Laura Dan Status Barunya

Laura Dan Status Barunya
Bab 25 Laura dan Status Barunya


__ADS_3

Laura berjalan menuju kamar Johan yang berada di lantai dua. Laura menggenggam erat kotak dasi segi empat itu dengan kesalnya.


Bagaimana tidak, ia masih kesal kepada orang yang akan ia temui. Ucapannya seakan berdamai dengan dirinya, namun hatinya belum juga bisa berdamai mengingat kata-kata kasar Johan yang masih membekas di hati.


"Sebenarnya aku malas bertemu dengan Johan. Namun apa boleh buat" gumam Laura sambil berjalan menuju kamar Johan.


Saat berada di depan pintu kamar Johan, Laura tampak ragu untuk mengetuk pintu. Laura celingak-celinguk mencari keberadaan pelayan yang berlalu lalang di lantai dua. Namun nihil baginya menemukan satu pun pelayan di sana.


"Baiklah, aku akan mencobanya"


Tok


Tok


Tok


Laura mengetuk pintu kamar Johan sebanyak tiga kali, namun pintu kamar tersebut tak kunjung terbuka.


"Dasar tuli, jangan-jangan dia sudah tidur" kesal Laura sambil mengetuk pintu kamar Johan berulangkali, namun pintu kamar itu belum juga terbuka.


Dengan terpaksa Laura menggedor pintu kamar Johan dengan kerasnya supaya pemilik kamar tersebut segera membukanya.


Alhasil pintu kamar Johan terbuka lebar dan menampilkan sosok Johan berdiri di ambang pintu yang hanya berbalut handuk.


Laura segera berbalik badan, agar mata sucinya tak tercoreng dengan penampilan Johan bertelanjang dada.


"Berisik sekali! Kau ingin membanting pintu kamar ku hah!" ketus Johan dengan tatapan sinis nya.


"Jangan asal tuduh, aku melakukannya karena kau sangat tuli" bantah Laura membela diri.


"Nih kotak dasi mu. Aku tidak ingin berlama-lama di depan pintu kamar orang tuli sepertimu" ucap Laura disertai ejekannya sambil menyodorkan kotak dasi itu kepada Johan.


Johan bermasa bodoh tak mengambil kotak dasi tersebut. Laura agak kesulitan dengan posisinya yang membelakangi Johan. Hingga tak sengaja Laura menjatuhkan kotak dasi tersebut.


"Astaga, apa-apaan kau ini! Dasar menyebalkan! harusnya kau ambil kotak dasi itu" geram Laura sambil berbalik badan menghadap ke arah Johan.


Laura melihat kotak dasi tergeletak di lantai. Laura lalu berjongkok untuk mengambil kotak dasi tersebut, belum juga berjongkok Johan langsung mencekal tangannya hingga tubuh Laura berbenturan dengan tubuh Johan.


"Hei apa yang kau lakukan" kesal Laura menarik tangannya.


"Kau tak becus bekerja!" bentak Johan dengan tatapan tajam lalu mendorong tubuh Laura hingga membentur pintu.

__ADS_1


Laura tak terima dengan perlakuan kasar Johan.


"Oh jadi kau menyalahkan ku karena menjatuhkan kotak dasi itu!"


Laura mengatakannya dengan nada penekanan. Sedangkan Johan hanya menopang dagu mendengar ucapannya.


"Tak masalah jika kau ingin memecatku sekarang juga! Aku akan menerimanya dengan lapang dada tuan Johan. Setelah itu, aku bebas dari keluarga mu. Dan kau sebebas-bebasnya dan sesuka hatimu merendahkan....."


Belum selesai dengan ucapannya, tiba-tiba saja Johan menarik tengkuknya. Dan langsung membungkam mulut Laura. Johan tak peduli mencium bibir Laura dengan rac*s nya.


Laura hanya mampu membulatkan matanya sambil memukul-mukul dada Johan. Namun Johan sama sekali tak peduli dengan aksi Laura. Johan semakin liar saja menjajal mulut Laura. Dipangutnya bibir Laura tiada henti sebagai pelajaran untuk wanita cerewet itu.


Dengan sekali gerakan, Johan mengunci pergerakan Laura, lalu dia pun menendang pintu kamarnya hingga tertutup rapat dengan ciuman masih saja ia lancarkan.


Tanpa melepaskan pangutannya, Johan menyeret tubuh Laura ke dinding. Laura terus memberontak untuk lepas layaknya cacing kepanasan yang berada dalam cengkeraman Johan.


