Laura Dan Status Barunya

Laura Dan Status Barunya
Bab 34 Laura dan Status Barunya


__ADS_3

Johan tersenyum sinis saat melihat Laura meninggalkan lantai dansa. Johan memilih menjauhi Catherine lalu mengikuti langkah Laura.


Saat berada di depan pintu toilet, tiba-tiba saja tangan Laura di cekal oleh seseorang. Membuat Laura segera mengalihkan pandangannya, dan secepat kilat tubuh Laura diseret ke tembok. Seseorang berhasil mengukung tubuh Laura di tembok dengan kedua tangannya. Membuat Laura menatap sinis orang tersebut.


"Apa kau tidak punya kerjaan lain hingga terus mengikuti ku!" sinis Laura dengan tatapan tajam.


"Hah, kau pikir aku mengikuti mu! percaya dirimu terlalu tinggi"balasnya juga tersenyum sinis.


"Stop Johan, tolong jangan pernah ganggu aku, ku mohon padamu untuk terakhir kalinya" ucap Laura sambil mengepalkan tangannya.


"Kau tidak punya hak untuk menghentikan ku Laura. Ingat, kontrak kerja sedang berjalan dan kau harus mengikuti seluruh perintahku kapanpun itu" ucap Johan dengan tatapan dingin.


Aku bersumpah membuatmu terus berada di sampingku dan menjadikan mu sebagai wanitaku selama-lamanya. Batin Johan.


Semua yang kau katakan tidak berpengaruh untukku, sungguh aku benar-benar membenci semua kelakuan mu Johan. Setelah kontrak kerja ini selesai, aku berjanji akan pergi sejauh mungkin dari hidupmu. Batin Laura.


Johan mendekatkan wajahnya ke wajah Laura membuat Laura buang muka dan terlihat waspada terhadap Johan. Sebelah alis Johan terangkat melihat wajah kesal Laura yang menurutnya sangat menggemaskan.


Tangan Johan terulur menyentuh rambut Laura lalu digulungnya rambut Laura menggunakan jemari tangannya membuat Laura terhentak kaget dan langsung berpaling ke arahnya.


"Kau makin jelek menggunakan model rambut seperti ini" bisik Johan tepat di cuping Laura.


Membuat darah Laura mendidih mendengar ejekan Johan. Tanpa basa-basi Laura mendorong tubuh Johan untuk menjauh darinya, namun Johan sama sekali tak bergeming di tempatnya dan sialnya malah tubuhnya sendiri yang menubruk tubuh Johan.


"Ha ha ha ha, dasar bodoh. Lihatlah, kau sendiri yang kena getahnya bukan" ejek Johan tertawa renyah melihat mimik wajah Laura.


"Haisss, kau!" kesal Laura dan kembali memukul dada Johan.


Sehingga Johan refleks menariknya ke dalam pelukannya dan tak ingin membuang-buang kesempatan untuk memeluk tubuh Laura. Pelukan Johan begitu erat hingga mampu membuat Laura berhenti memukuli nya.


Laura hanya mampu membeku di tempatnya dan tak mampu berkata-kata. Namun Laura sama sekali tidak membalas pelukan dari Johan.


********


Sementara Nyonya Tias dan Wulan tampak beraksi dengan rencananya kali ini. Mereka pun turut hadir di pesta karena mengetahui bahwa Laura dan Johan pergi ke sebuah pesta.


Usut punya usut nyonya Tias tak tinggal diam, dia pun mencari informasi melalui sang suami dan sekretaris Johan. Banyaknya informasi yang didapatkan, sehingga sampailah mereka di pesta tersebut.

__ADS_1


"Mana obatnya bibi" bisik Wulan kepada bibi nya sambil menyelipkan tangannya di bawah ketek bibi nya.


"Tunggu sebentar, bibi masih cari-cari nih di dalam tas" ucap Mama Johan mencari sesuatu di dalam tasnya.


Setelah mendapatkan sesuatu yang dimaksud, Nyonya Tias lalu menyerahkannya kepada Wulan.


"Oke bibi. Sebaiknya bibi ngumpet, aku mau mencari kak Laura dan kak John" ucap Wulan yang sudah menggenggam obat yang dimaksud.


"Hati-hati sayang, semoga kita berhasil" peringat mama Johan.


Wulan mengangguk sebagai jawabannya lalu bergegas meninggalkan bibi nya untuk mencari keberadaan Johan dan Laura. Wulan berjalan mengendap-endap dikerumunan tamu undangan.


Kaca mata hitam bertengger di hidung mancungnya membuatnya sedikit kesulitan melihat rupa yang sedang dicarinya.


"Aduh, kemana sih perginya kak Laura dan kak John" gumam Wulan dan segera membuka kaca mata hitam yang sengaja dia pakai untuk mempermudah penyamarannya. Jika terus memakainya penglihatannya semakin kacau saja.


