
Sesuai perkiraan, Johan berhasil membereskan masalah Laura hanya dalam sehari lewat kemampuan dan tangan-tangan handal yang bekerja keras dibelakangnya. Malam ini dia akan memenuhi panggilan dari sekretaris Laura yang memintanya melakukan pertemuan di kediaman orang tua Laura untuk membahas hal penting.
Tampak lelaki jangkung itu kembali menatap penampilannya pada tampilan cermin dan memastikan semuanya sempurna. Dia tak ingin hal kecil saja merusak pandangannya. Sungguh dirinya ingin selalu tampil sempurna dihadapan wanita yang sangat dicintainya.
Termasuk potong rambut model anak muda jaman sekarang berkat pertimbangan dari Mike, alhasil wajahnya terlihat lebih muda dan semakin tampan saja.
Johan tersenyum miring sambil merapikan dasinya lalu melangkah keluar dari kamarnya. Tampak Mike di bawah sana sudah menunggu kedatangannya dan siap membawanya pergi ke kediaman orang tua Laura.
"Apa kau sudah menyiapkan hadiah untuk Laura?" tanya Johan berjalan mendekat ke arah sekretarisnya.
"Sudah tuan, sesuai yang anda minta" ucap Mike tersenyum tipis dan ikut senang melihat wajah tuannya tampak berseri-seri.
"Baguslah, ayo berangkat" ucap Johan menepuk pundak sekretarisnya dan berjalan terlebih dahulu keluar rumah lalu Mike bergegas menyusulnya.
"Silahkan masuk tuan" ucap Mike membukakan pintu mobil untuk atasannya.
Johan bergegas masuk dan duduk di kursi samping kemudi. Lalu disusul Mike yang berlari kecil ke samping mobil dan menempati kursi kemudi.
Mobil yang membawa mereka mulai melaju menuju tempat tujuannya.
***
Sementara di kediaman orang tua Laura....
Tampak Laura baru saja selesai bersiap dan terlihat mengenakan gaun hamil panjang sebatas mata kaki. Laura masih duduk di kursi meja rias menghadap ke cermin. Sesekali dia menghembuskan nafasnya dengan kasar melihat penampilannya di dalam cermin.
"Aku tak boleh egois, ini semua demi kebaikanku, demi bayi dalam kandungan ku dan perusahaan" gumam Laura.
Terdengar ketukan pintu dari luar membuat Laura segera mengalihkan pandangannya.
"Masuk" ucapnya lembut dan orang yang mengetuk pintu langsung membuka pintu kamarnya lalu mencodongkan kepalanya terlebih dahulu.
"Nona Laura, tamunya sudah datang" ucap Ijah tersenyum jenaka dengan kebiasaannya berdiri di ambang pintu.
Seketika jantung Laura berdegup kencang saat mendengar ucapan Ijah bahwa tamunya sekaligus lelaki yang dibencinya sudah datang dan berada di bawah.
"Baik bi, aku akan segera turun" ucap Laura dan kembali menarik nafas dalam-dalam lalu dihembuskannya perlahan untuk mengontrol debaran jantungnya yang tak bersahabat.
Semuanya akan baik-baik saja, aku akan menanggung semua resikonya. Batin Laura.
"Saya permisi nona" pamit Ijah dan bergegas turun untuk melanjutkan kembali pekerjaannya di dapur.
Sementara Laura perlahan bangkit dari duduknya sambil berpegangan di meja rias. Lalu dia melangkah keluar dari kamarnya untuk turun ke bawah.
Tampak di ruang tamu sudah ada Johan, Mike, Rival dan Mama Laura selaku tuan rumah. Mereka duduk di sofa berhadap-hadapan sedang saling menyapa dan mengobrol ringan menunggu kedatangan Laura.
__ADS_1
Johan mengalihkan pandangannya saat mendengar langkah kaki seseorang menuruni anak tangga. Seketika matanya membulat sempurna dan wajahnya berubah datar. Sungguh pemandangan yang tidak ingin dia lihat, wanita hamil menuruni anak tangga.
Bisakah dia tak melakukan hal bodoh, menuruni anak tangga dengan perut buncitnya. Itu sama saja membahayakan dirinya dan juga janinnya. Batin Johan khawatir.
Nyonya Miranda seketika mengalihkan pandangannya mengarah pada objek yang dilihat oleh Johan.
"Aku selalu mengingatnya untuk tak menempati kamarnya di lantai dua. Tapi, kau tahu sendiri bukan, seperti apa putriku ini" ucap Mama Laura yang seolah mampu membaca pikiran Johan lewat tatapan matanya yang mengarah pada putrinya.
Johan hanya mampu diam tak menggubris ucapan Mama Laura. Karena dia juga begitu mengenal sikap Laura yang sangat keras kepala.
Laura melangkah mendekati mereka dengan deru nafas ngos-ngosan, maklum wanita hamil begitu mudah lelah. Ditambah jantungnya semakin berdegup kencang saat pandangannya bertemu dengan lelaki dibencinya membuatnya menjadi gugup. Laura segera bergabung dan duduk di samping mamanya.
Pandangan Johan terus saja tertuju kepada Laura, membuat Laura meremas tangannya yang merasa risih dengan tatapan Johan.
"Ehemm, karena semuanya sudah berkumpul kita langsung saja pada intinya" ucap Rival selaku pembicara dalam pertemuan mereka.