Johan sial*an!!!!! kau merampas ciuman pertamaku. Batin Laura dengan kesalnya.


Mata Laura berkaca-kaca yang tidak terima dengan perlakuan Johan terhadapnya.


"Emmmppp......"


Laura yang sama sekali masih awam dengan hal berciuman dengan terpaksa menggigit bibir bawah Johan untuk menghentikan aksinya. Alhasil Johan segera melepaskan ciumannya. Hingga mereka pun tampak ngos-ngosan yang kehabisan oksigen akibat ciuman panas mereka.


Sebuah tamparan keras kembali mendarat di pipi kanan Johan hingga tampak membekas di sana.


Laura mengusap bibirnya dengan kesal tepat di hadapan Johan menggunakan jemari tangan yang sempat dia pergunakan menampar pipi Johan. Kemudian Laura segera meninggalkan kamar Johan yang sedang diselimuti amarah berapi-api.


Sementara Johan hanya menyeringai menyentuh sudut bibirnya.


"Laura Fernandez, kau seperti wanita suci saja" ucap Johan dengan seringai licik diwajahnya.


Kemudian Johan berjalan ke ruang ganti untuk bersiap.


Nyonya Tias dan Wulan sedang bersembunyi di bawah tangga untuk mendengar pembicaraan mereka. Namun mereka sama sekali tidak mendengar apapun. Hanya langkah kaki yang terdengar terburu-buru sedang menuruni anak tangga.


"Bibi, aku rasa orang ini adalah kak Laura" bisik Wulan.


"Ya kurasa tebakan mu benar sayang. Lantas mengapa Laura baru turun. Sepertinya sesuatu sedang terjadi diantara mereka" ucap mama Johan penuh curiga.


"Betul bibi, aku juga curiga. Bukankah ini pertanda baik untuk mereka agar saling dekat" ucap Wulan tersenyum.

__ADS_1


"Jangan-jangan mereka melakukan itu loh...." ucap mama Johan tak melanjutkan ucapannya dan lebih memilih menutup mulutnya.


"Maksud bibi apa ya?" tanya Wulan dengan polosnya.


"Maksud bibi begituan "..." ehemm...ehemm" jawab mama Johan dengan tanda kutip yang hanya memperjelas nya dengan suara.


"Ehemm....ehemm... seperti itu" ucap Wulan bingung dengan tingkat loading di bawah rata-rata. Maklum gadis itu masih polos dan lugu yang tak tahu menahu soal urusan orang dewasa.


Mereka lalu keluar dari tempat persembunyiannya untuk menghentikan Laura. Namun Laura keburu pergi dan sudah tak terlihat lagi dari jangkauan mereka.


Bagaimana tidak, Laura berlari menuju kamarnya, pantas saja mereka sudah tak melihat keberadaan Laura.


"Kak Laura sudah pergi bibi. Sebaiknya kita ke depan menyambut tamu penting Paman" usul Wulan.


"Astaga, bibi hampir lupa" ucap mama Johan sambil tepok jidat yang hampir saja melupakan tamu penting suaminya.


Terlihat sebuah mobil mewah memasuki kediaman Johan. Tuan William beserta keluarga tampak menyambut kedatangan tamu penting mereka.


Tampak sepasang suami istri beserta dua gadis cantik jelita turun dari mobil mewah tersebut.


"Itu dia, mereka sudah datang" ucap tuan William kepada keluarganya.


Nyonya Tias dan Wulan langsung mengerutkan keningnya melihat tamu penting itu. Hingga mereka kompak mengatakan....


"Bahaya"


Semakin dekat mereka mampu melihat dengan jelas tamu penting itu.


Johan begitu cuek menyambut tamu penting papanya.


"Aaah... Endro" ucap tuan William lalu merangkul teman lamanya dan sekaligus rekan bisnisnya itu.


"Selamat malam" sapa keluarga Endro.


"Malam" ucap mama Johan sedikit ramah.


Kemudian mereka saling cipika-cipiki untuk lebih akrab dan menjaga silaturahmi mereka. Setelah itu, tuan William dan nyonya Tias sebagai tuan rumah mempersilahkan mereka masuk.


Jadi tamu penting Papa tuan Endro. Sepertinya Papa sedang merencanakan sesuatu dengan tuan Endro. Batin Johan.


Bersambung.....

__ADS_1


Terima kasih atas dukungannya BESTie 🙏🤗


__ADS_2