
Pranggg
Terdengar benda berjatuhan di dalam sebuah ruangan tertutup. Kemudian kembali terdengar suara bass seseorang yang sedang adu mulut.
"Aku sudah memperingatkan mu William untuk tidak berbuat kesalahan. Lihatlah, semuanya menjadi berantakan. Putramu melarikan diri pada hari pernikahannya! kamu sudah membuat keluargaku menanggung malu, terutama putriku" ucap lelaki paruh baya yang tersulit emosi sambil mengepalkan tangannya.
Sementara sosok lelaki paruh baya yang tak lain adalah tuan William yang menjadi objek amukan kemarahannya tampak berdiri di belakangnya.
"Maafkan aku Endro. Tenanglah, kita tunggu sebentar lagi, anak buahku masih bersikeras mengejar Johan. Aku percaya mereka pasti menemukan Johan dan segera membawa kehadapanku" ucap tuan William mencoba menenangkannya.
"Sampai kapan menunggunya? kamu begitu mudah mengatakannya sedangkan putramu sampai detik ini tak kunjung datang. Apa kamu ingin aku menunggu sampai para tamu undangan membubarkan diri hah!" bantah tuan Endro sambil mengepalkan tangannya.
"Maafkan aku Endro " ucap tuan William memelas sambil mengepalkan tangannya. Untuk pertama kalinya dia memohon kepada rekan bisnisnya demi melancarkan kontrak kerja sama yang sedang mereka bangun.
Johan! kamu sudah membuat kesalahan fatal. Batin tuan William.
"Berhentilah meminta maaf, aku akan meminta orang lain untuk menggantikan putramu menikahi putriku!" ucap tuan Endro dingin dengan keputusan akhirnya.
"Tolong jangan lakukan itu, Endro. Bukankah anak-anak kita sudah saling mengenal satu sama lain" bujuk tuan William.
"Ini keputusanku William dan kamu tak perlu ikut campur. Aku tidak ingin keluargaku menanggung malu kedepannya gara-gara pernikahan putriku yang batal atau bisa dikatakan ditinggal pergi oleh calon suaminya" tegas tuan Endro tak ingin dibantah.
Tuan Endro lalu mengeluarkan ponselnya di balik saku jasnya kemudian menghubungi seseorang yang akan membantunya. Kemudian lelaki paruh baya itu melangu keluar dari ruangan tersebut.
Tak ingin membuang-buang kesempatan emasnya, tuan William bergegas menyusulnya untuk membujuk kembali rekan bisnisnya yang selangkah lagi akan menjadi besannya.
"Kumohon Endro, dengarkanlah penjelasan ku sekali lagi" bujuk tuan William mengekor di belakang rekan bisnisnya.
Tuan Endro mengangkat sebelah tangannya untuk memintanya pergi dan tak usah lagi mengganggunya. Namun, tuan William tak akan pernah berhenti begitu saja sebelum rencananya berjalan lancar.
Kembali tuan Endro berdengus kesal saat pintu lift tak kunjung terbuka. Lelaki paruh baya itu terpaksa melangkah menuju tangga darurat, dia memilih menuruni tangga darurat menuju lantai dua tempat diselenggarakannya pesta. Lagi-lagi tuan William mengikuti langkahnya.
"Kamu akan menyesal Endro!" gumam tuan William menyeringai mengikuti langkah rekan bisnisnya yang sedang menuruni anak tangga.
Tampak tuan Endro berhenti sejenak dengan deru nafas ngos-ngosan di pertengahan anak tangga, dia pun menepikan tubuhnya ke pinggir dengan kedua tangan berpegangan di pegangan tangga. Terlihat keningnya di banjiri keringat dengan tubuh sedikit lelah karena tak muda lagi, ditambah tak terbiasa menggunakan tangga darurat dalam melakukan aktivitasnya.
Sementara tuan William menyeringai yang sedang memiliki rencana licik untuk rekan bisnisnya. Lalu tuan William menuruni anak tangga tanpa menimbulkan suara untuk mendekatinya. Saat di rasa aman kedua tangannya terangkat untuk mendorong tubuh tuan Endro. Namun, sayangnya aksinya digagalkan oleh Catherine, malah tubuhnya di dorong dan terjatuh menggelinding dari anak tangga dengan ketinggian 3 Meter.
"Papa, apa kamu baik-baik saja?" tanya Catherine dengan bibir bergetar kepada ayahnya dan tuan Endro hanya menjawabnya lewat anggukkan kepala menatap kebawah dimana rekan bisnisnya sudah tergeletak di lantai tak sadarkan diri.
__ADS_1
"Dia pantas mendapatkannya. Jangan khawatir, papa akan menghubungi pihak rumah sakit untuk segera membawa ambulance datang kesini" ucap tuan Endro santai lalu menggenggam tangan putrinya melewati tubuh tuan William tak berdaya.
Sementara di tempat lain....
Nyonya Tias dan Wulan yang baru saja tiba di rumah sakit tempat Johan menjalani perawatan terlonjat kaget mendapati ruang perawatan Johan tak berpenghuni. Saat melangkah masuk ke kamar mandi, dia menemukan dua perawat laki-laki dengan tangan terikat dan mulut tertutup latban sedang bergerak lusuh. Mereka lalu membantu perawat itu untuk lepas dari jeratan tali.
"Terima kasih nyonya" ucapnya kompak dan salah satu dari mereka hanya memakai kaos dalaman. Karena seragam perawatnya sudah di ambil paksa oleh Johan untuk digunakan sebagai alat penyamarannya.
