
Mobil yang membawa Laura melaju menuju tempat pemakaman keluarganya. Sebelum pulang ke rumah, Laura ingin mengunjungi makam Papanya dan akan menceritakan tentang hari pertamanya memimpin perusahaan Papanya.
Hanya 30 menit Laura tiba di tempat pemakaman keluarganya. Laura tersenyum melirik buket bunga yang dibawahnya sebagai hadiah untuk mendiang sang Papa di simpan rapi di kursi sebelahnya.
Laura bergegas turun dari mobil dan tak lupa membawa buket bunganya seperti biasa mawar putih 50 tangkai itu lambang dari umur mendiang sang Papa yang berumur 50 tahun hingga harus pergi untuk selama-lamanya.
Sekitar 100 meter dari area pemakaman, mobil sport hitam melaju pelan yang diam-diam mengikuti mobil Laura sedari tadi dan berhenti tepat di bawah pohon Kamboja yang tumbuh subur disekitaran area pemakaman.
Sang penguntit hanya mampu melihat gerak-gerik Laura dari dalam mobilnya karena tempat tersebut cukup aman dari jangkauan para penziarah.
Laura membungkuk hormat memberi salam di makam Papanya. Lalu Laura berjongkok meletakkan buket bunga yang dibawahnya di samping nisan batu bertuliskan nama mendiang sang Papa.
"Halo Papa, semoga kamu bahagia di tempat barumu" ucap Laura tersenyum dengan mata berkaca-kaca.
"Mama sangat senang dan bangga kepadaku Papa, kuharap Papa juga senang dan bangga melihatku menjadi pemimpin perusahaan AFL Group."
Hatinya sedikit sesak menceritakan kepada Papanya. Seandainya waktu bisa diputar kembali dia ingin Papanya juga ikut hadir menyaksikan hari yang sangat bersejarah dalam hidupnya.
"Pasti Papa senang melihatku, karena sudah menggantikan posisi terbaik Papa di perusahaan. Laura janji akan menjadi pemimpin yang jujur, adil dan bertanggungjawab serta senantiasa menjaga nama baik Papa."
Laura menyeka air mata haru yang tiba-tiba mengenang di pelupuk matanya. Lalu Laura kembali tersenyum manis hingga memperlihatkan deretan gigi ratanya.
"Laura sangat sayang Papa. Jika Laura rindu sama Papa maka Laura akan sering-sering datang mengunjungi makam Papa" ucap Laura menunduk berusaha menyembunyikan kesedihannya.
"Emm Laura pulang dulu Papa, sampai jumpa" pamit Laura memamerkan senyum bahagianya. Laura sebenarnya masih ingin berlama-lama di makam Papanya, tapi tiba-tiba langit tampak mendung menandakan akan turunnya hujan.
Laura bangkit dan berjalan menuju mobilnya. Dia mempercepat langkahnya menuju mobilnya. Beberapa langkah lagi akan sampai pada mobilnya, namun kaki Laura malah tersandung pada ranting pohon hingga membuatnya jatuh tersungkur.
"Awww" Laura meringis kesakitan mendapati kedua lututnya terluka dan tampak memar hingga mengeluarkan darah hingga mengotori ujung gaunnya akibat ranting pohon.
Laura berusaha berdiri sambil meringis kesakitan menahan perih di lututnya hingga membuatnya menangis. Saat akan bangkit, lagi-lagi Laura terjatuh dan terduduk di tanah. Laura memilih menangis saja dan berdiam diri di tempat sepi itu. Dia tidak peduli jika hujan turun membasahinya.
Sepasang mata yang melihatnya hanya mampu memperhatikannya dan tak berani mendekat. Si penguntit begitu kasihan melihat Laura yang terlihat rapuh, dadanya ikut sesak melihat kesedihan wanita itu.
Sementara Laura tangisnya semakin pecah dan terlihat rapuh karena selama ini dia berusaha menyembunyikan kesedihannya mendalam kepada siapapun.
Puas menangis hingga membuat perasaannya sangat lega dan rasa sakit di lututnya agak berkurang, Laura berusaha bangkit dengan perlahan hingga dia mampu berdiri tegak. Dengan langkah terseok-seok, Laura mendekati mobilnya hingga merasakan sebuah tangan merangkul pundaknya.
__ADS_1
"Jangan salah paham, akan hanya ingin membantumu. Kebetulan aku juga selesai berziarah di tempat pemakaman ini" ucapnya melihat tatapan kecurigaan Laura.
"Maaf, aku bisa sendiri" tolak Laura cepat sambil menyingkirkan tangan yang merangkul pundaknya, pasalnya dia tidak ingin disentuh oleh lelaki itu.
Namun sayangnya keseimbangan tubuhnya sedikit oleng hingga hampir saja membuatnya kembali terjatuh, untungnya dengan sekali gerakan lelaki itu langsung meraih pinggang Laura hingga tubuh mereka menempel tanpa ada jarak.
Pandangan mereka pun bertemu, namun Laura segera mengakhiri dan buang muka, karena tatapan mata itu terasa tidak asing baginya.
