
Sore harinya.....
Taman belakang sudah disulap dan di dekorasi seindah mungkin dan didominasi warna putih dengan tema garden party. Bunga-bunga aneka warna terangkai indah, lampu-lampu berwarna putih menggelantung pada bingkai segi empat, balon aneka warna juga menggelantung di atas dahan pohon dan kesemuanya menghiasi taman belakang.
Satu buah meja bundar berukuran besar dengan kursi-kursi berjejer rapi mengelilinginya. Di atas meja sudah tersaji aneka makanan dan minuman yang menggugah selera dan juga terdapat lilin diatasnya. Rupanya pesta tersebut untuk menyambut kepulangan orang tuanya dan sebagai ajang kumpul-kumpul keluarga.
Terlihat anak kembar yang sangat menggemaskan dengan setelan jas berwarna biru dongker berlari kecil memasuki area taman tempat diselenggarakannya pesta. Anak kembar itu tidak lain adalah Jovan Fernandez William dan Jovin Fernandez William.
Lalu disusul wanita paruh baya dengan senyuman menghiasi bibirnya sedang mendorong kursi roda suaminya dan mereka adalah Nyonya Tias dan tuan William. Ditemani pula babysister Dinda yang mencoba mengejar si kembar.
Kemudian muncullah pasangan suami istri yang pernah terpisahkan oleh batas negara dan tingkah laku istrinya sedikit kocak, mereka adalah pasangan Wulan dan Fero. Pasangan suami istri itu begitu kompak berjalan saling bergandengan tangan memasuki area pesta.
Penampilan mereka sangat mencuri perhatian dengan setelan baju couple dengan warna mencolok hingga membuat mata lelaki paruh baya sakit melihatnya yang juga mengekor di belakangnya.
"Minggir kalian, jangan menghalangi jalan ayah. Penampilan kalian benar-benar membuat mata ayah sakit melihatnya." tegurnya pada pasangan suami istri itu.
"Maaf ayah, ini baju couple edisi terbaru dan warnanya memang mencolok." balas wanita itu tersenyum tipis dan tidak lain adalah Wulan. Sementara lelaki paruh baya yang menegurnya adalah ayahnya sendiri, tuan Teddy.
"Aunty Wu." teriak anak kembar dengan kompaknya melihat kedatangan Wulan bersama sang suami. Mereka berjalan menghampiri Wulan dan segera berhambur memeluknya.
"Ooh, astaga ponakan aunty. Iih tampannya kalian bikin gemesin." ucap Wulan gemes sambil membungkukkan badannya karena ponakan kembarnya memeluk tubuhnya.
"Siapa mereka?" tanya Fero dingin karena sekarang dirinya tak dianggap dan malah di acuhkan oleh istrinya.
"Ponakan kembar ku yang super tampan, anak dari Kak Laura dan Kak John." jawab Wulan dengan gaya manjanya. Jovan dan Jovin segera melepaskan pelukannya lalu beralih menatap lelaki yang berdiri di samping aunty Wu nya.
"Pergi susul ayah, aku ingin menemani si kembar. Semoga Tuhan memberi kita anak kembar yang lucu-lucu." ucap Wulan.
"Aunty Wu, siapa dia?" tanya Jovin sambil menatap tajam lelaki yang berdiri di samping aunty Wu nya.
"Oh ini suami aunty, Paman kalian." jawab Wulan tersenyum.
"Halo Paman." sapa nya lalu bergerak menyalami tangan Fero yang dia anggap sebagai Pamannya. Membuat Fero terheran-heran melihat tingkah si kembar.
"Berarti Paman Om-om tua yang sering aunty panggil kalau sedang marah." tebak Jovan yang memiliki daya ingat kuat dan cepat tanggap. Kemarin dia mendengar aunty Wu nya menggerutu kesal menyebut nama Om-om tua.
Fero melirik tajam istrinya mendengar ucapan bocah kembar di hadapannya.
"Ayo sayang, kita kesana yuk" ajak nya yang ingin lari dari kemarahan suaminya. Wulan segera membawa si kembar berkeliling di taman sekitar. Sedangkan Fero memilih menghampiri ayah mertuanya yang sudah bergabung dengan kerabatnya.
