Laura Dan Status Barunya

Laura Dan Status Barunya
Bab 42 Laura dan Status Barunya


__ADS_3

Laura membaringkan tubuhnya menatap langit-langit kamar yang sekarang dia tempati. Terdengar ketukan pintu dari luar membuat Laura bergerak untuk membukanya.


"Johan" Laura terkejut mendapati Johan berdiri di depan pintu kamarnya.


Johan hanya menatapnya dengan tatapan datar lalu berbalik badan untuk melangkah.


"Yang lainnya sudah menunggu kita di gasebo belakang" ucap Johan santai lalu melangkah kakinya meninggalkan Laura menuju gasebo yang terletak di belakang villa dan menghadap ke arah pantai.


Laura memilih memakai cardigan rajut panjang untuk menghangatkan tubuhnya. Laura lalu melangkah mengikuti Johan yang sudah menjauh dari pandangannya.


"Kak Laura, kemarilah"teriak Wulan melihat kedatangan Laura.


Seketika Fero mengalihkan pandangannya ke arah Laura yang tampak berjalan di belakang Johan.


Sementara Laura tersenyum melambaikan tangannya ke arah Wulan. Dimana Wulan dan lainnya duduk di gasebo saling berhadap-hadapan dengan meja lipat ditengahnya dan kompor kecil beserta alat panggangan untuk digunakan memanggang bahan-bahan makanan tersebut.


Ferdy dan Sisil bersamaan menegur Fero melihat apa yang dilakukan adiknya itu yang sedang memanggang daging sapi dan terlihat sudah gosong.


"Astaga Fero, kamu membuat dagingnya gosong" ucap Sisil.


Fero terkejut melihat ulahnya sendiri dan segera membuang daging gosong itu dan menggantinya dengan lainnya.


Karena mereka akan menikmati makan malam dengan cara memanggang bahan-bahan makanan yang sudah disiapkan, agar momen honeymoon mereka terlihat romantis.


Padahal aneka jenis masakan seafood sudah di sajikan di atas meja lipat yang di masak langsung oleh koki handal yang bekerja di villa tersebut.


Laura bergabung bersama mereka dan duduk tepat di meja yang ditempati oleh Johan. Pasalnya tidak ada lagi meja kosong yang harus dia tempati.


Johan terus saja memasang wajah datar di depan Laura sehingga membuat Laura mengerutkan keningnya melihatnya. Laura memilih menyusun potongan daging di panggangan seperti yang dilakukan meja di sebelahnya.


Tampak Johan menikmati sosis goreng dan cumi goreng dengan tenang. Laura menelan ludahnya kasar mencium aroma daging yang dipanggangnya.


"Emmm, sebentar lagi matang" Laura bergumam sambil membolak-balikkan daging yang dipanggangnya. Dan itu membuat Johan meliriknya.


"Sebaiknya kau makan makanan yang sudah tersaji" tegur Johan.


"Aku ingin mencoba yang ini" kekeh Laura yang sudah tak sabaran mencicipi makanan yang dipanggang nya.


Laura tersenyum melihat tingkah Wulan yang begitu lahap memakan makanannya dan berlomba memainkan sumpit nya bersama Fero untuk mengambil makanan.

__ADS_1


Segera Laura mengangkat makanan yang sudah matang dari panggangan. Laura terlebih dahulu meniup makanan dengan kepulan asap yang menandakan makanan tersebut masih panas dan itu mampu mencuri perhatian seorang Johan.


Johan menatap intens wajah Laura yang begitu lahap menyantap makanannya hingga sudut bibirnya terangkat membentuk sebuah senyuman.


"Jangan minum minuman beralkohol itu" tegur Fero yang tidak suka melihat Wulan meneguk bir kaleng. Fero langsung merampasnya.


"Apaan sih, aku tuh meminumnya karena berada di atas meja. Apa aku salah?" kesal Wulan dan kembali mengambil kaleng minuman beralkohol itu.


"Benar yang dikatakan istrimu Fero, malam ini kita harus bersenang-senang. Dan aku ingin menantang mu untuk perlombaan minum bir" timpal Ferdy tersenyum sinis.


Laura dan Johan segera mengalihkan pandangannya ke arah mereka yang tengah berdebat.


"Aku tidak tertarik. Lakukan saja apa yang ingin kalian lakukan" ucap Fero menyudahi menikmati makanannya dan bangkit dari duduknya.


"Huuuh dasar pengecut. Baiklah kakak ipar, aku yang akan menerima tantangan mu. Kalau boleh tahu hadiah apa yang akan kamu tawarkan dalam perlombaan ini?" ucap Wulan dengan kepala sedikit pusing, pasalnya dia tak pernah meminum-minuman beralkohol. Baru sekali teguk membuat kepalanya pusing, dan jiwa keponya terhadap minuman kaleng itu mampu dia buktikan. Wulan pikir minuman kaleng itu hanya minuman biasa yang bersoda seperti yang sering dia konsumsi.


Fero yang mendengar ucapan Wulan seketika mengurungkan niatnya untuk pergi.


"Satu unit mobil sport beserta surat-surat nya" ucap Ferdy dengan entengnya.