"Silahkan pak Rival" timpal Mike.
"Saya ingin mengucapkan banyak terima kasih, atas bantuan dan kerja keras tuan Johan yang sudah membantu perusahaan AFL Group. Dan masalah yang menimpa nona Laura" ucap Rival dengan tulus nya.
Laura hanya mampu menunduk di samping mamanya.
"Benar nak Johan, Tante sangat berterimakasih, keluarga kami berhutang budi kepadamu nak, tanpa bantuan mu mungkin masalah keluarga kami semakin rumit" ucap Mama Laura dengan mata berkaca-kaca yang terharu. Karena Rival sudah menceritakan segala permasalahannya.
"Sama-sama Tante. Ini sudah menjadi tanggung jawabku, membantu keluarga kalian" ucap Johan tersenyum sambil menatap ke arah Laura.
"Sekali lagi Tante ucapin terima kasih nak" ucap Mama Laura tersenyum.
Johan mengangguk sambil tersenyum kecil menanggapi ucapan mama Laura.
"Setelah kami berunding bersama. Nona Laura setuju untuk membalas budi baik anda Tuan. Dan Nona Laura bersedia menerima segala bentuk tanggungjawab yang ingin anda lakukan, termasuk menikahinya" ucap Rival hati-hati karena dirinyalah yang bertugas menjadi pembicara keluarga Fernandez. Mengingat hanya itu jalan keluar satu-satunya untuk atasannya.
"Tante merestui hubungan kalian" timpal mama Laura dengan mata berkaca-kaca yang begitu percaya bahwa lelaki dihadapannya akan bertanggungjawab menjaga putrinya.
"Mama" Laura berucap untuk mengurangi rasa gugupnya karena mendengar ucapan Mama nya yang langsung pada intinya.
"Saya bersedia bertanggungjawab untuk menikahi Laura" ucap Johan dengan entengnya.
Mike tersenyum mendengar ucapan tuannya, memang inilah waktu yang ditunggu-tunggu oleh tuannya. Bertanggungjawab dan menikahi wanita yang tengah mengandung anaknya.
"Terima kasih nak" lagi-lagi Mama Laura terus saja mengucapkan terima kasih.
"Bagaimana Laura? apakah kamu bersedia menikah denganku?" tanya Johan menatap Laura dengan intens yang ingin mendengar langsung jawaban dari wanita itu.
Tanpa basa-basi Laura langsung buka suara.
__ADS_1
"Aku bersedia" jawab Laura meremas tangannya di bawah meja.
Semua orang tersenyum mendengar jawaban Laura.
"Syukurlah, maka dari itu segala persiapannya saya serahkan saja kepada tuan Johan. Karena tuan Johan yang lebih tahu segalanya" usul Rival.
"Baik pak Rival. Secepatnya kami akan melangsungkan pernikahan."
Johan menatap hangat Laura yang juga sedang menatapnya.
"Kapan rencana kalian akan menikah?" tanya Mama Laura dengan raut wajah senang.
" Besok pagi" ucap Johan tanpa basa-basi.
"Aku tidak setuju, itu terlalu mendadak" timpal Laura yang mengganggap Johan begitu terburu-buru dalam hal pernikahannya.
"Tak ada alasan untuk menundanya. Lihatlah perutmu sudah membesar" balas Johan menatap ke arah perut Laura, membuat Laura segera menyilangkan tangannya di depan perutnya.
"Yang dikatakan nak Johan memang ada benarnya. Jadi setuju saja, semua juga demi kebaikanmu, nak."
"Mama"
"Laura, semua orang tua pasti menginginkan yang terbaik untuk anaknya. Suatu saat kamu juga akan mengerti."ucapnya dengan mata berkaca-kaca.
Tampak wanita paruh baya itu memelas, tatapannya memohon di hadapan putrinya.
"Tapi mama, keluarga dia_"
"Lihat mata mama, Laura. Dendam tidak akan pernah menyelesaikan masalahmu, sifat dendam yang masih tertanam dalam dirimu akan terus membuatmu menderita dan menghancurkan segala kehidupanmu. Tuhan saja maha pengampun, mengapa manusia seperti kita tak bisa mengampuni atau memaafkan kesalahan orang lain" ucap mamanya sambil memegang kedua bahunya yang kembali menasihatinya.
Laura tak kuasa menahan air matanya melihat manik mata sang mama, dia langsung berhambur memeluk Mamanya. Entah seperti apa perasaannya saat ini, yang jelas dia tidak ingin mengecewakan Mamanya.
Ketiga lelaki itu hanya diam dengan pikiran masing-masing melihat ibu dan anak itu saling berpelukan.
"Maafin Laura Mama" ucap Laura melepaskan pelukannya dan sang mama hanya mampu tersenyum menghapus sisa-sisa air matanya.
"Ehemm"
Johan berdehem untuk mencairkan suasana yang hening. Laura menjadi gelagapan dan memperbaiki posisi duduknya.
"Terserah kamu saja, aku akan mengikuti keputusanmu" ucap Laura menunduk.
Hanya senyuman yang terukir di sudut bibir Johan mendengar ucapan wanita yang sudah menjungkirbalikkan dunianya.
Bersambung....
__ADS_1
Jangan lupa, like, vote dan komennya 🙏