Wulan terkejut melihat Catherine berbicara dengan seorang lelaki, hingga pandangan Catherine mengarah kearahnya, membuat Wulan segera bersembunyi di balik punggung wanita gembrot di hadapannya.


Gawat jangan sampai nenek sihir itu melihat ku. Batin Wulan.


Sementara Johan masih saja memeluk Laura di lorong toilet. Membuat para wanita yang ingin masuk ke toilet menatap curiga pasangan tersebut. Untungnya mereka tak mampu melihat dengan jelas wajah keduanya hingga mereka tak ingin ambil pusing dengan urusan pasangan tersebut.


Laura memukul punggung Johan untuk berhenti memeluknya karena dia pun agak sesak. Dengan cepat Johan melonggarkan pelukannya.


Ditatapnya wajah cantik Laura dengan intens tanpa berkedip sedikitpun. Tangan Johan kembali mengelus lembut pipi mulus Laura menggunakan jemarinya, membuat Laura semakin kesal saja menatap tajam Johan.


"Bukankah kau sangat menyukai dibelai laki-laki lain" ucap Johan tersenyum miring.


"Cukup Johan! kau mengurungkan di tempat ini hanya untuk mendengarkan ucapan konyol mu itu!" kesal Laura. Tanpa diduga, Johan langsung mengecup bibirnya sekilas lalu berpindah menciumi leher jenjangnya yang sedari tadi menggangu konsentrasinya.


Laura kembali memukul kepala Johan menggunakan tasnya membuat Johan menghentikan aksinya. Tanda kissmark tercetak jelas di leher Laura yang putih itu membuat Johan tersenyum kemenangan.


"Dasar gila! tukang mesum akut!" ucap Laura diselimuti amarah lalu melayangkan tangannya untuk menampar pipi Johan dan secepat mungkin Johan menangkisnya.


"Mulai sekarang kau tak berhak menggunakan tanganmu ini untuk menentang ku. Ingat baik-baik, kau adalah milikku!" ucap Johan dengan tatapan dinginnya dan mengklaim Laura sebagai miliknya.


Laura menarik tangannya lalu melenggang pergi. Sudah cukup baginya meladeni orang gila seperti Johan karena menurutnya hanya membuang-buang waktunya saja.

__ADS_1


Hanya beberapa langkah saja, Laura kembali menghentikan langkahnya karena melihat Fero berjalan menghampirinya.


"Kamu darimana saja, dari tadi aku mencari mu" ucap Fero khawatir sambil memegang kedua pundak Laura. Fero terpaksa menyusul Laura ke toilet wanita karena sedari tadi tak melihat kedatangan Laura.


"Maaf, banyak tamu undangan yang ngantri di toilet" elak Laura di barengi senyum tipis.


Fero mengerutkan keningnya melihat tanda merah dileher jenjang Laura. Pandangannya terus tertuju ke sana dengan pikiran mulai menerka-nerka.


Hingga suara deheman seseorang membuatnya segera mengalihkan pandangannya. Fero mengepalkan tangannya melihat Johan berjalan di sampingnya sambil menyeringai. Fero semakin yakin saja bahwa sesuatu terjadi diantara mereka, apalagi Johan juga berada di lorong toilet wanita.


Pikiran Fero semakin gusar saja membawa Laura kembali bergabung dengan tamu lainnya. Sedangkan Johan tampak sibuk mengobrol dengan rekan bisnisnya.


Laura menjadi bingung dengan sikap Fero yang mendiamkannya. Dia tidak tahu apa yang sedang dipikirkan Fero saat ini.


"Silahkan di minum nona" tawar wanita berambut kribo sambil menawarkan minuman untuk Laura. Wanita itu tak lain adalah Wulan.


Namun Fero lah yang mengambil gelas minuman tersebut dan langsung meneguknya hingga tandas.


Gawat, bisa berabe ini. Batin Wulan merana.


Wajah Wulan menjadi pucat saat menyaksikan laki-laki yang bersama Laura yang meminum minuman yang sempat ia masukkan sesuatu.


"Fero, aku mau pulang" ucap Laura yang sudah bosan berada di pesta itu.


"Baiklah, tapi tunggu sebentar, aku harus berpamitan kepada keluarga ku" ucap Fero tersenyum.


Laura mengangguk sebagai jawabannya.


Fero lalu melangkah menghampiri keluarganya dengan kepala sedikit berat. Dan tiba-tiba saja penglihatannya agak buram. Sedangkan Wulan terus mengekor di belakang Fero karena salah sasaran.


Berulangkali Fero menabrak tamu undangan dengan pandangan mulai pusing tujuh keliling. Wulan yang merasa aman disekitarnya segera menarik tangan Fero lalu lalu membawanya menjauh dari ballroom hotel.


"Hah hah,....Aduh sialnya nasibku, malah berurusan dengan orang ini" ucap Wulan ngos-ngosan sambil memapah tubuh Fero ke salah satu kamar hotel.


Bersambung......


Jangan lupa, like, love, komen dan vote ya teman-teman.

__ADS_1


__ADS_2