Tak berselang kemudian, muncullah Laura dan Johan berjalan sambil bergandengan tangan. Penampilan mereka sangat memukau. Laura mengenakan gaun brokat berwarna biru dongker model Sabrina, sedangkan Johan mengenakan texudo warna senada dengannya, tatanan rambutnya terlihat begitu rapi, penampilan mereka persis pasangan yang akan melangsungkan pernikahan.
Laura berjalan anggun sambil mengedarkan pandangannya mencari keberadaan anak-anaknya, hingga sudut bibirnya terangkat membentuk senyuman manis melihat sosok anak-anaknya sedang tertawa bersama dengan Wulan dan Fero.
"Lihat itu, Jovan dan Jovin terlihat akrab bersama Wulan dan Fero." ucap Laura tersenyum sambil menunjuk ke arah mereka.
"Hemm, Wulan bercita-cita ingin memiliki anak kembar. Dia bahkan ingin mengajak Jovan dan Jovin untuk tinggal bersamanya selama seminggu dan aku melarang keinginannya itu." ucap Johan tersenyum.
"Mengapa kau melarang keinginannya?" tanya Laura.
__ADS_1
"Apa kau ingin berpisah selama seminggu dengan anak-anakmu?" tanya balik Johan.
"Bukan begitu, maksudku dia bisa membawa si kembar pada pagi hari hingga sore hari, malamnya dia harus membawanya pulang." jawab Laura.
"Lupakan saja, lagian Wulan dan suaminya akan menjadi tetangga baru kita dalam waktu dekat. Suaminya berhasil membeli rumah di komplek perumahan yang kita tempati." Johan terlihat tak ingin memperpanjang arah pembicaraannya mengarah ke sana. Dia segera membawa istrinya untuk bergabung bersama orang tuanya.
"Mommy, Daddy" Jovan dan Jovin tersenyum melihat keberadaan orang tuanya. Mereka bergegas berlari kecil menghampirinya. Johan yang melihatnya segera mendekat dan langsung menggendong anak-anaknya.
"Uuh, ternyata jagoan Daddy sudah pada besar dan mulai berat rupanya." ucap Johan tersenyum menggendong kedua anaknya dan Laura ikut tersenyum berjalan di sampingnya.
"Daddy, kata aunty Wu. Kami sudah besar dan sudah bisa punya adik. Untuk itu, kami tak boleh lagi tidur bersama dengan Daddy dan Mommy" ucap Jovin antusias.
Johan langsung mengerutkan keningnya mendengar ucapan anak-anaknya, seketika sudut bibirnya terangkat. Sedangkan Laura hanya mampu geleng-geleng kepala melihat tingkah laku anak-anaknya.
"Benar Daddy, kami berencana ingin menginap ke rumah aunty Wu bulan depan, boleh ya?" rengek Jovan. Sementara ayahnya hanya melirik ibunya untuk meminta jawaban darinya.
"Tentu boleh sayang, yang jelas kalian tidak boleh nakal dan tidak merepotkan aunty Wu." jawab Laura tersenyum.
"Horeee, makasih mommy, Daddy." ucapnya dengan antusias lalu kompak mencium pipi ayahnya.
Muaachh
Muaachh
Johan tergelak tawa dengan aksi menggemaskan si kembar.
Sementara ibunya tak terima jika si kembar hanya memberikan ciuman kepada ayahnya. Dengan cepat sang suami yang lebih dulu menciumnya membuat wajah cantiknya kembali merona.
"Iya suamiku." balas Laura tersenyum sambil menyentuh sudut bibirnya lalu melangkah mengikutinya.
Kini semua anggota keluarga sudah menempati kursinya masing-masing. Tampak Johan bangkit dari duduknya dan mulai buka suara untuk membuka pesta itu.
Ucapan selamat datang, sambutan dan segala doa ia panjatkan untuk kesembuhan ayahnya dan diakhiri dengan mempersilahkan semua orang menikmati jamuan nya.
"Daddy keren." ucap Jovan dan Jovin sambil menaikkan jempolnya untuk ayahnya. Sedangkan ayahnya mengedipkan sebelah matanya sambil menunjuk mereka.
Semua orang tersenyum melihat tingkah laku ayah dan anak itu, lalu mulai menikmati jamuan makanan yang tersedia di atas meja.
Si kembar hanya menikmati es krim favoritnya dengan lahap. Sementara ayah dan ibunya sedang saling curi-curi pandang di tempatnya.
