
Perusahaan William Group.....
Sosok lelaki jangkung meregangkan otot-ototnya melihat tayangan pada layar monitornya, rahangnya mengeras menandakan bahwa dirinya sedang marah, hingga dia mengeram kesal dengan kedua kepalan di tangannya.
"Bereskan semua berita yang beredar di media tentang kehamilan Laura dan jangan biarkan wartawan atau paparazzi terus meliput kehidupan Laura. Buat semua perusahaan penayangan berita menarik semua berita yang beredar. Dan satu lagi berikan ancaman pada perusahaannya untuk menutup operasi kerjanya jika tak kooperatif " geram lelaki jangkung itu tak main-main.
"Baik tuan Johan" ucap sekretarisnya dengan anggukan kepala.
Lelaki jangkung itu memilih menyandarkan punggungnya di sandaran kursi kebesarannya mencari posisi ternyamannya mengalihkan pandangannya keluar jendela melihat pemandangan pusat kota.
"Kuharap si kecil baik-baik saja dalam kandunganmu, Laura" gumamnya. Lelaki itu tak lain adalah Johan dan tengah memikirkan kondisi wanita dicintainya dan calon bayinya.
"Satu lagi, siapkan konferensi pers untuk meluruskan semua berita yang sedang viral tentang kehamilan Laura siang ini. Aku sendiri yang akan menginformasikannya di depan media" ucap Johan dengan entengnya.
"Tapi tuan_" ucap Mike tak mampu melanjutkan ucapannya.
"Tak ada tapi-tapian, aku ingin memperbaiki semuanya, termasuk nama baik Laura. Orang-orang diluaran sana sudah mencemooh dan menjelek-jelekkan ibu dari anak-anakku tanpa tahu permasalahan yang sebenarnya" potong Johan dengan tatapan tajamnya dan dengan cepat Mike mengiyakan ucapannya.
"Hemm, kau boleh keluar" ucapnya menghela nafas kasar dan Mike belum bergeming di tempatnya.
"Maaf tuan, tadi saya baru saja dihubungi oleh Pak Rival sekretaris nona Laura yang meminta tuan datang ke kediaman nona Laura" ucap Mike hati-hati.
"Hemm baiklah, setelah kita membereskan masalahnya" ucap Johan dengan sorot mata tajam.
Sementara sang sekretaris bergegas keluar dari ruangannya untuk menjalankan tugasnya sebaik mungkin.
Sementara Johan sendiri kembali menghubungi seseorang yang bisa dia andalkan. Mereka tampak serius membicarakan hal penting di ujung telepon.
"Tetaplah berinvestasi pada perusahaan AFL Group. Jangan lakukan kesalahan sekecil pun" ucapnya di ujung telepon.
"Baik tuan, lantas bagaimana dengan harga saham-sahamnya yang sedang menurun?" tanya orang itu di seberang sana.
"Jangan khawatir, aku akan berusaha mengembalikan keadaan perusahaan AFL Group seperti sedia kala. Dan menaikkan seluruh harga sahamnya" ucap Johan penuh keyakinan.
"Baik tuan" ucapnya kembali.
Panggilan mereka pun berakhir dan Johan kembali fokus memandangi foto Laura di layar ponselnya
"Walaupun kau membenciku, aku akan tetap membantumu Laura, itulah janjiku kepadamu" ucap Johan menatap foto Laura yang diam-diam dia ambil saat liburan bersama.
Johan menghembuskan nafasnya dengan kasar lalu membereskan pekerjaannya, karena sekitar dua jam lagi konferensi pers akan segera dilakukan.
Sementara di tempat lain....
Tampak gadis belia menentang tas dan buku-buku tebal keluar dari ruang kelasnya. Wajahnya di tekuk sambil berjalan melewati koridor menuju parkiran.
__ADS_1
Langkahnya terhenti saat seseorang memanggil namanya.
"Wulan, tunggu sebentar. Kau melupakan ponselmu" ucap gadis gemuk yang berlari mendekatinya.
"Oh astaga" ucap gadis itu mulai meraba saku celananya yang tak lain dan tidak salah lagi adalah Wulan.
"Terima kasih, Amel" ucapnya mengambil ponselnya.
"Kau tak ada kelas?" tanya gadis yang bernama Amel.
Wulan hanya menggeleng pelan dan tak bersemangat hari ini.
"Pak dosennya sakit dan hanya memberi tugas tambahan" jawab Wulan.
"Terus kamu mau langsung pulang?" tanya Amel lagi.
Wulan hanya mampu mengganguk sebagai jawabannya di hadapan sahabatnya lalu kembali melanjutkan langkahnya.
"Hati-hati di jalan" teriaknya menatap punggung Wulan yang semakin menjauh.
Ya gadis belia itu adalah Wulan. Kini hubungan rumah tangganya berjalan secara LDR dan semakin renggang saja, karena sang suami memutuskan untuk melebarkan bisnisnya di negara xxx selama beberapa tahun lamanya, membuat Wulan memikirkan matang-matang masa depannya.
Padahal sang suami memintanya untuk ikut bersamanya ke negara orang, namun Wulan enggan untuk mengikuti suaminya yang berbeda haluan dengan alasan tak bisa beradaptasi dengan lingkungan barunya.
Wulan memilih melanjutkan pendidikannya dan mengambil jurusan akuntansi karena cita-citanya sebagai seorang akuntan. Sedangkan Fero memilih melebarkan sayapnya di negara orang demi bisnis digelutinya.
Wulan tiba di kediamannya lebih cepat dari biasanya. Dia bergegas turun dari mobil pemberian bibi nya.