Wulan langsung membuka matanya lebar-lebar, jiwa matre nya meronta-ronta untuk ikut dalam perlombaan minum bir dari tantangan yang dilakukan oleh kakak ipar nya


"Jangan melakukan hal bodoh Wulan, kau itu masih kecil dan tak baik minum minuman seperti ini" ucap Johan memperingati adik sepupunya.


Laura yang sedang menikmati makanannya hanya mampu tersenyum kikuk mendengar ucapan Wulan. Dia tidak tahu harus berkata apa.


"Kamu masih kecil, tak baik meminum minuman kaleng itu. Tapi, kalau sedikit sah-sah saja" ucap Laura cari aman.


"Nah benar kan, berarti aku boleh ikut" ucap Wulan mengangkat kepalanya melirik ke meja kakak ipar nya.


"Maksudku bukan seperti itu Wulan" Laura mengatakannya dengan bibir bergetar melihat sorot mata Johan begitu tajam menatapnya.


"Kalau begitu semua harus ikut andil dalam perlombaan minuman kaleng ini, termasuk kak Laura" ucap Wulan menyeringai. Karena prinsipnya sekali mendayung dua pula terlampau di depan matanya.


Maaf kak Laura, aku begitu egois. Karena aku sedang menjalankan rencanaku. Batin Wulan.


"Baiklah, aku akan ikut. Tapi tak ingin menang"ucap Laura tanpa basa-basi.


Seketika Johan mengerutkan keningnya mendengar ucapan Laura.

__ADS_1


"Aku juga akan ikut" ucap Fero dan kembali duduk di tempatnya.


Mau tak mau Johan pun ikut andil dalam perlombaan minum bir. Mengingat kedua wanita di sampingnya begitu antusias daripada dirinya.


Satu pack botol kaleng bir yang berisi 30 kaleng bir tersedia di atas meja. Laura tampak cemberut duduk bersama mereka, hanya Sisil yang tidak ikut dalam perlombaan minum. Dikarenakan wanita cantik itu sedang menjalani program kehamilan seminggu yang lalu sebelum melangsungkan pernikahan.


"Bersulang" ucapnya kompak dan langsung meneguk satu kaleng bir dengan cepat.


Laura memilih mundur di percobaan kedua dengan tenggerokannya terasa aneh dan kepala pusing karena tidak terbiasa meminum minuman beralkohol.


"Aishh, rasanya aneh dan sangat tidak enak" gumam Laura dengan tubuh merinding.


Johan sedikit lega melihat Laura tak melanjutkan minumnya dan kembali meneguk minumannya.


Disusul oleh Ferdy yang memilih mengalah mendengar rengekan istrinya yang mau kembali ke kamar untuk beristirahat.


Tinggal tersisa tiga orang yang masih bertahan di meja tanding yakni, Johan, Wulan dan Fero. Wulan begitu mati-matian ingin memenangkan pertandingan itu, padahal matanya sudah memerah yang sudah terpengaruh alkohol dan sesekali gadis belia itu menjatuhkan kepalanya ke atas meja dengan rasa mual.


Sementara Laura tampak merebahkan tubuhnya dengan asal, bahkan baju yang dikenakannya melambai-lambai di terpa angin malam hingga paha mulusnya terpampang indah di depan mata Johan.


Tak kuasa Johan menelan ludahnya dengan kasar melihat pemandangan indah itu. Johan memilih bangkit dari duduknya lalu mendekati Laura dan langsung mengangkat tubuh Laura untuk membawanya ke kamar.


Hanya Wulan dan Fero yang tersisa di meja tanding. Mereka tampak ko menjatuhkan kepalanya di meja itu dengan pikiran melayang kemana-mana yang sudah mabuk akibat minuman alkohol.


Sementara di dalam kamar yang ditempati Johan. Terlihat Johan menurunkan tubuh Laura di atas ranjang, namun Laura masih saja memeluk leher Johan dan tak ingin melepaskannya.


"Apa yang kau lakukan Laura" ucap Johan dengan mata memerah menatap Laura dengan intens.


Laura yang tengah mabuk malah mengelus leher Johan membuat Johan memejamkan matanya menikmati sentuhan jemari tangan Laura, hingga gairah yang selalu bersembunyi dalam dirinya dengan gamblang meronta-ronta ingin segera dituntaskan.


"Jangan memancingku Laura!" tegas Johan menatap manik mata Laura.


"Ayo, buktikanlah kejantanan mu. Jangan terus menjadi Mr gay" ucap Laura sambil menggigit bibir bawahnya menggoda Johan. Bahkan cardigan yang dipakainya di lepasnya dengan cepat.


"Kau sendiri yang menggodaku Laura, maka aku tidak akan melepaskanmu" ucap Johan dengan entengnya.


Hubungan terlarang pun mereka lakukan tanpa terikat dalam sebuah pernikahan. Minuman memabukkan itu mampu membuat Laura dan Johan hilang akal dan hanya mementingkan hasratnya semata.


Hancur sudah, mahkota yang selalu dijaga baik Laura direnggut oleh mantan suaminya, Johan. Bagaimanakah takdir nya setelah ini? mampukah Laura berdiri sendiri di atas pijakan kakinya, dimana dirinya sudah tak memiliki kehormatan.

__ADS_1


Bersambung.....


Terima kasih atas dukungannya BESTie 🙏🤗


__ADS_2