsung menginjak kaki Fero dan tak lupa mendorongnya cepat. Wulan bergegas berlari keluar kamar meninggalkan Fero yang sepertinya tersulit emosi.
****
Laura tampak rapi mengenakan baju putih berlengan panjang dengan kerah baju sebatas leher, hal itu mampu menutupi leher jenjangnya yang dipenuhi tanda kissmark. Rambut panjangnya dia ikat dengan asal namun tetap saja memperindah penampilannya.
Terlebih dahulu Laura menarik nafas dalam-dalam lalu membuka pintu kamarnya dan bergegas keluar. Bersamaan itu pula, Johan juga keluar dari kamarnya. Pandangan mereka kembali bertemu sesaat, namun Laura segera memutusnya cepat dan melangkah pergi.
Johan hanya mampu menatap punggung Laura yang semakin menjauh dari pandangannya. Johan mengepalkan tangannya sambil berdengus kesal. Tatapan Laura menerawang menganggapnya sebagai penjahat yang harus dihindari. Dia seperti disalahkan atas kejadian semalam dan Laura seolah lepas tangan dan tak ingin berurusan dengannya lagi.
Salahkah dirinya jika melakukan semua itu karena keinginan wanita yang didambakannya? biarlah waktu yang menjawabnya. Namun Johan tidak akan menyerah sebelum mendapatkan keinginannya.
Aku tidak akan menyerah mengejarmu, Laura. Batin Johan
Lama berdiam diri di depan pintu kamarnya, Johan lalu melangkah pergi untuk mencari udara segar, namun langkahnya terhenti saat berpapasan dengan Wulan yang seperti dikejar hantu.
"Kak John, kak Laura......." Wulan ngos-ngosan mengatakannya.
"Ada apa dengan Laura?" tanya Johan.
"Kak Laura..kak Laura menghilang" jawabnya sambil menghapus keringat di keningnya.
__ADS_1
Johan langsung berlari untuk mencari keberadaan Laura. Sungguh dia tidak ingin terjadi sesuatu kepada Laura.
Bersambung.....