
Pagi harinya.....
Johan begitu bersemangat menyambut pagi hari. Wajahnya tampak berseri-seri dipenuhi senyuman layaknya orang yang habis melakukan malam pertama atau ibarat orang yang baru saja memenangkan undian lotre.
Sepertinya semalam terjadi sesuatu antara dirinya dengan sang istri. Sehingga pagi harinya terpancar jelas rona kebahagiaan di wajahnya. Johan berlari kecil menuruni anak tangga dengan antusiasnya yang ingin menemui orang tuanya di kamar.
Saat berada di depan pintu kamar yang terbuka dan sudah dipastikan itu adalah kamar orang tuanya, Johan melangkah masuk dengan senyuman menghiasi bibirnya.
Sementara di dalam kamar, terlihat Mama nya sedang menyuapi Papa nya yang tengah bersandar di kepala tempat tidur dengan tubuh kaku dan setengah lumpuh.
"Selamat pagi, Mama, Papa" sapa nya tersenyum dan bergegas mencium pipi Mamanya. Sedangkan sang Mama hanya mampu menepuk pipinya dua kali sambil melebarkan matanya yang begitu terkejut dengan sikap hangat putranya pagi ini. Karena itu adalah hal langka yang tidak pernah dilakukan putranya kepadanya.
Pandangan Johan beralih pada Papa nya dan mendekat lalu membungkukkan badannya mencium pipi kanan Papa nya.
"Pagi Papa." sapa nya tersenyum dengan mata berkaca-kaca sambil mengelus pipi keriput Papa nya yang semakin tua semenjak terkena stroke.
Tubuh sang Papa biasanya tegap, berbadan kekar yang selalu saja terlihat gagah dimatanya dan merupakan idolanya, kini berubah total menjadi tubuh setengah lumpuh dan sudah tak bisa melakukan apapun.
Sang Papa hanya mampu menatapnya dengan tatapan sulit diartikan hingga bibirnya berusaha digerakkan.
"M-a-a-f-i-n......P-a...p-a...." ucapnya mengeja persis anak kecil yang belajar berbicara. Johan hanya mampu mengangguk menanggapi ucapannya dengan mata berkaca-kaca.
"Johan sudah maafin Papa, karena Johan sangat menyayangi Papa. Johan yakin Papa orang yang kuat dan bisa melalui semua ini. Yang sehat Papa, semoga cepat sembuh." ucapnya tersenyum menggenggam tangan Papa nya lalu mencium punggung tangannya dengan penuh kasih sayang.
Nyonya Tias yang melihat keakraban mereka hanya mampu tersenyum dengan perasaan haru dan bahagia menjadi satu. Dimana dirinya sedang memegang mangkuk berisi bubur dan menjadi sarapan suaminya setiap harinya.
Sementara di lantai dua, tepatnya di dalam kamar mewah, terlihat wanita cantik dengan balutan gaun biru tampak menatap wajahnya di dalam cermin yang masih saja merona memerah, wanita tersebut adalah Laura.
Wajahnya terus saja memancarkan senyuman bahagia. Entah mengapa, baik Johan maupun dirinya, sama-sama terlihat berbeda pagi ini.
__ADS_1
Laura menyisir rambut panjangnya hingga pandangannya tertuju pada leher jenjangnya yang terdapat beberapa tanda kissmark.
"Astaga, aku tidak menyangka ulah Johan sebanyak ini" gumamnya kecil dan melihat jelas di dalam cermin.
"Apa seperti ini jadinya jika habis berhubungan badan, hingga bekas-bekas percintaan kami semalam masih membekas. Bahkan dibawah perutku masih terasa aneh." ucapnya dengan bodohnya yang masih saja sangat polos dengan urusan yang satu itu, hingga pikirannya kembali traveling mengarah ke sana.
Semenjak bangun pagi, tubuhnya pegal-pegal dan sedikit kesusahan berjalan ke kamar mandi.
Bagaimana mungkin, ini bukan pengalaman pertama bagiku. Tapi, mengapa ya bagian bawahku masih saja sakit dan terasa aneh. Batinnya sambil menggigit bibir bawahnya.
Hingga lamunannya terbuyarkan saat anak-anaknya menghampirinya dan berhambur memeluk kakinya.
"Mommy, Mommy kenapa?" tanyanya mendongak menatapnya yang masih saja bengong.
"Ahh, Mommy tidak apa-apa sayang." ucapnya tersenyum lebar lalu mensejajarkan tubuhnya dengan tinggi anak kembarnya.
"Lalu, mengapa Mommy bengong. Dan lihat itu Mommy, leher Mommy merah-merah" Jovan panik dan langsung menunjuk ke arah leher ibunya.
Astaga kalian melihatnya, benar-benar mata yang sangat jeli. Bagaimana ini, aku bahkan tidak tahu harus menutupinya dengan cara apa.