"Aku pulang" ucap Wulan sambil menutup pintu mobilnya.
Terlihat sang ayah sedang memantau para anak didiknya yang sedang belajar teknik beladiri taekwondo di halaman rumahnya yang super luas. Kebetulan ayahnya sang guru besar ahli beladiri yang bergengsi di negaranya.
Sekitar 100 anak dari usia 5 tahun sampai 17 tahun mengikuti latihan taekwondo dengan tiga guru berbakat, termasuk sang ayah yang menjadi pemilik perguruan TedWu.
"Eeh kamu sudah pulang sayang. Langsung mandi saja terus makan. Karena ayah sudah memasak masakan kesukaan mu" ucap ayahnya dengan tatapan hangat kepada putrinya, berbeda saat mengajari para anak didiknya.
"Ya ayah" ucap Wulan tak bersemangat.
"Jangan galau melulu, cepat hubungi suamimu jika kamu merindukannya. Bukankah ini sudah menjadi pilihanmu" sindir ayahnya.
Wulan menghentakkan sepatunya masuk ke dalam rumahnya yang tampak sederhana namun asri dan nyaman. Berbeda dengan rumah bibi nya yang mewah bak istana dengan banyaknya pelayan.
Langkahnya tampak tergesa-gesa menuju kamarnya. Hari ini dia begitu kesal, datang terlambat ke kampus pas pelajaran berakhir, itu semua gara-gara semalam dia terjaga hanya untuk menerima sambungan telepon dari sang suami, namun sayangnya tak sesuai dengan ekspektasi nya. Fero tak menghubunginya semalaman.
Pagi ini dia mencoba menghubunginya kembali, namun suara wanita terdengar manja yang menjawab panggilannya membuat moodnya menjadi buruk.
__ADS_1
"Lihat saja, jika dia kembali tak patahkan burung bangau nya" kesal Wulan lalu berjalan masuk ke kamar mandi untuk menjernihkan pikirannya yang suntuk.
*
*
*
Semua wartawan dan paparazzi sudah berkumpul di dalam gedung hotel berbintang lima milik keluarga William. Kamera dan segala alat rekaman siap digunakan untuk meliput orang yang berpengaruh di negeri ini.
Tak berselang lama kemudian, muncullah lelaki tampan penuh wibawa dan kharismatik melangkah lebar dengan kaki jenjangnya memasuki area konferensi pers dengan sekretarisnya yang mengekor di belakangnya.
Cekret
Semua wartawan mengarahkan kameranya ke arahnya dan berlomba-lomba mengambil gambarnya yang dijadikan ladang penghasilan.
Lelaki tampan itu adalah Johan yang siap melakukan konferensi pers. Dia mendekati meja yang sudah disiapkan untuknya, lalu sekretarisnya menarik kursi untuknya dan Johan bergegas duduk di sana dengan pandangan lurus ke depan.
"Baiklah, pertama-tama saya mengucapkan terima kasih atas perhatian teman-teman semua yang berkumpul di ruangan ini guna untuk mengklarifikasi berita yang beredar belakangan ini" ucap Johan setenang mungkin.
"Saya ingin mengkonfirmasikan atas kehamilan calon istri saya sekaligus wanita hebat yang sebentar lagi menjadi ibu dari anak-anak kami, nona Laura Fernandez."
"Banyaknya isu-isu dan rumor tak jelas beredar belakangan ini menjatuhkan reputasi calon istri saya karena semuanya hanya berita kebohongan semata. Jauh-jauh hari, kami sepakat untuk rujuk kembali. Sebagai bukti nyatanya, ini adalah berkas asli pendaftaran pernikahan kami dari kantor pencatatan sipil. Namun karena kesibukan masing-masing, kami belum sempat mengurusnya kembali dan secepatnya kami akan mengurusnya demi melangsungkan pernikahan, mengingat hasil buah cinta kami sebagai bukti nyata cinta kami yang tak akan pernah terpisahkan. Jadi tolong jangan menghakiminya, dia wanita terhormat dan pantang menyerah yang patut diperjuangkan " ucap Johan panjang lebar menjelaskan.
Seketika para wartawan tampak bungkam karena memang mereka tak diminta untuk melontarkan pertanyaan.
"Teruntuk nona Laura Fernandez, calon istriku. Terima kasih sudah mengandung anakku, calon penerus perusahaan kita. Tetaplah berada di sampingku, karena tanpa kehadiranmu hidupku tak akan pernah berwarna. I Love you, sekian dan terima kasih" ucap Johan mengakhiri klarifikasinya.
Semua orang bertepuk tangan, tak terkecuali para wartawan yang beberapa dari mereka cukup terharu dengan penjelasan Joha.
****
Sementara Laura yang masih berada di ruangan nya masih saja pusing memikirkan nasib perusahaannya. Dia tak begitu fokus bekerja dan masih memikirkan masalah demi masalah yang menimpanya. Hingga tak mendengar ketukan dari luar berulangkali.
"Nona Laura, sebaiknya anda harus melihat saluran TV" ucap Rival yang dengan terpaksa masuk ke ruangannya tanpa dipersilahkan.
"Untuk apa?" tanya Laura bingung.
"Saat ini tuan Johan sedang melakukan konferensi pers_" ucap Rival tak melanjutkan ucapannya.
Laura segera memencet remote untuk menyalakan televisi di ruangannya yang terpasang di dinding lalu mencari saluran TV yang dimaksud Rival.
Mata Laura membulat sempurna melihat Johan di dalam sana yang sedang melakukan konferensi pers secara langsung. Hingga matanya berkaca-kaca saat mendengar semua ucapan lelaki dibencinya.
Bersambung.....
__ADS_1