"Ya" ucap nyonya Tias sambil memijit keningnya yang tiba-tiba saja nyeri dan kedua perawat laki-laki itu undur diri dari hadapannya.
"Sebaiknya bibi duduk dulu" ucap Wulan lalu menarik tangan bibinya untuk duduk di kursi yang tersedia di ruangan tersebut dan nyonya Tias tampak patuh mengikuti langkah ponakannya.
Baru saja duduk di kursi, tiba-tiba saja ponsel nyonya Tias berbunyi di dalam tasnya.
"Wulan tolong ambilkan ponsel bibi di dalam tas" ucap Mama Johan.
"Baik bibi."
Nyonya Tias tersenyum mengambil ponselnya dari tangan Wulan, dia pun segera mengangkat panggilan masuk dari seseorang hingga setelahnya matanya membulat sempurna diiringi ponselnya sudah tergeletak di lantai.
"Apa yang terjadi bibi?" tanya Wulan khawatir.
"Astaga semoga paman baik-baik saja. Bibi, sebaiknya kita susul paman ke rumah sakit."ucap Wulan.
"Ya, kebetulan rumah sakitnya tak jauh dari hotel" ucap Mama Johan sambil menghapus air matanya.
Mereka lalu bergegas ke rumah sakit terdekat dari hotel tempat diselenggarakannya pesta pernikahan.
*
*
*
Seminggu kemudian.....
Laura dan Mama nya masih saja diselimuti duka mendalam atas kepergian orang disayanginya. Hampir setiap hari mereka mendatangi makam mendiang sang Papa dengan membawa 50 tangkai bunga mawar putih sebagai hadiah untuk mendiang Papa tersayangnya.
Setiap pulang, mereka bergegas masuk ke dalam kamar mereka masing-masing untuk berdiam diri sambil menangisi kepergian orang tersayangnya.
__ADS_1
Laura yang meringkuk di atas tempat tidur dengan mata sembabnya menghela nafas berat saat mendengar pintu kamarnya di ketuk dari luar. Laura bergegas turun dari ranjang dan membuka pintu kamarnya.
"Ada apa Bi?" tanya Laura dengan suara seraknya kepada wanita paruh baya yang berdiri di depan pintu kamarnya.
"Nona Laura, ada tamu yang ingin bertemu dengan anda" ucap Ijah sambil menundukkan pandangannya.
"Siapa bi?" tanya Laura.
"Saya kurang tau nona, tamunya laki-laki berkumis dan berkacamata tebal dengan umur kira-kira seperti mendiang tuan" jawab Ijah tak enak hati jika membahas mengenai mending majikannya.
"Baiklah bi, tunggu sebentar, aku mau cuci muka dulu" ucap Laura dan bergerak masuk ke kamar mandi. Sementara Ijah bergegas ke dapur untuk menyelesaikan pekerjaannya.
Laura keluar dari kamar mandi dengan wajah cukup segar dan masih terlihat pucat. Laura mengikat rambutnya asal lalu melangkah keluar dari kamarnya.
Saat di pertengahan anak tangga dia mampu melihat sang mama sedang mengobrol bersama lelaki paruh baya dan ciri-cirinya persis seperti yang di sebutkan Ijah. Laura mempercepat langkahnya mendekati mereka.
"Selamat siang nona Laura" sapa lelaki berkacamata dan langsung bangkit dari duduknya melihat kedatangan Laura.
"Selamat siang" balas Laura bingung lalu memilih duduk di samping mamanya.
"Laura, ini tuan Joseph Vincent pengacara di keluarga kita" ucap Mama Laura memperkenalkan lelaki yang sedang duduk berhadapan dengannya.
Tuan Vincent tersenyum ramah di hadapan mereka.
"Baiklah, semuanya sudah berkumpul. Maka dari itu saya akan menyampaikan perihal wasiat terakhir mendiang tuan Anthony Fernandez untuk penerusnya" ucap tuan Vincent tersenyum dan mengeluarkan beberapa map biru berisi berkas penting mengenai wasiat keluarga Anthony.
Laura langsung mengalihkan pandangannya menatap ke arah mamanya dengan penuh tanda tanya dan sang mama juga sedang menatapnya.
"Papamu sangat menyayangimu nak, semuanya dia lakukan demi untukmu" ucap Mama Laura dengan mata berkaca-kaca.
Laura menggenggam tangan mama nya dan kembali mengelus lembut lengan mamanya untuk saling menguatkan.
"Silahkan dilanjutkan tuan Vincent" ucap Laura.
"Jauh-jauh hari tuan Anthony meminta saya agar seluruh harta warisan dan segala bentuk bisnisnya diwariskan kepada penerusnya yakni nona Laura Fernandez. Inilah surat wasiatnya, silahkan anda baca dan jangan lupa tanda tangan di bawah ini jika anda menyetujuinya sebagai penerus tuan Anthony Fernandez" ucap tuan Vincent menjelaskan lalu meletakkan surat wasiat beserta berkas lainnya untuk ditandatangani Laura di letakkan di atas meja beserta bolpoin nya.
Tanpa keraguan Laura langsung menandatangani surat wasiat dari mendiang sang Papa dan berkas pendukung lainnya.
Aku akan bangkit menggunakan nama Papa, semuanya sudah papa percayakan untukku. Tak ada lagi yang boleh merendahkanku apalagi menyakitiku.
__ADS_1
Bersambung......