Hingga Johan memberikan kode-kode rahasia lewat ekor matanya untuk istrinya. Mereka memilih tak melanjutkan makannya dan malah mengakhirinya lebih dulu, lalu permisi dari hadapan semua orang.
Johan langsung menggandeng tangan istrinya dan membawanya menjauhi pesta. Saat asyik berjalan bersama, mereka dikejutkan oleh seekor kucing yang melompat tepat di hadapannya.
Meong...meong.....meong
Laura langsung mengenali kucing itu dan berjongkok untuk mengelus bulunya. Sedangkan Johan hanya memperhatikannya.
"Mail, anak mami." ucapnya tersenyum dan dengan manjanya kucing itu menggesekkan kepalanya pada tangan Laura sambil memutar tubuhnya.
__ADS_1
"Sayang, kau masih mengenali kucing itu rupanya." ucap Johan yang juga mengenalinya, karena dia pernah mendapatkan amukan dari kucing bernama Mail itu.
"Bolehkah kita membawanya pulang ke rumah." ucap Laura.
"Tentu saja, lakukanlah sesukamu, aku tak keberatan. Sepertinya anak-anak juga menyukai kucing." ucap Johan tersenyum.
"Baiklah, aku akan membawamu pulang ke rumah sayang.. eeehh."
Laura terkejut saat tubuhnya sudah di gendong oleh suaminya. Dengan cepat dia berpegangan erat di leher suaminya.
Kelamaan jika aku harus menunggumu berbicara dengan kucing kesayangan mu itu.
Kini mereka sedang berada di dekat kolam dan tengah duduk bersama di kursi besi menghadap ke arah kolam renang. Johan lalu berjongkok di depan istrinya, tangannya terulur menggenggam kedua tangan istrinya.
"Laura istriku, ini memang sudah terlambat bagimu. Tapi, aku ingin mengetahui isi hatimu dengan mengajukan berbagai pertanyaan kepadamu. Kau tahu, aku sangat mencintaimu dan ingin terus bersamamu hingga akhir hayatku. Apakah kau juga mencintaiku?" ucap Johan dengan tatapan hangatnya.
"Ya, aku juga sangat mencintaimu suamiku. Maaf, aku terlambat membalas perasaan cintamu." ucap Laura tersenyum.
"Bersediakah kau untuk selalu berada di sampingku, dikala aku susah maupun senang?" tanyanya.
"Ya, aku bersedia." jawab Laura dengan entengnya tanpa adanya keraguan.
"Bersediakah kau untuk kembali hamil anak kedua kita?"
"Aku sangat bersedia, semua wanita pasti menginginkan hal itu."
"Bersediakah kau untuk meninggalkan pekerjaanmu?" ucap Johan dan Laura langsung menatapnya dengan tatapan sendunya.
"Tentu saja aku bersedia, aku bahkan sudah mempercayakan semua urusan perusahaan kepada orang kepercayaan Papa. Aku hanya ingin menjadi istrimu dan sekaligus ibu dari anak-anakmu." ucap Laura tersenyum dengan mata berkaca-kaca dan Johan langsung memeluknya.
"Terima kasih atas jawabannya, aku sangat puas mendengarnya." bisik nya. Johan perlahan melepaskan pelukannya lalu menatap wajah istrinya dengan intens. Tanpa basa-basi Johan mendaratkan ciuman di kening istrinya dengan penuh cinta.
Aku mencintaimu Laura Fernandez.
Aku juga mencintaimu Johan Pradipta William.
"Aaah ternyata mereka disini." Seseorang memergokinya. Hingga teriakkan anak kecil mengagetkannya.
"Mommy."
"Daddy."
Anak-anaknya langsung berlari ke arahnya, dengan cepat mereka keluar dari tempat persembunyiannya.
Johan dan Laura langsung menggendong masing-masing anaknya dan membawanya duduk di kursi untuk menyaksikan langit senja di temani kucing peliharaannya. Mereka kembali bercanda gurau dan tertawa bersama. Sungguh keluarga yang harmonis. Kebahagiaan terus saja menghampiri keluarganya hingga maut memisahkan.
TAMAT
Terima kasih atas dukungan teman-teman semua berupa like, vote dan komennya selama ngikutin cerita Laura dan Status Barunya.
__ADS_1
Author sangat berterima kasih 🙏🤗
Sampai jumpa di novel terbaru author, bye bye 😁👋