Laura hanya mampu tersenyum yang belum bisa menanggapi dan menjawab pertanyaan anak-anaknya. Seketika dia mencoba mencari alasan yang sedikit masuk akal.
"Oh, Mommy tak sengaja menggaruknya hingga berbekas seperti ini sayang" jawabnya dengan berbohong. Dan anak kembar itu hanya menatapnya dengan kening berkerut persis seperti tingkah ayahnya biasanya.
Astaga, aku bahkan harus berbohong di depan anak-anakku hanya untuk menutupi perbuatan suamiku. Hah suamiku, sejak kapan aku mengatakan kata suamiku untuk Johan. Aaahhh, semua ini terjadi akibat kejadian semalam. Batin Laura.
"Emm, sebaiknya kita turun ke bawah untuk sarapan bersama dengan kakek nenek." ucap Laura tersenyum dan ingin segera menyudahi pembahasan anak-anaknya.
"Mommy tidak obati itu" tunjuk nya kembali dan malah fokus pada leher ibunya. Laura segera menutupinya dengan rambutnya.
__ADS_1
"Nanti mommy obati, karena sekarang semua orang sudah menunggu kita sayang." Laura langsung menggandeng tangan mereka keluar kamar dan segera membawanya turun ke lantai satu, diikuti babysister Dinda yang senantiasa mengikuti mereka dari belakang.
Johan masih menemani kedua orang tuanya di kamar. Dia tengah asyik mengobrol bersama dengan Mama nya, seketika memelankan suaranya. Hingga terdengar suara kehebohan di ambang pintu membuat mereka yang berada dalam kamar itu mengalihkan pandangannya ke sumber suara.
"Kemari sayang, ayo masuk, iih gemesnya cucu-cucu ku." ucap wanita paruh baya tersenyum dan segera menghampiri cucunya.
Jovan lebih dulu masuk, sementara Jovin masih saja berdiri di ambang pintu yang masih saja takut bertemu kakeknya.
"Sayang, jangan takut, kakek orang yang baik dan kamu harus menemuinya." bujuk Laura sambil menggenggam tangannya.
Lalu Jovin melangkah pelan dengan pandangan tertunduk. Johan tersenyum menatap tingkah lucu anaknya hingga beralih menatap istrinya tercinta yang berhasil dia luluh kan.
Kesabaran ku dan kerja kerasku selama beberapa tahun, akhirnya membuahkan hasil. Aku mampu meluluhkan hati wanita yang sangat kucintai, hingga kami menghabiskan waktu bersama semalam. Lihatlah, dia sangat menggoda pagi ini, aku bahkan ingin kembali menyentuhnya. Batin Johan.
Laura yang sudah berdiri di hadapannya dengan sengaja menyenggol lengannya, membuat Johan tersenyum merekah dan bangkit dari duduknya.
"Terima kasih sayang untuk semalam." bisik nya tepat di telinga istrinya, membuat wanita cantik itu meliriknya dengan rona wajah memerah.
"Itu sudah menjadi kewajiban ku untuk melayanimu." bisik Laura sambil mencolek dada Johan hingga membuat sang empunya tergelak tawa.
Johan langsung merangkul pundak istrinya sambil menunjuk ke arah anak-anaknya yang begitu pintarnya menyalami nenek dan kakeknya.
Tampak anak-anaknya kembali bertingkah lucu yang sedang menghibur kakeknya. Hingga lelaki yang dipanggil kakek itu berusaha untuk menarik senyuman di bibirnya, sementara sang istri sudah tertawa dan begitu gemas kepada cucu kembarnya. Laura dan Johan yang melihat hal itu merasa lega, anak-anaknya mulai interaksi dengan orang tuanya.
"Terima kasih Laura, kau sudah menjadi ibu yang hebat untuk anak-anakku. Dan terima kasih juga, hingga detik ini kau masih bertahan di sampingku."ucapnya menunduk dengan tatapan hangatnya menatap manik mata istrinya. Laura hanya mampu tersenyum manis menatapnya hingga tangannya menyentuh pipinya.
"Sama-sama. Maaf, aku terlambat menjadi istri yang baik untukmu. Dan sekali lagi, aku minta maaf karena baru menyadari perasaanmu." bisik nya dengan mata berkaca-kaca sambil mengelus manja pipi suaminya hingga punggung tangannya kembali dikecup mesra.
"Semua akan butuh proses saat kita menjalaninya bersama dan aku percaya itu."balasnya tersenyum lalu memeluk istrinya.
__ADS_1
Mereka berpelukan mesra dengan perasaan yang sama, sama-sama saling menyukai. Namun sayangnya terlambat menyadarinya satu sama lain karena tuntutan keadaan. Johan sesekali mendaratkan ciuman di puncak kepala wanita yang dicintainya dan tak ingin melepaskan pelukannya. Inilah momen yang dia tunggu-tunggu selama ini bersama sang istri dan keluarganya.
Bersambung....