"Tolong lepaskan tanganmu, Pradipta" ucap Laura yang sedikit risih. Entah mengapa setiap bersentuhan dengan lelaki dia malah kepikiran dengan lelaki yang dibencinya.
"Maaf, aku hanya ingin membantumu" ucapnya tulus dan segera menjaga jarak dari Laura.
Laura memejamkan matanya menahan rasa perih dilututnya saat kembali melangkah hingga merasakan tubuhnya sudah terangkat.
"Hei turunkan aku, apa-apaan kau ini" kesal Laura dengan tatapan melotot dan segera berpegangan di leher Pradipta.
"Aku tidak tega melihatmu. Langkahmu seperti kura-kura dan kau bisa terjebak hujan jika seperti itu" ucap Pradipta dengan tatapan hangatnya dan segera memasukkan Laura ke dalam mobil. Lalu disusul dirinya yang juga masuk ke dalam mobil Laura.
Sedetik kemudian hujan turun dengan derasnya membuat mereka hanya mampu menatap hujan yang mulai menutupi seluruh pandangannya lewat kaca mobil.
Kepalanya sedikit dicodongkan ke arah Laura, membuat wanita cantik itu berpikir macam-macam kepadanya.
"Hei apa yang ingin kau lakukan" teriak Laura karena derasnya hujan membuat dia harus meninggikan suaranya.
"Aku hanya ingin mengobati lukamu" balasnya dengan suara yang juga keras sambil memperlihatkan kotak obat di tangannya.
"Maaf, bolehkah aku mengobati lukamu?" ucapnya yang meminta maaf terlebih dahulu sebelum melakukan keinginannya.
Laura tak menjawab dan Pradipta yakin jika diam berarti Laura setuju-setuju saja. Pradipta dengan gugup menyingkap sedikit gaun Laura hingga lutut Laura yang terluka terlihat dengan darah sudah mengering di lututnya.
"Ini pasti agak perih, jadi tahan sebentar" ucapnya dan segera mengoleskan obat merah di lutut Laura. Sedangkan Laura hanya mampu meringis kesakitan bahkan sudut matanya berair saat obat merah itu mengenai permukaan kulitnya yang terluka.
"Sudah selesai" ucap Pradipta menegur Laura yang sedang menyeka air matanya.
"Terima kasih." Laura segera mengalihkan pandangannya keluar jendela agar tak ketahuan menangis.
"Tunggu sebentar, aku akan keluar untuk mengambil sesuatu di mobil" ucap Pradipta dan Laura menghentikannya.
__ADS_1
"Gunakan payung ini, hujan masih deras" perintah Laura yang mengeluarkan payung hitam dari dasboard mobilnya.
Pradipta tersenyum mengambil payung dari tangan Laura dan bergegas keluar menuju mobilnya.
Laura termenung hingga tak menyadari Pradipta sudah duduk di sampingnya.
"Ambillah, ini obat anti galau untukmu."
Pradipta menyodorkan satu cup es krim rasa banana untuknya. Laura hanya menatapnya tanpa mengambil es krim tersebut.
"Rasa banana" Laura memicingkan matanya sambil menelan ludahnya melirik es krim tersebut.
"Ya, aku hanya ingin mencoba es krim rasa banana" ucap Pradipta tersenyum.
"Apa ini sebuah kebetulan, aku juga ingin mencoba es krim rasa banana dan tadi tidak sempat mampir ke supermarket untuk membelinya" ucap Laura tersenyum mengambil cup es krim di tangan Pradipta dan segera memakannya.
Pradipta tersenyum menatap wanita cantik disampingnya yang sedang menikmati es krimnya dengan lahap.
"Terima kasih sudah mengantarku pulang, Pradipta. Maaf merepotkan mu, sebaiknya kau mampir dulu" ucap Laura tak enak hati pada lelaki asing yang baru dikenalnya. Pasalnya sudah dua kali membantunya dan kembali mengantarnya pulang ke rumah.
"Sama-sama. Maaf, lain kali saja. Aku harus pergi" pamitnya undur diri.
"Terus kau pulang pakai apa, sementara mobilmu masih di area pemakaman."
"Sahabatku yang datang menjemputku. Dia sudah berada di gerbang depan."
"Oh, hati-hati" teriak Laura melihat Pradipta semakin menjauh yang sedang berlari menuju gerbang depan.
Laura tersenyum sambil geleng-geleng kepala melihat kepergian lelaki asing yang baru ditemuinya.
"Jalan" perintah Pradipta pada supir pribadinya yang sedang duduk di kursi penumpang dengan tenang. Dan supir begitu patuh mulai melajukan mobilnya.
Lalu dia membuka topeng diwajahnya dan menyimpannya di saku jaketnya, kemudian menghubungi orang kepercayaannya untuk membawa pulang mobilnya yang masih berada di tempat pemakaman.
Bersambung..
Jangan lupa, like, love komen dan vote ya teman-teman 🙏🤗
__ADS_1